Edgar merasa lega setelah meminta restu kepada kedua orangtua Zalfa. Meskipun kedua orang tuanya belum yaqin dengan dirinya. Namun Kedua orang tua Zalfa memberi lampu hijau kepadanya.
Edgarpun pamit untuk pulang, jarak rumah Zalfa dan Edgar cukup jauh, sebab bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Saat ia akan menyalakan mesin sepeda motornya, ternyata motornya mogok. Entahlah Edgar yang terkadang suka menyepelekan sepeda motornya yang seharusnya di service namun malah tidak ia service sama sekali.
"Kenapa nak Edgar?" Tanya Ayah Zalfa, yang mengantarkan Edgar sampai di depan rumah.
"Mogok sepertinya" jawab Edgar, mengamati motor gedenya.
"Bisa di perbaiki?" Tanya Ayah Zalfa, saat melihat Edgar yang mengamati bagian bawah badan sepeda motorya.
"Belum tahu. Bapak" jawabnya, frustasi. Malam sudah semakin larut. Sudah hampir jam sebelas malam.
"Hmm.. Bagaimana kalau pakai mobil Zalfa. Besok bisa di balikin. Ini sudah cukup malam" usul Ayah Zalfa.
"Hhmm.. Boleh ya, Pak?" Edgar malah bertanya, Ayah Zalfa hanya mengangguk.
"Kunci mobil masih di situ 'kan?" tanya Ayah Zalfa, Edgar hanya menganguk. "ya sudah besok bisa di ambil" saran beliau, Edgar pun menyetujui usulan Ayah Zalfa,
Edgar memasukan sepeda motornya ke garasi. Dan membuka pintu gerbang rumah Zalfa untuk mengeluarkan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mobil sudah melaju di jalan raya yang sudah cukup sepi, sebab waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jalan yang cukup lenggang membuat dirinya bisa mengendarai mobilnya dengan ngebut,
Namun di saat jarak rumahnya tinggal 200an meter, Mobil kehabisan bahan bakar.
"Duh pakai acara kehabisan bahan bakar segala" gerutunya.
Iapun meraih benda pipihnya yang ia kantongin di celana panjangnya. Baru ia syadar jika ponselnya di mode pesawat. Sebab saat bersama Zalfa ia tak ingin terganggu dengan adannya telepon atau chat semacamnya yang dapat mengganggu kebersamaannya dengan Zalfa.
Edgar menyalakan daya ponselnya, begitu nyala banyak pesan di benda pipih tersebut. Namun ia tak peduli. Ia langsung menghubungi satpam di rumahnya untuk segera menjemput dirinya.
Setelah berhasil menghubungi satpam, ia pun membuka pesan chat, bahkan ada beberapa misscall dari Kedua orang tuanya. Di lihat sudah satu jam yang lalu kedua orang tuanya menghubunginya, Mereka sangat menghawatirkan dirinya yang tidak pulang-pulang. Namun Edgar memilih mengabaikan. Ia turun dari mobilnya, ia berdiri di samping mobilnya, sambil membuka galery ponselnya melihat lihat potho Zalfa, Yang selalu ia ambil diam diam. Sembari ia menunggu kedatangan satpam penjaga rumahnya. Bayangan ciumannya kembali terlintas "Gila, kenapa gue jadi ketagihan yak" bathinya, sambil senyum-senyum sendirian menyentuh bibir Zalfa yang ia zoom di dalam galery potho tersebut.
Tidak sampai sepuluh menit, satpamnya datang dengan mengendarai sepeda motor.
"Den Edgar, dari mana saja? semua orang panik nyariin?" tanya Satpamnya,
Edgar nyengir, menoleh ke arah satpam tersebut.
"Hehehe... Mau tau aja sich urusan anak muda" jawabnya, cengengesan nggak jelas.
"Duch Den Edgar, Bapak sampai di omelin tadi sama tuan" adunya.
"Udah tenang saja, ntar Aku bilang Papa, oh iya mobilnya kehabisan bahan bakar, sana beli" suruhnya, tanpa merasa bersalah.
"Mobil siapa den?" tanya Satpam tersebut.
"Aish kepo, udah sana beli bahan bakar, aku mau balik dulu, bye" pamit Edgar, tanpa merasa bersalah. Ia menyodorkan tiga lembar uang pecahan seratusan ribu.
"Lhaa terus ini mobilnya siapa yang jagain?"
"Biar aja, mobilnya berani sendiri, aku mau jalan kaki aja, dah deket juga. Bye.." Edgar melambaikan tangannya, tanpa mempedulikan satpamnya yang kebingungan. Ia berjalan dengan memasukan kedua tangannya ke kantung celananya sambil bersiul, ia nampak bahagia.
"Duch Den Edgar ini" gerutu satpam tersebut. Lalu ia menyalakan mesin sepeda motornya menuju SPBU terdekat. Membiarkan mobil Zalfa di pinggir jalan sebelum masuk komplek perumahan.
Malam yang sudah larut. Tidak membuat Edgar kedinginan. Ia nampak bahagia cinta yang selama ini ia pendam, kini telah ia sampaikan, walau sedikit memaksa akhirnya Zalfa kini menjadi kekasih dan tunangannya.
Edgar memasuki gerbang rumah megah milik kedua orangtuanya. Tanpa merasa bersalah, ia berjalan santai masuk ke dalam rumah.
"Edgar..!!" panggil Papanya sedikit membentak.
"Eeh Papa" panggil Edgar, "Kok Papa belum tidur?" Edgar mencoba mengalihkan perhatian.
"Dari mana saja kamu ini?" Tanya Papanya yang sudah sangat marah tersebut,
"Hehehe.. Baru pulang dari rumahnya Bu Guru" jawabnya, nyengir kuda.
"Ngapain?" Tanya Papanya
"Perpisahan 'kan bentar lagi Edgar lulus, terus pindah asrama" jawabnya.
"Sama siapa?" tanya Papanya, penuh curiga.
"Sendiri" jawab Edgar, masih dengan santainya.
"Oke baiklah, Papa cuma mau bilang. Besok mulai kemasi barangmu., Lusa kau masuk asrama lebih cepat lebih baik" terang Papanya, seketika senyum Edgar pudar.
"Papa nggak bisa githu donk. Perjanjianya'kan seminggu lagi" protes Edgar.
"TIDAK. Lusa kau sudah masuk asrama, lebih cepat lebih baik, daripada keluyuran nggak jelas" jawab Papanya , tanpa mempedulikan ketidak sukaan Edgar,
"Papa jahat!!" Umpat Edgar, ia pun berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Lalu ia masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras-keras, lalu menguncinya dengan kasar.
Papanya tidak mempedulikannya, Papanya kembali masuk ke kamar utama, beliau juga sudah sangat ngantuk. Beruntungnya besok pagi dinasnya libur. Jadi bisa buat istirahat.
Edgar sendiri di dalam kamarnya, ia hanya terduduk lesu. Ia belum bisa berpikiran jernih, Lalu ia ingat belum melaksanakan shalat isya, ia juga ingat Zalfa juga belum. Edgar mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Zalfa. Nada tersambung terdengar di telingannya. Tidak lama kemudian, panggilan suara terjawab.
"Haloo.. Assalamu'alaikum..." ucap Zalfa di ujung telepon, dengan suara khas bangun tidur.
"Wa'alaikum sallam, Sayang.." jawab Edgar, mendengar ucapan Edgar, Zalfa tiba-tiba terduduk, ia membenahi pakaiannya. Padahal Edgar juga tidak bisa melihatnya.
"Sudah bangun?" tanya Edgar.
"Iya, terbangun karena ingat belum shalat isya" jawabnya.
"Hhmmm... Bagus deh, baru mau aku bangunin" ucap Edgar,
"Eh iya, siapa yang bawa aku ke kamar?" tanya Zalfa.
"Tebak?" jahil Edgar.
"Ayahku?" Tanya Zalfa ragu-ragu, sebab ia malu jika memang Edgar yang membopong dirinya.
"Ish, Bukan. Siapa lagi kalau bukan tunanganmu yang ganteng ini" jawab Edgar, meledek.
"Ish.. PD banget" protes Zalfa.
"Ya sudah Sayang. Sana kamu bersih-bersih dulu dan shalat lalu istirahat, besok pulang ngajar aku jemput" suruhnya,
"Idih. Ngatur" jawab Zalfa.
"Nggak ngatur, cuma ingetin Sayaaang" jawab Edgar dengan suara manja.
"Dah ah. Geli telingaku di panggil Sayang-Sayang mulu" protes Zalfa.
"Tapi suka 'kan?" Ledek Edgar, "Baiklah Sayang, aku tutup dulu teleponya. Oh iya satu lagi. Bibir kamu manis, bikin candu, wassalamu'alaikum" ucap Edgar, langsung mematikan sambungan ponselnya. Ia tersenyum berhasil menggoda Zalfa. Ia menaruh ponselnya di atas nakas. Lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, Saat ia buang air kecil, ia merasa celana dalamnya yang basah,
"Ah apa ini?" bathinya. Ia ingat saat berciuman dengan Zalfa, miliknya sempat menegang. Iapun menepuk kepalanya sendiri. " Astaghfirullah.. apa yang sudah aku lakuin" bathinnya. Lalu ia buru-buru mandi, karena merasa risih dengan dirinya sendiri yang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Ia segera mendirikan shalat isya. Sebab dirinya sudah sangat lelah dan ngantuk.
Selesai mendirikan shalat, ia melepas baju koko dan sarungnya, menyisakan kaos tanpa lengan dan juga celana kolor untuk tidur.
Lalu ia segera mengambil ponselnya, ia membuka ponselnya dan berkirim pesan dengan Zalfa, yang kebetulan sedang online.
"Sayang, segeralah tidur, biar besok tidak telat ngajar" pesannya.
"Iya, ini lagi mau tidur, habis shalat isya" balasnya. Edgar tersenyum. Biasanya Zalfa hanya akan balas dengan singkat. namun ia kini balas dengan cukup panjang.
"Baiklah. Ciumnya mana Sayang?" pesannya.
" Aish kau ini, gak ada" balas Zalfa, lalu Zalfa keluar dari room chatnya.
Edgar merasa kecewa, saat chat Zalfa sudah menandakan non aktive,
"Ya udah Sayang, met rehat. i love you my honey" pesan terakhirnya. lalu Edgar mematikan ponselnya dan siap untuk tidur, ia sudah sangat lelah, Edgar kembali tersenyum. Saat ia mengingat bibir manis Zalfa,
"Astaghfirullah... Kenapa aku ini, ingat dia bikin tegang punyaku" gerutunya. Ia merasakan miliknya yang kembali menegang, Edgar lelaki yang normal, ia pernah melakukan onani. Saat dirinya benar-benar terdesak, gegara pernah ada temannya yang mengirim video film tak senonoh, namun saat itu Edgar, kembali syadar dan ia begitu sangat menyesali. Sejak kecil ia di didik orang tuanya begitu ketat agamanya. Edgar tengkurap, ia membaca istighfar untuk menghilangkan rasa inginnya. Sehingga lama-lama dirinya mulai tertidur, waktu sudah menunjukan hampir pukul satu dini hari.
Udara malam yang nampak dingin, sebentar lagi memasuki musim kemarau.
Di sisi lain, Pak Satpam sudah kembali dari membeli bahan bakar. Ia sendiri juga meminta bantuan kepada teman satpam lainnya untuk membawakan mobil yang di bawa Edgar ke rumah majikannya. Meskipun dirinya sedikit kesal dengan kelakuan Edgar yang terkadang semaunya sendiri, namun satpam tersebut merasa bahagia menjadi satpam di keluarga Edgar, yang memang di kenal dengan ramah. Papa edgar yang seorang polisi dengan jabatan cukup tinggi, juga Mama Edgar yang memiliki jiwa pebisnis, sehingga memiliki berbagai usaha yang tersebar di kota
Surabaya.
Papa Edgar memang keturunan orang kaya yang terpandang, beliau memilih menjadi polisi sebab motivasinya yang ingin menjadi polisi yang jujur dan bertanggung jawab. Edgar anak ke tiga dari tiga bersaudara, Namun kakak keduanya sudah meninggal sebab kecelakaan di jalan tol beberapa tahun yang lalu. Sedangkan kakak pertamanya memilih kuliah di luar Negeri sebagai Dokter ahli jantung. Edgar sendiri bercit-cita ingin menjadi polisi karena Papanya yang menginginkannya.
Papanya sangat keras kepadanya, bahkan pergaulannya juga di batasi, tidak di perbolehkan pacaran sama sekali oleh Papanya. Bagi Edgar itu tidaklah masalah, sebab dirinya memang tak tertarik untuk menjalin ikatan berupa pacaran.
Edgar termasuk anak yang beruntung, ia tinggal di tengah-tengah keluarga yang begitu sangat menyayanginya satu sama lain. Meskipun terkadang Edgar tidak menyukai otoriter keluarganya. Yang selalu memaksakan sesuatu yang bukan keinginannya.