Senyum manisnya bikin candu
*
*
*
Edgar merasa sangat bahagia melihat senyum Zalfa. Zalfa begitu menikmati live music. Ia merasa tak sia-sia mengajak Zalfa untuk makan malam, meskipun acara dadakan, Sebab saat ia ke rumah Zalfa ia masih ragu jika ajakan jalan keluar di tolaknya. Namun ternyata salah, Zalfa menyetujui ajakannya walau awalnya dirinya di mintai tolong untuk mengantar belanja. Belanja yang gagal sebab Edgar yang cemburu saat Zalfa bertemu teman kuliahnya dulu.
Edgar memiliki temperamen yang labil, kadang bersikap dewasa, kadang seperti anak kecil yang minta di manja.
Zalfa tidak menyadari, di meja sudah ada setangkai mawar merah, Edgar sampai bingung bagaimana menegur Bu Gurunya yang masih menikmati alunan musik di hadapannya.
"Bund... !" Panggil Edgar, Zalfa tidak mendengarnya "Bundaaa..." panggilnya sekali lagi, pikir Edgar jika dirinya mencium pipi Zalfa. Zalfa tidak akan menyadari. Pikiran itu tiba-tiba terlintas di otaknya. Ia pun memajukan kepalanya, bibirnya siap ingin mencium pipi Zalfa yang nampak mulus itu. Namun tiba-tiba Zalfa menoleh,
"Mau apa kamu?" Tanya Zalfa dengan sedikit melotot. Edgar jadi salah tingkah
"Eeh anu itu ada nyamuk." jawabnya, asal.
"Nyamuk?" tanya Zalfa.
"Nggak dhing" Edgar menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba jadi gatal, "Bunda... Dari tadi di panggil diam saja." protesnya, bibirnya manyun, jari tangannya ia ketuk-ketukan di atas meja, wajah imutnya membuat Zalfa ingin tertawa. "Apa?" tanya Edgar tak mengerti, melihat Zalfa yang tiba-tiba tertawa.
"Kamu tuch ternyata lucu juga ya," katanya, tangan lembutnya mencubit gemas pipi Edgar,
"Ish... Edgar bukan anak kecil, aah ntar cuby pipi Edgar, Bunda guru aja yang cuby, Edgar jangan." protesnya. Tangannya memegang tangan halus Zalfa. Lalu ia menahannya.
Edgar menggenggam tangan Zalfa, raut mukanya mendadak serius.
"Bunda..." panggilnya. Dengan suara lembut. Zalfa diam, ia menahan napas, melihat Edgar yang mendadak serius. "Bunda, Edgar beneran sayang sama Bunda. Bund... Mau nggak menikah dengan Edgar, please." ungkapnya, kedua mata mereka saling bertemu, Zalfa masih mencerna kata Edgar, "Bunda.. Edgar serius." lanjutnya, yang melihat Zalfa ingin tertawa.
"Nggak lucu ah bercandanya," kilahnya
"Nggak ada yang bercanda." jawab Edgar, lalu ia memberi setangkai mawar merah. Lalu seikat bunga mawar dengan macam-macam warna, Lalu ia mengambil beludru. "Silakan pilih yang mana?"
"Maksud?" tanya Zalfa.
"Jika cincin, berarti Bunda mau menikah dengan Edgar di waktu dekat. Jika Mawar merah Bunda berarti memilih pacaran sebelum menikah, jika Seikat bunga, Bunda berarti ingin bertunangan dulu sebelum menikah" terangnya panjang lebar.
"Semuanya menikah?" protesnya.
"Karna Edgar serius sama Bunda, nggak mau main-main" jawabnya.
Lelaki yang di kenal pendiam, jika ia mengungkapkan sesuatu, sudah pasti dia tidak pernah main-main dalam ucapannya.
"Usia kita jauh, Ibu seorang janda, Ibu sudah punya anak, belum tentu kedua orang tuamu merestui hubungan kita." jawab Zalfa,
"Edgar tidak peduli, Yang akan menjalani kehidupan Edgar. Bukan orang tua kita, Bahagia Bunda adalah bahagia Edgar, jika orang tua kita tidak merestui, Edgar akan berjuang supaya kita bisa tetap bersama." ungkapnya dengan mantap.
"Bunda, asal Bunda jawab 'iya' Edgar akan berusaha memperjuangkan hubungan kita, apapun yang terjadi," lanjut Edgar,
"Ibu sebentar lagi akan pindah tugas," jawab Zalfa, lemah.
"Sejauh jarak kita, Jika kita yaqin, suatu saat pasti akan di pertemukan Bunda, Bunda Yaqin dengan kekuatan cinta Edgar, Edgar akan berusaha setia tidak akan membiarkan Bunda sedih."
"... Bunda bilang empat tahun masa tugas di Solo, Edgar juga akan menjalani pendidikan kepolisian, Empat tahun lagi kita akan bertemu. Namun sebelumnya, Izinkan Edgar menyematkan cincin ini untuk Bunda, supaya saat jauh, Bunda tidak ada yang mendekati, sebab sudah ada cincin ini, Dan Edgar juga akan memakainya. Malam ini kita bertunangan" ucap Edgar, dengan kata yang begitu manis di dengar. Lalu dirinya melambaikan tangan, musik berhenti, semua menatap ke arah Edgar,
"Ikuti Edgar." suruhnya, Edgar berdiri dan berjalan menggandeng tangan Zalfa menuju panggung. Senyumnya tak pernah lepas dari wajah tampannya.
"Bolehkah pinjem microphone?" tanya Edgar, dengan senang hati seorang penyanyi memberikan microphone ,
Edgar berdehem, lalu ia bersiap untuk berkata "Maukah kalian mendengar sebuah cerita?" tanya Edgar, ke semua karyawan yang berada di ruang tersebut. Dan juga groub band yang mengisi live music.
Namun tidak lama kemudian, dari ruang private lain masuk ke dalam ruang yang Edgar pesan, dalam hitungan menit, ruang tersebut, menjadi cukup ramai, sebab meskipun private itu letaknya di luar ruangan, hanya berbataskan sekat saja.
"Pada suatu hari, Aku melihat bidadari yang nampak cantik di lampu merah, bidadari itu sedang mengobrol dengan pengamen kecil di lampu merah. Senyumnya yang menawan membuat diri ini penasaran, bidadari itu memakai seragam ASN, beliau sedang berbincang dengan begitu ramah, lalu beliau membagikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan untuk di bagi bagikan ke teman lainya, anak-anak yang begitu bahagia mendapat rejeki di pagi hari tersebut, berebut ingin bersalaman dengan bidadari tanpa sayap tersebut, entah mengapa aku merasa kagum kepadanya. Mungkin awalnya hanya kagum, namun saat aku tahu bahwa bidadari tersebut seorang guru di sekolahku, aku sangat bahagia, dan aku, aku hanya bisa diam-diam mengaguminya....
".... Bidadari tersebut selain ramah dengan siapa saja, beliau juga selalu terlihat ceria. Hingga saat aku mulai naik kelas sebelas, baru aku syadari, sepertinya aku telah jatuh cinta, dan bisa di bilang itu cinta pertamaku. Sengaja aku bersikap acuh terhadap siapapun, hingga aku selalu di sebut manusia kutub, aku tidak peduli, sebab aku hanya ingin menjaga perasaanku. Aku ingin rasa cinta ini suci, tanpa harus di nodai ikatan pacaran. Sempat aku di gosibkan penyuka sesama jenis, tapi aku selalu cuek, sebab itu tidaklah benar, dan mungkin karena aku selalu menolak saat di tembak cewek...
".... Aku menolak bukan karena aku kelainan, namun aku tak ingin menodai cintaku dengan hal-hal yang tak berguna... Sering aku disebut orang aneh, kaku tak bisa di ajak bercanda, lebih suka menyendiri. Ya itu benar, di saat aku menyendiri, sebenarnya aku sedang mengamati pujaan hatiku, meskipun usia terpaut jauh, aku tak peduli, mungkin rasa kagum yang aku jaga bertumbuh subur menjadi rasa cinta....
".... dan malam ini, aku ingin melamar bidadari yang sudah berhasil mencuri hatiku selama hampir tiga tahun ini..." Edgar berhenti sejenak. "Kalian adalah saksi atas hubungan yang akan kami jalin, malam ini adalah mungkin malam yang indah untukku, Sebentar lagi aku lulus SMA, dan masuk ke Akpol, sedangkan bidadari di sebelahku juga akan pindah tugas di luar kota. Sejauh jarak apapun, sekuat apapun badai yang menghalangi, aku yaqin. Kekuatan cinta kita akan menyatu, entah berapa lama lagi,. Aku hanya berharap Tuhan merestui hubungan ini..."
Edgar menghadap ke Zalfa, lalu ia bertumpu dengan satu kaki, dan dengan tangan yang membawa beludru,
"Mungkin kamu tidak tahu, bahwa kejadian kebetulan yang Bunda alami adalah rencanaku " ucap Edgar dengan lembut matanya tertuju ke Zalfa, "Bunda guruku.. are you marry me?" ucap Edgar, Zalfa tak bisa berkata ia mematung, menatap Edgar, Zalfa mengetahui satu fakta lagi, yaitu semua kejadian yang di alami ternyata ulah Edgar, Yang hampir setiap hari mengirim cokelat juga bunga yang di taruh di sepeda motornya. Selalu mengingatkan untuk menjaga pola makan, istirahat yang cukup, adalah Edgar muridnya sendiri.
"Dasar bocil!" umpatnya, ia menutup mukanya sebab merasa malu di lihat banyak orang.
"Ayoo terima.!!" teriak seorang wanita yang tak lain, adalah vokal grub band itu sendiri, lalu di ikuti yang lainnya.
"TERIMA... TERIMA...TERIMA...!" Sambil bertepuk tangan,
Dengan pipi yang sudah memerah, Zalfa mengangguk.
Edgar sangat bahagia, hingga rasanya ia ingin melompat-lompat saking bahagianya.
Sebuah cincin yang nampak cantik pun ia sematkan di jari manis Zalfa, entah kebetulan atau memang jodoh, cincin itu nampak pas dan cantik di pakai di jari manis Zalfa, Setelah itu Zalfa juga memakaikan cincin ke jari manis Edgar,
Keduanya nampak bahagia. Mengingat ini hanya sebuah lamaran dadakan dan juga tunangan dadakan, itu artinya masih belum halal hubungan mereka, mereka hanya saling mengetatkan genggaman tangan.
"Sebagai ungkapan rasa syukurku. Semua tamu yang hadir malam ini, Semua bisa makan gratis, semua biaya saya yang tanggung." ucap Edgar, semua bersorak gembira, Zalfa merasa ragu, sebab Edgar yang seorang pelajar harus mengeluarkan uang lebih dari dua puluh juta untuk mentraktir mereka. "Jangan kuatir Bunda Sayang, aku bisa membayar kok." ucap Edgar, sebsb ia tahu apa yang di pikirkan Zalfa. Zalfa pun hanya bisa mengulum senyumnya. "Sekarang kita makan ya, tunanganku." bisik Edgar menggoda.
"Haish... Apaan sich!!" kilahnya, namun ia hanyalah malu-malu kucing. Dalam hati ia sangat bahagia.