Zalfa menutup pintunya pelan, ia tak ingin si kembar mendengar obrolan orang dewasa.
"Maaf, anda siapa?" Tanya, Zalfa. Ayah Edgar memicingkan mata,
"Saya orang tua Edgar. Sudah kau racuni apa anakku sampai dia tergila-gila denganmu!" Makinya,
"Ini tidak ada hubungannya dengan Zalfa, Papa jangan memojokannya!" Suara bariton Edgar menggelegar, ia berjalan cepat menuju arah mereka berdiri. "Maaf, Pa. Untuk kali ini Edgar tak ingin menuruti Papa, biarkan Edgar menikahi Bu Zalfa," Suara Edgar melunak, ia menarik Zalfa dan merangkulnya.
Papanya menatap keduanya geram, Zalfa menunduk. "Pa.. Edgar sayang sama Bu Zalfa, Edgar sudah tunangan juga," Terang Edgar. Edgar memperlihatkan cincin yang di pakai, ia juga menunjukan cincin yang Zalfa pakai.
"Sampai kapanpun, Papa tidak akan merestui hubungan kalian." Geram Papanya, Edgar tersenyum smirk, ia tidak peduli.
"Edgarpun sama, sampai kapanpun tak akan pernah terima Papa nyakitin Mama!" Edgar tak mau kalah, Ia langsung menarik tangan Zalfa, masuk ke kamarnya,
"Tunggu, kamu seorang guru bukan? Bagaimana jadinya jika seorang guru tidur dengan muridnya tanpa ikatan yang sah, aku bisa saja melaporkan hubungan kalian ke kepala sekolah atau pun dinas." Ancam Papa Edgar,
"Papa mengancam? Papa tak tahu siapa Edgar, terserah Papa. Dan satu lagi, Apa yang Papa pikirkan tidaklah benar." Geram Edgar, ia langsung menutup pintu kamarnya.
"EDGAR!!" Panggil Papanya, namun Edgar sudah tidak peduli, sama juga jika seandainya Papanya mengadu ke kepala sekolah ataupun ke dinas pendidikan, Papanya juga bisa di laporkan ke atasan atas pernikahan sirinya, bisa jadi Papanya di pecat secara tak terhormat. Apalagi istri kedua Papanya, sudah hamil di luar nikah.
Edgar berdiri menghadap Zalfa, Ia lalu menarik pelan dagu Zalfa untuk menghadap kepadannya, Air mata Zalfa mengembun, sekali berkedip akan jatuh air mata tersebut.
"Sayang, liat aku." Pinta Edgar, Edgar sendiri matanya mengembun, hal yang paling tak ia sukai, melihat wanita pujaannya sedih. Ia menghapus air mata Zalfa yang akhirnya jatuh juga, lalu ia memeluk Zalfa, mencoba menenangkan dirinya. Ia membiarkan Zalfa menangis dalam pelukannya. Cukup lama Zalfa terisak.
"Sudah nangisnya , hmm?" Edgar malah meledek Zalfa, "Jangan dengerin kata Papaku, dari dulu Papa gitu, suka ngekang kemauan anak-anaknya, makannya Kakak pertamaku milih kuliah di luar Negeri, kakak keduaku milih jadi karyawan biasa di perusahaan, tapi kakak keduaku sudah meninggal tiga tahun lalu," Terang Eddar, tanpa di minta ia menceritakan keluargannya.
"Aku nggak papa, sudah sana balik kamar, aku mau tidur," usir Zalfa kemudian, Edgar menatap Zalfa, yang kini berkedip lucu.
"Kamu nggak papa, Sayang?" Tanya Edgar, khawatir. Zalfa menggeleng, dan ia memaksakan untuk tersenyum. Bukan tidak sakit hati, namun rasanya ia merasa sudah kenyang dengan makian yang ada, ia sudah merasa kebal dapat sindiran atau makian pedas tentang dirinya, dia yang menjaga kehormatannya dengan jaga jarak dengan lawan jenis saja dapat gunjingan yang tidak baik. Begitukah nasib seorang janda? Selalu di pandang sebelah mata.
Edgar adalah laki-laki pertama yang dekat dengannya setelah kematian suaminya.
"Jangan sedih ya, Sayang? Kita jalanin sama-sama. Apapun yang terjadi, aku akan terus memperjuangkanmu, I love you." Ucap Edgar, begitu sangat manis. Lalu dirinya mencium kening Zalfa intens, dan berpamit pergi ke kamarnya sendiri, ia tak ingin jika sesuatu terjadi jika berlama-lama di kamar Zalfa dan si kembar. "Bobok yang nyenyak, nggak boleh mikiran yang aneh-aneh, biar besok pagi kita bisa liat matahari terbit di pantai," Ucapnya lagi, dengan begitu lembut di telinga Zalfa, lalu ia membuka pintu kamar hotel tersebut, sebelum Edgar benar-benar pergi, Ia mencium bibir Zalfa sekilas, seakan bibir Zalfa kini menjadi candu untuk dirinya.
Setelah di rasa Edgar pergi, Zalfa bergegas ke kamar mandi, ia mencuci mukanya, melepas jilbab yang ia kenakan lalu ia mengambil air wudlu, jalan satu-satunya untuk nenangin dirinya adalah menghadap sang khaliq.
***
Pukul empat pagi, Zalfa sudah bangun
dari tidurnya, sebentar lagi waktunya shalat subuh. Ia bangun setengah jam sebelum waktunya shalat subuh.
Dan seperti biasa, Si kembar akan bangun di waktu adzan subuh, dua batita itu sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali. Dan seperti biasa juga, Zalfa akan membimbing keduanya belajar wudlu dan shalat subuh. Zalfa sudah menerapkan kebiasaan beribadah sejak masih bayi. Di saat bayi tiap waktu shalat, si kembar akan di beri tahu, lalu Zalfa akan shalat di dalam kamar. Dan saat usia dua tahun tepat. Dua batita tersebut di biasakan ikut shalat, meskipun masih bercanda dan juga ngobrol dalam shalatnya, namun Zalfa selalu membimbingnya dengan begitu sabar.
***
Pukul setengah enam, ke empat orang yang terdiri dari dua batita dan dua orang dewasa, sudah berada di pantai, sebab pantai tersebut tak jauh dari hotel yang mereka singgahi.
"Mama, matahalinya muncul dali laut ya, Ma?" Tanya Rangga. Membuat Zalfa mengerutkan kening,
"Kalau matahari munculnya dari laut, memang ikannya nggak kepanasan ya kena sinar matahari?" Sambung Rengga,
Edgar tersenyum melihat kelucuan si kembar. Edgar memangku dua batita tersebut.
"Sayang.. Matahari adalah salah satu ciptaan Allah yang sangat luar biasa sehingga semua manusia menamakannya sebagai salah satu sumber energi atau sumber kehidupan. Di katakan seperti itu sebab bisa di pastikan semua unsur kehidupan di muka bumi ini sangat tergantung kepada cahaya matahari ini...
"... Matahari tidak tinggal di laut, matahari itu ada di angkasa, matahari tak bisa bergerak. Jadi yang bergerak adalah bumi, bumi mengitari matahari, tidak hanya bumi, namun planet lain juga mengitari matahar,i" Terang Edgar, ke anak kecil yang baru berusia belum genap tiga tahun tersebut.
"Edgar, si kembar mana paham," Protes Zalfa, Edgar hanya nyengir,
"Telus matahali itu tidulnya di mana ma?" Tanya Rangga.
"Matahari tidak tidur Sayang." jawab Mamanya,
"Kasihan pasti capek," Celetuk Rengga.
"Mama.. Allah itu pintel ya, bisa bikin langit, bisa bikin bumi, bisa bikin laut .." sambung Rangga,
"Terus matahari bulan bintang juga ibadah kaya kita Ma? Shalat dzikir gitu Ma?" Tanya Rengga, nampak antusias, "'kan kata Mama, setiap ciptaan Allah itu memiliki cara ibadah sendiri-sendiri, berarti kalau bulan sama matahari gimana Mama?" Tanya Rengga, lagi.
"Iya Sayang. Ibadah mereka berbeda dengan kita, mereka dengan bersinar tepat waktu, itu sama juga dengan ibadah." Jawab Zalfa, terkadang Zalfa bingung menghadapi dua malaikat kecilnya, karena kadang pertanyaanya melebihi anak seusianya.
"Anak Papa pinter banget sih," Puji Edgar, ia mencium pipi Rengga dan Rangga bergantian.
"Anak Mama juga." Jawab Rengga,
"Anak Papa dan Mama," Sahut Rangga.
Merekapun menikmati pemandangan pagi dengan menjelaskan ciptaan-ciptaan Allah. Hingga matahari mulai meninggi dan terang.
Pukul setengah tujuh, mereka kembali ke hotel untuk sarapan. Lalu mandi, sebab mereka belum mandi.
"Mau makan apa,, Sayang?" Tanya Edgar penuh perhatian. Saat mereka sudah berada di resto di dalam hotel tersebut.
"Papa Angga mau nasi goleng kasih telul mata sapi setengah matang. Gak pedas." Pintanya, ia yang sangat menyukai telur ceplok setengah matang tersebut.
"Rengga sama kaya kakak, Tapi kasih udang yang gede." Pintanya.
"Okey, kalau Mama mau apa?" Tanya Edgar ke Zalfa.
"Hhmm.. Pengen spugetty, dengan keju mozarella," Jawab Zalfa, Edgar mengangguk dengan senyum yang di kulum.
"Minumnya apa, Sayang?" tanyanya, Lagi.
"Jus alpukat," Serentak dua bocah itu menjawab bersamaan.
"Widih, kompak banget sich, Apa Mama juga mau di samain?" Tanya Edgar, matanya berkedip-kedip genit.
"Ish apaan sih kamu," Zalfa meraup muka Edgar yang dengan sengaja menggodannya.
"Papa sama Mama itu lucu, nanti pulang dali sini Papa tinggal sama kita 'kan?" Tanya Rangga, penuh harap.
"Iya, tapi tidak saat ini, entar suatu hari nanti ya?" Jawab Edgar, ia mengusap rambut si kembar penuh sayang.
"Kenapa? 'Kan Papa Edgar udah jadi Papa aku?" Rengga menjawab dengan manyun.
"Iyah, Sayang.. Nanti kalau Papa sudah resmi jadi Papa kalian, baru kita tinggal bersama." terang Edgar,
"Resmi gimana, Pa?" Tanya Rengga, masih belum paham.
"Iya, Papa dan Mama harus menikah dulu" Jawab Edgar,
"Oh yang itu ya, di pakaiin gaun yang indah terus kaya putri dan pangeran itu yah?" Tanya Rengga ,
"Naah tepat." Jawab Edgar,
"Ya udah,, sekalang ke salon aja, telus minta di dandani kaya putli dan pangelan," Jawab Rangga,
"Duh Sayang, gimana jelasinya," keluh Edgar kepada Zalfa.
"Tau'. Aku aja kadang bingung mau jelasinnya," Jawab Zalfa, ketus.
"Kok malah bisik-bisik. Nanti kita ke salon ya, bial Mama dan Papa di dandani kaya putli dan pangelan," Pinta Rangga.
"Iya,,Sayang.. Sekarang kita makan dulu, ya, nah itu ada puding buat makanan pembuka kita," Ucap Edgar, saat seorang pelayan jalan ke arah meja mereka membawa nampan berupa hidangan pembuka. Sedangkan untuk sarapan, mereka memesan dengan menu yang berbeda-beda.
Untung hidangan pembuka sudah datang, jadi Edgar merasa aman tidak di tanyain lagi, yang membuat Edgar pusing untuk menjelaskan perihal pertanyaan yang susah di jelaskan kepada anak batita seusinya.
"Sini biar Papa suapin," Edgar mengambil alih sendok yang di bawa Rengga. Sebab
melihat Rengga yang kesulitan memakannya, karena meja makan yang cukup tinggi untuk anak seusia mareka. Sedangkan Zalfa menyuapi Rangga, mereka menikmati puding buah sebagai hidangan pembuka.
"Bagaimana rasanya Sayang?" Tanya zalfa,
"Hhm.. iya enak, apalagi Mama yang nyuapin penuh cinta," Gombal Edgar,
"Papa.. Cinta itu apa, Papa?" Tanya Rangga, Edgar spontan menepuk keningnya, Zalfapun mengejeknya.
"Cinta itu kaya Mama sayang sama Kalian" Ucap Edgar singkat,
"Cinta sama Sayang sama ya Pa?" Tanya Rengga,
"Belalti Mama Cinta sama Papa yang udah di Syulga, ya?" Sahut, Rangga. Zalfa dan Edgar menatap Rangga bersamaan.
"Iya, Mama semalam nangis malam-malam pas habis shalat, terus nyebut nama Papa, terus bilang sayang sama Papa," Terang Rengga, "'Kan waktu itu Rengga sama Rangga belum tidur ya, Kak?" Tanya Rengga. Rangga mengangguk setuju.
"Udah tidul, tapi telganggu Mama yang menangis" Jawab Rangga, dengan mulut yang penuh makanan.
"Sudah ya, Sayang, bicaranya nanti lagi, sekarang Pudingnya di habisin dulu," Perintah Zalfa, Edgar diam, ia mencerna apa yang di katakan si kembar, lalu menatap Zalfa, memang nampak garis matanya yang agak bengkak, dan Edgar baru menyadarinya.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka kembali ke kamarnya, Zalfa hanya diam, suasana hatinya tak menentu, Rasa sedihnya saat Ayah Edgar menegurnya membuat dirinya ingat dengan alm. Suaminya, Zalfa beruntung dulu, sebab mertuanya begitu sangat menyayanginya, bahkan sebelum menikah saat Aditya masih kerja di Korea, ia membangun rumah dan Mama mertuanya mengatas namakan Zalfa sertifikat rumah dan tanah tersebut, Mama Aditya, begitu melihat Zalfa langsung menyukai gadis tersebut, hingga Mama mertuanya langsung mempercayai dirinya. Sebelum menikahpun, Zalfa selalu di minta menginap di rumah calon mertuanya, sebab beliau hanya tinggal sendiri, sebab kakaknya sudah menikah dan tinggal dengan suaminya tersebut.
"Sayang, " Panggil Edgar, saat mereka sampai di depan kamar Zalfa, Zalfa menoleh tanpa ekspresi. Edgar langsung menarik tangannya, dan memeluknya erat. "Maafin ucapan Papa semalam, Papa memang keras kepala," Sesal Edgar atas perkataan Papanya semalam, ia mengelus kepala Zalfa yang tertutup jilbab, hampir saja Zalfa terlena, hingga dirinya hampir tertidur dalam pelukannya, jika si kembar tidak memanggil mereka untuk masuk ke dalam kamarnya. "Ingin rasanya aku segera menghalalkanmu, Sayang, biar aku bisa leluasa melakukan tanpa takut dosa," Batin Edgar, saat ia melepas pelukannya kepada Zalfa, Zalfa masuk ke dalam kamar tersebut, sedangkan Edgar mengekor di belakangnya.
"Mau di mandiin Papa?" Tanya Edgar, menghangatkan suasana.
"Mau -mau!!" Balas si kembar, saking bahagianya mereka loncat-loncat.
"Gasskeeuun." Ucap Edgar, ketiganya masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
Zalfa sendiri menyiapkan handuk, dan juga pakaian ganti mereka, Seperti kemarin sore, mereka bertiga mandi dengan bermain-main busa terlebih dahulu, mereka berendam di bathup.
Edgar menggosok-gosokan tangannya ke punggung mereka, untuk menghilangkan daki. Meskipun mereka tak memiliki daki.
"Papa, Papa jangan bikin Mama menangis, ya?" pesan Rengga, "Soalnya kalau Papa yang ada di Syurga suka bikin Mama sedih dan menangis," Terang Rengga,
"Iya Sayang, pasti Papa akan buat Mama selalu bahagia dan tertawa terus." Jawab Edgar,
"Papa janji ya," Rengga menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Edgar, sebagai tanda perjanjian mereka.
"Kalau Papa bikin Mama menangis, Angga nggak mau sama Papa," sinisnya, Membuat Edgar merasa gemas saja. Iapun menoel pipi cuby dua batita tersebut.
"Oh ya Papa, hari ini kita mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Rengga,
"Enaknhya kemana, Sayang?" Tanya Edgar berbalik.
"Papa itu kalau di tanya jawab, bukan malah balik nanya, ih Dasar!" Rengga pura-pura marah.
"Iya. Papa tanya karna Papa ingin tahu, anak-anak Papa ingin pergi ke mana dulu," Kilah Edgar,
"Nanti aja kita pikilkan, sekalang mandi dulu," Jawab Rangga, sok dewasa.
Edgarpun spontan tertawa mendengar jawaban anak kembar tersebut.
Karena mandinya sambil memakai ritual ngobrol dan bercanda, merekapun tanpa sadar mandi hampir satu jam, mereka lupa bahwa Zalfa menunggu. Mereka selesai mandi, dan melihat Zalfa yang tertidur, di sofa.
"Astaghfirullah.. Bu Zalfa memang suka tidur ya?" Batnin Edgar, melihat Zalfa yang nampak pulas tidurnya,