Cincin

1437 Words
Seruan kumandang adzan subuh terdengar merdu di telinga Edgar, ia menggeliat lalu membuka matanya perlahan. Edgar tinggal di dekat masjid, hanya selisih jalan. Sehingga suaranya terdengar nyaring di telingannya. Iapun duduk mengumpulkan nyawanya. Ia mengucek-ucek matanya. Seperti masih ada kerikil yang mengganjal di matanya. Meskipun sedikit malas, namun ia harus segera memenuhi panggilan-Nya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudlu dan segera ke masjid. Iapun berganti pakaian, ia memakai baju koko, sarung dan juga kopiah. Edgar keluar dari kamarnya sudah dengan baju takwa yang nampak rapi. "Pagi Mama." ucap Edgar, saat bertemu Mamanya di lantai bawah. "Sayang, semalam kamu kemana?" Tanya Mamanya, dengan lembut. "Ke rumahnya bu guru," jawabnya santai. Mamanya terdiam, beliau mengulum senyumnya, naluri seorang Ibu biasanya tepat, sudah lama Mamanya mengetahui jika Edgar menyukai gurunya, bahkan diam-diam Mamanya pernah mengamati guru yang di sukai anaknya, saat ada rapat orang tua wali murid, beliau pernah bertanya tentang Zalfa kepada guru yang mengajar di sana. Dan kebetulan jawaban guru yang di tanya Mamanya Edgar, menanggapi dengan positif. Membuat Mamanya merasa lega, tidak peduli meskipun usianya terpaut jauh. Jika memang jodoh, keduanya akan di persatukan. Dan Mamanya tidak ingin menghalangi jika memang mereka saling menyukainya. Pukul setengah tujuh pagi, Keluarga Edgar berkumpul di meja makan. Hanya ada Kedua orang tua Edgar dan Edgar sendiri. "Mobil di depan punya siapa?" Tanya Papanya, membuka percakapan di meja makan. Edgar menghentikan aktivitas makannya, ia menatap ke arah Papanya. "Punya Guruku" jawab Edgar. Sedikit jengah. Sebab kejadian semalam membuat dirinya merasa Papanya tak adil. "Sepeda kamu di mana?" tanya Papanya, "Mogok di rumah guruku" jawabnya, acuh. "Kamu masih marah sama Papa?" tanya Papanya, seakan amarahnya hampir meledak. "Papa, kapan Edgar makan. Kalau Papa nanya mulu!" protes Edgar, membuat Papanya yang memang sedikit kesal, membuat beliau semakin naik pitam. "Kamu..!!! Ada apa denganmu, Hah! Papa nanya baik-baik kamu jawabanya sewot githu?" Kesal Papanya. "Maaf, Pa" ucap Edgar, ia menundukan kepalanya. Sebab ia tak ingin membuat Mamanya terluka, jika Edgar dan Papanya bertengkar. Edgar juga sedikit merasa heran, sebab Papanya akhir-akhir ini suka marah-marah tak jelas. Tidak seperti biasanya. "Sudah Pa.." cegah Mama Edgar, "Sayang, lanjutkan makannya, ya" suruh Mamanya, Mama Edgar juga nampak sedikit kecewa, sebab suaminya yang akhir-akhir ini memang terlihat lebih emosian. "Maaf,,Ma.. Tapi Edgar sudah kenyang" Jawab Edgar, ia meraih s**u cokelatnya, dan meminumnya hingga tandas. "Pa ,Ma... Edgar masuk ke kamar dulu" pamit Edgar dengan BT. "Edgar, kamu baru makan sedikit, ingat kemarin magh kamu baru kambuh" pesan Mamanya, mengingatkan, Edgar yang sudah berjalan melangkah menuju lantai atas berhenti. Ia menoleh ke arah Mamanya, lalu ia melempar senyum. "Terima kasih Mama, Edgar baik baik saja" jawabnya. Lalu ia kembali melangkah lagi. "Ada apa dengan Papa, kenapa Papa sepertinya ada masalah?" Tanya istrinya dengan lembut. "Hhmm.. Maaf Sayang, Papa sepertinya tak bisa ngendalikan emosi"Jawab suaminya,. "Hari ini Mama ke butik?" tanya suaminya. Mengalihkan perhatian. "Iya Pa, ada orang ingin bertemu, untuk pemesanan seragam buat acara nikahan" Jawab istrinya. "Berangkat jam berapa? sekalian Papa anterin, hari ini Papa mau pergi sebentar" " Hhm.. Iya Pa, Mama berangkat jam delapan" jawab Istrinya, suaminya hanya mengangguk. Lalu keduanya, melanjutkan makannya. Meskipun tanpa Edgar. Makan di meja makan berdua saja, membuat mereka sebenarnya tidak nyaman. Edgar membanting pintu dengan sangat keras, lalu ia menjatuhkan diri di atas kasurnya, kepalanya sedikit pening, ia pusing dengan Papanya yang selalu memaksa dirinya, di tambah dirinya harus pindah ke asrama lebih cepat dari pada yang ia perkirakan. Rencananya akhir pekan ia ingin membawa jalan jalan bu gurunya dan juga si kembar. Kemungkinan batal. Namun Edgar tiba-tiba tersenyum, bukankah besok hari jum'at libur tanggal merah. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya, ia mengambil ransel, lalu memasukan beberapa helai pakaian ke ransel tersebut, ia berencana mengajak gurunya juga si kembar ke pantai. Tidak mungkin ia pergi saat ini, sementara Mamanya belum berangkat ke butik. Sedangkan Papanya masih di rumah. Ia tahu papanya juga akan pergi dengan Mamanya. Edgar kembali merebahkan diri setelah selesai mengemasi pakaiannya. Namun karena dirinya yang baru tidur kurang dari tiga jam saja semalam. Iapun akhirnya ketiduran. Pukul sebelas siang dirinya terbagun. "Astaghfirullah... Duh, kenapa aku ketiduran" gerutunya. Iapun bergegas ke kamar mandi, ia mandi dan akan bersiap menjemput Zalfa. Saat dirinya membuka ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Zalfa, juga beberapa pesan chat, Edgar tidak membaca semua pesannya. Ia hanya kirim pesan singkat "Tunggu sebentar. Aku segera menjemputmu" pesannya. Iapun meraih ranselnya. Dan bergegas keluar dari kamarnya, Tanpa berpamitan kepada kedua orang tuannya ia pergi begitu saja. Dia hanya pamit kepada satpam di rumahnya, jika dirinya akan pergi. "Ke mana Den?" tanya Satpam. "Perpisahan sama temen-temen, aku nginap ya" pamitnya, satpam tersebut hapal dengan sifat majikan kecilnya yang keras kepala. Satpam itu hanya mengangguk pasrah. Edgar mengendarai mobil Zalfa, mobil tersebut keluar dari gerbang halaman rumahnya dengan pelan. Hingga akhirnya melesat membelah jalan raya, gawainya terus berdering, ia melirik ke layar ponselnya, Zalfa yang memanggil, Ia menghiraukannya. Ia menambah kecepatan laju mobilnya. Sebab rumah Edgar juga tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Hanya butuh lima belas menitan. Edgar terburu-buru sebab pembelajaran di sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu. Edgar dengan mengendarai mobil Zalfa, telah sampai di sekolah. Ia tanpa ragu masuk ke halaman sekolah dengan mobil Zalfa. Di lihatlah Zalfa yang sedang mengobrol dengan guru laki-laki yang bernama Pak Utsman. Edgar tahu pak Utsman yang seorang duda memang sudah lama menyukai Zalfa. Edgar yang memang masih labil emosinya. Dirinya langsung turun dari mobilnya, ia menghampiri keduanya. "Assalamu'alaikum, Pak.. Bund" sapanya. "wa'alaikum sallam, " jawab keduanya bersamaan. "Kamu sudah sampai?" tanya Zalfa, namun Edgar tak menjawab, ia langsung meraih tangan Zalfa. "Maaf pak,. saya pulang duluan" pamitnya, sebenarnya Zalfa tak menyukai pak Utsman yang suka genit ke setiap wanita. Sebab itu dia menghubungi Edgar untuk segera menjemputnya. Sebab merasa tidak nyaman, apalagi pandangan anak-anak yang melihat keduanya ngobrol. "Loch, nggak mau saya antar Bu" ucap pak Utsman. "Tidak pak, 'kan sudah saya jemput" ketusnya. Ia menggenggam tangan Zalfa dan menariknya ke dalam mobil. "Edgar, apa-apaan kau?" protesnya, karena Edgar yang menarik tangannya dengan cukup kasar. "Maaf Bund, tapi aku tak suka guru genit itu mendekati Ibu" jawabnya jujur. "Dahlah.. males ngomong sama bocil" umpatnya. Edgar menoleh ke arah Zalfa. "Terserah Bunda mau sebut aku apa, aku tetap akan berusaha menyayangi Bunda dan menjaganya sebisa dan semampuku" ungkapnya. "lah kau ini" gerutunya, lalu ia memasang sabuk pengaman. Edgar kembali menyalakan mesin mobilnya, dan mobilpun berbalik keluar menuju jalanan. "Maafin aku, Sayang" ucap Edgar, Melihat Zalfa yang mukanya nampak di tekuk " Sayaaang.. senyum doonk, masa cemberut githu" godanya, Zalfa tak menghiraukannya, sedangkan Edgar ia melirik ke jari tangan Zalfa yang ternyata cincinya sudah tidak ia pakai. "Di mana cincin pertunanagan kita?" tanya Edgar, "Ada di tas" jawab Zalfa , sedikit kesal. "Bunda, aku serius loch. Kalau bunda masih ngambek, aku cium nich" godanya lagi. "Apaan sich" elaknya. Namun muka dirinya memerah , ia merasa malu. Sebab dirinya yang semalam mimpi seakan di cium Edgar, ternyata bukan mimpi, namun memang kenyataan. Ia pun membuang muka ke arah jendela. Edgar tahu jika Zalfa tersenyum malu-malu. Membuat Edgar rasanya ingin menggodanya lagi. "Hmm.. kaya ada kucing pemalu ya" sindirnya. Zalfa menoleh ke arah Edgar. "Apaan sich kau ini, gaje" elaknya. Membuat Edgar ingin tertawa. "Bunda lucu, Aku suka Bunda yang lucu dan gemesin" ledeknya. "Awas kau!" Zalfa mencubit pinggang Edgar, "Jangan, Bun. Bahaya loch ini di jalan raya" elaknya. "Kok kamu nyebelin sich!" makinya. "Dah tau, Bund. Dari kemarin bilang nyebelin mulu" ledeknya. "Sayang, aku pen di cium nich" pinta Edgar, manja. "Kau ini!" Zalfa melotot, "Huahahaha... Bercanda Bundaku, Sayang... Kekasihku. Cintaku, belahan jiwaku dan semua-muanya..." gombal, Edgar. "Haish bocil. Pintar kali kau ngegombal, ya!" ejek Zalfa, "Ya, cuma sama Bunda Sayang doank" jawabnya, dengan mata yang melirik kesana dan kemari. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah Zalfa, mendengar suara mesin mobil yang mendengung, si kembar yang sedang bermain di ruang tamupun. langsung berhambur keluar. "MAMA.. SUDAH PULANG!!" teriak Rengga, dengan bahagia. "Ada Kak Edgal" sahut Rangga. Edgar dan Zalfa yang baru turun dari mobil. begitu nampak bahagia melihat dua jagoan yang selalu ceria. Bertepatan dengan suara adzan komplek, mereka sampai di rumah. "Eh.. nak Edgar sudah di sini rupanya" sapa Ayah, Zalfa. "Iya pak" jawabnya, lalu mereka bergantian bersalaman dengan Ayah Zalfa, dengan penuh ta'dzim. "Mau ke masjid , pak?" tanya Edgar, Ayah Zalfa hanya mengangguk. "Saya ikut," pintanya. Lalu ia berjalan mengikuti Ayah Zalfa ke masjid kompleks perumahannya. Zalfa sendiri masuk ke dalam rumah, dengan menggendong si kembar. "Hari ini anak-anak Mama ngapain saja?" tanya Zalfa lembut. "Mainan lobot-lobotan." jawab Rangga. "Oh ya..seru donk ya?" tanya Mamanya,, "Iya donk Ma." jawab Rengga. Lalu keduannya berceloteh tentang aktivitasnya di rumah bersama kakek dan juga neneknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD