bc

JANIN YANG MENJADI TUMBAL PESUGIHAN

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
mystery
ghost
secrets
horror
like
intro-logo
Blurb

Lita, harus menanggung derita, dengan menumbalkan setiap janin yang ia kandung, demi mendapatkan harta dengan cepat. Naasnya, bukanya mendapat harta, Lita justru mengetahui kebenaran yang membuat dia menyesali semua yang telah ia janjikan. Apa kebenaran itu? Yuk ikuti kisahnya!

chap-preview
Free preview
Bab 1 Awal Mula Pengorbanan
"Aaaaaakkk" Teriakkan seorang wanita muda itu terdengar sangat menyayat hati, tanganya menggenggam erat tiang ranjang. Matanya merem melek menahan sakit yang teramat dalam. Dibawahnya kini berdiri seorang dukun bayi yang membantunya mengeluarkan paksa janin yang baru menginjak usia tujuh bulan dalam kandunganya. Tangan kasar dukun bayi itu, memasuki liang kewanitaan miliknya, dan mengobrak abrik mencari rahimnya, dengan gerakan kasar. Wanita yang masih berusia dua puluh satu tahun itu mengerang kesakitan, bak tengah meregang nyawa. "Aaaaakkkk, sudah Mbah! Sudah saya ngga kuat!" teriaknya begitu pilu. "Jangan berkata begitu, Lita. Ingat jika tak begini maka nyawamu yang akan melayang!" ancam Mbah Jayus tak kalah mengerikan. Dengan mulut disumpal kain, Mbah Jayus melanjutkan lagi aksinya. Keringat Lalita sudah bercampur dengan air mata, menahan perihnya siksaan yang dianggapnya mampu membuatnya kaya. Setelah beberapa saat kemudian Mbah Jayus sudah berhasil mengeluarkan janin yang sudah membentuk manusia utuh itu, dari rahim Lalita. Baru sedetik janin itu ditangan Mbah Jayus, dan akan diangkat keudara, tangan dengan kulit terkelupas dan kuku tajam hitam itu sudah mengambil alih janin yang sudah tak bernyawa itu dari tangan Mbah Jayus. Lalita yang masih setengah sadar, langsung membulatkan mata. Tatkala mahkluk bermata besar, bertaring tajam, dan tanduk dikepalanya itu memangsa habis sang janin yang keluar dari rahimnya. Mulut Lalita terkatup rapat, menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya. Dari lubuk hati yang paling dalam, jiwa keibuanya tak rela bila harus kehilangan anak pertamanya itu. Namun apa daya, kehausanya akan harta membuatnya nekad melakukan ini semua. Dua tahun yang lalu .... "Saya akan menuruti perintah Mbah Jiman, namun bagaimana saya bisa mendapatkan keturunan, jika saya bahkan belum bersuami?" tanya Lalita bingung. Ia melakukan perjanjian dengan setan dan Jiman sebagai perantaranya, ia akan menumbalkan janin dari rahimnya untuk mendapatkan kekayaan. Hidupnya selama ini begitu sulit, untuk makan sesuap nasipun ia harus jungkir balik disungai, mengumpulkan siput belitung sebagai cara untuk mendapatkan uang. Hidup sebatang kara sejak usianya sepuluh tahun, hal inilah yang terkadang membuatnya ingin mengakhiri hidup. Bertemunya dengan Mbah Jiman, suami Mbah Jayus membuatnya ingin merubah hidupnya. Melewati jalan pintas, dengan melakukan pesugihan janin. "Menikahlah dengan Amba, dia menyukaimu selama ini," ujar Jiman dengan yakin. Amba adalah putra pertama Jiman, yang sudah berusia hampir empat puluh tahun. Dia adalah seorang duda yang ditinggal meninggal sang istri saat melahirkan. Putra pertama Amba juga meninggal saat berusia dua hari. Lalita masih berusia sembilan belas tahun, tentu ia agak ragu jika harus menikah dengan pria yang berjarak sembilan belas tahun darinya. Namun, bayangan akan uang dan emas yang tak terhingga, membuatnya meyakinkan tekadnya. "Baiklah, Mbah. Tapi tolong secepatnya," desaknya. "Tunggulah dua bulan lagi, sebab Amba masih belum kembali," Amba, adalah seorang buruh dikota. Hal ini yang akan memudahkan Jiman dan Jayus melancarkan aksinya. *** Datangnya pagi diiringi dengan sambutan hangat sang mentari, dan kicauan burung seolah menjadi nyanyian mengiringi kehidupan baru Lalita. Lalita mulai mengerjapkan mata, mengedarkan pandangan seluruh ruangan. Ia masih digubuk kecil, berdinding anyaman bambu, dan berlantaikan tanah. Gubuk ini yang ia tinggali sembilan tahun terakhir. Namun, ia sudah meninggalakanya saat menikah dengan Amba. Meski tak bergelimang harta, namun hidupnya dengan Amba sudah berkecukupan. Hidupnya sudah tiga tingkat lebih baik dari sebelumnya. Namun, ikatan yang ia jalin dengan iblis durjana itu mengharuskan ia melakukan hal mengerikan semalam. Lalita bangun dengan keadaan yang sudah bersih, bahkan ia tak sedikitpun merasakan nyeri diarea selangkanganya, seperti yang ia rasakan semalam. "Bagaimana, sudah mendingan?" Pertanyaan Jayus membuat wanita berkulit sawo matang itu terjingkat. "Udah Mbah, tapi kok saya belum melihat emas dan uang seperti yang Mbah bilang?" Jayus hanya tersenyum mendengar penuturan gadis polos itu. "Nanti kamu bakal dapat, memangnya seajaib itu langsung dapat. Nanti malam kamu harus menggali tanah tempat Mbah Jiman mengubur sisa kotoran dari rahimmu, disitulah hartamu berada," tuturnya sukses membuat Lalita mendelikkan mata. "Dan jangan lupa, sehabis insiden semalam kamu bakal bisa melihat sesuatu yang tidak biasa dilihat mata telanjang. Atau istilahnya setan, mereka akan mengganggumu bahkan mencoba menggagalkanmu mengambil hakmu. Jadi, ingat satu pesan Mbah. Bawa kembang kering yang kemarin Mbah Jiman berikan. Selama ada itu, maka mereka tak akan bisa mencelakakanmu, mereka hanya akan menganggumu dari jauh," tutur Jayus panjang lebar. Lalita menelan salivanya susah payah, ia tak yakin bahwa ia bisa melewati ini semua. Ia kira pesugihan segampang yang ia fikirkan, ternyata butuh proses juga. "Lalita!" sentak Jayus membuyarkan lamunan Lalita. "I-iya, Mbah!" jawabnya tergagap. "Mbah salut sama kamu, kamu masih kuat sadar saat kejadian semalam. Biasanya orang yang meminta saya menggugurkan janin mereka, akan pingsan saat saya melakukan tugas saya," tutur Jayus. Lalita tersenyum, "Mbah, kenapa ini saya ngga ngerasa sakit lagi, ya. Padahal semalam rasanya begitu ngilu," ungkap Lita, sembari jarinya menunjuk bagian sensitifnya. "Memangnya kamu tidak ingat kejadian semalam?" "Ngga, Mbah. Saya cuma ingat kalau mahkluk itu memakan janin saya," "Mahkluk itu juga yang menjilati v*ginamu, agar kembali kesat seperti dulu. Ingat! Dalam setahun kamu harus hamil lagi, agar nanti kekayaanmu tak hilang, justru bertambah," ancam Jayus. Sungguh, Jayus adalah pembohong besar. Ada rahasia besar yang ia tengah sembunyikan, gadis polos seperti Lita akan mudah saja percaya padanya. Pasalnya, pesugihan janin tak melakukanya setiap tahun. Hanya janin pertama dari seorang wanita yang belum pernah melahirkan, yang berumur kurang dari tujuh bulan, orang jawa menyebutnya dengan meteng tembean. Malam sudah mulai larut, Jayus juga sudah kembali kerumahnya. Sebelum Lalita berhasil mengambil haknya yang dikubur di belakang pondok reyot miliknya, Lalita dilarang pulang kerumah suaminya. Jantung Lalita berdegub dengan kencang, takut serta tak sabar membuatnya berkeringat dingin. Ia mulai membungkus kembang kering pemberian Jiman, diselendang miliknya. Setelah itu, ia menyiapkan cangkul dan juga kantung kain untuk membungkus penghasilanya. Dentingan jam berbunyi begitu nyaring, menandakan jam sudah memasuki tengah malam. Lalita cepat mengenakan selendangnya, lalu meraih cangkul disampingnya. Perlahan ia membuka pintu yang terbuat dari kayu rapuh itu, ia mengedarkan pandanganya kekanan dan kirinya. Lalu ia menarik nafas perlahan dan membuangnya, tanganya gemetar memegangi erat gagang cangkul yang ia bawa. Derap kakinya pelan, dan bergesakan dengan ranting dan juga daun kering. Di dalam kegelapan malam, yang dibantu penerangan obor, dan keberanian yang dipaksakan. Lalita menuju tempat yang ditujukan Jayus padanya. Di bawah pohon rindang, yang besarnya seban motor. Lalita meletakkan obor di antara akar-akar pohon itu. Kemudian perlahan menggali tanah yang sudah diberi tanda kain merah. Baru dua kali cangkulan, terdengar suara seseorang berbincang. Lalita menghentikan aksinya, lalu mengedarkan pandanganya. Tak ada siapapun disana, justru angin bertiup sangat kencang membuat suasana semakin mencekam. Lalita teringat pesan Jayus, bahwa apapun tak yang terjadi Lalita tak boleh mundur. Ia kembali mencangkul, kali ini ia lebih cepat. "Ibuuu! Kenapa Ibu menbuangku!" suara serak seperti anak kecil itu, sukses membuat Liat membulatkan matanya. Ia menelan salivanya, dadanya naik turun sebab gemetar dan menahan rasa takut yang teramat sangat. Ia menoleh perlahan kearah sosok dibalik pohon. Jaraknya agak jauh, namun Lita mampu melihat dengan jelas wujud mahkluk itu. Mahkluk berkepala botak, kepalanya besar, namun badan mirip bayi. Tubuhnya terkelupas, seperti disayat-sayat. Kelopak matanya besar, namun tak ada bolanya. Dan disekilingnya masih banyak lagi mahkluk-mahkluk mengerikan disampingnya. Seperti, wanita tua yang matanya tercopot, wanita berbaju putih yang seluruh wajahnya berdarah-darah dengan rambut yang panjang yang menutupi sebagian wajahnya, ada juga pria berbaju lusuh tanpa kepala. Lalita diam mematung menyaksikan apa yang tengah ia lihat dihadapanya. Air matanya jatuh bercucuran, tangan dan kakinya getar hingga hampir menjatuhkan cangkulnya. Ia memejamkan mata, kemudian mencangkul tanah bertanda merah itu lebih cepat. "Aaaaakkkk!" Teriaknya sembari terus mencangkul, bak kesetanan. "Ibu, jangan turuti kemauan iblis itu! Ibu telah membunuhku demi dia!" Teriakan mahkluk itu menggema disekitar. Tanpa memperdulikan apa yang dikatakan mahkluk itu, Lita terus saja menggali hingga ia menemukan sesuatu yang bersinar dari dalam tanah. Ia mengambil asal benda itu, yang ternyata emas batangan yang tak terhingga banyaknya. "Aaaaaaaa .... Tidakkk .... " Teriakkan para mahkluk itu menggema berulang-ulang, seperti mereka tengah kesakitan. Berbeda dari sosok mahkluk yang berwujud bayi itu, ia justru merangkak mendekat saat Lita berhasil menemukan hartanya. Melihat mahkluk itu mendekat, Lita dengan cepat memasukan emas batangan itu kedalam kantung yang tadi ia bawa. Satu centi lagi, tangan mahkluk astral itu hampir meraih kaki Lita. Ia segera bergegas pergi meninggalkan cangkul dan juga obor yang tadi ia bawa. Ia berlari kencang, bak dikejar maut. Setelah sampai didalam gubuk, ia segera menutup pintu itu dengan rapat. Matanya membulat, langkahnya tercekat. Saat melihat mahkluk itu sudah ada diranjang tuanya. Tubuh mungil bak bayi yang baru dilahirkan, namun berkepala besar seperti orang dewasa, kepala botak dan kulit melupas serta mata yang bolong besar. Lita segera berlari ke arah pintu depan, saking paniknya hingga selendang tadi berisi kembang kering miliknya, terbang terlepas dari tubuhnya. Setelah berhasil keluar, ia lagi-lagi harus dihadapkan dengan para mahkluk mengerikan. Kali ini mereka mengejar. Lalita yang panik segera berlari kearah jalan, namun langkahnya terhenti kala dihadang mahkluk besar tinggi bertaring. Karena rombongan setan itu sudah semakin dekat, Lita mencari jalan pintas melalui semak belukar. Kain jarik yang ia gunakan untuk tapih, kini sudah beracmpur dengan lumpur. Rambut panjang hitamnya yang ia gelung, kini sudah terurai berantakan. Rintihan hujan menambah penderitaan yang ia alami. Ia memeluk erat, kantung kain berisi emas yang ia susah payah dapatkan. Sesampainya dirumah Jayus, ia segera mengetuk pintu kasar. Tak lama terlihat Jayus membuka pintu, ia yang melihat penampilan Lita, langsung menariknya kasar. Dada Lita naik turun, mencoba menyesuaikan nafasnya. "Ini bahaya, sangat bahaya!" gertak Jiman.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Alpha King's Breeder

read
255.6K
bc

Reborn to Defy Fate

read
4.9K
bc

THE WOLF KING'S LUNA

read
55.6K
bc

The Alphas and The Orphan

read
172.5K
bc

Abandoned At The Altar By My Mate

read
17.6K
bc

Contracted to the Uncrowned King

read
8.0K
bc

Alpha King's Caged Mate

read
2.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook