3. IKD

1614 Words
Gista tak langsung pulang, tapi dia menunggu Akbar diruangannya. Kali ini dia akan memaksa Akbar untuk pulang bersama. Tak lama kemudian sosok laki-laki yang ditunggu pun masuk keruangannya. “ Gista, kok kamu ada disini, kenapa belum pulang.” Tanya Akbar yang terkejut melihat ada Gista diruangannya, namun yang ditanya hanya menampilkan senyum. “ Aku sengaja nungguin mas Akbar, abisnya susah banget akhir-akhir ini ketemu sama kamu, padahal kita satu rumah tapi berasa LDRan tahu.” Jawabnya dengan manja. “ Kamu kan tahu sendiri aku lagi sibuk ngurusin ini itu biar cepet selesai dan nantinya ngga urusan aku ngga bakalan ganggu pernikahan kita.” Jawabnya dengan tegas membuat Gista hanya menghela nafas. “ Iya Gista ngerti, tapi kan sekali-kali mas Akbar luangin waktu dong buat Gista.” Rengeknya namun Akbar tetap cuek dan menyibukkan diri dengan berkas pasien-pasiennya. “ Em mas pulang yuk.” Ajaknya. “ Kamu pulang sendiri dulu aja ya, aku masih ada urusan setelah ini.” Tolak Akbar membuat Gista sedikit kesal. “ Tapi Gista ngga bawa mobil, kalau gitu Gista nungguin mas sampai urusan mas selesai baru kita pulang bareng.” Pintanya membuat Akbar tahu, bahwa dia takakan bisa melarang Gista lagi. Dan akhirnya Akbar melepaskan jubbah putihnya untuk pulang bersama Gista. Gista hanya tersenyum kali ini dia menang. “ Yuk.” Ajaknya dan Gista langsung berlari menyamakan langkahnya disamping Akbar. “ Makasih mas, padahal Gista bisa nunggun lho sampe urusan mas selesai.” Ucapnya. “ Urusanku bisa aku urus besok, kasihan kalau nanti kamu nungguin aku kelamaan.” Jawabnya membuat Gista senang karena Akbar terlihat perhatian padanya. Selama perjalanan pulang Gista ragu akan menanyakan masalah tentang wanita bernama Kinan itu. Tapi Gista begitu penasaran, namun takutnya kalau dia bertanya akan menyinggung perasaan mas Akbar. “ Mas ….” “ Hmmm.” “ Mas Akbar, ada ngga sih yang mau mas ceritain ke Gista.” Akbar malah mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Gista. “ Ngga ada tuh.” Jawabnya cuek membuat Gista hanya menghela nafas. “ Emmm mas Akbar ngga pernah tuh ceritain masa lalu mas ke Gista, Gista pingin tahu deh mas.” Ucapnya membuat Akbar langsung memberhentikan mobilnya mendadak. “ Ya Allah mas, kok berhenti dadakan sih Gista kaget tau.” Jawabnya sambil memegangi dadanya. “ Ya abisnya kamu aneh, tiba-tiba tanya tentang masa lalu aku bukannya aku udah pernah cerita dan semua itu ngga ada menarik-menariknya.” Jawabnya dengan tegas. “ Ya iya Gista tahu itu. Tapi kan mas walaupun kita udah tinggal bareng lama, Gista belum kenal mas Akbar lebih dalam. Padahal kita udah mau nikah.” Balasnya. “ Udah deh Gis ngga usah aneh-aneh tanyanya. Ok aku ulangi cerita masa lalu aku, aku ini anak yatim piatu, orang tuaku meninggal karena sebuah kecelakaan mobil terus…” Belum selesai mengatakan itu jari Gista langsung diletakan dibibir Akbar. “ Maafin Gista mas, bukan maksud Gista membuka luka lama mas Akbar. Gista pingin mas Akbar jauh lebih terbuka sama Gista jadi Gista bisa bantu mas kalau mas ada dalam masalah. Cuma itu kok ngga ada yang lain.” Gista mulai berkaca-kaca membuat Akbar merasa bersalah. “ Mas ngerti kok Gis, mas tahu kamu peduli sama mas tapi kamu kan tahu sendiri dalam kehidupanku ngga ada yang menarik untuk diceritakan apalagi masa lalu aku yang biasa aja. Aku juga yang harusnya minta maaf karena kurang perhatian sama kamu. Kamu kan tahu sendiri aku itu gimana.” Jawabnya sambil menghapus air mata Gista. “ Ya mas perlahan-lahan pasti kita akan mengerti satu sama lain, duh kenapa Gista jadi cengeng gini sih, Gista Cuma ngga mau kehilangan kamu mas Gista sayang banget sama kamu.” Ungkapnya dengan malu karena menangis dihadapan Akbar. “ Oh ya mas besok siang jangan lupa ya mas kita harus kebutik buat fitting baju.” Akbar hanya mengangguk dan kembali melajukan mobilnya. *** Gista pov Hari ini adalah hari liburku, jadi pagi ini aku dan mama mendatanggi WO untuk mengecek kembali. Karena aku ingin pernikahanku ini menjadi pernikahan yang ngga akan pernah bisa dilupakan. Setelah ini aku dan mas Akbar akan mencoba baju pernikahan kami. “ Gis mana Akbar.” Tanya mama, aku pun dari tadi sudah menunggunya. Aku pun menelfonnya namun ponselnya tak aktif. Padahal ini sudah lewat dari jam makan siang. Apa jangan-jangan mas Akbar lupa kalau hari ini dia sudah janji padaku. Akulangsung menelfon Fina menanyakan keberadaan mas Akbar. “ Ngga tahu ma, aku telfonin dari tadi ngga diangkat. Aku coba telfon Fina aja deh mungkin mas Akbar lupa ma, jadi Gista mau minta tolong ke Fina buat nyari mas Akbar dirumah sakit.” Jawabku. Tuuuuuuttttt “Assalamualaikum, Fin.” “ Waalaikumsalam. ada apa Gis.” “ Fin bisa minta tolong ngga nyariin mas Akbar, abisnya aku telfonin dari tadi nomornya ngga aktif. Padahal kita udah janji mau fitting baju siang ini tapi dia ngga datang-datang.” “ Oh gitu ok deh aku cariin dia mungkin aja dia lupa.” “ Ok makasih ya Fin.” “ Sama-sama Gis.” Sambil menunggu kabardari Fina, aku membantu mama untuk mencoba dulu baju yang akan dia kenakan besok. Sekitar lima bela s menit akhirnya Fina balas. Namun chat dari Fina membuat tubuhku lemas dan rasanya ingin menangis. Fina : Gis dokter Akbarnya lagi ada diruangan pasien yang namanya Kinan itu. Aku ngga berani negur dia Gis, sorry ya Gis. Sebenarnya siapa Kinan itumengapa mas Akbar begitu perhatian padanya. Aku tersadar dar lamunanku saat mama memanggilku. “ Gis ada apa sayang, gimana sudah ada kabar dari Akbar.” Tanya mama yang duduk disampingku. “ Mas Akbarnya tiba-tiba ada pasien ma, jadi dia ngga bisa kesini sekarang. Ya udah ngga papa deh ma lain kali aja.”Jawabku denan penuh kekecewaaan. “ Oh ya ma apa mama kenal cewek yang namanya Kinan.” Tanyaku siapa tahu mama tahu menahu tentang wanita yang bernama Kinan yang  dekat dengan mas Akbar dan mungkin dia ada sangkut pautnya dengan masa lalu mas Akbar. “ Mama ngga kenal yang namanya Kinan, emangnya dia siapa. Kenapa kamu tanya tentang dia sama mama.” Tanya mama “ Bukan siapa-siapa kok ma, cuma orang kemarin telfon salah sambung, terus ngakunya namanya Kinan. Ma emang mas Akbar beneran ngga punya saudara ya.” Tanyaku balik. “ Ngga sayang, Akbar itu anak tunggal dan orang tuanya pun anak tunggal keluarganya mama sama papa ngga terlalu tahu. Kamu harus tanya berapa kali sih ke mama.” Ekspresi wajah mama membuat Aku langsung menjawab. “ Ya kan Gista bakalan nikah sama mas Akbar ma dan mas Akbar pun ngga ngundang sanak saudaranya sama sekali jadi ya Gista penasaran aja.” Jawabku yang kemudian saat dimobil aku meminta mama untuk mengantarkanku ke rumah sakit dengan alasan ada sesuatu yang lupa aku bawa dan itu adalah file penting. Aku harus menghilangkan rasa penasaranku pada wanita bernama Kinan itu. Sesampainya dirumah sakit aku langsung menuju ruangan Kinan, namun sebelumya aku mengintip dulu takutnya ada mas Akbar disana. Karena sebaiknya aku bertanya dulu pada wanita itu sebelum bertanya pada mas Akbar takutnya dia bakalan bilang kalau aku ngga percaya padanya. Alhamdulillahnya di ruangan itu taka da yang menunggu, tapi aku jadi ngga tega saat melihat wanita cantik berhijab itu terbaring lemah dengan banyak alat yang terpasang ditubuhnya. Aku pun mengurungkan niatku namun saat aku akan keluar dari ruangannya aku melihat mas Akbar berjalan kearah ruangan ini, aku langsung mengumpat di kamar mandi agar dia tak melihatku. Mungkin dengan seperti ini aku bisa tahu ada hubungan apa mas Akbar denga Kinan ini. Aku mendegar suara wanita yang samar-samar memanggil nama mas Akbar. “ Ak…..bar …..bar.” Panggil Kinan “ Ya Kin aku disini.” Jawab mas Akbar dengan suara paraunya, dia seperti sedang menangis. “ Aku seneng bisa ngliat kamu lagi bar.” Ucapnya “ Aku akan selalu ada disini buat kamu Kin, aku ngga akan pernah ninggalin kamu.” Jawab mas Akbar, namun tak tahu mengapa mendengar mas Akbar mengucapkan itu pada wanita lain membuat hatiku sakit, siapa sebnarnya Kinan ini mengapa dia penting bagi mas Akbar. “ Kamu janji sama aku kamu ngga akan pernah ninggalin aku lagi aku sayang sama kamu bar, hanya kamu bar, aku takut ngga akan bisa bertemu denganmu lagi.” Ucap wanita itu dengan menangis. “ Aku juga sayang kamu nan, kamu segalanya buat aku, kamu berharga untukku nan, aku mohon jangan pernah bilang seperti itu, kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh, nanti kita bisa hidup bersama lagi sampai kita menua bersama nan, kamu harus yakin kalau kamu bisa sembuh ya.” Ucapan mas Akbar terdengar bagaikan petir bagiku, aku tak kuat mendengar lagi percakapan mereka yang sungguh menyakitkan dan menyayat hartiku. “ Jadi selama ini mas Akbar ngga pernah menganggap aku, terus kenapa dia mau menikah denganku, Dia tak pernah mengatakan sayang padaku kenapa pada wanita ini begitu mudah ia mengatakan sayang, kenapa dia tega melakukan ini dibelakangku kenapa dia bisa menduakan aku seperti ini, Ya Allah kenapa sakit sekali mendengarkan kenyataan ini.” Batinku Tubuhku langsung luruh dilantai kamar mandi, aku ingin keluar dari sini aku tak kua lagi mendengarkan semua kenyataan ini, dia benar-benar tega melakukan ini padaku. Kudengar mas Akbar mengangkat telfon dan keluar dari ruangan ini. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini aku langsung keluar dan berlari. Aku tak peduli lagi dengan pandangan orang-orang saat melihatku menangis. Sampai tak sengaja aku terjatuh karena menubruk seseorang. “ Gis…” Pangginya saat aku mendongak ternyata dia Fian, langsung kubangun dan kutubrukan tubuhku ke Fina. Fina yang melihatku pun sangat bingung. “ Gis ada apa, kenapa kamu nangis begini kamu kenapa Gis, coba cerita ke aku.” Tanyanya. Namun aku tak sanggup menjawab aku hanya terus menangis, untung saja saat aku menubruk Fina tadi berada dilorong rumah sakit yang sedikit sepi. “ Mas Akbar Fin…. Dia …. Mas Akbar dia…” Aku benar-benar tak ingin mengatakan kenyataan pahit ini. “ Gis tenangin diri kamu dulu coba cerita pelan-pelan ke aku..” Sarannya dan aku langsung menghapus air mataku ini. “ Fin aku belum bisa cerita sekarang, karena aku pun bingung dengan situasi sekarang sorry aku butuh waktu sendiri dulu.” Jawabku dan Fina mengangguk mengerti. “ Ok aku ngerti, tapi inget Gis aku ini sahabat kamu yang siap bantu da nada buat kamu kapanpun, kalau nanti kamu udah siap buat cerita aku siap dengerinnya.” Ucapnya dan aku kembali memeluknya. Kemudian aku pun keluar dari rumah sakit itu seorang diri. Walau aku sendiri tak tahu aku akan kemana saat ini. Yang jelas aku tak ingin bertemu dengannya ataupun dengan orang tuaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD