10. IKD

1991 Words
Akbar terkejut saat melihat Gista ada didepan pintu, karena dia tak mendengar suara apapun, bahkan suara mobil Gista. Akbar langsung mendekati Gista yang bertanya tentang maksud dari dia bicara ditelfon. “ Dari kapan kamu disini, kok aku ngga denger kamu masuk.” Tanya Akbar “ Aku baru sampai kok mas, aku tadi denger kamu ngomongin soal rencana aku mau tanya rencana apa yang kamu maksudkan ditelfon tadi.” Tanya Gista lagi. “ Owh itu Gis rencana untuk bisa membuat rumah sakit menjadi berkembang lagi, nanti sedikit-demi sedikit aku bakalan ngajuin rencana yang kumaksudkan tadi, agar apa yang selama ini papa capai tak akan aku hancurkan justru aku ingin membuatnya tambah baik lagi, agar papa seneng. ” Jawab Akbar dan Gista pun mempercayainya. “ Oh ya aku mau minta maaf ke kamu karena ngga ngasih tahu sebelumnya tentang masalah ini ke kamu.” Ungkap Akbar. Gista pun menghela nafas, walau sebenarnya dalam hatinya masih tak terima akan apa yang didengarnya hari ini. Gista pun harus menyembunyikan rasa tak suka itu, dan memaikan perannya untuk bisa mendapat simpati dari Akbar. “ Ngga papa kok mas, masalah ini pun kan sudah pernah kita bicarakan sebelum menikah, aku hanya terkejut aja karena kamu sama papa ngga ngasih tahu sebelumnya, dan aku tahu dari orang lain kan malu mas. Masa isteri sendiri ngga dikasih tahu. “ Iya kalau masalah itu aku memang salah, karena aku sama kamu juga jarang  bertemu jadi ya susah buat ngasih tahu kamunya.  ” Balas Akbar. Gista menggenggam tangan Akbar dan memberikan senyumnya pada Akbar. “ Selamat ya mas, aku doain kamu bisa megang tanggung jawab ini dengan baik dan bisa lebih mengembangkan rumah sakit kita.” Akbar pun beralih memegang pipi Gista. “ Makasih ya, tapi sebenarnya aku merasa belum pantas untuk mengemban tanggung jawab sebesar ini Gis. ” Ungkapnya dengan keraguan. “ Kamu jangan bilang gitu mas, semua mengakui kemampuanmu yang luar biasa, jadi Gista yakin suami Gista ini bisa menjalankannya dengan baik.” Balas Gista dengan lembut membuat Akbar merasa heran, karena selama pernikahan baru kali ini dia melihat sosok Gista yang penuh dengan keceriaan. “ Aku seneng ngliat kamu seperti ini.” Ucap Akbar membuat Gista tak paham. “ Maksudnya.” Tanya Gista “ Ngga tahu kenapa aku seneng ngliat kamu seceria ini, aku seperti melihat sosok Gista yang dulu.” Jawab Akbar membuat Gista memeluk suaminya. “ Akan aku buat kamu milikku seutuhnya mas.” Batinnya dalam pelukan Akbar. “ Oh ya tadi setelah rapat papa ngajak aku sama kamu buat makan malam dirumah sekalian kita disuruh nginep sana.” Gista hanya mengangguk setuju. *** Gista pov Malam ini aku dan mas Akbar akan mengunjungi rumah mama dan papa karena aku dengar mereka akan membuat acara makan malam, untuk merayakan jabatan Akbar yang baru. Sebenarnya aku masih merasa sakit hati pada papa tapi aku pun tak mungkin menampakkan itu, karena mau bagaimanapun aku memang sudah setuju dulu akan pemindahan kepemilikkan itu untuk mas Akbar. Jadi untuk saat ini aku hanya bisa menerimanya dan tak akan menampakkan lagi penolakanku. “ Papa seneng ngliat Gista ngga marah lagi.” Ucap papa dan aku hanya mengulas senyum. “ Maafin Gista ya pa tadi udah bicara kasar sama papa, Gista nyesel dengan ucapan Gista tadi di rumah sakit yang terlalu kasar pada papa.” Jawabku karena aku memang merasa ucapanku pada papa tadi siang begitu kasar. “ Ngga kok Gis, papa paham dengan keadaan Gista tadi sayang, papa harap Gista menerima keputusan ini.” Aku pun kembali tersenyum. “ Tentu dong pa, kan Gista sama mas Akbar sudah menjadi suami isteri dan kemampuan mas Akbar pun ngga diragukan lagi, semua orang mengakuinya sedangan Gista masih jauh dari mas Akbar.” Aku langsung menggenggam tangan mas Akbar. Aku tahu mas Akbar reflek terkejut dengan tindakanku ini karena tangannya yang berkeringat. “ Ya udah kita lanjutin ngobrolnya nanti aja, ntar makanannya keburu dingin karena kalian.” Ucap mama dan kita semua pun makan malam dengan tenang. Seusai makan malam papa dan mama mengajak kita lanjut mengobrol sampai tak terasa waktu sudah sangat larut. Akhirnya kita berdua memutuskan untuk masuk ke kamar dan kami pun memilih tidur dikamarku yang dulu. Karena tak mungkin kan aku dan mas Akbar tidur terpisah seperti dirumah, nanti apa kata mama dan papa mereka pasti akan curiga. Setelah berganti pakaian aku membaca majalah sambil menunggu mas Akbar yang sedang berganti pakaian dikamarnya. Kami memang sengaja untuk meninggalkan beberapa pakaian disini karena jika kamiakan menginap disini tak susah-susah membawa baju lagi. Pintu kamar pun terbuka menampakkan diri mas Akbar yang sudah mengenakan kaos putih dan celana selutut, tak tahu mengapa menatapnya kembali membuat jantungku kembali berdetak kencang. Tanpa berkata apa-apa mas Akbar mengambil satu bantal dan meletakkannya di sofa. Pasti dia berniat akan tidur disana. Mungkin ini saatnya aku memulai aksiku. “ Mmmmm. Mas. ” Panggilku sambil menepuk-nepuk kasur disampingku, dia langsung memandangku dengan tatapan aneh. Aku sendiri merasa gerogi mengajaknya tidur seranjang. “ Aku ngga mau menambah dosa lagi dengan membiarkan suamiku tidur disofa.” Jawabku sambil menunduk karena aku merasa malu. Aku melirik mas Akbar yang tersenyum dan mendekat kearahku. “Nah gitu dong Gis kan jadi ngga menyiksa lahir dan batin suami sendiri.” Aku langsung melototinya. “ Maksud mas.” Tanyaku “ Emangnya kamu ngga kasihan sama aku, masa udah jadi suami masih aja tidur sendiri aku kan jadi ngga bisa seperti ini sama kamu.” Ucapnya dan langsung memelukku membuatku terkejut dan terperangah akan sikap mas Akbar. Aku seperti melihat sosok lain pada diri mas Akbar, selama bertahun-tahun baru kali ini aku melihatnya berucap manja dan sehangat ini. Walau sebnarnya dalam hatiku berbunga-bunga namun tetap aku sembunyikan. Aku langsung pura-pura  mendorongnya. “ Ihhh mas apa-apaan sih, malu tahu ngga nanti kalau papa sama mama denger.” “ Kenapa harus malu, justru kalau suami steri itu manja-manja dan romantis seperti ini akan mendatangkan pahala buat kita Gis.” Ungkapnya membuatku tersenyum. “ Itu mah maunya kamu aja kan.” Balasku. “ Gis apa kita bisa seperti ini seterusnya.” Pertanyaan mas Akbar membuat hatiku ngilu, aku pun berharap demikian. “ Mmmm bisa ngga ya.” Ledekku dan aku langsung mengalungkan tanganku dileher mas Akbar. “ Aku seneng banget kita bisa seperti ini mas Gista pun berharap demikian.” Jawabanku membuat mas Akbar memberanikan diri dengan mendekatkan wajahnya padaku. “ Mas. ” Ucapku sambil memundurkan wajahku. “ Apa aku bisa meminta hakku sekarang Gis.” Pertanyaan mas Akbar lagi-lagi membuat jantungku melaju dengan cepat. Dengan mengucap basmalah akupun menganggukkan kepala. Dan terjadilah penyatuan dua insan malam ini. SKIP….. *** Paginya Akbar pun terbangun terlebih dahulu, dan saat sudah membuka matanya bukannya terbangun dia justru memandangi wajah Gista dan mengingat kejadian semalam. Dan tak lama kemudian Gista pun membuka matanya, dia terkejut saat mengetahui Akbar sedang memandanginya. “ Mas kenapa kamu ngliatin aku sih. ” Tanya Gista yang langsung menutupi wajahnya dengan selimut. “ Kenapa harus malu si Gis, bahkan mas sudah melihat lebih dari itu sayang.” Jawabnya menarik selimut dari wajah Gista. “ Ihhhh v****r banget sih ngomongnya, kan malu mas, udah ah Gista mau mandi dulu nanti keburu telat shalatnya. ” Gista langsung berlari ke kamar mandi karena takut Akbar akan terus meledeknya. Ternyata baru memasuki kamar mandi tubuh Gista langsung luruh ke lantai dan menangis sambil membekap mulutnya sendiri dia tak ingin Akbar mendengarnya. Gista mengingat ucapan Akbar semalam saat mereka telah menyatukan diri menjadi satu, karena ucapannya benar-benar menyakitkkan bagi seorang wanita. Flashback on Akbar memeluk sang isteri dan terus memandanginya sambil mengulas senyum. Gista yang merasa ada yang memandanginya pun membuka mata, dia merasa risih dan malu karena dipandangi terus menerus. “ Mas kenapa ngliatin Gista terus sih, kan malu.” Ucap Gista sambil menutupi wajahnya. “ Kenapa mesti malu sih sayang, justru mas bahagia banget dan mas mau bilang Makasih sama kamu sayang.” Ungkap Akbar yang mengecup kening Gista. Sedangkan wajah Gista kembali memerah dan tersipu malu. “ Mas Akbar ngga perlu bilang begitu, harusnya Gista yang meminta maaf sama kamu karena Gista dari dulu terlalu keras kepala dan belum bisa menjadi isteri yang baik untuk kamu mas,” Ungkap Gista. “ Sayang kita kan baru nikah, dan selama ini pun walaupun kita sudah tinggal bersama tapi bagi mas ini pertama kalinya mas memiliki kekasih dan baru merasakannya. Dan mas juga minta maaf belum bisa jadi suami yang baik untukmu, Jadi mas pingin kita selalu dekat seperti ini dan kita coba pacaran dulu ya.” Ungkap Akbar membuat Gista tak paham. “ Kenapa kita pacaran mas kita kan sudah menikah. ” Tanya Gista. “ Ya pacaran yang halal kan setelah menikah, mas pingin lebih bisa menumbuhkan rasa cinta kita dulu sayang, tapi mas harap kamu ngga salah paham dengan ucapan mas ini ya, mas bener-bener ngga ada maksud buruk tapi mas ingin nantinya kita bisa bahagia bersama. ” Ucap Akbar yang berbelit-belit membuat Gista semakin tak paham. “ Aduh Gista bener-bener ngga paham deh sama kamu mas, emangnya apa sih yang mau kamu katakan, dan Insyaallah Gista ngga salah paham dengan apa yang mau kamu katakan nantinya.” Jawab Gista. “ Kita memang sudah mengenal lama Gis, dan mas juga tahu Gista sudah suka sama mas sangat lama. Begitu pula dengan mas yang sayang sama Gista. Tapi semua itu kita jalaninya sebagai adik kakak dan bukan suami isteri. Sedangkan kita baru menikah dan pernikahan adalah sesuatu hal yang baru buat kita jadi mas pinginnya kita bisa lebih saling memahami dan mengenal agar tak terjadi percecokkan nantinya jadi mas pingin kita berdua nunda momongan dulu ya,” Ucapan Akbar membuat hati Gista seperti tertusuk jarum, sangat menyakitkan hatinya. Gista pun tak menjawab ucapan Akbar dia hanya diam. Sedangkan Akbar yang menyadari perubahan Gista pun langsung menatap wajah isterinya itu yang ternyata sudah mengeluarkan air mata. “ Gis maaf kalau atas ucapan mas yang buat kamu sedih, tapi bener-bener ngga ada niatan buat kamu seperti ini.” Ucap Akbar “ Kenapa mas kenapa mas Akbar ngga mau memiliki anak dengan Gista kenapa mas.” “ Sayang dengerin mas dulu jangan salah paham begini, mas ngga bilang ngga mau punya anak sama kamu, mas mau Gis justru mas akan sangat bahagia jika memilikinya, maksud mas Cuma ngga sekarang Gis, ngga dalam waktu dekat ini. Please Gis jangan salah paham dengan ucapan mas ini,  mas Cuma mau yang terbaik buat kita semua bahkan untuk anak kita nantinya.” Akbar menjelaskan lagi agar Gista tak salah paham. Gista masih sesegukan dia masih belum terima mendengar penuturan Akbar. “ Apa mas cinta sama Gista, apa mas sayang Gista sebagai isteri mas.” Pertanyaan Gista membuat Akbar mengerutkan dahi. “ Kenapa kamu tanya begitu, jelaslah mas cinta sama kamu ngga mungkin dong kalau mas ngga cinta sama kamu mas akan menikah denganmu. Mas tahu kamu masih ragu tentang perasaan mas ke kamu, jadi maksud mas bilang begitu mas pingin nyeyakinin kamu dan memberikan cinta seutuhnya untukmu sebelum nantinya cinta mas terbagi untuk anak-anak kita sayang, please jangan salah paham dengan maksud mas ya.” Jelas Akbar yang kembali memeluk Gista. Walau berat menerima kenyataan bahwa Akbar tak ingin memiliki anak darinya, dia mencoba mengerti keadaan saat ini dengan alasan yang Akbar berikan tadi. “ Gista ikut mas Akbar aja, mungkin kalau mas Akbar minta Gista ngga hamil selamanya pun akan Gista turutin.” Kesal Gista “ Hei jangan bicara seperti itu, ngga mungkin mas minta seperti itu. Tuh kan kamu salah paham. Kalau kamu ngga percaya sama mas ngga papa. Dan kalau kamu mau punya anak sekarang biar kamu bisa percaya sama mas pun akan mas turuti sayang asal kamu ngga salah paham seperti ini.” Jawab Akbar mencoba menyakinkan Gista terus. “ Iya…. Iya Gista turutin permintaan kamu mas, walau sebenarnya Gista berat tapi ada benernya juga kata mas Akbar.” Balas Gista dan Akbar pun kembali memberikan ciuman pada Gista. Flashback off. Gista terus menangis, dan dia menyalakan kran air agar tangisannya tak terdengar sampai luar. Gista jadi menebak-nebak rencana masadepan yang sedang Akbar rancang. “ Kamu tega mas, aku tahu dan aku yakin bukan itu alasan kamu yang sebenarnya. Kamu memang sengaja ngga mau punya anak dariku, karena aku tahu suatu saat nanti kamu bakalan ninggalin aku dan kembali bersama Kinan, wanita yang kamu cintai itu. Aku tahu semua kata-kata cintamu untukku itu hanya palsu. Apa yang sebenarnya kamu mau mas apa rencanamu, kenapa kamu tega melukai hatiku sedalam ini. Ya Allah berikan Gista kekuatan. Tapi aku tak akan memuluskan rencanamu mas, justru aku akan memuluskan rencanaku. Dan aku jamin kamu akan selamanya terikat denganku dan aku jamin wanita itu tak akan berani memilikimu bahkan memegangmu seujung jari pun.” Ucap Gista sambil meremas jari-jarinya dalam keadaan tubuhnya yang sudah basah karena terguyur air.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD