9. IKD

2170 Words
Bagi orang-orang yang melihat rumah tangga Akbar dan Gista pasti mereka mengira kehidupan pasangan ini penuh dengan kebahagiaan. Namun bagi mereka berdua yang menjalaninya penuh dengan luka. Apalagi setelah insiden satu bulan yang lalu saat pindah rumah. Gista dan Akbar seperti orang yang sedang bermusuhan. Mereka akan mengobrol dan bersikap baik jika berhadapan dengan teman-teman ataupun orang tua mereka. Dan yang tahu asli kehidupan rumah tangga Akbar dan Gista hanya pembatu rumah, Fina dan Ciko. Dirumah sakitpun mereka berusaha menyembunyikan masalah rumah tangga mereka. “ Gis.” Panggil Fina saat dia melihat Gista sedang asyik melamun di taman rumah sakit seorang diri “ Hai.” Sapa balik Gista. “ Itu minuman bukan Cuma buat diaduk-aduk tau, tapi buat diminum.” Sindir Fina yang melihat Gista dari tadi hanya mengaduk minumannya tanpa berniat meminumnya, sedangkan Gista hanya cengengesan. “ Ada masalah apalagi sih.” Tanya Fina namun hanya dibalas gelengan oleh Gista. Namun saat Fina mau bertanya lagi tiba-tiba mereka dikagetkan oleh seseorang. “ Assallamualaikum ya ukhti.” Sapa Ciko yang langsung duduk disamping mereka berdua tanpa izin. “ Waalaikumsalam.”Jawab Gista dan Fina bersamaan. Gista merasa aneh melihat Ciko yang terus menatap Fina. “ Tumben kak Ciko disini.” Tanya Gista membuat Ciko mengalihkan pandangannya kearah Gista. “ Ya kan aku lagi mau nemenin bidadari-bidadari rumah sakit ini.” Gombalnya membuat Fina malas mendengarnya. “ Ya Allah kak emangnya ngga bosen apa ngegombalin cewek terus mana ngga dapet dapet lagi, emang sekarang giliran siapa yang mau dideketin.” Ledek Gista. “ Ya Allah emang aku semengenaskan gitu ya Gis.” Fina dan Gista pun jadi tertawa. “ Aku tuh kesini beneran mau nemenin kalian.” Jawabnya kembali menatap Fina. “ Mau nemenin kita apa mau ngliatin Fina terus.” Ledek Gista lagi tapi Fina langsung menatapnya dengan tajam. Sedangkan Ciko yang tadinya mau menjawab langung tak jadi karena ponselnya yang bordering, akhirnya dia pun mengangkat telfon. “ Gis, Fin aku ngga jadi nemenin kalian ya, ada pasien.” Jawabnya terburu-buru dan langsung berlari tanpa memberikan salam. Gista langsung menatap Fina dan Fina pun yang ditatap seperti itu oleh Gsita langsung bertanya. “ Kamu kenapa ngliatin aku kaya gitu.” “ Apa ada yang ngga aku tahu, Fin.” Tanyanya membuat Fina tak mengerti. “ Ngga tahu apaan sih Gis, aku ngga faham tahu sama pertanyaan kamu.” Tanyanya balik. “ Sejak kapan kamu sama kak Ciko sedekat ini.” Fina hanya menghela nafas. “ Siapa juha yang deket sama dia, aku biasa aja kok sama dia.” Jawab Fina. “ Udah deh Fin jangan bohongin aku terus.” “ Aku ngga bohongin kamu Gis aku memang ngga ada apa-apa kok sama dokter Ciko.” Elak Fina yang menyangkal. Gista langsung menghela nafas dan menggenggam tanga Fina. “ Fin kita sahabatan udah lama kamu tahu semua tentang masalahku dibandingkan yang lainnya bahkan orang tuapun ngga tahu. Tapi kenapa kamu ngga pernah mau terbuka sama aku sih, padahal dari dulu aku menunggu sampai kamu untuk mengungkapkan perasaanmu pada kak Ciko ke aku.” Fina langsung membelakakan matanya. “ Kok kamu….. maksud aku siapa bilang aku suka dia kamu ngaco deh Gis.” Elaknya lagi. “ Tuh kan masih aja nyangkal, aku udah tahu semuanya Fin aku tahu kamu sering nyuri-nyuri pandang ngliatin kak Ciko, aku tahu kamu sering memperhatikan dia setiap aku ngajakin kamu buat nemenin aku ketemu sama mas Akbar.” Fina pun meneteskan air matanya membuat Gista memeluk sahabatnya. “ Aku ngga tahu mesti gimana sekarang Gis, semua yang kamu katakana memang bener tapi saat ini perasaanku seperti diombang ambing Gis.” Jawabnya. “ Apa maksud kamu.” Tanya Gista yang tak paham. “ Dokter Ciko, maksud aku kak Ciko dia bukan deketin aku Gis, kita mulai deket karena dia minta bantuan ke aku Gis.” Jawab Fina yang masik sesegukan “ Bantuan apa Fin.” Tanya Gista lagi. “ Kak Ciko dia bukan suka ke aku Gis, dia minta bantuan ke aku buat makcomblangin dia sama Atika.” Tangisan Fina kembali pecah, dan Gista tak percaya ternyata cinta sahabatnya ini bertepuk sebelah tangan dan laki-laki itu mencintai sahabatnya yang lain. “ Maaf Fin aku ngga tahu, kenapa nasib kita sama sih Fin.” Balas Gista. “ Aku ngga tahu harus menghibur kamu gimana, karena aku pun merasakan apa yang kamu rasakan jadi aku tahu gimana sakitnya.” Ungkap Gista. “ Ya tetap bedalah Gis, kamu sama kak Akbar kan udah nikah walaupun ada wanita lain yang disukainya tapi dia tetap milik kamu dan kamu mesti memperjuangkannya. Sedangkan aku memilikinya saja belum jadi yang aku itu mencintai dalam diam, tapi Insyaallah aku ikhlas Gis. Karena aku yakin sama jalan Allah pasti ada rencana yang lebh baik untukku nantinya.” “ Andai aku bisa sebijak kamu Fin.” Fina hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu. “ Oh ya gimana sama hubungan kamu dengan kak Akbar.” Tanya Fina “ Aku ngga tahu Fin, andai aku bisa kaya kamu pasrah.” Jawab Gista dengan lemas, namun pandangan mereka berdua beralih pada orang-orang yang tiba-tiba mendekatinya. “ Selamat ya Gis, suami kamu emang hebat.” Ucapan selamat itu membuat Gista tak paham, mengapa mereka memberikan selamat buat aku, memang apa yang dilakukan mas Akbar suaminya itu. “ Oh ya makasih.” Jawabnya walau dia tak tahu apapaun, karena tak mungkin Gista bertanya selamat dalam rangka apa. Setelah kepergian beberapa orang yang memberikan selamat padanya, Gista kembali berputar dengan fikirannya itu. “ Oh ya aku juga tadinya kesini mau ngasih kamu selamat, tapi keburu ngliat kamu ngalamun jadi lupa deh.” Ucap Fina membuat Gista semakin bingung. “ Tunggu deh, sebenarnya aku tuh masih bingung memangnya dalam rangka apa sih kenapa kalian ngasih aku selamat, aku tuh ngga faham.” Jawab Gista. “ Jadi kamu belum tahu kabar tentang kak Akbar.” Gista menggeleng. “ Kamu serius berita sebesar ini kamu belum tahu.” “ Aduh emang berita apaan.” Tanyanya penasaran. “ Aduh gimana ya bilangnya, tapi aku mita sama kamu nanti kamu ngga boleh pingsan disini setelah aku kasih tahu berita bahagianya ya.” Gista pun mengangguk. “ Suami kamu dokter Akbar sekarang dia sudah menjadi pemilik rumah sakit ini.” “ APA” Gista langsung bangkit karena begitu terkejutnya mendengar kabar tersebut. “ Ngga ngga mungkin pasti aku salah denger pasti berita itu Cuma hoax kan Fin.” “ Aku serius Gis, baru aja tadi ada rapat pemindahan kepemilikkan rumah sakit ini dari papa kamu ke suami kamu.” Gista langsung berlari meninggalkan Fina, dia harus mencari kebenaran dari kabar tersebut. “ Gis mau kemana… Gista.” Gista tak menghiraukan panggilan Fina. Selama berjalan dikoridor rumah sakit, Gista begitu kesal saat semua orang yang melewatinya memberikan selamat untuknya. Namun ia tak mungkin menunjukkan kekesalannya pada semua orang. Dengan penuh amarah akhirnya Gista sampai ketempat dimana ia tuju, tanpa mengetuk pintu Gista langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. “ Pa.” Panggil Gista dan ternyata disana bukan hanya ada papanya melainkan ada suaminya juga. “ Ya Allah Gis, kenapa main nyeloning aja sih, untuk Cuma ada papa sama Akbar kalau ada yang lain kan ngga enak, ngga sopan namanya.” Ucap sang papa. “ Gista ngga peduli mau itu sopan atau ngga sopan, yang Gista peduliin itu tentang kabar yang Gista denger.” Ucap Gista sedikit lantang. “ Kamu kenapa sih bicaranya keras banget ngga enak didenger yang lain.” Ucap Akbar mendekati isterinya sambil mencegah Gista yang terlihat emosi, namun Akbar terkejut karena tiba-tiba tangannya ditepis oleh Gista. “ Diem kamu mas, kenapa semua tega menyembunyikannya dari Gista kenapa Gista denger kabar sebesar ini dari orang lain.” Jawabnya membuat papa dan Akbar mengerti apa yang membuat Gista semarah ini. “ Gis kamu sebaiknya duduk dulu, aku sama papa bisa jelasin semuanya ke kamu. Kita ngga ada niatan buat menyembunyikan ataupun ngga ngasih tahu kamu Gis, tapi ….” Belum selesai Akbar bicara langsung dipotong oleh Gista. “ Tapi apa mas, kalian melakukan ini karena bagi kalian Gista ngga pentingkan.” Ucapnya sambil menangis. “ Gista ngga seperti itu sayang, ngga pernah papa berfikiran seperti itu, papa sayang sekali sama kamu. Karena papa fikir kamu ngga terlalu memperdulikan masalah ini, baru setelah ini kita mau ngasih tahu kamu untuk kejutan.” Jawab sang papa. “ Kalau papa mau ngasih kejutan ke Gista, papa berhasil buat Gista terkejut tapi papa juga berhasil buat Gista kecewa.” Ucapnya lagi dan terus menangis. “ Gis.” Panggil Akbar namun sang papa langsung mengkode Akbar untuk keluar terlebih dahulu, dan membiarkan papanya yang membujuk Gista. Akbar yang mengerti kondisi Gista yang saat ini syok pun menuruti perintah papanya. Setelah Akbar keluar sang papa memeluk putrinya itu. “ Gis papa minta maaf kalau apa yang papa lakuin ini buat Gista kecewa, tapi Gista harus percaya kalau papa ngga ada niatan seperti itu sayang.” Sesal sang papa. “ Tapi kenapa mas Akbar pa…. kenapa bukan Gista.” Papanya tercengang mendengar jawaban Gista. “ Apa maksud kamu sayang.” Tanya sang papa. “ Gista anak papa, tapi kenapa papa memberikan rumah sakit ini pada mas Akbar.” “ Gista kenapa Gista bicara seperti itu, apa Gista lupa dengan percakapan kita dulu.” Tanya sang papa membuat Gista mengingatnya. Flashback on. Setelah sang papa berniat menyatukan Gista dan Akbar, dia mengajak mereka berdua untuk bicara serius. Akbar yang tak tahu menahu apa yang akan mereka bicarakan pun sedikit khawatir. “ Pa sebenarnya apa sih yang mau papa bicarakan sama kita, jangan bilang papa mau nikahkan kita minggu depan.” Tebak Gista membuat gelak tawa seisi ruangan. “ Itu sih maunya kamu.” Balas mamanya. “ Begini sayang, papa mau ngasih tahu kamu sama Akbar yang sebenarnya. Seperti yang kalian tahu kan kalau papa sama papanya Akbar dulu itu sahabat dekat dan bahkan sudah seperti saudara. Papa bisa berhasil seperti sekarang pun berkat bantuan dan dorongan dari Arya. Papa bisa membangun rumah sakit sebesar ini pun berkat bantuan Arya, Dulu papa dan dia sudah berniat akan membuat rumah sakit kita menjadi rumah sakit yang terbaik. Namun takdir berkata lain Arya telah dipanggil terlebih dahulu oleh Allah. Jadi papa berusaha mewujudkan mimpi kita, menjadi nyata yaitu menjadikan rumah sakit kita menjadi yang terbaik. Dan mungkin dengan kondisi papa yang semakin tua ini, papa ngga akan sanggup mewujudkannya seorang diri. Papa butuh orang yang bisa papa percaya dan diandalkan untuk bisa membangun rumah sakit kita menjadi lebih baik lagi disbanding sekarang. Tapi sekarang papa ngga khawatir lagi karena papa punya Akbar yang bisa diandalkan untuk meneruskan semua ini.” Ucap sang papa. “ Maksud papa.” Tanya Akbar.yang tak mengerti. “ Maksud papa dan mama, kita ingin Akbar nantinya mengambil alih tanggung jawab papa memimpin rumah sakit ini.” Akbar tak percaya dengan permintaan orang tua angkatnya. “ Tapi pa kenapa harus Akbar, Gista jauh lebih berhak karena dia anak papa.” Jawaban Akbar justru membuat Gista tertawa. “ Ya Allah kak Akbar lucu tahu ngga, ya jelas dong papa berikan kepercayaan itu sama kakak, karena nantinya Gista kan hanya akan menjadi seorang dokter dan ibu rumah tangga yang mengurus suami dengan anak-anaknya dengan baik.” Jawaban Gista membuat gelak tawa lagi. “ Tuh kamu denger sendiri kan bar ucapan Gista, papa mohon sama kamu jangan tolak permintaan papa, toh kalian berdua nantinya juga akan menikah jadi apa yang menjadi milik kamu akan menjadi milik Gista begitu sebaliknya.” Balas papanya. “ Ya kak dan Gista juga ngga suka hidup dalam kerumitan memikirkan pekerjaan, nanti muka Gista yang cantik ini jadi cepet keripu, terima aja ya kak.” Bujuk Gista. Akbar menatap semua orang yang juga menatapnya dengan penuh harapan. “ Tapi pa, walaupun nantinya Akbar mengambil alih semuanya Akbar mohon sama papa untuk terus membantu Akbar. Karena pastinya Akbar masih awam dengan hal-hal yang berbau seperti itu. Insyaallah Akbar akan melakukan yang terbaik pa, ma.” Jawabn Akbar membuat semua bahagia dan lega. Flashback off. Gista langsung menutupi wajahnya kala dia sudah mengingat masa-masa dia pun memebrikan hak itu pada Akbar. Gista langsung terlihat gusar, dia jadi mengkhawatirkan sesuatu. “ Sebenarnya ada apa sama kamu Gis.” Tanya sang papa. “ Gista keluar dulu pa.” Pamitnya langsung meninggalkan ruangan papanya. Setelah kejadian hari ini Gista tak berani langsung pulang, dia pun memberhentikan mobilnya disebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Tak tahu mengapa kegundahan dan ketakutan pada diri Gista muncul setelah mengetahui bahwa Akbar sudah menjadi pemilik rumah sakit itu. “ Kenapa aku mesti bicara seperti itu dulu, kenapa.” Sesalnya sendiri. “ Semua itu milikku bukan milik mas Akbar, dia ngga berhak atas rumah sakit itu aku yang jauh lebih berhak. Dan aku ngga mau dengan mas Akbar memiliki semua itu dia akan meninggalkanku, dan akan kembali bersama Kinan. Dia akan mengabaikan dan mengambil semuanya dariku secara perlahan, aku harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.” Tegas Gista. Walau wajahnya terlihat frustasi, tapi sebenarnya Gista sedang memikirkan cara apa yang akan bisa mengembalikan itu semua menjadi milikknya, ataupun mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Sampai fikirannya terhenti saat ada bola yang menggelinding kearahnya. “ Tante permisi aku mau ambil bolaku.” Ucap anak laki-laki itu. Gista pun mengulas senyum sambil memeberikan bola pada anak tersebut. “ Ini bola kamu sayang.” Anak laki-laki itu pun langsung berlari menjauh darinya sambil memebawa bolanya. Dan akhirnya Gista memiliki ide untuk bisa mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, bahkan mungkin bisa mengembalikan semuanya. “ ANAK.” Gumamnya. “ Ya aku harus memiliki anak dari mas Akbar, dengan semua itu aku bisa mempertahankan milikku bahkan mengembalikkannya menjadi milikku lagi.” Gista pun langsung menuju ke rumah, dan selama perjalanan pulang dia memikirkan bagaimana caranya dia memikat hati suaminya itu. Sesampainya dirumah Gista langsung menuju ke kamar Akbar untuk meminta maaf atas ucapan kasarnya tadi dirumah sakit. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar ucapan Akbar ditelfon. “ Sedikit demi sedikit rencanaku berhasil dan akan aku pastikan semua berjalan dengan lancar.” Setelah mengatakan itu Akbar menutup telfonnya dan membalikkan badannya, ia terkejut saat mendapati Gista berdiri di depan pintu. “ Apa maksud dari kata-katamu tadi mas, rencana apa yang kamu maksudkan.” Mndengar pertanyaan Gista membuat Akbar bungkam dan terlihat ketakutan. Apalai saat Gista menatapnya dengan penuh kecurigaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD