8. IKD

2127 Words
Masih terngiang dalam fikiran Gista tentang acara hari ini dan dia saat ini sudah menjadi isteri dari Akbar. Hati kecil Gista senang akhirnya dia bisa memiliKi Akbar, namun tetap saja semua itu tak sesuai dengan fikirannya yang selalu terngiang tentang kejadian sebelum pernikahan ini berlangsung. Dan hari ini Gista berserta keluarganya menginap di salah satu hotel dimana tempat resepsi mereka dilaksanakan. Gista masih tetap di dalam kamar mandi selama hampir satu jam. Dalam benaknya ia sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Apalagi malam ini ia akan berada didalam ruangan yang sama dengan Akbar. Gista menghela nafas berkali-kali sambil mengucapkan beberapa kalimat untuk menenangkan dirinya sendiri.i. " Tenang Gista kamu pasti bisa mengontrol emosi kamu, dia memang sudah menjadi suami kamu, tapi inget Gis apa yang udah dia lakuin ke kamu, kamu ngga boleh lemah dan ngga boleh lagi dibutakan oleh cinta kamu harus sadar Gis.” Namun tak lamakemudian pintu kamar mandi pun terketuk TOK .... TOK ... TOK " Gis kamu lagi ngapain sih di dalam lama banget, aku juga mau bersih-bersih aku udah gerah banget tau." Ucap Akbar dari didepan pintu kamar mandi. Gista pun langsung membuka pintunya, dia merutuki dirinya sendiri karena yang tak menyadari kedatangan Akbar yang masuk ke dalam kamar. Karena setahu dia tadi Akbar masih asik mengobrol dengan rekan-rekannya. " Dari kapan kamu datang." Tanya Gista yang mendapat tatapan sinis dari Akbar. " Semenjak kamu masuk kamar mandi.” Jawab Akbar yang langsung memasuki kamar mandi. Gista langsung menutupi mulutnya tak percaya bahwa sedari tadi Akbar sudah ada dikamar. " Aduh tadi dia denger ngga ya aku omongan aku, kalau dia denger gimana kan malu   ." Guman Gista sambil menggaruk-garuk rambutnya. Gista yang sudah terlanjur malu akhirnya membaringkan dirinya ke ranjang, dia lebih memilih tidur terlebih dulu sebelum Akbar datang. Karena dia tak tahu dan bingung nantinya jika ada Akbar.  Sehabis mandi Akbar tadinya ingin berbicara dengan Gista namun niatnya itu tak tersampaikan saat dirinya melihat Gista sudah tertidur dulu. Dikarenakan tubuhnya juga yang sudah sangat lelah ia pun ikut terlelap disamping Gista. *** Suara adzan subuh pun berkumandang, Gista pun mulai membuka matanya namun ia merasa ada  yang aneh pada dirinya karena dia merasa ada bend berat yang menimpa tubuhnya. Dan beta terkejutnya dia saat matanya terbuka pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah lelaki yang sudah lama bersemayam pada hatinya. “ AAAAHHHHKKKK.” Teriaknya membuat Akbar yang masih tertidur pun terbangun sampai dirinya terjatuh karena didorong oleh Gista. “ aduh sakit banget.” Rengek Akbar sambil memegangi pinggangnya dan mulai berdiri. “ Kamu apa-apaan sih bangun-bangu langsung dorong aku.” Bentaknya namun tak membuat Gista takut justru dia terlihat begitu kesal. “ Harusnya aku yang tanya, kamu apa-apaan peluk-peluk aku dan kenapa mas Akbar ada disampingku.” Pertanyaan Gista membuat Akbar tersenyum sinis. “ Kamu lupa atau pura-pura lupa.” Tanyanya balik membuat Gista berfikir, dan dia melupakan perubahan yang baru kemarin dia alami. Setelah Gista mengingatnya dia langsung merasa malu bahwa dirinya saat ini sudah menjadi isteri, jadi wajar aja jika Akbar tidur disampingnya. “ Sekarang udah inget.” Tanyanya lagi. “ Tapi kan ngga harus tidur disamping aku segala.” Elak Gista. “ Terus aku suruh tidur dimana dilantai, disofa kaya yang di film-film gitu maksud kamu.” Balas Akbar dengan tegas. “ Aku ini suamimu yang sah jadi ngga ada penolakan, bahkan jika aku meminta hakku sekarang pun kamu ngga boleh menolaknya.” Ucapan Akbar membuat Gista langsung menutupi dirinya dengan selimut sambil menatap Akbar dengan tajam. “ Awas aja kalau mas Akbar berani macam-macam.” Peringatnya namun tak membuat Akbar takut. “ Biasa aja kali Gis, aku juga ngga minta sekarang juga kali.” Ucap Akbar lagi dengan santai sambil berjalan menuju kamar mandi. “ Dasar otak mesum.” Teriak Gista sambil melemparkan bantal kearah Akbar namun tak kena karena pintu kamar mandi te;ah tertutup. Akbar yang sudah selesai pun bergantian dengan Gista. Dan hati Gista kembali tergoyahkan saat dirinya menatap Akbar yang duduk disamping ranjang dengan mengenakan sarung baju koko dan peci, namun lamunan itu terbuyarkan saat tiba-tiba Akbar memanggilnya. “ Gis … gista.” Panggilnya membuat Gista langsung mengalihkan pandangannya. “ Jangan ngliatin aku terus nanti kita telat lho sholat subuhnya.” Ledek Akbar. “ Ihhh geer siapa juga yang ngliatin kamu.” Balas Gista yang langsung membentangkan sajadah untuk sholat. “ Kok Cuma satu, emang kamu ngga mau aku imamin sholat, kan aku udah jadi imam hidup kamu.” Perkataan Akbar barusan seolah membuat hati Gista yang tadinya membeku tiba-tiba mencair dan wajahnya pula tiba-tiba terasa panas. “ Aku kira kamu udah sholat.” Jawab Gista sambil membentangkan sajadah untuk Akbar suaminya. Akbar pun berdiri didepan Gista. Hati Gista merasa tak karuan melihat keadaan seperti ini. “ Ya Allah mengapa rasa ini muncul lagi, Aku tahu aku masih mencintainya. Aku ingin kebahagiaan ini bukan hanya sebentar. Jika engkau izinkan kembalikanlah hatiku dan hatinya agar kami bisa menjadi satu dan menjalankan ibadah pernikahan ini denngan benar dijalan-Mu Ya Allah.” Batin Gista. Selesai shalat subuh Gista dan Akbar bersiap untuk jogging, tadinya Gista malas namun Akbar terus memaksanya. Dan Gista yang sedang tak tahu akan melakukan apa setelah ini pun menyiyakan ajakan Akbar. Selama jogging mereka berdua tak banyak bicara. Namun Akbar pun mulai membuka obrolan dengan Gista saat mereka sedang istirahat setelah melakukan beberapa putaran dilingkungan hotel itu. Sambil menyodorkan minuman. “ Nih.” Gista pun menerimanya “ Semalam ada yang mau aku bicarakan sama kamu Gis.” Gista langsung memandang Akbar. “ Aku mau kita melupakan semuanya Gis, entah itu masalahku ataupun masalahmu. Kita mulai semuanya dari awal.” Bukannya menjawabnya Gista malah memalingkan wajahnya. “ Apa aku ngga salah denger, maksud mas Akbar memulai dari awal apa pernikahan ini, apa dia sungguh-sungguh.” “ Gis kamu denger aku ngga sih.” Akbar memanggil Gista karena tak kunjung menjawab ajakannya itu. “ Hmmm.” Balas Gista “ Hmmmm apaan jawab yang bener dong.” Pinta Akbar sedikit keras. “ Hmmm iya .” Jawab Gista lagi dengan wajah cueknya. Akbar yang mendapat jawaban itu pun tersenyum tipis. Gista tahu hatinya masih sakit tapi jika Akbar mengatakan hal seperti itu, Gista jadi berharap Akbar akan benar-benar menjadikan dirinya satu-satunya wanita dalam hidupnya. *** Setelah beberapa hari menginap di hotel Akbar dan Gista pun kembali kerumah orang tua mereka. Untuk hubungan mereka pun sedikit membaik namun belum sepenuhnya karena mereka masih mencoba untuk menata hati masing-masing dan saling mengitropeksi diri dulu. Akbar pun sudah mendiskusikan dengan Gista bahwa mereka akan tinggal terpisah dengan orang tuanya dan tinggal di rumah Akbar yang pernah mereka datangi. “ Ma, pa ada yang mau Akbar sama Gista bicarakan.” Ucap Akbar ketika mereka sedang duduk santai. “ Ada apa kok keliatannya serius banget.” Tanya sang mamah. “ Akbar sama Gista mau izin ke kalian buat tinggal di rumah Akbar.” Mamah Gista yang baru meminum langsung tersedak mendengar permintaan kedua anaknya itu. “ Kenapa harus pindah bar, ini juga rumah juga nantinya akan jadi milik kalian berdua dan kenapa kamu ngga bilang sebelum ini” Tanya sang mama yang terlihat sedih. “ Akbar sudah bcarain ini sama papah kok mah.” Ucap Akbar membuat mamah Gista langsung menatap suaminya. “ Jadi papah udah tau masalah ini, kenapa papa ngga cerita ke mama. Bar mama mohon fikirkan lagi, Gista sayang memangnya kamu tega ninggalin mama sendirian disini.” Ungkap kesedihan sang mama Gista langsung memeluk mamanya. “ Ma sebenarnya Gista juga berat kalau harus ninggalin mama dan papa tapi mau gimana lagi Gista kan juga harus ikutin apa kata suami Gista.” “ Ma Akbar sama Gista sayang banget sama mama dan papa, Akbar pun udah nyaman tinggal disini, tapi Akbar mohon sama mama dan papa untuk izinin kita agar kita bisa belajar hidup berumah tangga sendiri ma, pa.” Balas Akbar. “ Udah ma izinin aja, orang rumah mereka juga ngga terlalu jauh kok, terus dekat pula dengan rumah sakit jadi nantinya mudah buat mereka.” Bujuk sang papa. Dengan sedikit terpaksa akhirnya mama Gista dan Akbar mengizinkan mereka untuk tinggal berpisah. Setelah membicarakan itupun mereka berdua kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang mereka di kamar masing-masing. Karena Gista belum sempat memindahkan barang-barangnya ke kamar Akbar. Selesai membereskan barang-barang Gista berniat ke kamar Akbar untuk membantu sang suami karena tadi Akbar sendiri yang memintanya untuk membatu mengepak-ngepak buku ke dalam kardus. Gista yang tadinya mau masuk ke kamar Akbar tiba-tiba ia urungkan karena mendengar Akbar yang sedang berbicara di telfon. “ Kinan walaupun aku ngga ada disisi kamu, kamu harus janji ke aku kamu ngga boleh nyerah dan tetap semangat untuk sembuh.” “……………………” “ Ya nan semua orang disini menunggu kesembuhan, banyak yang sayang ke kamu begitu juga dengan aku, aku janji setelah kamu sembuh kita akan terus sama-sama agi dan ngga aka nada yang bisa memisahkan kita lagi.” “………….” Gista yang sudah tak sanggup mendengarkan percakapan itu pun akhirnya kembali kekamar dengan berlinang air mata. “ Kamu bilang mau memulai semua dari awal tapi kenapa kamu masih berhubungan dengannya. Kamu tega mas, kamu jahat kamu bohongin aku.” Kali ini Gista merasa ditipu lagi dan Akbar seperti mempermainkan perasaannya. Awalnya setelah Akbar mengatakan akan memulai semuanya dari awal, Gista pun ingin memendamrasa sakitnya karena ia juga masih mencintai Akbar namun setelah mendengar lagi Akbar masih berhubungan dengan Kinan membuat Gista kembali meragu akan perasaan Akbar kepadanya. Dan menganggap Akbar mempermainkan perasaannya. *** Keesokan harinya Akbar dan Gista sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil Akbar. Dan mereka pun berpamitan pada orang tuanya dengan penuh haru. Karena bagi Gista ini pertama kalinya ia keluar dan jauh dari orang tuanya. Orang tua Gista pun tak bisa ikut mengantar mereka ke rumah baru, karena mereka harus pergi ke luar kota untuk memenuhi undangan dari kerabat mereka. Didalam mobil Gista masih menangis tersedu-sedu, membuat Akbar yang melihatnya langsung mengambilkan tisu. “ Udah dong Gis, jangan nangis terus kamu kan masih bisa ketemu sama mereka.” Ucap Akbar mencoba menenangkan Gista namun Gista tetap acuh malah memandang kearah luar. “ Oh ya semalam kenapa kamu ngga bantuin aku.” Tanya Akbar membuat luka Gista kembali terbuka karena otaknya kembali mengingat apa yang semalam ia dengar. “ Aku cape jadi langsung tidur.” Jawabnya dengan malas tanpa memandang kearah Akbar. “ Oh ya kita mau mampir belanja dulu apa ngga.” Tanya Akbar lagi. “ Terserah.” Jawab Gista dengan singkat. Akbar pun sedikit bingung mendengar jawaban Gista. Namun dia langsung menghilangkan perasangka buruknya, karena mungkin Gista masih bersedih jadi menjawab seenaknya begitu. “ Kamu bersikap baik kepadaku seperti ini seolah-olahpernikahan kita baik-baik aja, kamu berakting memberikan perhatian padaku padahal kamu sudah mendukanku, kamu memberikan perhatian itu pada wanita lain, sebenarnya bagaimana peraasaanmu padaku mas, akan aku ikuti kemana alurmu mas.” Batin Gista Akhirnya Gista dan Akbar berhenti di sebuah supermarket untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga mereka. Banyak mata yang memangdang kearah mereka dengan pandangan penuh kekaguman. Sampai Gista merasa risih karena ada beberapa orang dii supermarket itu meminta foto dengan suaminya. Karena Akbar bukan hanya seorang dokter namun prestasinya dalam dunia kedokteran membuatnya sering diundang menjadi bintang tamu dalam acara di stasiun televisi. Jadi banyak yang tak asing akan wajah Akbar. Sebenarnya Akbar sangat malas meladeni mereka namun ia juga tak boleh bertindalk semaunya sendiri karena ini tempat umum. Gista pun memilih meninggalkan Akbar yang masih terus meladeni penggemarnya itu. “ Kenapa kamu pergi gitu aja.” Tanya Akbar yang menyusul Gista. Karena Akbar merasa heran akan sika Gista saat ini. Biasanya Gista maju paling depan untuk menghadang para fans Akbar tapi tidak kali ini. “ Aku kira kamu lupa kalau kamu bawa isteri kesini.” Jawabnya ketus. “ Kok bilangnya begitu sih.” “ Ya abisnya kamu yang ngajak aku belanja, eh malah kamu sendiri yang asyik foto-foto.” Jawab Gista denngan jutek. “ Kamu cemburu ya.” Tanya Akbar dengan ekspesi datarnya dan berhasil membuat Gista melotot. “ Apa cemburu… kamu bilang aku cemburu, ngga ada masa ya cemburu sama anak ingusan seperti mereka itu.” Balasnya yang kembali meninggalkan Akbar. Sedangkan Akbar hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Gista. Sesampainya dirumah Akbar Gista langsung masuk ke kedalam, sedangkan barang-barang mereka ada pembatu yang membawanya. Akbar langsung memberitahu Gista kamar mereka, namun ketika melihat-lihat kamar itu Gista langsung menatap Akbar. “ Aku mau kita pisah kamar mas.” Permintaan Gista membuat Akbar terkejut. “ Apa maksud kamu.” Tanya Akbar dengan sedikit emosi. “ Aku bilang aku mau kita pisah kamar.” Ulanginya. “ Kenapa, apa masalahnya.” Tanya Akbar yang masih tak mengerti dengan jalan fikiran Gista. “ Aku belum sepenuhnya siap menjadi isteri kamu mas, dan aku juga belum sepenuhnya percaya dengan kamu. Aku mau kita pisah kamar sampai aku benar-benar bisa mempercayai semuanya mas.” Jawab Gista. “ Permintaan kamu itu benar-benar konyol.” Akbar tertwa hambar. “ Karena aku tahu hatimu belum seutuhnya milikku.” Balas Gista dan langsung meninggalkan kamar itu. Tapi Akbar langsung menariknya sampai mereka terjatuh di ranjang. “ Siapa bilang hatiku bukan milikmu.” Tanya Akbar dengan penuh amarah, karena baginya Gista telah mempermainkannya. “ Apa kamu butuh bukti kalau hatiku ini sepenuhnya milikmu.” Akbar langsung mendekatkan wajahnya pada Gista, namun Gista berusaha menjauhkannya dan melepaskan dirinya dari Akbar. “ Kamu apa-apaan sih mas …. Mas Akbar.” Gista berhasil mendorong tubuh Akbar sampai ia terjatuh dan membentur kayu pinggiran ranjang. Gista yang tahu Akbar terluka pun mendekatinya. “ Maaf mas Gista ngga sengaja.” Gista mencoba memegang luka didahi Akbar namun langsung ditepis oleh Akbar. “ Akan aku turuti permintaan kamu, kamu tidur disni biar aku yang pindah.” Jawab Akbar dan kemudian dia langsung keluar dari kamar dengan menyimpan perasaan kesal pada Gista. Namun ternyata jawaban atas permintaannya bukan membuatnya bahagia namun hatinya kembali sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD