Bab 3 - Nonton Bioskop

1438 Words
"Kariiin!!" pekik Lizy yang berlari terburu-buru menghampiri Karin yang tengah berjalan di lorong kampus sambil memeluk laptop-nya di depan d**a. Sontak Karin menutup telinganya mendengar suara cempreng Lizy. "Duh, suaramu membuat telingaku sakit, Lizy!" dumal Karin sebal. "Ada apa?!" Lizy hanya menyengir lebar seolah tak merasa bersalah sama sekali. Ia malah terlihat berbinar senang sambil menatap layar ponselnya. Seperti hendak menunjukkan sesuatu pada Karin. "Kemari, kita duduk dulu, oke? Kau harus lihat ini!" seru Lizy bersemangat. Lizy menarik Karin dengan paksa ke arah bangku panjang yang berada di dekat mereka. Karin merutuk sebal dengan kelakuan Lizy yang selalu saja seperti itu jika sedang tertarik dengan sesuatu. "Kau mau apa, sih?!" seru Karin mulai kesal. "Aku tidak mau kalau kau suruh lihat Boyband Korea lagi." Lizy langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Karin dan menatapnya datar. Ia berusaha tidak memarahi Karin sejujurnya. "Kau jangan marah-marah terus, nanti cepat tua, lho," kata Lizy. "Lihat dulu, nih. Ada film bagus yang baru tayang di bioskop. Kita harus menonton ini! Coba kau lihat Thriller-nya." Karin membuang muka malas. "Tidak mau! Itu pasti film drama lagi. Aku tidak mau melihatmu menangis-nangis berlebihan karena film menye-menye seperti itu. Menjijikan! Lebih baik menonton film fantasi. Seru dan menegangkan." Lizy mendelik tidak setuju. "Kau masih belum puas menghabiskan waktu malammu di dunia fantasi? Masih saja mau menonton film khayalan begitu. Lihat dulu mangkanya! Ini tuh bukan film drama." Setelah terus memaksa Karin untuk menoleh ke arah ponselnya tetapi tidak berhasil juga, akhirnya Lizy mencengkeram dagu Karin dengan paksa dan menolehkannya pada layar ponselnya yang sedang menampilkan potongan-potongan adegan yang cukup menegangkan. "Ini film horor terbaru di Indonesia. Dan kau harus tahu, kualitasnya tidak kalah saing dengan kualitas film luar. Pokoknya kita harus menonton film ini. Denis sedang memesan tiketnya untuk kita bertiga." "Apa?! Horor?!" pekik Karin berpura-pura kaget. Tapi Lizy tahu betul itu sebenarnya hanya untuk mengejeknya yang penakut. "Sejak kapan kau berani menonton film horor? Baru masuk saja kau sudah gemetar ketakutan." Lizy merengut sebal karena di ledek seperti itu. Ia lalu menghembuskan napas kasar kemudian balas mengejek sambil terus berusaha membujuk. "Please ... Karin yang cantik dan paling berani di seluruh dunia, kali ini aku akan berusaha untuk menghilangkan rasa takutku. Sumpah!" Lizy mengacungkan dua jarinya membentuk huruf 'V'. "Aku benar-benar penasaran dengan film ini. Sepertinya hantunya tidak akan seseram yang biasanya. Hantunya tidak akan diperlihatkan dengan detail seperti film horor kebanyakan, tapi nuansa seramnya begitu kentara. Ini kali pertama Indonesia mengeluarkan film horor sebagus ini. Masa kau tidak penasaran?" Karin mulai terlihat goyah. Sepertinya ia mulai terbujuk. "Penasaran, sih. Tapi ...." "Tapi apa lagi? Kenapa sih, hidupmu selalu dikelilingi kata 'tapi'?" jawab suara lain yang bergabung tiba-tiba. Karin dan Lizy menoleh dan melihat Denis yang ikut duduk bersama mereka sambil membawa tiga tiket. Sontak Lizy memekik kegirangan melihat itu. "Wah! Kau sudah dapat tiketnya? Untuk jam berapa?" Lizy bertanya antusias. "Jam delapan malam. Tambah malam, tambah seru," jawab Denis sambil tersenyum penuh maksud dan menggerak-gerakkan alisnya naik turun. Keduanya pun melakukan tos tanda setuju. Sementara Karin hanya memutar bola matanya jengah. Sebenarnya Karin juga sangat menyukai film horor. Tapi untuk akhir-akhir ini, ia berusaha menghindari apa pun yang berbau horor sebisa mungkin. Ia merasa kemampuan anehnya sedang tidak terkontrol dengan baik sekarang-sekarang ini. Beberapa kali ia menciptakan kekacauan di Traumwelt karena terbawa suasana di dunia nyata yang akhirnya berimbas kepada Traumwelt. Seperti waktu itu misalnya. Ia mendapat kiriman vidio dari Denis yang ternyata berisi jumpscare. Hal itu berimbas pada Traumwelt dengan munculnya hantu yang sama persis seperti yang ada di dalam vidio jumpscare itu. Untung saja Kakek Mou memiliki banyak benda antik yang sangat efektif untuk melawan hantu. Mangkanya sejak kejadian itu ia selalu berhati-hati dalam bertindak di dunia nyata. Ia tidak mau lagi melihat Traumwelt kena sasaran akibat kecerobohannya. "Bagaimana menurutmu?" tanya Lizy kemudian setelah mereka menyaksikan Thriller film horor yang akan mereka tonton beberapa jam kedepan. "Bagus 'kan film-nya?" "Iya, sih," jawab Karin mengakui. "Tapi aku benar-benar tidak bisa ikut. Aku merasa kekuatanku sedang tidak terkontrol dengan baik saat ini. Aku takut itu akan berimbas kepada Traumwelt." "Cih, kekuatan. Sudah seperti superhero saja kau," ejek Denis sambil tertawa. "Mangkanya, kau jangan kepikiran kesana terus. Kalau kau sedang berada di sini, kau harus fokus memikirkan kehidupanmu disini. Kalau kau sedang berada disana, kau fokus pada kehidupanmu disana tanpa mengingat adanya dunia nyata. Selama kau masih bisa membagi dirimu dengan baik di antara keduanya, aku yakin tidak akan ada hal buruk apa pun yang menimpa Traumwelt." "Ya, bicara memang mudah. Coba kau yang ada di posisiku. Aku yakin kau tidak akan bisa membagi dirimu kepada dua dunia sekaligus," rutuk Karin kesal. "Sudah, tidak perlu ribut. Pokoknya kau harus ikut. Titik!" ucap Lizy memutuskan secara sepihak. "Kalau kau membantah, kau akan aku keluarkan dari daftar nama tugas kelompok minggu depan." "Apa?!" ••• Dan ya, disinilah Karin berada sekarang. Duduk di kursi coklat empuk yang berada di salah satu koridor bioskop, menunggu giliran untuk masuk ke dalam teater. Dengan terpaksa tentunya kalau saja Lizy tidak mengancam seperti itu. Ia merutuk sebal dalam hati. Ia bersumpah akan membalas Lizy dengan mengerjainya ketika sudah di dalam nanti. Lihat saja. Lima belas menit pun berlalu. Terdengar suara perempuan dari pengeras suara yang meminta mereka untuk masuk karena film akan dimulai sebentar lagi. Mereka mendapat kursi barisan kedua tepat di bagian depan layar. Karin menatap Lizy yang sepertinya mulai gemetar ketakutan karena nuansa musik yang mulai terasa horor. Karin tersenyum puas. Sebentar lagi, niatnya untuk membalas Lizy akan ia lancarkan dengan rapih. Sampai waktu pertengahan film tiba. Di sebuah adegan yang sangat mendebarkan dimana sang anak berjalan pelan-pelan di lorong sempit sambil menatap kain putih yang membentuk siluet tubuh manusia. Karin menebak, sebentar lagi pasti akan ada jumpscare. Ia bersiap-siap untuk itu. Dan saat jumpscare itu tiba, Karin menjalankan aksinya dengan menjambak rambut Lizy kencang namun hanya se-per-sekian detik. Setelah itu ia buru-buru mengembalikan tangannya keatas tumpukan popcorn yang berada di genggaman tangan kirinya. Saat suara bising teriakan menggema di sepenjuru ruangan, Lizy justru menoleh kebelakang dengan perasaan was-was. Ia menatap orang asing yang berada di belakangnya itu, yang tengah serius menonton bahkan tidak peduli dengan apa yang tadi Karin lakukan. Apalagi melihat Lizy yang menoleh ke arahnya, ia sama sekali tidak peduli. Bahkan seperti tidak sadar. "Tadi itu apa ya?" bisik Lizy kepada Karin. Dari nada bicaranya itu, Karin tahu kalau Lizy sedang ketakutaan. "Tadi apa, sih?!" pekik Karin dengan berbisik. Tentu saja ia berpura-pura tidak tahu. "Lagi seru, nih. Jangan berisik!" "Tadi aku merasa seperti ada yang menarik rambutku, Karin. Itu siapa?" tanya Lizy takut. "Tidak tahu. Hantunya keluar, mungkin?" Wajah Lizy langsung pucat pasi. Sontak ia menggenggam tangan Denis dan Karin yang berada di kanan dan kirinya. Badannya mulai gemetar ketakutan. Hancur sudah suasana tenang yang berusaha ia ciptakan demi bisa menonton film horor ini. Bahkan sampai film selesai pun Lizy tidak bisa berhenti berpikir kalau di sekelilingnya mungkin saja ada hantu-hantu yang sedang menyamar. "Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Denis khawatir melihat Lizy yang masih gemetar ketakutan walau sudah keluar dari area bioskop. "Katanya tidak takut," ledek Karin puas seolah dendamnya terbalaskan dengan mulus. "Dasar cengeng." Lizy tidak menggubris. Pikirannya masih melayang pada sosok yang menarik rambutnya tadi. Karena tak tahan, akhirnya Karin mengatakan yang sebenarnya. "Sudah dong, Lizy, jangan memasang ekspresi menyeramkan seperti itu terus. Yang tadi menarik rambutmu itu aku, tahu." Sontak Lizy menoleh marah. "Kariiin!!!" Karin tertawa puas sambil menutup telinganya karena suara cempreng Lizy yang memekakkan telinga. Denis bahkan ikut tertawa melihat wajah lucu Lizy. Ya, sepertinya Lizy lebih menghibur dari pada film horor tadi. ••• Malam harinya, entah mengapa Karin tertidur dengan sangat gelisah, berbeda sekali dengan biasanya. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Ia juga memimpikan hal yang tidak pernah dimimpikannya sebelumnya. Ia tidak berada di Traumwelt. Kini, ia berada di dalam sebuah dunia yang didominasi oleh warna hitam dengan aura mengerikan. Karin berjalan entah kemana berusaha menemukan pintu keluar dari dunia itu. Namun, sejauh apa pun jarak yang di tempuhnya, ia merasa kalau ia tak kunjung menemukan titik terang yang menjadi jalan keluar baginya. Ia justru semakin terjebak ke dalam hutan mengerikan yang sama sekali tidak memiliki daun di setiap pohonnya. Ia juga mulai mendengar suara bisikan-bisikan tak beraturan yang membuatnya semakin bergidik ngeri. Kelebatan demi kelebatan bayangan ia rasa melintas di belakangnya dengan gerakan secepat angin. Tapi saat Karin menoleh, tidak ada apa pun di belakangnya. Nuansa kengerian pun semakin menjadi-jadi ketika Karin tidak sengaja membuka sebuah pintu berwarna ungu gelap yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia lalu terjerumus jatuh ke dalamnya. Saat itu juga, Karin terlonjak kaget dan terbangun dari mimpi buruknya. "Apa itu tadi?" gumamnya sambil berusaha mengatur napasnya yang kini menderu cepat. "Apa pun itu, semoga itu tidak akan memberi efek buruk pada Traumwelt." Ia lalu menatap jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Akhirnya, karena rasa cemas yang mendominasi suasana hatinya saat ini, Karin memutuskan untuk tetap terjaga hingga pagi tiba. Ia begitu takut untuk menghadapi sesuatu yang buruk, yang mungkin saja telah terjadi akibat kecerobohannya. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD