Di ruang 301..
"Adhi.." Ari berteriak didalam kelas saat mengetahui Eka pacarnya sedang berduaan bersama Rama didalam kelas.
"Ya, eh Ari." Kata Rama.
"Eka itu milikku, bukan milikmu, pergilah kamu jangan kamu mendekatinya dan jangan juga kamu mereka dia dari paham..!!" Kata Ari yang marah pada Rama.
"Milikmu, katamu, bukan, sekarang saya tanya apakah kalian berdua sudah bertunangan, belum kan, sudah menikah, belum juga kan, ya sudah itu artinya dia bukan milikmu, laki-laki mana pun berhak mendekatinya paham..!!" Kata Rama yang memancing emosi Ari.
"Adhi.." Ari berteriak lagi didalam kelas.
"Oke baiklah sekarang mau kamu apa ?"
"Saya mau kita lomba lari dan bukan di lapangan melainkan di atas gedung kampus dan yang berhasil mengambil bendera di atas sana itulah pemenangnya dan berhak mendapatkan Eka." Ari menantang Rama.
"Oke siapa takut, setuju."
Di kantin kampus lagi..
"Haduh bagaimana ini, kemana lagi saya mencari informasi." Keluh Afgan yang masih mencari informasi kakaknya, kemudian di dengar oleh teman sekelasnya.
"Afgan, sepertinya kamu sedang bingung, boleh tau masalahnya apa ?"
"Saya sedang mencari informasi, karena saya tau dari paman saya sepupu saya ada yang tinggal disini, dan saya juga sudah coba cari tau, tetapi tidak berhasil saya mendapatkan informasinya, bisa kamu bantu saya ?"
"Oh tentu saja bisa, yuk ikut denganku."
"Oke.."
Di ruang komputer..
"Nah sekarang kamu bisa cari informasi disini, kalau begitu saya tinggal ya."
"Oke terimakasih."
"Ya sama-sama Afgan."
Di atas gedung Universitas Amsterdam..
"Yes tinggal sedikit lagi."
"Tidak bisa dibiarkan ini, rasakan ini." Kata Ari yang curang dan juga mendorong Rama.
Di bawah gedung Universitas Amsterdam..
"Adhi.." Teriak Ayu melihat Rama yang hampir saja jatuh dari atas gedung.
Di rung komputer lagi..
"Itu ada suara ribut-ribut apa sih, duh mana loading nya lama sekali, yes berhasil Rama Adhi Saputra adalah Adhi.." Kata Afgan yang berhasil mendapatkan informasi tentang keponakannya.
Di bawah gedung Universitas Amsterdam lagi..
"Adhi.." Teriak Ayu melihat Rama yang hampir saja jatuh dari atas gedung dengan panik.
Di ruang komputer lagi..
"Adhi, keponakanku, tunggu paman akan segera datang untuk menyelamatkan kamu, keponakanku." Kata Afgan yang melihat Rama akan jatuh dari gedung.
Di bawah gedung Universitas Amsterdam lagi..
"Lihat itu.."
"Afgan." Kata Ayu yang baru saja melihat Afgan lari di atas gedung untuk menyelamatkan Rama.
"Semangat bapak mayor Afgan Syah Reza.", Kata pak Hans yang keceplosan menyebutkan kata mayor.
"Haaaa pak mayor." Kata Tasya yang terkejut ketika pak Hans meneriaki Afgan adalah mayor.
"Maksud saya semangat Afgan, semangat ya semangat, hampir saja." Kata pak Hans yang keceplosan menyebutkan kata mayor.
"Oh.." Sorak Ayu, Reza, dan Tasya.
Di atas gedung Universitas Amsterdam lagi..
"Bertahan lah Rama." Teriak Afgan yang akan menyelamatkan Rama.
"Tolong..!!" Rama berteriak meminta tolong.
"Rama.., sekarang kamu pegang tangan saya, dan tolong jangan lihat kebawah, ayo kamu pegang sekarang, kamu pegang tangan saya sekarang." Pinta Afgan.
"Tapi.." Kata Rama yang ketakutan.
"Sudah ayo pegang tangan saya, kamu jangan lihat ke bawah." Kata Afgan.
"Tapi, tolong..!!" Kata Rama yang ketakutan dan melihat ke bawah.
"Ayo, saya bilang jangan lihat ke bawah, ayo." Kata Afgan lagi.
Rama berhasil diselamatkan oleh Afgan dan semua mahasiswa dan mahasiswi bersorak untuk Afgan yang sudah berhasil menolong Rama.
Ayu kemudian menghampiri Afgan, dan mengatakan teman. Afgan dan Ayu pun berteman, keesokan harinya Rama menantang adu panco di kantin, Afgan pun kalah.
Afgan juga mendapatkan hukuman dari Rama dan Ayu. Hukuman untuk Afgan adalah menyanyikan sebuah lagu untuk yang terakhir yang masuk ke kampus.
Dan yang terakhir masuk ke kampus itu adalah Titah, seorang dosen muda dan cantik yang membuat Afgan merasakan sesuatu.
Reza salah satu teman dari Rama dan Ayu baru ingat, kalau Titah adalah dosen yang Reza maksud kemarin, Ayu mencoba menghentikan Afgan bernyanyi ketika Titah lewat didepannya.
Ayu tidak jadi menghentikan Afgan untuk bernyanyi, karena Afgan sudah jatuh ketika Titah lewat didepannya tadi.
Lalu Tasya menyuruh temannya menghampiri Afgan, tetapi tidak jadi karena Afgan sudah berdiri lagi, dan Afgan juga mulai mendengar suara musik, Afgan akhirnya menyanyikan sebuah lagu yang berjudul "Panah Asmara". Yang membuat Titah menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik kearah Afgan yang sedang bernyanyi untuknya.
Rama, Ayu, dan teman-temannya yang lain juga tidak berhenti berkedip ketika Afgan menyanyikan sebuah lagu untuk Titah.
Titah menghampiri Afgan, meminta Afgan untuk berhenti bernyanyi, tetapi Afgan pun tidak bisa berhenti bernyanyi sampai lirik lagunya selesai.
Ketika lirik lagunya selesai barulah Afgan berhenti bernyanyi.
Titah akhirnya mengadukan kejadian tersebut pada Hans (rektor atau kepala sekolah Universitas Amsterdam).
Pak Hans memanggil Afgan untuk menghadapnya ke ruangannya dan juga memperingati Afgan untuk berhati-hati, karena kakak sepupunya Titah adalah jendral atasannya di Indonesia.
Di lapangan Universitas Amsterdam..
"Afgan berhasil menyelamatkan Adhi." Sorak semua mahasiswa dan mahasiswi Universitas.
"Terimakasih ya pak mayor Afgan Syah Reza, sudah menyelamatkan Adhi." Kata pak Hans yang keceplosan menyebutkan kata mayor.
"Pak Hans, saya bilang jangan ada kata mayor, cukup Afgan saja, karena saat ini saya adalah mahasiswa nya pak Hans.", Keluh Afgan yang takut ketahuan, bahwa dirinya sedang menyamar menjadi mahasiswa di Universitas Amsterdam.
"Oke, baik pak mayor Afgan Syah Reza, ups.., maksud saya Afgan." Kata pak Hans lagi yang hampir keceplosan menyebutkan kata mayor.
Di kantin kampus lagi..
"Afgan.." Ayu memanggil Afgan dan juga menghampiri Afgan.
"Yes, why ?"
"Friend"
"What do you mean ?"
"Do you want to be my friend ?"
"Friend, yes, yes of course I want to be your friend."
"Okay.."
"So start today we are friends, okay ?" Tanya Afgan lagi memastikan.
"Yes of course starting today we are friends." Jawab Ayu yang tersenyum pada Afgan.
Kesokan harinya..
Universitas Amsterdam
Di kantin kampus lagi..
"Afgan mana kok belum ada di kantin sih ?"
"Entah.."
"Itu dia, Afgan."
"Iya."
"Nah karena Afgan, atau si paman kita sudah datang, saya ingin menantang kamu untuk adu panco dengan saya, yang kalah mendapatkan hukuman, betul semua ?" Tanya Rama yang menantang Afgan adu panco.
"Ya betul, yang kalah harus di hukum."
"Oke, Oke, baiklah, saya terima tantangan darimu Rama Adhi Saputra." Jawab Afgan juga yang menerima tantangan adu panco dari Rama.
"Okay Adhi ready ?"
"Yes of course i'm ready."
"Okay Afgan ready ?"
"Yes, i'm ready."
"Okay in a count to three, three, two, one, start."
"Ayo Adhi.." Sorak Ayu dan Tasya memberi semangat Rama.
"Ayo Afgan, semangat.." Sorak Reza dan Reihan memberi semangat Afgan.
Tak beberapa lama kemudian..
Masih di kantin kampus..
"Yah kalah.." Keluh Reza dan Reihan, karena Afgan kalah adu panco dengan Rama.
"Yes Adhi menang." Sorak Ayu yang senang Rama menang adu panco dengan Afgan.
"Oke sesuai perjanjian tadi, yang kalah mendapatkan hukuman, siap paman Afgan ?"
"Yes of course the uncle is ready for my nephew Rama Adhi Saputra."
"Haaaa what did you say ?"
"No, I just said okay I was ready and what the sentence was."
"Oh.."
"Okay come with us to get penalties from us, uncle"
"Okay I come with you"