"Bahkan orang-orang dengan wajah polos menipu karena setiap bagian yang bersinar bukanlah berlian."
***
Menjelang ashar, mobil yang di kendarai Edgar sampai di hotel yang dekat dengan pantai, sebelum ke pantai mereka mencari penginapan terlebih dahulu. Supaya mereka bisa istirahat sebelum melihat matahari terbenam. Sebab kemacetan di jalan membuat mereka cukup lelah.
Edgar ingin memesan dua kamar, untuk dirinya dan satu kamar untuk Zalfa dan si kembar.
"Papa.. Papa.. Angga capek" Keluhnya, tanganya menarik-narik ujung kaos yang Edgar, pakai.
"Iyah, bentar ya Sayang" Ucap Edgar, ia kembali menanyakan kamar yang kosong kepada resepsionis. Karena ternyata kamar yang Edgar inginkan sudah di booking, sebab memang bersamaan dengan hotel yang Edgar datangi akan ada pesta di ballroom malam ini dan hampir semua kamar sudah di booking.
"Nyari penginapan biasa aja," Saran Zalfa, sebab dirinya juga lelah, meskipun perjalanan tidak begitu jauh, namun kemacetan membuat dirinya merasa lelah.
"Sebenarnya ada satu kamar kosong, di lantai 12, tapi baru saja di bersihkan, apakah Tuan mau menunggunya?" Tanya seorang resepsionis,
Edgar tidak langsung menjawab, ia menatap Zalfa meminta persetujuan. "Nanti saya kabari kalau kamarnya sudah siap" Lanjutnya, seorang resepsionis dengan begitu ramah.
"Mau Pa, Rengga capek, gara-gara macet bikin kesel" Celoteh Rengga, bibirnya manyun lucu.
"Sayang, gimana?" Tanya Edgar, hanya ada satu kamar kosong. Zalfa pun berpikir, jika nyari penginapan lain akan memakan waktu lagi, sedangkan dua bocah kembarnya sudah tampak kelelahan.
"Di sini aja ya, Ma.." Rengek Rangga, melihat mata polos putra kembarnya membuat Zalfa tak tega,
"Baiklah, ambil saja" Pasrahnya. Ia menghembuskan napas pendek.
Resepsionis malah menatap heran, kenapa harus pesan dua kamar, 'kan pasangan suami-istri, begitulah kira-kira suara hatinya.
"Oke, sambil nunggu kita makan ice cream dulu yuk?" Ajak Edgar, dengan semangat,
"Mau.. Mauu..!!" Serempak bocah kembar itu langsung memeluk Edgar, "Papa memang yang telbaik" Ucap Rangga, lalu kedua tanganya ia rentangkan, minta gendong.
"Sayang, jalan sendiri. Kakak capek" Ucap Zalfa, ia menggeleng memberi isyarat untuk tidak merepotkan Edgar,
"Aish.. Papa, bukan Kakak Mamaa..." Protes Rengga, tangannya sedekap, gayanya seperti orang dewasa ketika lagi marah. Membuat Zalfa gemas.
Edgar merasa menang, dua bocah kembar itu kini seakan berpihak pada Edgar.
"Dah yok kalau mau makan ice cream" Ajak Zalfa, tangannya ingin menuntun Rengga, namun ia menepisnya lalu minta Edgar, yang menuntunya.
"Mama jalan aja sendiri" Ucap Rengga, bocil itu ngambek tanpa alasan kepada Zalfa, Mamanya.
"Sayang, jan githu sama Mama" Ucap Edgar, ia mengelus rambut Rengga penuh sayang. "Ayo minta maaf sama Mama" pinta Edgar dengan lembut. Rengga menurut, Zalfa hanya mengangguk saat Rengga minta maaf.
Merekapun makan ice cream di restoran di hotel tersebut. Empat ice cream dengan rasa berbeda-beda. Si kembar nampak begitu bahagia, ia seperti merasakan kehangatan seorang Ayah, ia yang memang sejak dalam kandungan sudah di tinggal Ayah kandungnya sebab kecelakaan yang Ayahnya alami.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan ice cream bersamaan dengan seorang pegawai hotel memberitahukan jika kamarnya sudah siap di tempati. Rengga dan Rangga nampak bahagia bisa tinggal di hotel, sebab sebelumnya mereka jarang pergi dan Mamanya memang membatasinya. Bukan maksud Zalfa mengekang dua anak kembarnya, namun ia hanya tak ingin jika harus bertemu orang asing di luaran, Sejak ia melahirkan ia memang takut pergi ke tempat umum jika sendiri atau sama si kembar saja.
Ke empatnya sudah memasuki lift, mereka menuju lantai 12 bersama pelayan hotel yang mengiringnya membawakan barang-barang mereka yang tidak banyak.
Edgar membuka pintu kamar hotel dengan kartu sebagai kuncinya. Pintu kamar terbuka, dan nampak kamar tersebut cukup mewah, dengan kasur king size, cukup untuk mereka tidur ber empat.
Eh tunggu, tidur berempat?
"Hhmm.. apa kita akan tidur sekamar?" Tanya Zalfa ragu-ragu. Ia menautkan kedua jari-jarinya. Ia tak ingin itu terjadi, sebab mereka belum sah menjadi sepasang suami istri.
"Menurutmu?" Goda Edgar, membuat Zalfa reflek mencubit pinggang Edgar.
"Aauh.. Sayang, sakit" Protesnya, sambil meringis, sebab cubitan Zalfa memang cukup sakit.
"Nggak Sayang, ada kamar kosong di lantai pojok, habis maghrib check out. Nanti aku tidur di sana. Tapi ntar aja habis isya aku ke kamar aku, sekarang aku capek mau rehat" Katanya panjang dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia lalu memanggil si kembar, "Sini kesayangan Papa, kita tidur" Ajaknya kepada si kembar kemudian, tanpa banyak cakap, Rengga dan Rangga menubruk tubuh Edgar yang terlebih dulu merebahkan badannya di kasur. Zalfa hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, lalu dirinya memilih merapikan pakaian yang ada di ransel, lalu ia memilih istirahat di sofa panjang dalam hotel tersebut.
***
Menjelang maghrib si kembar bangun terlebih dahulu, Sedangkan Zalfa nyenyak di atas sofa dan Rengga di kasur.
"Kok Mama tidurnya nggak di kasur, Pa?" Tanya Rengga, saat pandangan Edgar sedang mengamati Zalfa yang tidur pulas di sofa, tanpa melepas jilbabnya.
"Hmm.. iya. " Jawab Edgar, "Mungkin Mama kecapek'an. ya udah kita mandi ya, terus jalan-jalan sore di pantai.
"Ok. Papa" Jawab Rengga dan Rangga bersamaan. Si kembar yang masih kecil dirinya belum bisa mandi sendiri, meskipun bisa, namun tidak akan bersih, Edgar pun berinisiatif memandikan keduanya. Dan itu di sambut bahagia sama si kembar.
Di dalam kamar mandi, akhirnya ketiganya mandi bareng, mereka nampak bahagia bermain air dan busa sabun, membuat suara gaduh dalam kamar mandi.
Zalfa yang masih tidurpun merasa terusik, iapun perlahan membuka matanya. Ia ketiduran setelah merapikan pakaian mereka. Tak lama setelah itu Rengga dan Rangga keluar dengan berlilitan handuk. Di susul Edgar yang juga keluar dari kamar mandi. Ia sama juga hanya berlilitan handuk sepinggang. Reflek Zalfa teriak membuat ketiga orang yang baru selesai mandi terkejut,
"Aih Mama ngagetin aja" Protes Rangga,
"Edgar, pakai bajumu" Suruh Zalfa, ia menutup matanya dengan kedua tangannya. Zalfa tak menyangka ia harus melihat Edgar yang tak memakai baju dan hanya berlilitkan handuk, namun Zalfa akui. Edgar yang baru saja lulus SMA memiliki badan yang atletis. Dirinya yang memang jarang bergaul memang lebih sering menghabiskan waktunya di tempat gym.
Bukan Edgar namanya kalau menurut. Ia malah sengaja menghampiri Zalfa yang masih menutup matanya, ia berdiri di hadapannya dan berjongkok. Ia menarik kedua tangan Zalfa untuk di buka.
"Kenapa Sayang, tak suka dengan tubuhku?" Tanya Edgar, sengaja berbisik di telinga Zalfa, membuat merinding bulu kuduknya, Sesaat itu juga tubuh Zalfa langsung menegang, saat Edgar menyentuh pipinya lembut.
"Pakai bajumu, atau aku pulang" Ancam Zalfa, dengan suara tertahan Edgar tersenyum, dengan iseng ia menarik hidung mancung Zalfa yang matanya masih terpejam. Melihat Zalfa yang terpejam, membuat Edgar merasa gemas, lalu ia mencuri ciuman di bibir sekilas, dan melipir pergi.
Zalfa tersentak, Ia melotot kaget, bagaimana bisa Edgar menciumnya. pandangan Zalfa menyapu isi kamar. Ia takut jika si kembar melihatnya. Namun ternyata dua bocah itu sedang asyik bermain entah main apa. Keduanya duduk di kasur, sambil menunggu orang dewasa membantu memakaikan minyak hangat dan baju mereka.
Edgar mengambil pakaian dan masuk lagi ke kamar mandi,
"Sayang, Tolong si kembar pakaiin baju ya, setelah itu kamu gantian mandi!" Titahnya, dari dalam kamar mandi yang sengaja tidak di tutup sempurna. Zalfa melirik sebal, ia masih shock dengan ciumannya di bibir. Zalfa tak munafik, ia juga menyukainya, namun gengsi.
Ia merasa hatinya di porak porandakan oleh perlakuan manis muridnya tersebut.
Tiga puluh menit berlalu. Ke empat orang itu, dua orang dewasa dan dua batita siap dengan pakaian santai, Edgar memilih memakai kaos putih lengan panjang dan celana semi jean juga sepatu kets, dua anak kecil juga memakai kaos biru muda dengan celana satu per empat dan memakai sepatu. Zalfa sendiri ia memakai kaos lengan panjang biru muda, di padukan dengan jilbab phasmina warna navy, dan celana putih tulang, senada dengan sepatu Zalfa. Jika ia selalu berpakaian seperti saat ini, dengan postur Zalfa yang mungil, tak akan ada yang mengira jika dirinya adalah janda dengan anak kembar.
"Mama cantik" Puji Rangga, pasalnya anaknya sendiri juga jarang melihat Zalfa berpakaian seperti saat ini, sebab dirinya yang lebih suka memakai gamis, atau dress rumahan.
"Aish anak Mama ngegombal, siapa yang ngajarin?" Tanya Mamanya, saat ini keempat orang itu sedang berada di lift, untuk turun ke bawah, rencananya mau ke pantai,
"Beneran Mama cantik, iya 'kan Pa?" Tanya Rengga, ke Edgar, Edgar sendiri ia sedang melamun melihat Zalfa di sampingnya yang tangannya sedang menggandeng Rangga, "Ish.. Papa melamun" Protes Rengga, Rangga menarik ujung kaos Edgar, membuat Edgar tersentak dan salah tingkah, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, hanya dengan riasan sedikit saja Zalfa nampak anggun di mata Edgar, biasanya Edgar lebih sering melihat Zalfa dengan pakaian seragam ASN, saat di sekolah.
"Cantik" Gumam Edgar reflek, membuat si kembar menyunggingkan senyumnya, sebab merasa setuju dengan pendapatnya, Zalfa membuang muka, ia merasa tersanjung dengan ungkapan ketiga anak laki-laki tersebut.
Pintu lift terbuka, semua yang berada di dalam lift keluar, dan sebaliknya, ada beberapa orang juga yang masuk ke dalam lift. Tidak jauh dari arah mereka berjalan, Edgar menangkap sosok orang yang tak asing di matanya. Ia bersama dengan perempuan cantik dengan pakaian modisnya, sedang di loby. Di lihat dari pakaian yang mereka kenakan, seperti akan menghadiri pesta. Edgar tersenyum kecut, lalu ia mengabaikan saat berpapasan di loby, ia pura-pura tak melihatnya. Namun bahu Edgar, sengaja menyenggol wanita itu, membuat wanita itu hampir terjatuh, Laki-laki di sampaingnya sigap menangkapnya jadi tak sampai jatuh,
"Hey..!! kalau jalan hati-hati donk" Protes laki-laki yang usianya sudah hampir setengah abad tersebut, namun masih nampak kelihatan gagah. Edgar tak peduli, ia hanya menoleh dan memicingkan mata. Lalu melempar senyum licik kepada laki-laki tersebut.
Deg...
Papanya tak menyangka, ia bertemu Edgar di hotel yang sama. Papanya kesini dengan wanita lain, bukan Mama Edgar, namun wanita itu juga tak salah. Sebab wanita tersebut adalah istrinya, tepatnya istri kedua, dan yang kini sedang berbadan dua. Mereka akan menghadiri pesta yang nanti akan di mulai setelah isya di hotel ini.
Edgar sudah berada di baseman parkiran mobil, ia menyuruh Zalfa dan si kembar menunggu di depan hotel, sedangkan dirinya mengambil mobilnya.
Edgar sedikit kesal, ia memukul setir mobil tersebut, bagaimana bisa Papanya ada di sini juga. Tujuan Edgar menghindari Papanya malah bertemu di hotel yang sama. Seketika mood Edgar kembali buruk. Ia merasa geram, ia selalu mengingat bagaimana perasaan Mamanya jika tahu Papa berselingkuh.
"Aarrrggh...!" Desah Edgar, ia sangat kesal. Ia mengacak rambutnya sendiri. Lalu ia menarik napas, menenangkan dirinya. "Astaghfirullah... " Ucapnya, ia pun menyalakan mesin mobil, ia harus kelihatan baik-baik saja saat di hadapan bocah kembar yang Edgar sendiri tak tahu, kenapa begitu sangat menyayangi bocah kembar tersebut, bukan karena dia menyukai Zalfa, namun memang rasa cinta kepada si kembar ada saat dirinya merasa menyukai Zalfa, Cinta pertamanya yang berhasil merebut hatinya.