Bab 4 - Rasa Cemas

1162 Words
Siang hari di kampus, Karin masih terus terbayang-bayang akan mimpi buruknya semalam. Sebenarnya jika ia tidak mendapat mimpi itu semalam, tadinya Karin ingin terus berdiam diri di rumah untuk tidur seharian karena tidak ada kelas hari ini. Tapi mendadak rencananya untuk tidur lebih lama dan menikmati keindahan Traumwelt hancur sudah karena bayangan-bayangan menyeramkan yang terjadi semalam masih terus menghantuinya. Karena itulah Karin disini. Duduk berdiam diri dengan kantung mata yang amat kentara. Entah kenapa hari ini Karin tidak bisa berpikir jernih. Ia merasa mimpi buruknya itu akan menimbulkan efek buruk bagi Traumwelt. Ia juga tidak tahu kenapa ia berpikir demikian. Yang pasti firasat itu muncul begitu saja dengan sangat mendominasi suasana hatinya. Bagaimanapun, bagi Karin Traumwelt bukanlah sebuah negeri yang pantas mendapat bencana. Keindahan Traumwelt terlalu disayangkan jika harus menghadapi suatu perang seperti di film-film fantasi yang pernah ditontonnya. Tak terasa beberapa jam pun telah berlalu. Suara perut Karin berikut rasa menyakitkannya itu berhasil membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia bergegas membangkitkan tubuhnya yang terasa kaku dan lemas, lalu melangkahkan kakinya menuju kantin. Disana ia memesan seporsi batagor berikut jus alpukat yang tidak pernah ia lupakan sedikit pun. Ia segera mengambil posisi duduk di pojok kantin yang langsung menghadap langsung ke arah balkon. Karin suka duduk di tempat ini, suasananya lebih sepi dan tenang di bandingkan di tengah-tengah sana. Ia jadi lebih berkonsentrasi untuk membaca artikel demi artikel yang ia temukan di laptop-nya. Tapi untuk hari ini, rasanya ia tidak mau berkutat dengan benda itu dulu. Ia rasa itu hanya akan menambah beban pikirannya saja. Karin sudah cukup pusing memikirkan mimpinya semalam. Itu sudah cukup membuat kepalanya sakit hari ini. Karin pun memutuskan untuk fokus makan saja tanpa memikirkan apa pun. Sementara itu dari kejauhan, Denis melihat Karin duduk di tempat yang sama, yang selalu menjadi tempat favoritnya. Ia mengerutkan dahinya bingung. 'Bukannya Karin hari ini tidak ada kelas? Tapi kenapa dia disini?' batin Denis bertanya-tanya. Ia lalu segera menghampiri Karin. "Hei," sapanya. Karin menoleh dan tersenyum. Ia menjawab dengan tidak bersemangat. "Ya ..." Denis mengerutkan keningnya bingung. 'Tidak biasanya Karin seperti ini. Ada apa ya?' batinnya lagi bertanya-tanya. "Kau terlihat agak lemas. Apa kau sakit?" Denis bertanya khawatir. "Tidak sama sekali," jawab Karin masih tidak bersemangat. "Lalu kenapa?" Karin menghembuskan napas lelah. "Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan ini semua gara-gara kau!" "Hei, hei! Kenapa jadi menyalahkan aku? Apa salahku?!" sangkal Denis tidak terima. Karin memutar bola matanya sebal kemudian berkata, "Kalau kau dan Lizy tidak memaksaku untuk ikut menonton film horor itu, mungkin mataku tidak akan jadi seperti ini!" Karin menunjuk kantung matanya dengan mendramatisir. Sementara Denis malah tertawa usil. "Memangnya apa yang terjadi semalam? Kau didatangi hantu yang ada di film?" "Jangan ngawur!" "Lalu apa?" "Jadi--." Ucapan karin terputus tiba-tiba. "Kariiin!!!" pekik Lizy tiba-tiba yang langsung membuatnya menutup telinga. "Duh, bisa tidak sih kau tidak berteriak seperti itu kalau bertemu denganku? Sangat menyebalkan, tahu tidak?!" tukas Karin sebal. "Dasar jahat!" jawab Lizy cemberut. "Omong-omong kalian sedang membicarakan apa? Ada gosip terbaru kah? Katakan padaku! Aku juga mau dengar." "Tidak ada yang sedang bergosip, Lizy," jawab Denis tersenyum manis. Hal itu langsung membuat Lizy sedikit merona. Bukan apa, tapi semenjak Denis mengubah gaya rambutnya ala boyband Korea, ia merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya tiap kali melihat wajah Denis, terlebih ketika ia tersenyum. Entah itu apa namanya, yang pasti Lizy seperti ingin meleleh dibuatnya. "Kenapa wajahmu jadi malu-malu begitu?" tanya Karin memerhatikan. "Padahal biasanya memalukan." Sontak Lizy menoleh dengan tatapan sebalnya. Hal itu membuat Denis lagi-lagi tertawa kecil melihat tingkah Lizy yang tampak imut di matanya. "Sudah tidak usah bertengkar. Aku bosan melihat kalian berdua mengadu mulut setiap hari," ucap Denis menengahi. Tapi dari pada menengahi, tawa menyebalkan di sela-sela ucapannya itu malah terlihat seperti memprovokasi kedua gadis itu untuk saling melotot satu sama lain. Denis pun berdeham menetralkan suasana. Ia lalu menatap Lizy jahil. "Lizy," katanya lagi. "Karin sepertinya sedang ada masalah. Dia tidak bisa tidur semalaman karena dihantui oleh hantu yang kita tonton kemarin." Lizy terkejut. "Hah?! Kau serius?!" Lagi-lagi Karin memutar bola matanya sebal. Ia juga menghembuskan napas kasar berusaha menahan kesabarannya atas kepolosan dan kebodohan Lizy. Tapi akhirnya ia tidak tahan juga dengan hal itu. "Kau bodoh sekali, sih. Mau saja dengar perkataan tidak masuk akal seperti itu." "Oh, kirain." Lizy menjawab tanpa merasa malu sama sekali. Denis kembali tertawa melihat ekspresi Lizy. 'Kenapa kau lucu sekali, sih. Kau benar-benar membuatku semakin tidak bisa berpaling darimu, Lizy,' batin Denis sambil menatap Lizy teduh. "Eh, tunggu ... bukannya hari ini kau tidak ada kelas, ya? Kenapa kau kesini?" ucap Denis tersadar. "Ya, aku sedang berusaha mencari kesibukan untuk melupakan sesuatu." Karin menjawab dengan tidak semangat. "Kau kenapa sih sebenarnya? Ceritakan pada kami!" desak lizy. "Tadinya aku sudah mau menceritakannya. Tapi karena dengar suara berisikmu itu aku jadi agak malas mengingat kejadian semalam." Lizy merengut. "Maaf ... ayo dong ceritakan pada kami. Apa yang terjadi sampai kau tidak bisa tidur?" Karin menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai bercerita kepada dua orang di hadapannya. "Jadi, semalam aku bermimpi tengah berada di suatu tempat yang jelas bukan Traumwelt. Tempat itu didominasi dengan kegelapan. Tempat itu juga banyak pohon-pohon kering yang terasa mengerikan. Dan ada suara aneh serta kelebatan-kelebatan bayangan menyeramkan. Aku menduga ini karena aku menonton film horor kemarin malam. Dan aku takut ini akan berimbas kepada Traumwelt. Duh, tidak etis sekali kalau tiba-tiba mimpi indahku selama ini berganti jadi mimpi buruk. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya." "Ah, mungkin ini cuma mimpi buruk biasa. Mimpi yang pada seharusnya selalu hadir di setiap manusia," jawab Denis berpikir positif. "Semoga saja memang benar begitu. Tapi entah kenapa aku merasakan suatu firasat buruk. Rasanya bahkan begitu kentara dalam diriku." "Mungkin itu karena kau terlalu memikirkannya," timpal Lizy. "Sebaiknya kau jangan terlalu tertekan seperti ini, Karin. Karena semakin di pikirkan, itu akan jadi semakin buruk nantinya." "Ya. Lizy benar, Karin." Karin menoleh kepada Denis dan menatapnya dengan mengejek. "Dimatamu Lizy memang selalu benar." Lizy terkesiap. Denis langsung bersemu merah. Sementara itu Karin yang menyadari ketidak- sengajaannya dalam berbicara seperti itu langsung menutup mulutnya dan mengisyaratkan Denis dengan mengacungkan dua jari tanda minta maaf. "Ah, eum ...." Denis berusaha mencari pengalihan pembicaraan. "Mu-mungkin ... i-itu hanya bunga tidur. Ya, itu umum terjadi pada manusia 'kan? Jangan kau pikirin terlalu larut." Karin menatap Denis jengah lalu menjawab asal. "Yeah." "Dari pada memikirkan itu terus, lebih baik kita bersenang-senang saja. Belanja ke Mall, main games, lihat cowok-cowok tampan," sahut Lizy kemudian. Matanya tampak berbinar-binar senang. Sepertinya ia sudah melupakan pembicaraan aneh tadi. Diam-diam Denis menghela napas lega. "Itu sih kemauanmu!" jawab Karin. Sementara Lizy hanya cengengesan. "Kurasa itu muncul karena kau terlalu menikmati filmnya sampai terbayang-bayang di mimpi," ujar Denis kembali membahas masalah Karin. "Ya, ini semua gara-gara kalian berdua. Sudah tahu aku sensitif kalau menonton film karena bisa terbayang-bayang sampai mimpi, tapi kalian masih saja memaksaku untuk menonton film horor itu!" "Hehehe, maaf," jawab Lizy yang lagi-lagi hanya bisa menyengir-nyengir lebar tanpa benar-benar merasa bersalah. Sementara Denis, pria itu pun ikut tertawa. Keadaan kembali menjadi cair sekarang. Ya, Karin rasa ucapan Denis benar. Mungkin yang semalam itu memang hanya bunga tidurnya. Semoga. Karena ia tidak tahu bagaimana jadinya Traumwelt jika negeri yang indah itu terkontaminasi dengan hal-hal berbau horor. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Karin berharap kalau semua yang dipikirkannya itu tidak akan pernah terjadi di Traumwelt. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD