Meminta Restu

1441 Words
Zalfa dan Edgar kembali ke tempat duduk mereka. Edgar benar-benar sangat bahagia bisa mendapatkan Zalfa, hampir tiga tahun menghantui pikirannya. Zalfa mengamati cincin yang baru Edgar sematkan di jari manisnya, sedikit kagum, sebab bisa pas di jari manisnya. "Kenapa Bund?" Tanya Edgar. Melihat Zalfa yang hanya diam mengamati cincin tersebut, "Bagaimana bisa pas gini cincinya?" tanya Zalfa tanpa mengalihkan pandangan dari cincin tersebut. "Hhmm.. Feeling sih. Edgar pesannya." jawabnya, "Itu di dalam cincin ada nama Edgar loch" ucapnya. Zalfa menatap Edgar, lalu kembali melihat cincin yang sudah ia pakai, "Kamu diam-diam mengukur jari Ibu juga ya?" tanya Zalfa, menyelidik. "Ish.. di bilang feeling nggak percaya," ucap Edgar. Membuang muka. "Hmm.. masa iya, sudah tunangan manggilnya Ibu?" protesnya. "'Kan Ibu gurumu." jawabnya. "Itu kalau di sekolah. Kalau di luar itu ya Bunda tunanganku. Iya 'kan Sayang?" ucap Edgar dengan mata genit. "Aih apaan sih," Zalfa menutup mata Edgar, dengan telapak tangannya. "Habis Sayang cantik banget, jadi pen liatin terus." ucapnya. "Jangan lihatin terus ntar cepat bosen," balasnya. "Enggak. Nggak akan pernah bosen." jawabnya. "Tapi sebuah hubungan, rasa bosen itu akan ada," jawab Zalfa, "Terus kalau Kamu bosen sama Ibu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Edgar, "Hhmmm.. Apa ya?" Edgar balik bertanya. "Apa kamu mau nyari wanita lain?" tanya Zalfa. "Astaghfirullah... Jangan sampai, Bund. Di kira Edgar laki-laki gampangan yang mudah tertarik sama wanita lain," "Ya 'kan Ibu udah tua, sedangkan di luar sana, banyak gadis-gadis muda yang masih muda dan cantik-cantik." "Bagiku Bunda sangat imut. Dengar ya Bundaku, Sayang. Jika kita sudah menikah nanti, Sebisa mungkin Edgar akan bertanggung jawab, ikatan pernikahan itu, tidak untuk sehari dua hari, tapi untuk seumur hidup, mungkin yang namannya bosan itu akan ada, tapi Edgar akan berusaha selalu setia. Akan selalu mengingat. Bagaimana awal perjuangan Edgar saat pertama kali bertemu, diam-diam mengikuti kemana Bunda pergi. Mencari tahu, siapa saja saudara-saudara Bunda. Semua dari hal terkecil Bunda, Edgar cari tahu." terangnya panjang lebar. "Sebegitunya 'kah?" tanya Zalfa, tak sepenuhnya percaya. "Edgar juga tahu Bunda terkadang tiba-tiba selalu menangis sendiri, " lanjut Edgar, Zalfa reflek menatap Edgar, Edgar maraih tangan Zalfa. "Tau nggak hal yang membuat hatiku sakit? yaitu ketika melihat Bunda sedih, Bunda menangis, jika Edgar punya keberanian waktu itu, Edgar ingin sekali memeluk Bunda, membuat Bunda tertawa dan ceria lagi, sebab itu ketika Bunda sedih, Edgar sering tiba-tiba muncul kadang dengan alasan bertanya tentang masalah pelajaran, Meskipun sebenarnya itu hanya pura-pura. Karna Edgar tak suka melihat Bunda sedih, itu saja." ucapnya. Entah kenapa Zalfa rasanya ingin menangis mendengar penuturan Edgar. Menyadarinya Edgar, langsung menyentuh pipi Zalfa. "Please jangan menangis, Jika terpaksa ingin menangis, silakan menangis di pelukanku." ucap Edgar, Lalu ia Edgar berdiri, merentangkan kedua tangannya, siap menyambut pelukan Zalfa, Zalfa diam, ia ragu. Namun Edgar segera meraih tangan Zalfa. Dan membawa dirinya ke pelukan hangatnya. "Menangis Bunda Sayang, jika ingin menangis, Tapi tidak boleh berlarut, Edgar sayang sama Bunda, I love you," bisiknya, tanpa di syadari Edgar juga menitikan air mata. Entah kenapa. jika dirinya melihat Zalfa yang sedih. Iapun ikut merasakan kepedihan dalam hatinya. Edgar mungkin anak yang manja, namun ia memiliki tanggung jawab yang tinggi, selain itu dirinya juga bukan orang yang dengan temperamen buruk. *** Pukul sembilan malam, keduanya sudah perjalanan pulang. Zalfa sudah merasa lelah, dirinya yang mudah ngantuk jika lelah, Ia terus menguap, Edgar meliriknya, nampak lucu jika di lihat wajahnya begitu imut. "Tidur Bund, Kalau ngantuk." suruh Edgar. "Hhmm nggak ah," jawabnya, sebenanrnya sangat ngantuk, namun Zalfa jika sudah tidur, apalagi dalam keadaan lelah, dirinya akan susah di bangunkan. "Nggak papa,,Bund... Nanti Edgar bangunin," suruh Edgar. Zalfa menggeleng, ia pun memaksa untuk tetap terjaga. Meskipun mata sudah tak tahan lagi. "Bundaaa...." panggil Edgar, merasa tak ada sahutan, ia menoleh. kemudian ia tersenyum, baru saja katanya nggak mau tidur, pas Edgar menoleh, ternyata dirinya sudah tidur. "Dasar Bundaku Sayang, Kenapa kau cantik sekali, Tuhan begitu sempurna sehingga menciptakan gadis secantik Bunda," ucap Edgar, ia mengusap jilbab Zalfa. Beberapa menit kemudian, Mobil sampai di depan gerbang rumah minimalis Zalfa, Edgarpun turun untuk membuka pintu gerbangnya, dan kemudian ia kembali masuk ke mobil, mengemudikan pelan-pelan masuk ke halaman rumah Zalfa. "Bund, udah sampai." panggil Edgar, Namun Zalfa tak bergerak sedikitpun, "Bundaa..... Sudah sampai." panggilnya sekali lagi, Zalfa hanya bergeming, namun suara itu seperti desahan yang terdengar di telinga Edgar. Membuat jiwa kelelakiannya tiba-tiba bergejolak. "Bundaa..." panggilnya. "Hhhmmm..." gemingnya, "Duch Bunda, jangan menggodaku Bund," geming Edgar, ia melihat bibir ranum Zalfa yang tertutup rapat, membuat Edgar gemas rasanya ia ingin menciumnya. cup... Sekilas ia mencium bibir ranum Zalfa, rasanya seperti ada aliran listrik yang menyengat, dan itu membuat dirinya rasanya ingin menciumnya lebih dalam lagi. Edgar membuka sedikit mulut Zalfa, Lalu ia memasukan lidahnya ke mulut Zalfa, ia memilin lidah Zalfa dengan lembut, Entah reflek atau terbawa suasana, Zalfa membalas ciuman tersebut meskipun dalam keadaan tertidur. Keduanya saling memainkan lidahnya. Zalfa mengalungkan kedua tangannya ke leher Edgar, Edgar membuka matanya. ia menatap Zalfa yang masih terpejam, sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Zalfa, Bagaimanapun juga Zalfa seorang wanita yang dulu pernah menikah, dirinya telah lama tidak di jamah lelaki. Edgar segera menyadarinya, Ia melepas pagutannya. Bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka. "Astaghfirullaah... Edgar sadar kau, dia belum halal untukmu " Edgar, membathin, merutuki dirinya sendiri, Lalu ia merapikan jilbab Zalfa yang sedikit berantakan dan merapikan pakaiannya sendiri yang sedikit tak rapi. Lalu ia keluar dari mobil. "Nak Edgar, baru pulang? Di mana Zalfa?" tanya Ayah Zalfa, "Iya Bapak, Bunda ketiduran susah di bangunkan." jawab Edgar, "Hhm... Zalfa kalau kelelahan susah di bangunkan, Nak Edgar bisa bantu Bapak 'bopong' Zalfa ke kamarnya?" tanya Ayah Zalfa, Edgar mengangguk mantap, Bagaimanapun juga Zalfa memang memiliki tubuh kecil, Sehingga Edgarpun dengan mudah menggendongnya. "Maaf ya Nak, Saya sudah tua, nggak kuat lagi kalau harus gendong Zalfa, kamu masih muda, badanmu juga bagus, pasti kuat 'kan bopong bocil?" canda Ayah Zalfa, Edgar tersenyum geli, Zalfa selalu memanggil Edgar bocil, eh ternyata Ayah Zalfa sendiri juga memanggil Zalfa bocil. Zalfa anak tunggal, ia begitu di anak emaskan oleh ke dua orang tuannya. Edgar membuka pintu mobil, lalu melepas sabuk pengaman Zalfa, dan iapun membopong tubuh Zalfa, Edgar membathin. Bu gurunya makan nggak, mengapa ia merasakan tubuh Zalfa yang begitu ringan. Edgarpun membawa Zalfa ke dalam kamarnya. Ia yang tidak tahu kamar Zalfa, mengikuti Ayah Zalfa yang berjalan di depannya. "Ini kamar Zalfa, sebelah sini kamar si kembar" intrupsi Ayah Zalfa. "Apa si kembar sudah tidur, Pak?" Tanya Edgar, "Iya, biasanya jam delapan sudah tidur." jawab beliau, sambil membukakan pintu kamar Zalfa yang ada di lantai atas. Bersebelahan dengan kamar si kembar. "Bapak, maaf.. habis ini saya bisa bicara?" tanya Edgar serius, Ayah Zalfa mengerutkan dahi. Beliau menatap lelaki yang di kenal sebagai muridnya tersebut. "Kalau bisa sekalian sama Ibu," lanjut Edgar, Ayah Zalfa mengulum senyumnya, dan beliau menganggukkan kepala. Edgar masuk ke kamar Zalfa yang bernuansa hijau muda, sama dengan warna favorite Edgar, warna hijau. Aroma strawberry tercium di indra penciumanya. Kamar yang nampak rapi, dengan macam-macam hiasan dinding. "Tidur yang nyenyak Bund, lusa kita jalan-jalan." bisik Edgar, ia mencium kening Zalfa dengan lembut. Lalu menyentuh bibir Zalfa, yang mungil. Dan ia pun menyelimuti tubuhnya. Ia mematikan lampu kamarnya, dan menggantinya dengan lampu tidur. Ia tidak berani melepas jilbab yang di kenakan Zalfa. Sebab belum halal baginya. Beberapa saat kemudian, Edgar sudah duduk di ruang tamu, bertiga dengan kedua orang tua Zalfa, "Di minum dulu nak, Tehnya." pinta Ibu Zalfa. Edgar hanya mengangguk. "Maaf Bapak Ibu sebelumnya. Maksud Edgar ingin berbincang dengan kalian, sebab Edgar ingin meminta izin untuk meminang putri kalian," ucap Edgar, to the point. Kedua orang tua Zalfa saling berpandangan, sebab yang mereka ketahui, Edgar adalah muridnya, meskipun ia murid yang beda, sebab nampak dekat juga dengan si kembar, anak bu gurunya. "Kamu tahu Zalfa itu siapa?" tanya Ayah Zalfa, "Edgar tahu, Edgar sudah hampir tiga tahun memendam rasa suka kepada Bunda Zalfa, Bunda Zalfa seorang guru PNS, Edgar memang bukan siapa-siapa, namun Edgar akan membuat Bunda Zalfa selalu bahagia." jawab Edgar. "Bukan itu maksud Bapak, Zalfa putri Bapak, seorang janda dengan sepasang anak kembar, dan kamu adalah muridnya. Bagaimana dengan kedua orang tuamu?" balas Ayah Zalfa, selembut mungkin, mencoba untuk tidak menyinggung perasaannya. "Edgar memang belum minta izin, tapi Edgar akan berusaha mendapat restu mereka." jawab Edgar, mantap. "Bagaimana Buk?" Tanya Ayah Zalfa, ke istrinya. "Mereka yang akan menjalani, Ibu manut saja, asal Zalfa juga bahagia." jawab Ibu Zalfa. "Hhmmm... Edgar sudah melamarnya, dan kami tunangan dadakan tadi setelah belanja," ucap Edgar malu-malu. "Dan kita juga belum akan merencanakan menikah dalam waktu dekat, sebab Bunda Zalfa yang akan pindah tugas, dan Edgar juga akan menempuh pendidikan dan masuk asrama kepolisian," Terangnya. Kedua orang tua Zalfa terdiam, mereka sedang berpikir ingin menerimannya atau tidak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD