Papa dengan Selingkuhannya

2018 Words
Sebentar lagi Libur kenaikan kelas, artinya Zalfa juga harus pindah keluar kota. Ia pasti akan sangat merindukan si kembar, iapun tak ingin menyia-nyiakan waktu yang sebentar ini. Sebenarnya ia tak ingin jika harus berjauhan dengan buah hatinya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. "Assalamu'alaikum..." Sapa Edgar dan kakek si kembar bersamaan. "Wa'alaikum sallam.." Jawab si kembar dan Mamanya bersamaan. "Bunda, ayok siap-siap" Ucap Edgar. ambigu. "Apa?" Tanya Zalfa. "Kita mo healing ke pantai" Jawabnya. "Aish nggak, capek aku" Tolak Zalfa. "Bunda... Please" Ucap Edgar, penuh harap. Matanya berkedip-kedip lucu. "Sayang.. Kita ke pantai yuk. Sekarang siap-siap" ajak Edgar ke si kembar. "Ke pantai sekalang, kak?" Tanya Rangga. "Iya, Eyang di ajak ya?" Pinta Edgar, "Hhmmm... Tak usah, kalian kalau mau pergi, pergi saja, Ayah mau di sini, jagain Bunda. Bunda lagi nggak enak badan" Sahut Ayahnya. "Bunda sakit? Bunda mana Ayah?" tanya Zalfa sedikit kuatir. "Bunda di sini. Bunda baik-baik saja, kalian kalau mau pergi, makan siang dulu" Suruh Ibunya. "Eeh iya Ibu" Jawab Edgar, "Makan ayo makan, biar bisa cepet-cepet ke pantainya" celoteh Rengga. "Hhmm.. Tapi Bund, " Zalfa rasanya ingin menolak, "Mama, kita pelgi ya. Please Mama" iba Rangga. Keduanya menarik-narik tangan Zalfa. Membuat Zalfa tak tega. "Iya Mama, Mama 'kan dah lama nggak ngajakin Rengga jalan-jalan. Mama selalu sibuk" Rajuk Rengga. Melihat kedua anaknya yang nampak semangat, akhirnya Zalfapun menyetujuhi. "Baiklah kita pergi, tapi nggak boleh nakal, okey?!" Pesan Zalfa. "Asyiik, kita jadi pelgi" Riang Rangga. Edgar nampak bahagia, Begitupun dengan Rengga, ia juga nampak bahagia. Keduanyapun merasa bahagia dan mereka makan siang dengan semangat, sebab akan di ajak pergi. Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil, Rengga dan Rangga nampak bahagia, Zalfa menyadari jika si kembar memang sudah lama tidak di ajak keluar, sebab aktivitas Zalfa yang cukup padat. "Eyang Uti, Eyang Kakung, Rangga dan Rengga pamit jalan-jalan dulu ya, Eyang hati-hati di rumah" Pesan Rengga, seperti orang dewasa. "Iya Sayang, Kalian nggak boleh nakal. bye-bye?" Pesan Kakek dan Neneknya, mereka melambaikan tangan. Saat mobil melaju keluar pintu gerbang. Begitu juga dengan Zalfa. Ia melambaikan tangan ke kedua orang tuanya, sedangkan Edgar hanya mengangguk. "Nanti di pantai kita mau ngapain, kak?" Tanya Rengga, kepada Rangga. "Kita main pasil, main ail telus bikin istana pasil" Jawab Rangga. "Asyik, pasti seru!!" Sahut Rengga, keduanya berceloteh, membuat Zalfa dan Edgar merasa bahagia melihat tingkah laku mereka. Keduanya berceloteh seru, terkadang Mama dan Edgar menanggapi saat mereka bertanya. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, mungkin lelah berceloteh, dua batita tersebut, sudah tidur dengan nyenyak. Edgar menoleh bahagia melihat keduanya yang tertidur anteng. Di lampu merah, Mobil yang di kendarai berhenti, tanpa di sengaja Edgar melihat mobil yang sangat ia kenal betul. "Mobil Papa" Gumamnya, ia melihat di dalam mobil tersebut memang Papanya, namun di sebelah Papanya bukanlah Mamanya, namun seorang perempuan cantik yang sedang ngobrol terlihat bahagia bersama Papanya, Bukan tanpa alasan Edgar akhir-akhir ini juga sering kesal sama Papanya, ia sudah beberapa kali memergoki Papanya jalan dengan perempuan lain, dan perempuan itu masih sama. Awalnya Edgar ingin menyelidiki siapa wanita tersebut, namun ia urungkan sebab waktu itu Edgar, akan menjalani ujian Nasional kelulusan. Edgar dengan sengaja mendial nomor Papanya. "Ya,,Sayang..." Jawab Papanya, di ujung telepon. "Papa di mana?" Tanyanya dingin. "Papa ini lagi di jalan. Mau pulang" Jawab Papanya. "Ada apa, Sayang?" Tanya Papanya. Selembut mungkin. "Oh, Papa udah mau pulang, soalnya aku barusan lewat jalan A. Yani seperti lihat Papa dengan wanita lain" Jawabnya terus terang, lalu ia mematikan sambungan teleponnya. Sebab lampu yang sudah berubah hijau, dan ia melajukan kendaraan dengan cukup kencang, "Edgar apa yang kamu lakukan? Kamu mau nyelakai kami!?" Tanya Zalfa, sedikit kesal. Edgar mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. "Astagfirullah.. Maaf Bunda Sayang" Ucap Edgar, Ia berusaha mengendalikan amarahnya, ia memelankan laju mobilnya. "Kamu kenapa?" Tanya Zalfa, meskipun ia tadi telah menangkap pembicaraan Edgar dengan yang ia telepon, Namun ia tidak bisa menyimpulkan begitu saja. "Hhmm... Nggak papa kok Bund, maaf" Ucap Edgar, ia menarik napas pelan, lalu menghembuskannya. "Tidak apa-apa kalau nggak mau cerita" Jawab Zalfa, ia melempar pandangan ke luar jendela. "Papaku selingkuh Bund" Ucap Edgar singkat, Zalfa sedikit terkejut, saat Edgar langsung dengan blak-blakan mengatakan Papanya yang berselingkuh. "Kamu, tau dari mana?" Tanya Zalfa pelan, "Entah sudah berapa kali Edgar mergoki Papa lagi jalan sama wanita lain. Wanita yang lebih muda dari Mama pastinya, dan barusan di sebelah kita pas berhenti, mobil Papa ada di sebelah, tapi Papa tidak bersama Mama, namun wanita lain" Terang Edgar panjang, ia memejamkan mata sekejap, lalu membukanya. Mencoba menahan amarah. Mendengar penuturan Edgar, Zalfa ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu, saat ia harus melihat jenazah suaminya bersama selingkuhannya. Suaminya saat masa pacaran bukan laki-laki yang mudah tergoda. Suaminya berubah satu bulan sebelum dirinya meninggal karena kecelakaan. Tanpa di syadari Zalfa menitikan air mata, ternyata ia masih begitu sangat terluka saat mengingat suami yang ia cintai dan hormati selingkuh di belakangnya. "Bunda, Bunda kenapa?" Tanya Edgar, saat melihat Zalfa yang menitikan air mata. Edgar menepikan mobilnya, dan berhenti di pinggr jalan. Ia begitu kuatir dengan Zalfa. "Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu berhenti?" Tanya Zalfa. "Jujur Bunda kenapa? Edgar sudah jujur sama Bunda, Bunda jujur sama Edgar?" desakknya. "Tak apa. Aku cuma ingat dengan alm. Suamiku" balasnya. Yang Edgar ketahui suami bu gurunya meninggal karena kecelakaan. Ia tidak tahu jika alm. Suaminya meninggal kecelakaan mobil bersama selingkuhannya saat berhubungan badan di dalam mobil yang masih melaju. "Maaf Bunda, kenapa jadi ingat alm. suami Bunda?" Tanya Edgar tak mengerti. "Entahlah, rasanya nyesek saja, suami yang aku hormati. Meninggal karena kecelakaan bersama selingkuhannya" Terangnya, tanpa ekspresi. Zalfa menarik nafasnya. "Astaghfirullah.. Jadi Bunda, apa alasan itu Bunda jadi takut sama laki-laki?" tanya Edgar, Edgar sangat paham, Zalfa yang memang sangat menjaga jarak dengan laki-laki lain. "Entahlah, cuma takut dekat-dekat dengan laki-laki" Jawab Zalfa, "Lalu, bagaimana dengan Edgar Bunda?" tanya Edgar, Zalfa menoleh. Tatapan matanya bertemu. Zalfa baru menyadari, hanya dengan Edgar ia merasa nyaman. Zalfa langsung membuang muka. ia takut menatap mata kelam Edgar yang begitu tajam, bak elang tersebut "Bunda, Edgar sayang sama Bunda, entah sejak kapan, yang Edgar ingat saat pertama liat Bunda. Sudah ada rasa yang lain" Ucap Edgar, menahan Zalfa untuk terus menatap katanya. "Ma..maa.... Udah sampai ya?" Tanya Rengga, yang terbangun. Membuat keduanya meemundurkan kepalanya. , kembali ke tempat duduknya. Zalfa merasa beruntung. Ada si kembar yang menyadarkan mereka. "Belum Sayang. Sebentar lagi" Ucap Edgar, ia mengelus lembut rambut kepala Rengga yang lurus berdiri, "Oh kirain udah sampai" Jawab Rengga, "Rengga lapar Bunda" Rengek Rengga, sedangkan Rangga masih anteng tidur di sebelahnya. "Hmmmm. laper?" Tanya Edgar, ia menoleh keluar jendela, tidak jauh dari mobilnya berhenti ada gerobak penjual kue putu. "Kue putu mau, Sayang?" Tanya Edgar, "Apapun, Kak. Yang penting kenyang" Jawab Rengga, begitu menggemaskan. Membuat Zalfa tersenyum, Rengga memang tidak pernah pilih-pilih makanan, Beda dengan Rangga, yang suka pilih-pilih makanan, sehingga tubuhnya tidak seperti Rengga yang nampak berisi. Namun keduanya anak yang lincah. Rengga dan Rangga sendiri, nampak mudah akrab dengan Edgar, biasanya ia sangat sulit dekat dengan orang asing, namun dengan Edgar, si kembar dengan cepat mudah akrab dengannya. Entah Edgar yang pandai mengambil hati mereka ataukah memang Si kembar yang juga nyaman dekat dengan Edgar, Edgar kembali melajukan mobilnya, ia mendekati penjual kue putu tersebut. "Di sini dulu, ya, Biar Bunda pesenin kue putunya" Ucap Zalfa kepada Rengga, "Ikuut Mama..." Rengek Rengga, "Yok ikut" Ajak Edgar, ia mengulurkan tangannya, untuk menggendong Rengga. Dengan senang hati Rengga menyambutnya. "Udah sampai ya?" Tanya Rangga, dengan suara khas bangun tidur, ia mengucek-ucek matanya. "Belum kakak, ini mau beli kue, aku lapar" Ucap Rengga, yang kini sudah berada di gendongannya Edgar, "Angga mau, Angga ikut" Ucapnya. "Sini sama Mama" Ucap Zalfa, Ke empatnya keluar dari mobilnya, dengan Edgar yang menggendong Rengga dan Zalfa menggendong Rangga. "Mang, pesen kue putunya ya, empat porsi di makan di sini" Ucap Edgar, "Baik Mas, silakan tunggu sebentar" Ucapnya, dengan sumringah. "Sayang, duduk sendiri ya?" Ucap Zalfa, menurunkan Rangga di bangku pelanggan. Rangga hanya mengangguk. Tidak memakan waktu lama, kue putunya sudah siap. "Mau ke mana Mas? sepertinya saya belum pernah ketemu sebelumnya, bukan orang daerah sini ya?" Tanya penjual kue putu. Sambil menyajikan empat porsi kue putu. "Iya, kami bukan dari daerah sini kami lagi mau ke pantai" Jawab Edgar. Edgar sedang menciumi gemas pipi Rengga yang cuby. Rengga tertawa kegelian di perlakukan seperti itu. "Mama.. Tolong, Kakak nyebelin!!" Rengga meronta-ronta. "Gemes" Guman Edgar, ia kembali menciuminya tanpa ampun, "Kirain Papanya, kok kakak panggilnya?" Tanya Ibu-ibu di bangku sebelah yang sedari tadi mengamati mereka. Edgar menoleh, lalu dengan santai ia menjawab. "Anda salah dengar" Jawabnya, "Panggil papa atau mau Papa ciumi lagi?" Gertak Edgar, bercanda. Zalfa menatap Edgar dengan perasaan tak menentu, entah kenapa ia merasa bahagia. "Huahaha.. Geli nggak mau." Rontanya. "Rengga lapar, mau makan..." Rengeknya sekali lagi, "Panggil Papa, atau tidak jadi makan" Goda Edgar tanpa memperdulikan orang di sekelilingnya. Edgar dan Rengga, memiliki kulit yang sama-sama putih, jadi orang yang melihat akan nampak seperti keduanya anak dan ayah kandung, meskipun mukanya lebih dominan mirip Zalfa. "Hahaha..iya Papa, Rengga minta maaf, hahaha" Ucap Rengga, dengan terus tertawa sebab ulah Edgar, "Angga juga mau di cium" Rengek Rangga, bibir mungilnya manyun, sebab merasa iri karena hanya Rengga yang di cium. "Sini.. Anak-anak kesayangan Papa" Ucap Edgar menyambut Rangga. Edgar membopong kedua batita tersebut, dan menciumi keduanya dengan gemas. Zalfa hanya bisa diam, melihat pemandangan yang membuat dirinya nampak bahagia. "Panggil apa?" Tanya Edgar, menggoda dua batita yang berada di gendongannya. "Papa..!" Seru keduanya, lalu bersamaan mencium pipi Edgar. Membuat Edgar bahagia. "Anak baik, ayok makan" Suruh Edgar. "Maunya di suapin" Ucap Rengga, manja. "Angga juga mau" Sahutnya. "Mama mau nggak?" Goda Edgar, "Apaan sich" Ucap Zalfa, menjadi salah tingkah. "Udah kita makan bertiga. Mama nggak mau soalnya" Ucap Edgar, bercanda. Zalfa hanya mencibir. Dengan telaten Edgar menyuapi Rengga dan Rangga secara bergantian. Ke empatnya menjadi pusat perhatian, sebab nampak seperti keluarga yang bahagia. "Kok Bunda bengong?" Tanya Edgar, sambil mengunyah kue. "Haish. Makan kek anak kecil, tuch ada parutan kelapa di bibirmu" Ucap Zalfa. "Di mana?" Tanya Edgar, "Itu.. Bibir kirimu, bawah" Ucap Zalfa, si kembar menoleh. "Mana Angga ambilin" Rangga mengulurkan tangannya, "Tak usah, biar Mama aja" Bisik Edgar, lalu ia kembali menoleh ke Zalfa, "Ambilin donk Sayang" Pinta Edgar, "Apaan sich" Zalfa, membuang muka. Ia malu-malu. "Sayang. Ambilin" Pinta Edgar sekali lagi, dengan terpaksa Zalfa mengambil parutan kelapa yang menempel di bibir Edgar. "Terima kasih, Sayang" Ucap Edgar, lalu ia mengarahkan sendok ke depan mulut Zalfa " Cobain Sayang, enak looch" Pintanya. Zalfa diam, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Malu di lihat banyak orang, sebab mereka berada di tempat umum. "Mikirin apa sih, buka mulutmu" Pinta Edgar, Dengan terpaksa ia pun membuka mulutnya, sebab ia tahu Edgar bukan orang yang mudah menyerah begitu saja. Setelah habis kue putu tersebut, ke empat orang itu kembali ke mobilnya, sebelumnya Edgar membayar kue putunya. Ia menyodorkan uang lembaran ratusan ribu. "Cuma empat puluh ribu Mas" ucap penjualnnya, "Tidak apa, ambil saja. Kue Mamang Enak banget" Ucap Edgar, memujinya. Ia menyelipkan uang ke kantung baju penjual tersebut, "Terima kasih banyak Mas, kalau lewat jangan lupa mampir lagi" Ucap Penjual kue putu tersebut. "In syaa Allah" Ucap Edgar, dan ia berlalu. Rengga dan Rangga sudah masuk ke mobil terlebih dahulu, Di ikuti Zalfa, yang kembali masuk ke kabin penumpang sebelah kemudi. Merekapun melanjutkan perjalanan menuju pantai di Surabaya. Perut yang kenyang, membuat Rengga dan Rangga kembali berceloteh. "Bisa-bisanya minta si kembar panggil Papa" Protes Zalfa, "Biar, ntar kalau di panggil Kakak, bisa-bisa Edgar di ambil mantu sama mereka" Kekehnya,. "Ish PD" Umpat Zalfa. "Jadi nggak sabar. Pen menikah. Duh serasa mendapat durian runtuh" Ucapnya, "Maksudnya?" Tanya Zalfa. "Menikahimu dapat dua bonus si kembar yang sangat menggemaskan" Ucapnya, lalu ia tertawa, merasa bahagia. "Bocil, masih SMA dah nikah, nikahin janda dua anak lagi, apa kata orang" Cibirnya. "Aku nggak peduli apa kata orang. Yang penting kita menjalani pernikahan dengan bahagia, Bunda bahagia, si kembar bahagia. Akupun sangat bahagia dan beruntung, perjakaanku terselamatkan, sebab kita segera menikah" Ucapnya, Lalu Edgar bersiul bahagia. Ia sangat mencintai Zalfa dengan tulus, ia juga menyayangi Si kembar selayaknya anak kandungnya sendiri. Meskipun usianya baru belasan tahun, namun Edgar memiliki pemikiran yang sudah matang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD