Bagaimana bisa seorang perwira polisi memiliki dua istri?
Merujuk pada Pasal 4 Peraturan Polri Nomor 6 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2010, seorang polisi dilarang untuk memiliki istri atau suami lebih dari satu. Aturan ini juga berlaku bagi PNS Polri. Polisi beristri dua Merujuk pada Pasal 4 Peraturan Polri Nomor 6 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2010, seorang polisi dilarang untuk memiliki istri atau suami lebih dari satu.
***
Penjebakan dari sesama perwira lainya membuat Ayah Edgar tak sadar jika dirinya telah meniduri seorang wanita. Apalagi wanita yang di tidurinya adalah wanita di masa lalunya. Yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Dan Wanita itu kini menjadi istri kedua dengan pernikahan siri tersebut, baru dua bulan ini mereka menjadi sepasang suami istri dalam pernikahan siri. Wanita itu sudah menjanda pasca di tinggal mantan suaminya yang tergoda wanita lain.
Seorang perwira yang teman tapi musuh Ayah Edgar, yang jabatannya lebih tinggipun memanfaatkan si wanita itu untuk menjebak Ayah Edgar. Dari awal orang tua Edgar memang menikah atas dasar perjodohan. Untuk saat ini belum ada yang mengetahui selain teman tapi musuhnya tersebut. Belum saatnya Ayah Edgar terlengser dari jabatannya. Karena dendam pribadi membuat teman tersebut melakukan hal licik untuk menjatuhkan kehormatan Ayah Edgar. Ayah Edgar yang awalnya selalu lembut, Kini menjadi Ayah yang temperamen. Itu yang membuat Edgar tidak betah di rumah. Edgar tidak tahu jika pernikahan Ayah Edgar dengan wanita lain itu adalah sebuah jebakan teman tapi musuh Ayahnya. Yang Edgar tahu Ayah Edgar sudah menghianati Mama Edgar.
Sebenarnya Ayah Edgar sendiri tidak menyetujui jika Edgar juga harus menjadi seorang polisi, karena Ayah Edgar tahu bagaimana dunia kepolisian. Namun kakek Edgar yang juga dulu anggotavperwira kepolisian selalu otoriter anak dan keturunan laki-lakinya harus menjadi pejabat kepolisian.
Menyesalkah Edgar dengan aturan yang di buat turun temurun oleh Nenek moyangnya?
Ya dirinya tidak menyukai hal pemaksaan. Namun entah kenapa dirinya tak bisa menolak tersebut, Jika memilih Edgar lebih ingin menjadi seorang arsitek, dirinya yang menyukai menggambar sebenarnya ingin menjadi seorang arsitek. Bahkan Edgar sendiri tahu, setiap anak laki-laki di keluarganya menikahpun sesuai dengan jodoh yang di tentukan oleh keluargannya. Namun ia kali ini ingin melanggar dan menghapus aturan tersebut, Bukankah jodoh hanya Tuhan yang menentukan, tapi tidak di keluarganya, orang tualah yang menentukan jodoh mereka. Padahal tidak sedikit yang harus berpisah sebab perjodohan tersebut, Namun orang tua mereka selalu mengedepankan egonya. Mereka menikah dengan perjodihan yang di tentukan oleh orang tuanya dengan dilihat bibit, bebet, bobotnya.
***
Edgar dan Zalfa turun dari mobil, kemudian menuntun kedua anak kembar tersebut. Mereka sampai di panti di kota Surabaya. Deruan ombak pantai terdebgar merdu di telinga mereka.
"Mama.. Papa.. kita boleh main ail?" Tanya Rangga.
"No, Sayang. Ini sudah sore, kita liat pantai saja. Besok kita kesini lagi baru boleh main air, sekarang kita liat matahari terbenam ya.?" Terang Zalfa dengan lembut.
"Iya deh Mama, " Jawab Rangga, sedikit kecewa.
"'Kan kita udah mandi, ntar kalau main air. Ntar kita mandi lagi" Rengga mencoba membujuk Rangga yang cemberut.
"Ayo kita ambil photo" Usul Edgar kemudian,
"Ayok potho berempat kita" Sahut Rengga. Ia berlari kecil menjauhi Rangga juga Mamanya dan Edgar.
"Sayang, jangan lari-lari" panggil Mamanya, Rengga malah tertawa. baru kali ini ia ke pantai. Mereka berempatpun hanya menikmati pemandangan sore hari di pantai, lalu mengabadikan momen tersebut dengan benda pipihnya.
Sebuah bola voli pantai jatuh tepat di hadapan Edgar, Edgar mengambilnya saat dirinya ingin melempar bola tersebut, dua gadis menghampirinya.
"Terima kasih" Ucap salah seorang gadis dengan pakaian seksinya, dan meraih bola yang di bawa Edgar, Edgar hanya mengangguk. Tanpa ekspresi.
"Boleh kenalan nggak?" Tanya gadis lainnya, Edgar menatap dua gadis dengan pakaian minim tersebut dengan tatapan tak suka.
"Papa...Papa..!!" Teriak si kembar , berlari menghampirinya, melihat dua anak kembar itu memanggil Papa kepada Edgar, kedua gadis itupun mundur canggung, mereka merasa malu. Edgar jongkok mensejajarkan tingginya dengan Si kembar.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Edgar,
"Beli minum haus" Pintanya.
"Ok. Hayuu..." Sambil membopong dua anak kecil tersebut, "Mama mana?" Tanya Edgar, itu lagi motoin laut" Jawab Rengga, sambil memonyongkan bibirnya ke arah Mamanya berdiri.
"Sayang, ayo cari makan!! " Teriak Edgar, kepada Zalfa. Zalfa melambaikan tangan, tanda setuju, lalu ia berjalan ke arah tiga laki-lakivbeda usia tersebut.
"Gue pikir masih single, eh taunya punya anak dan istri, padahal di liat mukanya kek masih bocah SMA kaya kita" Gerutu seorang gadis yang sedang bermain voly pantai, suaranya terdengar oleh Zalfa yang kebetulan berjalan di samping arah mereka bermain voly pantai.
Entah kenapa Zalfa merasa tak suka, dengan gadis yang sedang menggerutu calon suami bocilnya tersebut. Iapun dengan sengaja merangkul pinggang Edgar, seakan ingin memamerkan kemesraan mereka. Hal itu membuat Edgar mengembangkan senyumnya.
Mereka duduk di bawah payung besar, untuk memesan makan malam untuk mereka.
"Mau pesan apa?" Tanya Edgar, ke Zalfa terlebih dahulu. Zalfa mengambil menu makanan tersebut, membaca satu persatu tulisan yang tertera di buku menu tersebut.
"Nasi goreng sea food kek nya mantap" Ucap Zalfa,
"Oke. Aku juga suka nasi goreng sea food" Balas Edgar, "Kesayangan Papa mau makan apa?" Tanya Edgar,
"Aya bakar," Jawab Rengga,
"Angga juga" jawab Rangga.
"Oke, dua porsi nasi sama ayam bakar, dua porsi nasi goreng sea food, juga minumnya samain aja ya, teh hangat" Ucap Edgar. Tangannya sibuk menulis di kertas catatan pesanan pelanggan.
Setelah Edgar memberikan ke penjual warung makan tenda tersebut.
"Dek Rangga juga dek Rengga bahagia?" Tanya Edgar, saat melihat bocah tersebut sedang asyik memainkan sedotan di tempat kotal lk berisi sedotan tersebut.
"Jangan di tanya Papa, Rengga suka sekali yang pasti " Jawab Rengga,
"Angga juga bahagia, soalnya 'kan Mama 'kan tidak pelnah ngajakin jalan-jalan" Jawab Rangga, tanpa menatap lawan bicara, ia asyik menekuk-nekuk sedotan.
"Mama bahagia nggak?" Tanya Rengga.
"Kalau anak-anak Mama bahagia, Mama pasti bahagia doonk" Jawab Zalfa, Rengga dan Rangga tertawa, menampakan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Seneng banget dech, sekalang Angga punya Papa" Ucap Rangga jujur,
"Rengga juga bahagia punya Papa, kata Mama ,,Papa aku tuh udah di Syurga sama Allah, dan sekarang Rengga punya Papa baru, yang juga di kirim Allah" ucapnya dengan lucu,khas anak-anak.
"Duuch anak Papa pinter sekali sih" Puji Edgar, ia menyentuh rambut kedua anak kembar tersebut. "Sayang, Papa kandung si kembar pasti dulu juga cerdas ya?" Bisik Edgar, sebab merasa si kembar begitu menggemaskan.
"Iya, lelaki yang santun, sangat bertanggung jawab" Jawab Zalfa, dengan jujur.
"Lalu kenapa dia berselingkuh?" Tanya Edgar sedikit berhati-hati.
"Aku tak tahu, namun antara percaya dan tidak, ada yang bilang suamiku dulu kena pelet cinta atau apa githu, Jadi jika suamiku dekat denganku, ia akan merasa benci bahkan jijik dan berubah jadi temperamen." Terang Zalfa, panjang
"Di zaman modern gini masih ada ya hal berbau mistis kek gitu?" Tanya Edgar,
Zalfa hanya menggedikan bahu, Zalfa sendiri awalnya tidak percaya, namun itulah yang terjadi, suaminya yang lembut jadi temperamen.
Flashback On
Almarhum Suaminya dulu sangat baik, Zalfa tak merasa bahwa suaminya dulu yang baik namun tiba-tiba berubah saat dirinya mulai menjadi office boy di sebuah perusahaan ternama. Meskipun dulu suaminya cukup tampan, namun sebab dirinya yang hanya tamatan SMA, dan memilih menjadi TKI ke korea untuk membiayai biaya hidup Ibunya dan adik perempuan satu-satunya, di tambah dirinya juga berusaha selalu membahagiakan Zalfa dengan menyiapkan sebuah rumah untuk di tempatinya setelah menikah. Dan semua itu memang terbukti, Bahkan tanpa di ketahui Zalfa ada sebuah toko distro atas nama dirinya pemilik tersebut selain itu juga mini market untuk adiknya. Bagaimana bisa alm. Suaminya hanya TKI namun bisa mempunyai toko tersebut, berkat kegigihan dan kerja keras dirinya, dan dirinya yang menjadi supir di sebuah pabrik di Korea, ia mampu mengumpulkan uang untuk masa depannya. Namun selain itu Mantan suaminya mendapat warisan dari Nenek buyutnya, sebab ia anak laki-laki satu-satunya. Dan warisan tersebut ia jadikan sebuah usaha dan dirinya berhenti menjadi TKI, lalu menikahi Zalfa. Yang baru sembilan bulan di nikahinya, saat usia kandungan istrinya memasuki enam bulan awal mula suaminya berselingkuh. Dan meninggal karena kecelakaan di malam tujuh bulan kandungan Zalfa.
Flashback off
"Yee.. Makanan datang!" Seru Rangga tersebut. Ia memang sudah cukup lapar.
Melihat ayam bakar yang tadi ia pesan, ia tak sabar menikmatinya.
"Sini Mama suapin kalian" Ujar zalfa,
"Tak usah Mama, kita sudah besar, bisa makan sendiri" Jawab Rengga, Mamanya hanya tersenyum tak percaya, sebab siang tadi saja mereka makan masih di suapin, Meskipun mereka bisa makan sendiri, namun kadang nasinya jatuh berceceran.
"Mama sama Papa makan saja, bial nanti balengan selesai, telus balik ke kamal bobok, bial besok bisa liat matahali telbit" Ucap Rangga, Zalfa pun hanya mengulum senyumnya, dua batita di hadapannya memang jarang merepotkan Mama dan Kakek juga Neneknya, namun jangan di tanya jika mereka sakit. Sifat kanak-kanaknya muncul. Mereka ingin selalu di temani, rewel membuat orang dewasa tak Bisa ngapa-ngapain karena harus menjaga si kembar yang tak mau di tinggal sedikitpun.
Mereka menikmati makan malam mereka, dalam diam. Batita tersebut makan dengan lahapnya, meskipun ada nasi yang berceceran tapi hanya sedikit,
"Mama, Angga kenyang" Ucapnya,
"Rengga juga Mama" sahut Rengga, mulutnya menguap, begitulah batita tersebut. Jika perutnya kenyang mereka akan mengantuk.
"Ya sudah, habiskan minum kalian" Pinta Edgar. Tanpa banyak cakap teh hangat dengan gelas kecil tersebut mereka sesap hingga tandas.
"Alhamdulillah..." Ucap Rengga yang sudah habis duluan,
"Alhamdulillah, Angga udah habis juga, Mama ayok makanya bial cepet gedhe habisin" Titah Rangga kemudian,
"Iya Mama kurus banget" Balas Edgar, ia meledek Zalfa.
"Yang penting sehat" Balas Zalfa cuek.
"Mama kebanyakan nangis, Rengga pernah liat Mama nangis, Rengga sedih kalau liat, Mama nangis." Jawab Rengga, tidak Rengga tidak Edgar, ternyata mereka msering melihat Zalfa menangis.
"Tau dari mana, kalau menangis jadi kurus?" Pancibg Edgar.
"Kata Eyang gini 'anak ganteng nggak boleh nangis, kalau nangis ntar nggak ganteng terus jadi kurus dech' Githu.." Jawab Rengga menirukan suara Neneknya. Membuat Zalfa dan Edgar tak bisa menahan tawa mereka.
Merekapun segera kembali ke parkiran, kembali ke mobil dan balik ke Hotel.
Sebelum tidur, mereka gosok gigi dan berganti pakaian tidur, sedangkan pakaian kotor mereka , Edgar bawa ke laundry.
"Papa bobok sini. Ya?" Pinta Rengga,
"Iyah Papa di sini" Angga menepuk bantal di sebelahnya, Zalfa dan Rengga saling berpandangan. Bagaimana menjelaskan kepada batita tersebut.
"Ayo Papa, Mama... Malah bengong, kami mau dengelin dongeng sebelum bobok" Rengek Rangga, padahal di lihat matanya sudah nampak berat,
"Hmm... Papa tidak bobok di sini Sayang" Ucap Zalfa,
"Hhmm.. Papa nggak sayang ama Angga ya, ?" Rangga cemberut,
"Eh bukan begitu sayang, Hmm itu 'kan Mama sama Papa belum menikah, jadi belum boleh bobok bareng" Terang Edgar absurd.
"Hhmm Tapi'kan Angga pengen bobok belempat, Papa di sebelah Angga, Mama di sebelah dek Lengga" Ocehnya, ia duduk sambil memainkan jari telunjuknya, dengan bibir yang sedikit di manyunkan.
"Iya Sayang, suatu hari nanti" Jawab Zalfa, tapi tak di setujui sama Edgar, ia malah bergegas di kasur, dan duduk kemudian mengambil posisi tidur di sebelah Rangga. Zallfa melotot tidak setuju, namun Edgar mengabaikan, dengan terpaksa Zalfa mengikutinya, ia tidur di samping Rengga, ia menatap Edgar kesal, namun malah membuat Edgar terkekeh, merasa menang.
Tidak memakan waktu lama, si kembar dan Zalfa mereka sudah tidur,,sedangkan Edgar berpura-pura tidur. Ia membuka matanya, lalu mengelus rambut kepala si kembar, dan mencium kening mereka bergantian.
"Anak-anak Papa, bobok yang nyenyak ya, besok pagi-pagi Papa kembali" Ucapnya, lalu ia menatap Zalfa yang sudah nampak terlelap. Ia menatap dalam pujaan hatinya yang kini sudah menjadi tunanangannya tersebut.
"Bunda Zalfa kesayanganku, I love you" Ucapnya, dia mengelus kepala Zalfa yang tertutup jilbab, dan Edgar turun dari kasur tersebut. Sebelum pergi meninggalkan kamar, ia berjalan ke arah Zalfa, Edgar menarik dagu Zalfa pelan, lalu ia mencium sekilas bibir mungil Zalfa dan mencium kening Zalfa, intens.
Senyuman tersungging di bibir Edgar, lalu ia bergegas keluar dari kamar tersebut.
Tidak di sangka, Papa Edgar sudah berada di depan pintu kamarnya, dengan sedekap, bagaimana bisa Papanya tahu nomor kamar mereka.
"Papa ingin bicara sama kamu" Ucap Papanya, memelankan suaranya.
"Tak ada yang perlu di bicarakan" Jawab Edgar , acuh. Ia berjalan cepat meninggalkan Papanya yang masih berdiri.
"Apa yang kamu lihat, tidak benar Sayang" Seru Papanya, namun Edgar yang sudah sangat kesal dengan Papanya, ia menutup rapat telinganya, masuk ke kamar hotel yang sudah ia booking. "Papa tahu kamu juga sedang bersama wanita janda itu 'kan, Papa juga bisa melarang!" Papanya sedikit emosi, Edgar berhenti sebelum masuk ke dalam kamarnya. Ia menoleh ke Papanya.
"Terserah!" Balas Edgar. Lalu ia membanting pintu kamar tersebut.
Merasa percuma berbicara dengan Edgar, Papanya berjalan menuju kamar yang di tempati Zalfa dan Si kembar. Papa Edgar mengetuk pintu kamar dengan cukup keras, membuat Zalfa yang sebenarnya belum tidur dan hanya pura-pura tidur dengan malas berjalan menuju pintu kamar tersebut.
Dengan tatapan tak bersahabat Papa Edgar menatap Zalfa, Zalfa tak begitu mengenal Orang tua Edgar.
"Sudah kau racuni apa sampai Edgar tergila-gila sama janda sepertimu" Sinis Papa Edgar. Zalfa mendelik, ia merasa terkejut.