Bab 05

1079 Words
Keesokan harinya Rama mengumumkan di mading kampus, kalau ternyata Rama menyewakan satu kamar di rumahnya. Lalu akhirnya Afgan yang menyewa kamar di rumahnya, ketika ibunya berada di daur ibunya merasakan kehadiran Afgan berada di rumah Arsya, anaknya. Ibunya mengeluarkan keluh kesahnya yang merindukan Afgan, Afgan ingin mengatakan yang sesungguhnya kalau dia adalah anaknya yang selama ini dirindukan nya, tapi Afgan menyadari kalau waktu ini bukan waktu yang tepat untuk jujur pada ibunya dan juga Arsya (kakaknya). Keesokan harinya.. Di rumah pak Roy Di depan rumah pak Roy.. "Kabar baik pak Roy, saya sudah berteman dengan anak bapak, kabar Ayu baik, disini juga dia banyak teman, dan saya juga sudah memberikan perintah pada Rian dan Eko untuk memantau Ayu." Kata Afgan yang memberikan kabar pada pak Roy lewat telepon. Universitas Amsterdam Di mading Universitas Amsterdam.. "Sekarang sudah beres." Kata Rama yang menempelkan pengumuman untuk menyewakan kamarnya yang kosong di rumahnya. "Penyewaan kamar kosong, satu, saya yang akan menempati kamar tersebut di rumahmu kakak Arsya." Kata Afgan yang melihat pengumuman di mading kampus. Di ruang 308.. "Rama Adhi Saputra." Kata Afgan yang menghampiri Rama. "Iya, eh Afgan darimana kamu tau nama lengkap saya ?" "Dari pak Hans kemarin, hehe." Jawab Afgan yang beralasan pada Rama. "Oh, tapi kamu panggil saya Adhi saja ya jangan Rama." "Oke.." "Oke, oh ya ada apa Afgan tadi kamu memanggilku bukan, oh ya satu lagi itu apa yang kamu pegang ?" "Ini pengumuman di mading kampus, saya mau tanya sudah ada yang menyewa kamar kosong ini belum, kalau belum untuk saya saja, rumah yang saya tinggalin sekarang jauh dari kampus." "Oh ya masih ada dan belum ada penyewanya kok, kalau memang benar kamu mau menyewa kamar itu di rumahku ya sudah ambil saja masalah harga sewa kamu bisa obrolin dengan papaku atau nenekku langsung." "Oh oke, nanti setelah pulang kuliah saya ke rumahmu ya." "Oke.." Di rumah Arsya Di ruang tengah.. "Bu, ibu lihat istriku tidak ?" "Tidak, mungkin dia ke pasar membeli keperluan bulanan kita, Arsya." "Oh begitu." "Ya.." Di ruang tamu.. "Assalamu'alaikum." Di ruang tengah lagi.. "Wa'alaikumussalam." "Siapa ?" "Entah bu, coba Arsya lihat dulu ya di depan." "Ya sudah sana, ibu mau ke dapur." Di ruang tamu lagi.. "Itu dia papa ku, pah." "Iya, siapa Rama, teman kamu ?" "Iya pah, teman kuliah ku." Di dapur.. "Afgan, putraku, saya merasakannya dia berada disini, apakah dia ada disini, di rumah ini, atau hanya perasaanku saja." Kata ibu Nurmala yang merasakan kehadiran Afgan. Di ruang tamu lagi.. "Oh teman kuliahmu." "Oh ya pah, dia mau menyewa kamar kosong di rumah kita." Kata Rama yang memberitahu Ayahnya, kalau Afgan ingin menyewa kamar kosong di rumah Rama. "Oh ya tentu saja boleh, saya ingin bertanya siapa namamu ?" "Nama saya Afgan, tuan." "Oh, tadi siapa namamu, Afgan ?" Tanya Arsya memastikan. "Iya, kenapa ?" "Tidak, namamu seperti nama adikku." "Maaf papa, Afgan, kalian berdua lanjutkan saja obrolannya saya mau ke kamar dulu." Kata Rama yang pergi meninggalkan Afgan dan Arsya. "Oke.., oh ya Rama, jangan lupa kamu jemput ibumu di pasar ya." Kata Arsya yang memperingati Rama untuk menjemput Tiara. "Oke pah, sekarang juga berangkat dan tidak jadi ke kamar." Kata Rama yang pergi keluar rumah untuk menjemput ibunya, Tiara. "Oh ya mari ikut saya untuk lihat dulu kamarnya, kalau kamu cocok langsung kita obrolin saja harga sewanya." Kata Arsya mengajak Afgan pergi ke kamar yang akan disewa oleh Afgan. "Oh Oke.." Kata Afgan yang mengikuti Arsya. Di depan kamar ibu Nurmala.. "Selesai juga akhirnya masak." " Ibu.. " Kata Afgan didalam hati ketika melihat ibunya, ibu Nurmala. "Afgan, putraku.." Kata ibu Nurmala yang merasakan kehadiran Afgan. Di depan kamar Afgan.. "Nah Afgan ini kamar kamu." Kata Arsya yang menunjukkan kamar Afgan. "Oh iya terimakasih tuan. Maaf tuan boleh saya minta tolong jangan panggil saya Afgan." Pinta Afgan. "Mengapa saya tidak boleh memanggil kamu Afgan, bukankah itu nama kamu dan juga kamu memperkenalkan namamu Afgan pada saya ?" Tanya Arsya penasaran. "Saya hanya di panggil Afgan ketika di kampus saja dan ketika di rumah Saya di panggil Eza." Jawab Afgan agar tidak mencurigainya, karena dia masih sedang menyamar dan juga menjalani misinya untuk menjaga anak jenderalnya dari kelompok militan radikal. "Oh begitu. Baiklah Afgan. Eh maksud Saya Eza. Kalau begitu saya pamit ke kamar saya." Kata Arsya meninggalkan Afgan. "Assalamu'alaikum nak." Bu Nurmala memberikan salam pada Afgan yang sudah di belakangnya ketika Afgan ingin masuk ke dalam kamarnya. "Wa'alaikumussalam bu." Jawab Afgan yang akan memasuki kamarnya dan Afgan langsung berbalik rupanya ibunya sudah ada di belakangnya. " Dia seperti anakku Afgan. " Kata bu Nurmala di dalam hati melihat anaknya berdiri di depannya. " Ibu ini aku putramu bu, Afgan. " Kata Afgan di dalam hati melihat ibu ketika berdiri di depan ibunya. "Kamu persis anakku nak, maaf nama kamu siapa kalau boleh ibu tau ?" Tanya ibu Nurmala dengan penasaran. "Nama saya Eza bu. Saya teman kuliahnya Adhi." Jawab Afgan berbohong pada ibunya. "Oh.. Berapa usiamu nak kalau boleh ibu tau ?" Tanya ibu Nurmala lagi. "Usia saya tiga puluh empat tahun bu." Jawab Afgan. "Kamu benar-benar mirip putra kedua ku dan ternyata umur kalian sama." Kata ibu Nurmala yang menahan tangisnya karena merindukan putranya. " Ibu ini aku putra ibu. Apakah ibu bisa merasakan kehadiran putramu ibu ?. Aku ingin sekali rasanya memelukmu bu. Ini aku Afgan Syah Reza bu. Putramu. " Kata Afgan di dalam yang sama menahan tangis dihadapkan ibunya. Tiba-tiba saja Rama datang dan memeluk erat sang nenek dan memberitahu kepada neneknya kalau ibunya mencari keberadaan sang nenek. Tiara nama menantu di keluarga besar pak Faisal. Afgan di kenalkan oleh ibunya oleh Rama. Afgan ingin sekali memanggilnya kakak ipar dan Afgan juga menahan dirinya sendiri untuk mengakui bahwa dia adalah anak bapak Faisal, paman Rama. Afgan melakukan semua itu demi misi menjaga putri jenderalnya yang bernama Ayah. "Nenek.." Rama memanggil ibu Nurmala dan juga memeluknya dari belakang. "Iya cucuku ada apa ?" "Aku sudah membawa menantumu pulang dari pasar ya dan, oh ya dia mencari mu." Jawab Rama yang menggodanya di depan Afgan yang membuat ibu Nurmala menjadi malu di depan Afgan. "Menantuku itu ibumu. Kamu ini ya sudah nenek ingin menemuinya dulu. Nak Eza kamu istirahat saja ya di dalam kamar. Jangan sungkan anggap saja rumah ini adalah rumahmu sendiri ya nak." Kata ibu Nurmala yang akan segera pergi meninggalkan Rama dan Afgan. "Iya." Keduanya menjawab bersamaan. "Oh ya Afgan bagaimana dengan kamarnya kamu suka tidak ?" "Suka. Sangat suka." Jawab Afgan ketika melihat kamar yang dia sewa di rumah Rama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD