Mereka turun di salah satu restoran yang tidak jauh dari sekolah. Fahri sebelum ini memang sudah mencari tempat untuk pertemuan Ghafi dan Adeeva. Tak menunggu lama setelah keluar dari mobil Ghafi membuka pintu belakang dan langsung menggenggam tangan Adeeva dan menariknyakeluar dari mobil.
“ Mas lepas apa-apaan sih kamu.” Pinta Adeeva yang kaget dengan perilaku Ghafi.
“ ri kamu urus dia.” Ghafi bukannya menjawab Adeeva malah menyuruh Fahri untuk mengurus Cayra karena Ghafi ingin berbicara berdua dengan Adeeva dan langsung membawa Adeeva masuk ke restoran menuju ke ruang khusus di dalam restoran itu yang sudah Fahri pesankan, Adeeva pun hanya pasrah.
“ Hey, Ghafi jangan bawa Adeeva.” Teriak Cayra yang mau menghentikan Ghafi tapi langsung di cegah oleh Fahri dengan menghadang Cayra yang akan mengikuti Ghafi dan Adeeva.
“ Cay, aku mohon beri waktu buat mereka. Mereka butuh waktu untuk bicara. Aku jamin Ghafi ngga akan macam-macam sama Adeeva. Apalagi ini tempat umum, percaya sama aku Adeeva akan baik-baik aja.” Ucap Fahri menenangkan Cayra.
“ Ok aku percaya.” Dan Cayra pun pasrah hanya mengangguk.
“ Sekarang kita cari tempat juga yuk Cay buat ngobrol.” Ajak Fahri yang melirik kearah Cayra dengan mata berkedip seolah sedang menggoda.
“ Jangan macam-macam kamu ya nanti aku tumbuk kamu.” Cayra yang langsung mengancam Fahri dengan mengepalkan tangannya kearah muka Fahri.
“ Ya ampun Cay jangan galak-galak banget gitu kali. Maksudku kita juga masuk ke dalam masa mau nunggu di luar gini, emang kamu ngga lapar.” Ajak Fahri dan tanpa menjawab Cayra langsung masuk ke dalam untuk memesan makanan.
“ Ya ampun tunggu kenapa Cay, giliran diajak makan aja cepet kamu jalannya.” Ucap Fahri yang langsung menyusul Cayra yang sudah berjalan mendahuluinya.
***
Ghafi memang sengaja menyuruh Fahri untuk memesankan ruangan yang lebih private agar dia bisa berbicara dengan Adeeva tanpa ada yang mengganggu. Tak membutuhkan waktu lama pesanan yang Ghafi pesan sudah datang, tapi sebelum pesanan datang Ghafi dan Adeeva hanya diam tanpa berbicara sama sekali tiba-tiba handphone Gahfi berdering sehingga memecahkan keheningan dan yang Adeeva tahu dari percakapan Ghafi ditelfon itu masalah pekerjaan.
“ Kita makan dulu, baru itu kita bicara.” Ucap Ghafi yang sebenarnya dalam hati Ghafi ingin mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama Adeeva.
“ Tapi mas kamu kan janji cuma sebentar tapi dari tadi pun kamu ngga bicara apa-apa, aku ngga bisa lama-lama aku pulang sekarang aja aku kesini karena kita mau bicara bukan mau makan” Jawab Adeeva dengan kesal
“ Aku lapar Deev, dari tadi aku belum makan apa-apa, dari pada kamu yang aku makan, sekarang sebaiknya kita makan dulu nanti baru kita bicara. ” Ucap Ghafi sambil menakut nakuti Adeeva walau hanya bercanda tapi ekspresi yang Ghafi tampilkan begitu serius. Adeeva pun hanya mendengus kesal mendengar kata-kata Ghafi yang selalu seenaknya.
Selama mereka makan Ghafi tak pernah berhenti memangdang Adeeva, sedangkan Adeeva yang dari tadi dipandangi Ghafi merasa rishi akhirnya angkat bicara.
“ Kalau kamu liatin aku terus kapan selesai makannya mas.” Jawab Adeeva dengan ketus
“ Geer kamu memang kenapa kalau aku liatin kamu, apa ada larangan yang melarang aku buat mandang kamu.” Jawab Ghafi dengan percaya diri.
“ Memang ngga gga ada, tapi aku risih kamu liatin terus.” Adeeva pun langsung diam setelah berkata seperti itu sampai mereka selesai makan Ghafi masih tetap melakukan hal yang sama yaitu memandangi Adeeva.
Setelah selesai makan Ghafi langsung mengatakan apa maksud dan tujuannya “ Ok aku ngga mau berbasa basi, langsung aja aku mau kamu ikut aku pulang ke rumah sama aku ke Jakarta.”
Saat mengatakan maksudnya Adeeva yang sedang minum langsung trsedak mendengar ucapan Ghafi. “ Uhukuhukuhukk…” Ghafi langsung memberikan saputangan pada Adeeva tapi langsung Adeeva menepisnya, Ghafi hanya diam walau sedikit marah dengan perilaku Adeeva tapi dia mencoba tenang.
“ Apa kamu bilang mas ikut kamu pulang, apa aku ngga salah dengar. Maksud kamu pulang ke rumah mana.” Tanya Adeeva dengan nada mengejek atas pertanyaan Ghafi
“ Ya pulang ke rumah kitalah.” Jawab Ghafi dengan santai.
“ Dengar baik-baik ya mas, semenjak aku keluar dari rumah kamu dan kamu pun mengharapkan kepergianku aku sudah menganggap itu bukan lagi rumahku. Dan sekarang disinilah tempatku.” Tolak Adeeva dengan tegas
“ Dengar Adeeva kamu masih isteri sahku, aku pikir kamu lebih tahu hukum dalam agama menolak perintah suami itu bukannya dosa, apa hanya penampilanmu yang berubah ini, tapi hatimu masih kotor seperti dulu.” Ucap Ghafi dengan kata-kara yang meremehkan
“ Cukup mas, kamu bilang isteri, dari kapan kamu sebut aku isteri kamu mas, tak pernah selama ini kamu menganggapku isteri. Dan jangan bawa-bawa dosa kamu mas, hanya Allah yang berhak menghakimi bukan kamu mas, apa kamu pikir selama ini perbuatanmu itu benar menyakiti hati seorang istri, apa itu tak berdosa. Aku capek mas, aku mohon sama kamu mas, sebaiknya kita berhenti untuk saling menyakiti. Dan aku mau bertemu dengan kamu karena ada yang ingin aku bicarakan juga padamu. Aku mohon mas lepaskan aku. Untuk apa kita lanjutkan semua ini jika kita saling tersakiti.” Kata Adeeva yang tiba-tiba meneteskan air mata Ghafi yang mendegar kata-kata Adeeva langsung menatap Adeeva dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
“ Dengar aku Adeeva, apa kamu lupa degan kata-kataku terakhir kali, aku ngga akan pernah melepaskanmu.” Jawab Ghafi dengan menahan amarah
“ Adeeva mohon mas, Adeeva benar-benar minta maaf atas hancurnya kehidupan mas Ghafi dan kematian papa. Adeeva pun ngga pernah mau semua itu terjadi mas, kalau Adeeva bisa memilih dulu Adeeva lebih memilih Adeeva yang meninggal mas. Tapi itu semua takdir mas. Adeeva pun ngga mau terus terusan menyakiti mas Ghafi. Adeeva sudah tenang mas dengan kehidupan Adeeva yang sekarang. Jadi Adeeva mohon mas.” Permohonan Adeeva sebenarnya mengusik perasaan Ghafi dalam hati Ghafi melihat tangisan Adeeva saat ini begitu menyakiti hatinya. Tapi dia tak pernah bisa mengesampingkan egonya dia tetap bersikap angkuh walau dalam hatinya merasa sakit.
“ mau kamu berlutut dan menangis darah pun aku ngga akan pernah menceraikanmu ingat itu baik-baik. Sebaiknya kita sudahi dulu pembicaraan ini, mungkin kamu butuh waktu sekarang aku antarkan kamu pulang” Ghafi berfikir semakin dia berbicara pada Adeeva akan membuat suasana semakin buruk karena mereka sama-sama sedang emosi. Ghafi pun menyudahi pertemuannya dengan Adeeva.
“ Tapi mas ….” Ucapan Adeeva yang elum selesai langsung di balas Ghafi
“ Kita bicarakan ini lain waktu, aku pun di sini masih lama, jadi kita bisa bertemu lagi.” Jawab Ghafi sambil menarik tangan Adeeva
“ Aku bisa pulang sama Cayra, mas Ghafi ngga perlu nganterin aku.” Tolak Adeeva sambil menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Ghafi dan mereka pun langsung keluar dari ruangan.
***
Sedangkan di tempat, selama makan dan sampai selesai pun Fahri dan Cayra selalu melirik ke tempat makan Ghafi dan Adeeva. Cayra merasa khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Adeeva.
“ Kenapa mereka lama banget sih, sebenarnya apa sih mau sahabat kamu itu. Mau nyakitin Adeeva lagi. Buat apa Ghafi kembali ke kehidupan Adeeva yang sudah jauh lebih baik sekarang, tapi malah kalian datang dan mengacaukan kehidupannya lagi.” Geram Cayra yang dia luapkan pada Fahri.
“ Yang salah Ghafi kenapa kamu marahnya ke aku sih. Kita doakan saja yang terbaik buat mereka berdua.” Jawab Fahri
Saat Fahri dan Cayra sedang berbincang tiba-tiba ada yang mendekati mereka.
“ Assallamualaikum cay.” Salam Bara
“ Wa’alaikumsalam, kak Bara kok disini, ada perlu apa” Jawab Cayra yang terkejut dengan kedatangan Bara.
“Aku lagi mau beli pesanan mama karena baru pulang dari kampus jadi sekalian langsung mampir deh . Kamu sendiri kesini sama siapa” Balas Bara sambil bergurau yang kemudian melirik ke samping Cayra dan heran melihat Cayra sedang bersama laki-laki.
Cayra yang melihat ekspresi Bara pun cepat-cepat menjawab karena takut Bara salah paham dengan adanya Fahri disampingnya.” Oh dia ini….. itu kak, kenalin dia itu pak Fahri asisten dari pendnatur sekolah kak.” Bara pun langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan begitu juga dengan Fahri
“ Oh kakak kira dia calon suami kamu Cay, kalau iya kakak kan ikut seneng.” Ledek Bara pada Cayra
“ Apaan sih kak Bara, sembarangan aja deh bicaranya.” Elak Cayra dengan cepat
“ Perkenalkan saya Fahri.” Ucap Fahri yang tersenyum mendengar tebakan Ghafi
“ Saya Bara temannya Cayra.” Balas Bara
Kemudian Bara pun menengok kanan kiri seperti mencari keberadaan seseorang.
“ Kamu sendiri Cay, Adeeva mana biasanya kamu kan selalu sama Adeeva.” Tanya Bara
“ Oh itu kak, Adeevanya lagi….” Belum selesai Cayra akan menjawab mata Cayra menengok dan melihat Adeeva yang berjalan bersama Ghafi mendekat, kemudian Cayra melanjutkan ucapannya dan menunjuk kea rah Adeeva. “ itu Adeeva kak.”
Bara pun langsung menengok kearah yang ditunjuk oleh Cayra, Tapi Bara heran melihat Adeeva yang tidak berjalan sendiri tapi ada seorang lelaki yang berjalan disamping Adeeva.
“ Kak Bara kok ada disini juga.” Ucap Adeeva yang terlihat gugup karena takut Bara curiga melihat kebersamaanya dengan Ghafi.
“ Oh kak Bara lagi beli pesanan buat mama Deev, Adeeva lagi ngapain disini.” Tanya Bara sambil menengok ke Ghafi dan Ghafi yang dilihat terlihat cuek.
“ Oh ini kak, kenalin ini pak Ghafi, Adeeva sama Cayra lagi di tugaskan sama sekolah buat meeting sama pak Ghafi dan pak Ghafi ini salah satu donatur sekolah yang akan mendonasikan dana ke pembangunan perpustakaan di sekolah kak.” Adeeva yang menjelaskan dengan berbohong pada Bara karena tak mungkin ia mengungkapkan alasan pertemuannya dengan Ghafi dan juga tak mungkin memberitahu siapa Ghafi sebenarnya pada Bara. Karena yang Bara tahu suami Adeeva telah meninggal.
“ Perkenalkan pak saya Bara teman dekat Adeeva.” Kata Bara dengan penuh keyakinan sambil mengulurkan tangannya, sedangkan Adeeva dan yang lainnya terkejut mendengar penuturan Bara. Ghafi pun membalas tangannya Bara dengan malas dan senyuman sinis.
Dalam fikiran Adeeva saat ini hanya ingin menjauhkan Ghafi dari Bara, dia takut Ghafi akan melakukan sesuatu yang tidak baik pada Bara. Adeeva melirik ke Ghafi dan melihat Ghafi dengan ekspresi wajah yang menahan emosi sambil mengepalkan tangannya, sebelum sesuatu yang buruk terjadi Adeeva mengajak Cayra untuk pamit.
“ Kalau gitu saya dan Cayra permisi pulang dulu ya pak Ghafi dan pak Fahri, untuk pertemuan selanjutnya kita bahas lain kali.” Ucap Adeeva
“ Oh kalau gitu, kakak anterin kamu sama Cayra pulang ya.” Tawaran Bara ternyata membuat Ghafi semakin geram. Adeeva yang melihat Ghafi pun langsung menjawab.
“ Ngga perlu kak, aku sama Cayra bisa naik taksi, lagi pula kakak kan lagi pesen makanan. Jadi kita pulang sendiri aja. Lagipula kasihan mama pasti udah nungguin. Assallamualaikum semuanya” Adeeva langsung menarik tangan Cayra untuk pulang.
“ Waalaikumsalam” jawab Ghafi,Bara dan Fahi bersamaan
Setelah kepulangan Adeeva, Ghafi masih menatap Bara dengan pandangan yang sulit diartikan. Fahri yang takut Ghafi tak bisa menahan emosinya pun, langsung menarik tangan Ghafi untuk pulang.
“ Karena urusan kami pun sudah selesai, jadi kami pun pamit dulu tuan Bara, senang bisa bertemu dengan anda, Assalamualaikum.” Ucap Fahri sambil menyalami Bara sedangkan Ghafi langsung melangkah pergi dan mengacuhkan percakapan Fahri dan Bara.
“ Waalaikumsalam, saya juga senang bertemu dengan anda.” Balas Bara yang heran melihat perilaku Ghafi yang baginya sangat sombong.
Fahri yang melihat tingkah Ghafi langsung geleng-geleng kepala dan langsung mengikuti langkah Ghafi untuk memasuki mobil dan kembali ke apartemen.