KYK 8

1789 Words
Ghafi pov Setibanya di apartemen aku langsung menghempaskan tubuhku di kursi ruang makan sedangkan Fahri langsung kusuruh ke dapur untuk mengambilkan aku minum. Aku benar-benar muak melihat adegan dan tatapan lelaki bernama Bara itu saat menatap isteriku dengan tatapan yang berbeda dan dengan beraniberaninya lelaki itu mengatakan bahwa dia adalah teman dekat isteriku di hadapanku sendiri yang masih sah menjadi suami Adeeva. Aku langsung menggebrak meja makan yang ada di depanku karena kekesalanku yang tak bisa aku lampiaskan tadi di depan lelaki bernama Bara itu “ BRAAAAK” “ Astagfirullah, kamu kenapa sih Ghaf, tiba-tiba gebrak meja bikin kaget aja deh.   ” Fahri yang sedang berjalan ke arahku terkejut karena gebrakan meja yang kulakukan dan Fahri meletakan minuman dihadapanku, kemudian langsung kutenggak minuman itu hingga tak tersisa. “ Seenaknya aja ya, tuh lelaki sebut dia teman dekat Adeeva, Adeeva juga mau aja deket sama lelaki kaya gitu, dengan mudahnya Deeva juga nyebut orang tua lelaki sialan itu dengan sebutan mama, emang ngga bener semua ini, kamu lihat tadi kan ri tatapannya pada Adeeva benar-benar menjijihkan, buat aku pingin muntah tau, terus kenapa kamu malah ketawa.” Kekesalanku kuluapkan pada Fahri dan saat aku menatap Fahri dengan santainya dia malah tertawa. “ Kamu lucu Ghaf, kamu sendiri yang biarin Adeeva pergi gitu aja, sekarang giliran ada yang deket sama Adeeva kamu cemburu, pantas aja Adeeva ngga betah punya suami kaya kamu Dulu ada Adeeva kamu sia-siain setelah dia punya yang baru mau kamu rebut bingung aku sama kamu Ghaf.” Ledek Fahri padaku. “ Apa kamu bilang aku cemburu sejak kapan aku cemburu sama lelaki yang ngga selevel sama aku, ngga ada ya dalam kamus hidupku.” Elakku “ terus kalau kamu ngga cemburu, kenapa kamu jadi marah-marah ngga jelas gini.” Balas Fahri yang mengintrogasiku “ Siapa yang marah, aku cuma ngga suka liat lelaki itu yang seenaknya deketin isteri orang, Adeeva juga ngapain kegenitan mau aja dideketin.” “ Ya Allah Ghaf, mana Bara tahu kalau Adeeva isteri kamu, bukannya kamu yang mau nutupi pernikahan kamu sama Adeeva, kok sekarang malah nyalahin orang lain. Setahu aku dari tadi ngga pernah tuh Adeeva kelihatan genit sama Bara. Kamu aja yang berfikiran negatif terus sama Adeeva, karena dimata kamu Adeeva selalu salah kan. Ghaf… Ghaf kalau cemburu bilang aja ngga perlu malu kaya sama siapa aja. Udah ah, aku mau mandi dari pada disini cuma liatain orang yang lagi cemburu buta.” Ujar Fahri padaku yang lagi-lagi meledeku dan pergi menjauhiku. “ Udah sana, disini bukannya bantu nenangin aku, malah tambah bikin kesel kamu.” Ucapku Aku pun langsung memikirkan banyak pertanyaan yang membuatku pusing sendiri. Apa karena lelaki itu Adeeva tidak mau kembali lagi denganku, apa Adeeva mempunyai hubungan dengan lelaki itu kalau iya bagaimana. Aku harus bisa membawa Adeeva kembali padaku dan aku tak akan pernah membiarkan Bara mengambilnya dariku. Sesuatu yang sudah menjadi milikku tak akan pernah kubiarkan ada yang mengambilnya, termasuk Adeeva. ***   Sedangkan untuk hari ini Adeeva menginap di rumah Cayra, karena Cayra yang memaksa Adeeva untuk menginap dirumahnya. Adeeva pun menyetujuinya karena untuk sementara ini Adeeva pun takut Ghafi akan mengikutinya dan tahu rumahnya. Orang tua Cayra pun melarang Adeeva untuk pulang setelah mengetahui cerita dari Cayra. “Deev untuk sementara umi minta, kamu tinggal bareng kita disini ya, umi ngga mau kamu kenapa-napa umi khawatir sayang jangan temui suamimu lagi ya umi takut kamu akan sakit lagi nak umi ngga mau liat anak umi sedih lagi.” Ucap umi Azizah, umi dari Cayra sambil menggenggam tangan Adeeva disaat mereka sedang berkumpul diruang keluarga setelah selesai makan malam. “ Ya umi, tapi Deeva akan tetap menyelesaikan masalah deeva sama mas Ghafi, Deeva ngga mau kehidupan Adeeva selalu di gantung dan dipermainkan seperti ini terus sama mas Ghafi mi.” “ Adeeva benar umi, mau bagaimanapun dia harus menyelesaikan rumah tangganya dengan Ghafi. Adeeva tak bisa hidup di gantung seperti ini terus. Apapun keputusan kamu nantinya abi akan doakan semoga yang terbaik buat kamu nak.” Nasehat Abi Damar, ayah Cayra. “ Bener deev kamu harus secepatya minta cerai sama Ghafi, aku males banget tadi liat muka lelaki pecundang kaya  Ghafi. Apalagi sama temennya Ghafi tingkahnya ngeselin banget tau Deev.” Kesal Cayra “ Maksud kamu mas Fahri, Cay.” Jawab Adeeva dan Cayra hanya mengangguk, Adeeva pun melanjutkan ucapannya. “ Dia sahabat mas Ghafi dari dulu cay, dia itu orangnya beda banget sama mas Ghafi, orangnya baik kok. Dulu waktu aku sering dalam masalah dia sering bantuin aku tau.” Jelas Adeeva. “ Ya Allah Deev orang kaya dia kamu bilang baik, orang ngeselin banget kaya gitu, genit lagi orangnya.” Ucap Cayra “ Hey sejak kapan abi ngajarin kamu buat jelek-jelekin orang, apalagi orang itu baru kamu kenal, itu namanya suudzon cay.” Naehat abi lagi “ Astagfirullah, iya bi maaf abis dia emang genit banget umi, abi jadi ya Cayra sebel litanya.” Jelas Cayra membela diri. “ Jangan jangan mas Fahri suka kali sama kamu cay, jarang-jarang lho mas Fahri deket dan ngobrol sama cewe. Dia itu orangnya paling susah tau buat deket sama wanita walaupun orangnya asyik.” Ledek Adeeva pada Cayra. “ Apaan sih kamu Deev, ya Allah amit amit deh deev jangan sampai sama dia.” Elak Cayra dan langsung kesakitan karena tiba-tiba dicubit oleh uminya.” Awwww ya Allah umi sakit tahu, kenapa umi malah nyubit Cayra.” “ Ngga baik kamu bilang seperti itu nanti kalau sampai kata-kata itu balik ke kamu sendiri gimana. Qadarullah cay sama saja lkalau kamu bicara seperti itu berarti kamu mendahului takdir Allah, ngga baik tau ” “ Ya umi maaf.” Sesal Cayra yang langsung memeluk umi dan Adeeva “ Umi sama abi cuma mau yang terbaik dan kebahagian untuk anak anak umi.” Jawab umi Azizah dan abi  Damar hanya tersenyum melihat adegan antara anak dan umi. Adeeva Pov Selesai mengobrol abi dan umi menyuruh kami untuk istirahat karena waktu sudah larut. Aku sangat beruntung bisa memiliki keluarga seperti  ini sekarang. Aku bisa merasakan lagi kebahagiaan karena memiliki umi Azizah, abi Damar dan Cayra.  Aku jadi teringat masa-masa bahagiaku dulu saat masih bersama ayah, bunda dan kak Afkar. Tak pernah air mata ini mengalir karena kesedihan karena keluargakulah yang selalu ada untukku.  Aku benar benar merindukan mereka, tak pernah aku lupa untuk mendoakan kebahagian ayah bunda yang telah pergi mendahuluiku. Aku jadi teringat kak Afkar, setelah kepergian ayah kak Afkar berubah drastis padaku sikapnya acuh dan sangat cuek padaku. Padahal disaat kehilangan ayah aku benar-benar mengharapkan perhatian darinya, karena saat itu aku pun dalam kondisi yang syok dengan pernikahan terpaksa yang harus aku jalani. Tapi kak Afkar benar-benar menjauhkan diri dariku, dia langsung menyuruhku untuk tinggal dengan suamiku. Karena dia akan meneruskan perusahaan ayah yang ada di Jepang dan akan menjual perusahaan ayah yang ada di Indonesia. Walau aku sulit untuk menerima kepergian kak Afkar aku belajar untuk ikhlas dengan jalan yang Allah berikan padaku mungkin kak Afkar akan mendapatkan kebahagiaanya disana. Setelah kepergian kak Afkar pun aku tak pernah mendapatkan kabar darinya sampai sekarang. Apa dia sudah memaafkanku atau justru dia telah melupakanku. Akupun menangis karena rasa rinduku yang sangat besar pada kak Afkar.  Tak pernah sedikitpun aku membencinya walau dia telah meninggalkanku, karena aku yakin sebenci apapun kak Afkar padaku sekarang pasti dalam hati kecilnya masih ada secuil kasih sayangnya padaku.  Saat fikiran dan hati ini sedang pilu mengingat kenangan masa lalu, tiba tiba ponselku bordering karena ada yang menelfon dan Adeeva bingung karena yang menelfonnya nomer yang tidak dikenalnya. Dengan was-was dia pun mengangkat panggilan di ponselnya. “ Halo, Assallamualaikum, maaf dengan siapa ya.” Jawabku dengan sopan dan anehnya orang yang menelfonnya tak menjawab salamnya dan hanya diam. Aku menjauhkan ponselku dari telingaku dan melihat layar ponselku aku kira sudah dimatikan ternyata belum akhirnya aku memberikan salam lagi “ Halo, Assallamualaikum maaf dengan siapa ya.” “ Waalaikumsalam, aku Ghafi.” Jawab Ghafi Aku benar-benar terkejut ternyata yang menelfonku mas Ghafi. Darimana dia tahu nomerku. “ Ini bener mas Ghafi, dari mana kamu bisa tahu nomerku.” Balasku dengan kesal. “ Mencari tahu keberadaanmu sekarang saja mudah bagiku apalagi hanya mendapatkan nomermu.” “ Kamu memang seenaknya aja ya. Ada apa kamu menelfonku malam-malam.” Tanyaku dengan ketus “ Besok pagi aku akan menjemputmu, ada yang harus aku bicarakan lagi padamu ini penting.” Jawab mas Ghafi “ Aku ngga bisa mas besok pagi, aku ngajar besok, kalau kamu mau kita ketemu siang setelah pulang sekolah seperti tadi.” Balasku “ Aku ngga mau tahu, besok kamu ijin, bilang aja kalau kamu ada acara.” Suruh mas Ghafi “ Kamu memang ngga berubah ya seenaknya aja nyuruh orang kaya gitu.” Aku benar-benar marah karena dia selalu seenaknya seperti ini. “ Pokoknya aku besok jemput kamu pukul 07.00, bilang aja besok aku harus jemput kamu dimana.” Tanya mas Ghafi. “ Kamu ngga perlu jemput aku aku bisa pergi sendiri. Kamu kasih tahu aja dimana kita mesti ketemu. Apa kata orang nanti liat aku sama kamu jalan bareng.” Tolakku pada mas Ghafi, akhirnya aku menyerah karena aku tahu mas Ghafi adalah orang yang ngga pernah mau mengalah dan dia akan tetap nekat walau aku menolaknya. “ Ok nanti aku akan kirimi alamat yang harus kamu datangi besok. Oh ya inget kamu datang sendiri jangan sampai sama orang lain apalagi sama cowo yang ada di restoran tadi ya dan ngga usah kegenitan sama cowo lain inget kamu itu masih isteri sahku.” jawabnya. “ Apaan sih kamu mas siapa juga yang kegenitan sama mas Bara. Dan kamu ngga ada urusannya sama hubunganku dengan mas Bara.” Kesalku pada Mas Ghafi karena setiap bicara dengannya pasti ada aja masalah yang dia buat. “ Jelas ada urusannya denganku, dan sampai kapanpun itu semua akan jadi urusanku jika itu menyangkut tentangmu.” Mas Ghafi pun berkata dengan lantang membuatku terkejut. “ Udah lah mas ini udah malam aku ngga mau ribut, karena setiap aku bicara sama kamu pasti ujung-ujungnya berantem. Kita ketemu besok aja.” “ siapa juga yang cari ribut sama kamu, kalau kamu nurut aku juga ngga akan marah-marah, ok  besok aku tunggu kamu, akan aku kirimi alamat yang harus  kamu datangi besok.” “ Ya, Assallamualaikum.” Balasku “ Waalaikumsalam” jawab mas Ghafi Mas Ghafi memang selalu menguras emosiku. Kesabaranku padanya sekarang tidak seperti dulu. Dulu aku selalu bisa dia hina dan dia rendahkan harga diriku. Tapi sekarang aku akan pertahankan apa yang menurutku benar dan aku akan memperjuangkan martabatku sebagai seorang wanita. Dia memang masih suamiku yang sah tapi jika dia terus-menerus memperlakukanku dengan seenaknya aku pun bisa melawan.  Dalam hati aku terus beristigfar dan meminta petunjuk pada Allah semoga Allah selalu memudahkan jalan yang akan aku ambil nanti. Aku memutuskan untuk istirahat dari pada memikirkan suami yang selalu membuatku naik darah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD