3 buah mobil sedan berwarna hitam pekat berhenti di depan sebuah kafe di tengah kota.
Kafe yang pembelinya hampir penuh itu mendadak dibubarkan oleh beberapa pria berpakaian serba hitam dengan menjadikan semua pembelian mereka dibayarkan sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan yang diciptakan sore ini.
Seorang gadis dari balik meja kasir keheranan, tidak mengenal wanita setengah baya yang datang mencarinya hingga menyanggupi membayar semua biaya pembelinya tadi.
“Saya ingin bicara dengan kamu. Di ruangan tertutup, hanya ada kita berdua saja,” ucap wanita itu dingin.
“B-baik, Bu,” sahut gadis itu gugup.
Ia pun membawa tamu itu ke dalam ruangan yang biasa dipakainya untuk beristirahat. Kemudian, dirinya mempersilakan wanita itu untuk duduk di kursi yang tersedia.
Wanita itu menyodorkan tangannya kepada gadis yang ada di hadapannya – memberi isyarat ingin memperkenalkan diri.
Atas keramahannya, gadis itu menyambut tangan wanita yang saat ini duduk di hadapannya.
“Saya Casandra, Ibu dari laki-laki yang kamu tolong semalam,” ungkap wanita itu. “Namamu?” tanyanya sembari menatap intens ke wajah gadis lugu di hadapannya – yang tangannya masih ia jabat dengan lembut.
“Saya Zeze, Bu,” ucap gadis itu memperkenalkan diri.
Casandra tersenyum tipis melihatnya. “Nama yang imut,” celetuknya.
“Gue jadi berpikiran, kalau orang yang gue tolong semalam, bukanlah orang sembarangan. Bahkan, Ibunya pun datang sama pengawal-pengawalnya,” Zeze membatin.
“Kamu...bekerja di sini?” tanya Casandra – memecah keheningan yang terjadi sesaat.
“Lebih tepatnya, ini kepunyaan saya, Bu,” sahut Zeze. Dirinya nampak masih gugup berhadapan dengan wanita itu.
Casandra mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tasnya. Ia menyodorkan kartu itu ke hadapan Zeze.
“Ini kartu nama anak saya. Di sini, ada nama anak saya, alamat kantornya dan nomor telfonnya. Jika ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk menghubunginya, ya? Saya harap, kalian bisa berteman dengan baik,” ujar Casandra panjang lebar.
“I-iya, Bu,” sahut Zeze singkat.
Casandra menelfon ke salah seorang anak buahnya, ia memerintahkan anak buahnya itu memasuki ruangan di mana tadinya hanya ada ia dan Zeze saja.
Tidak lama kemudian, salah seorang pengawal Casandra masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa sebuah koper jinjing di tangannya. Kemudian, ia langsung meletakkan koper itu di atas meja hadapan Zeze.
Casandra memerintahkan agar koper itu dibuka. “Ini adalah kompensasi untuk kamu karena sudah membantu anak saya semalam,” ujarnya.
“Bu, saya membantu dengan ikhlas. Saya benar-benar nggak bisa menerima uang ini. Saya pastikan, kalau saya tidak akan mengganggu anak Ibu,” ucap Zeze.
“Hey...bukankah tadi saya mengatakan kalau semoga kalian bisa berteman dengan baik ke depannya?” tanya Casandra. “Uang ini, hanya sebagai imbalan, bukan suapan agar kamu menjauhi anak saya,” sambungnya.
“Tapi, Bu. Saya benar-benar nggak bisa menerima uang sebanyak ini. Saya sungguh-sungguh, ikhlas membantu anak ibu semalam,” sahut Zeze bersikeras.
***
“Nyonya sudah menemukan keberadaan gadis yang menolong Tuan semalam,” Donald membuka pembicaraan. Ketika ia dan Kenneth dalam perjalanan menuju pulang. “Saya juga baru mendapat informasi dari orang yang mengikuti Nyonya, bahwa gadis itu tidak mau menerima uang pemberian Nyonya,” ungkapnya.
“Kita ke sana sekarang juga,” perintah Kenneth.
Supir yang mulanya hendak mengemudi menuju kediaman tuannya itu pun, kini ia langsung mengubah haluan, menuju tempat yang telah diinformasikan melalui grup chat anak buah keluarga Kenneth – tempat di mana Nyonya Besar mereka berada.
Mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata itu pun, akhirnya tiba di sebuah kafe – tempat di mana Casandra berada.
Kenneth bergegas keluar dari mobil, menghampiri beberapa pengawal Mamanya yang masih berjaga di depan kafe itu.
“Bawa saya ke tempat mereka berada,” perintah Kenneth.
Salah seorang pengawal pun mengantar Kenneth menuju tempat Mama dan gadis yang semalam menolongnya berada.
“Ma...” panggil Kenneth sesaat setelah pintu dibukakan untuknya.
Melihat kedatangan Kenneth, Zeze merasa kalau jantungnya kini berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Bagaimana tidak?
Pesona Kenneth membuatnya mematung. Pria yang semalam ia lihat begitu lemah, kini malah nampak begitu kuat – bahkan hampir tidak terlihat bahwa dirinya sehabis terluka parah.
“Kenapa kamu bisa sampai ke sini?” tanya Casandra pada anak laki-lakinya itu.
Kenneth tidak menjawab pertanyaan Mamanya itu, ia malah fokus menatap Zeze yang juga menatapnya tanpa henti sejak kehadirannya tadi.
“Kenneth!”
Sentakan sang Mama juga lah yang akhirnya menyarkan Kenneth.
“Berantem nggak nih?” tanya Zeze dalam hatinya.
Pada akhirnya, ibu dan anak itu tidak bisa memaksakan Zeze. Ia tetap bersikeras untuk menolak sejumlah uang yang nominalnya tidak sedikit itu.
Kenneth dan sang Mama akhirnya pulang, kembali membawa koper berisi uang yang sudah disiapkan sebelum mereka menemukan keberadaan Zeze.
“Mama nggak mau tahu, kamu harus dekati anak itu. Kalau bisa pun, besok nikahin dia,” ucap Casandra.
Kenneth tidaklah terkejut lagi. Sebab, ini bukan kali pertama sang Mama menyuruhnya untuk menikah.
“Aku akan cari cara untuk dekati dia, Ma. Asal jangan di desak, akan aku lakukan,” sahut Kenneth santai.
“Sepertinya, dia memang berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah Mama perkenalkan ke kamu sebelumnya, Ken,” ucap Casandra lagi.
Kenneth mengangguk samar – tanda ia pun setuju akan asumsi yang dilontarkan oleh Mamanya tadi.
***
“Kok tutup, Ze?” tanya Leena. Sahabat Zeze yang baru saja tiba di kafe sahabatnya ini.
“Panjang ceritanya, Na,” sahut Zeze dengan nada lemas.
“Pelan-pelan deh lo cerita sama gue,” ucap Leena.
Zeze pun menceritakan runtutan ceritanya. Dari semalam yang dirinya membantu seorang lelaki yang tidak berdaya, hingga ia didatangi oleh kerabat lelaki itu dan diberikan sejumlah uang.
“Gue yakin, mereka bukan orang sembarangan, Ze,” ucap Leena dengan nada pelan.
“Iya, Na. Kelihatan banget. Dari mereka yang selalu bawa bodyguard,” sahut Zeze.
“Lagian lo jadi orang terlalu baik. Salah tolong orang, tahu rasa, ‘kan?”
“Hati nurani gue nggak bisa diam kalau lihat hal yang begitu, Na.”
“Rencana lo selanjutnya apa? Nggak mungkin lo tutup kafe ini dan pindah ke tempat lain, ‘kan?”
“Gue rasa, itu akan percuma, Na. Tanpa gue kasih tahu aja, mereka tahu di mana keberadaan gue. Padahal, pagi tadi gue pergi tanpa meninggalkan jejak apapun.”
Zeze menghela napasnya dengan berat. Ia benar-benar hampir tidak menyangka dengan keadaan yang ia alami. Bahkan, ia merasa getir ketika membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya – setelah ia mengenal keluarga Kenneth, keluarga berlatar belakang tidak biasa itu.
“Lo beneran mau tutup dulu malam ini?” tanya Leena mengalihkan pembicaraan.
Zeze mengangguk, lantas berkata, “Daripada gue nggak fokus nanti layanin orang.”
Sebuah panggilan telfon masuk di ponsel Zeze – di tengah perbincangannya dengan Leena.
“Siapa?” tanya Leena penasaran, ketika ia mendapati Zeze terdiam sesaat setelah menerima sambungan telfon itu.