Dinner

1116 Words
Terkadang cinta memang tidak tahu kapan datangnya, Zalfa menatap mata hitam Edgar, tatapan tajamnya begitu menyihir dirinya, ia merasa seperti tak bisa bernapas. Edgar berdiri menunduk menatap Zalfa, tanpa ekspresi. "Bunda.. Edgar menyukai Bunda guru." ucapnya kemudian, Zalfa merasa terkejut, di tempat umum Edgar tanpa malu menyatakan perasaannya. Membuat dirinya salah tingkah, Lalu ia menoleh ke sekelilingnya, banyak mata yang menatap mereka berdua, membuat Zalfa seakan malu di buatnya. "Sudah, ayo lanjutin belanjanya." Zalfa, berusaha mengalihkan perhatian, ia berbalik, ingin mengambil troli isi belanjaannya tadi, namun tiba-tiba Edgar memeluknya dari belakang, Membuat tubuh kecil Zalfa menegang saking terkejutnya. Zalfa akui, ia memang merindukan sentuhan seorang laki-laki, sebab sepeninggalan suaminya, Zalfa masih tetap ingin menjalani hidup sendiri, ia tak ingin memulai hubungan jika tidak bisa menerima kehadiran si kembar yang sangat ia cintai. "Lepaskan!" Zalfa sedikit meronta, "Nggak mau, sebelum Bunda jawab pernyataan tadi," jawabnya, suaranya di tekan, matanya terpejam. Ia menikmati aroma tubuh Zalfa yang begitu wangi di indera penciumannya. "Lepaskan!" tegasnya sekali lagi, "kamu tak malu, di lihatin banyak orang!" kesal Zalfa, Bahkan tanpa di sadari mereka berdua, ada yang merekam adegan keduanya dan di siarkan langsung lewat instagramnya. "I don't care. I love you so much, and i hope you too, are you marry me Please." mohonnya. Pelukannya semakin erat, seakan ia tak rela Zalfa menjauh walau sejarak detik jarum jam saja. Zalfa memejamkan mata, ia menarik napas dalam. Lalu berujar. "Baiklah, tapi ada syarat." jawabnya, ragu. "Apa?" tanya Edgar, "Nanti aku kasih tahu, tapi lepas dulu pelukanmu." pintanya. Dengan ragu Edgar pun melepas pelukannya, meskipun tak rela. "Bayar dulu belanjaannya" suruh Zalfa, Edgarpun mendorong troli nya, sedikit tepaksa, ia merasa belum puas dengan jawaban Zalfa, Zalfa sendiri berjalan mendahului dengan menunduk, sebab malu karena menjadi pusat perhatian. "Kamu bayar, aku tunggu di mobi.l" suruh Zalfa, ia memberikan dompetnya ke Edgar, "Edgar saja yang bayar" jawab Edgar, Zalfa tak peduli, ia segera pergi dari depan kasir, ia sudah merasa malu. "berjilbab sich, tapi pelukan di tempat umum," ejek salah satu pengunjung, "Zaman sekarang tuch jeng, jilbab tidak bisa jadi jaminan. Banyak kok yang berjilbab tapi hamil di luar nikah." sahut Ibu pengunjung lain. "Eh ternyata mereka guru dan muridnya." sahut salah satu, pengunjung. yang merekam live kejadian tadi, "Beneran 'kah?" Dengan kepo nya, beberapa ibu-ibu menghampiri pengunjung yang merekam mereka. Mereka membaca komentar-komentar netizen, dan beberapa orang ikut berkomentar tidak baik. "Guru seperti ini harus di laporkan, jangan mentang-mentang muridnya ganteng. Terus di pacarin," gerutunya. "Aku tak mau anakku sekolah di mana dia mengajar, nanti anakku di pacarin juga lagi." sahut yang lainnya, Begitulah komentar-komentar mereka, Edgar cuma geleng-geleng kepala, mereka shok tahu sekali, gumannya. "Kalian nggak punya kerjaan ya?" sindir Edgar, saat setelah dirinya selesai membayar belanjaan yang belum semua sempat mereka beli "Mau gue pacaran sama bu guru gue, itu bukan urusan kalian, kalian nggak bisa melarang!" sahutnya lagi, Lalu ia menghubungi nomor seseorang kenalannya, untuk menghack akun sosmed seseorang yang telah menayangkan kejadian yang mereka lakukan tadi. Edgarpun berlalu dengan santai, setelah menutup teleponnya. Ia menyunggingkan senyum miring, "Awas mulut kalian, bisa jadi boomerang!" Katanya sambil tersenyum, licik. Lalu ia berlalu pergi, "Duuch.. muridnya ganteng banget sich!!" gumam, seseorang di sebelah ibu-ibu kepo tadi. Namun Edgar, cuek tak peduli. Dengan langkah pasti, Edgar keluar. Ia melangkah dengan pasti, menjauh dari kerumunan Ibu-ibu kurang kerjaan. Beberapa langkah kemudian ia sudah sampai tempat parkiran, Zalfa berdiri di sebelah mobil. Tanpa merasa bersalah Edgar, menyunggingkan senyum yang begitu manis. Lalu ia membuka pintu mobil, dan memasukan belanjaan yang baru buah-buahan saja yang mereka beli. Zalfa masuk ke mobilnya, saat Edgar akan masuk ke mobilnya, sebuah notif masuk lewat gawainya. Pesannya akun sosmed yang menyebarkan video, sudah di hapus dan di banned. Edgar pun tersenyum, lalu ia masuk ke mobilnya, "Maaf, lama ya?" ucap Edgar, cengengesan. "Hhmmm." Zalfa, hanya berdehem. "Bunda kalau ngambek cantik, ngambek aja terus ya, Bund," ledek Edgar, membuat Zalfa tak bisa menahan tawanya. "Kamu tuh ya, nyebelin! nyebelin banget jadi orang!" kesalnya. "Nggak papa, nyebelin gini Bunda guru juga suka," jawabnya, matanya melirik meledek. "Aaiih... PD banget jadi orang!!" Zalfa mencubit kesal lengan Edgar, Edgar meringis, "Ih Sayang, jangan di cubitin, ntar habis kalau di cubitin mulu. Huahahaha." Tawa Edgar, pecah, Lalu ia menangkap tangan Zalfa yang ingin mencubitnya lagi. "Eeith.. tak bisa bergerak." tangan Edgar yang berotot menggenggam tangan kecil dengan jari yang lentik zalfa, "Kamu tuh nyebelin banget!" "Udah tahu, dari tadi bilangnya nyebelin mulu, tapi.. Edgar akan buat Bu Guru jatuh cinta kepadaku," katanya, dengan PD. Lalu ia mencium lembut tangan Zalfa, Zalfa terpaku. Ia tak bisa mengelak saat bibir Edgar mendarat di punggung tangannya yang halus. Sedangkan tatapan matanya tertuju ke mata indah Zalfa. Membuat Zalfa seakan tak mampu bergerak. Zalfa mengetahui satu fakta dari muridnya yang satu ini, Edgar begithu cerewet saat bersamanya. Beda saat di kelas, ia irit bicara. Cuek dan terkesan kaku, sehingga tidak ada yang betah berteman denganya, sebab sikapnya yang cuek. "Bunda, habis maghrib. Ikut Edgar ke suatu tempat ya?" pinta Edgar. "Ke mana?" tanya Zalfa, "Ikut saja, sekarang nyari tempat shalat dulu." ungkap Edgar. Lalu ia menyalakan mesin mobilnya, Dan dengan pelan mobil melaju keluar parkiran. Tidak ada obrolan yang keluar dari mereka Zalfa masih menelan apa kata Edgar tadi, Sedangkan Edgar sendiri ia menyetir dengan menyunggingkan senyum sumringah. Ia merasa bu gurunya memberi lampu hijau kepadanya. *** Selepas shalat maghrib, keduanya kembali ke mobil. Dan melanjutkan perjalanan. Entah kemana Edgar akan mengajaknya pergi, Zalfa hanya bisa menyimpan rasa penasarannya. Ia yakin muridnya tidak akan berani macam-macam kepadanya. Lampu jalan raya bercahaya dengan indahnya, jalan padat merayap, membuat sedikit macet. Padahal bukan di Jakarta. Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Mereka sampai di sebuah coffee. Keduanya masuk ke tempat tersebut. Kafe dengan nuansa islami, waiters nya memakai seragam dan berjilbab pink nyala dan gamis hitam motif pink nampak elegant. "Pemesanan private room atas Nama Edgar Emmanue Raditya Putra," ucap Edgar, di kasir. "Oh Tuan Edgar, biar di antar pelayan kami, tunggu sebentar," jawab sang penjaga kasir, dengan begitu ramah. Dengan sekali lambaian tangan, seorang waiters cantik menghampirinya. "Antar tuan Edgar ke ruang atas, VIP, di sana sudah ada pelayan lain yang menunggu," pintanya. "Baik Ibu." jawab waitres tersebut. "Mari Mas dan Mbak, saya antar," ucap waitres tersebut. Dengan lembut. Edgar dan Zalfa mengikutinya. Mereka menuju lift, ruang yang di pesan Edgar ada di lantai paling atas. Tidak lama kemudian, Mereka sampai di ruang private namun terbuka. Di sana ada live music, sebuah lagu berjudul 'my heart' melantun dengan merdunya. Di meja sudah tersaji makan malam yang cukup romantis, Edgar dengan terus tersenyum, menatap Zalfa yang nampak terpukau dengan view Kafe tersebut, lampu malam yang indah berkelip, live musik dengan penyanyi yang berjilbab modis juga ikhwan yang juga nampak seperti orang timur tengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD