Akbar berjalan dikoridor rumah sakit setelah siang ini dia selesai melakukan operasi. Ciko yang melihat Akbar langsung menghampirinya.
"Woi bar." Panggilnya sambil merengkuh Akbar dari Arah belakang.
"Lho tuh ya bisa ngga sih kalau ngga ngaggetin gue." Balas Akbar yang kesal karena terkejut.
“Maaf…. Maaf bar sensitif banget, kaya cewek lagi PMS aja. ” Ledek Ciko
"Ngga lucu." Balas Akbar yang terus melangkah meninggalkan Ciko.
“Tunggu kali bar buru-buru, sih, makan siang yuk.” Ajaknya namun masih tak dihiraukan oleh Akbar hingga langkah Akbar terhenti saat Ciko menyebutkan nama seseorang. "Ini tentang Kinan dia ..." Akbar takut Gista mendengar apa yang Ciko sebutkan tadi. Ciko yang paham pun tak jadi mengatakan sesuatu lagi.
Nikmati suasana terasa mencekam saat memandang Gista yang memandang Akbar dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Dan Ciko pun heran karena Gista tak menyapa Akbar dengan manja seperti biasanya. Dia hanya menatap Akbar dan kembali berjalan melewati mereka.
Namun Akbar menahan langkah Gista yang sudah akan pergi dengan memegang ikatan. “Kita perlu bicara, aku menunggu kamu setelah pulang kerja.” Ucap Akbar, namun tetap menjawab Gista kembali melangkah dan acuh akan ajakan Akbar itu.
"Bar gue ngga salah liat nih, apa mata gue yang lagi sakit." Bukannya membalas Akbar berjalan meninggalkan Ciko yang masih terheran-heran. "Bar jawab dong kok sikap Gista gitu ke lho, biasanya kan dia ..." Ciko lepaskan ucapannya karena tatapan mata Akbar yang seperti akan membunuhnya.
"Bisa ngga sih lho diem, suara lho tuh bikin gue tambah pusing tahu ngga." Bentak Akbar membuat Ciko menghela nafas. Dia paham dengan situasi Akbar saat ini, dia tahu pasti ada yang beres dengan temannya ini, karena ia tahu jika Akbar ada dalam masalah dia akan mudah marah seperti ini.
Setibanya diruangan Akbar, Ciko masih menunggu menunggu Akbar membuka mulut untuk membicarakan masalah apa yang sedang menunggu sendiri. Dan kebiasaan itu memang sudah dia lakukan dari dulu setiap Akbar menghadapi masalah.
"Hubungan gue sama Gista udah berakhir Cik." Ungkapnya.
"Maksud lho." Tanya Ciko yang tak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu.
"Dia tahu tentang Kinan." Jawab Akbar membuat Ciko mengusung penanganan dengan kasar.
"Apa yang harus diperbaiki dari sekarang ke cerita Gista tentang Kinan biar dia ngga salah paham bar, jadi runyam kan sekarang, terus lho udah terima kasih tau hal yang sebenarnya ke dia." Tanya Ciko. Akbar pun menggeleng.
“Ternyata kemarin dia menyelinap masuk ke kamar Kinan, dan diasalah paham karena dia denger Kinan ngungkapin perasaannya ke gue, dan gue yang ngga tahu disitu ada Gista y ague juga melihat sayang ke dia, karena gue mau mau dia ngedrop lagi Cik, gue pingin Kinan pulih Cuma itu, dan gue Cuma nganggap dia sahabat gue ngga lebih. " Jawab Akbar.
"Ya lho jelasin ke dia maksud lho yang awalnya dong, jangan sampai hubungan lho sama dia akhirnya karena kesalah pahama ini."
"Ini juga bukan Cuma masalah Kina nada hal berbaring." Ungkap Akbar dan membahas tentang vidio dan foto-foto tentang Gista, bukan maksud Akbar menyetujui aib Gista tapi dia ingin meminta pendapat Ciko dengan tindakan apa yang akan dia ambil, dia takut salah dalam mengambil keputusan.
"Pasti ada yang jebak dia bar, ngga mungkinlah Gista melakukan hal kotor seperti itu." Tebak Ciko yang memiliki pikiran yang sama yang dimiliki.
"Aku pun berfikir seperti itu, tapi aku pun ngga tahu siapa yang menjebak Gista, kenapa dia bisa melakukan ini sama Gista." Balas Akbar
"Sebaiknya lho bicarain dulu bar baik-baik sama dia, jangan sampai hubungan lho sama dia benar-benar berakhir." Sarannya.
***
Sepulang dari rumah sakit Gista yang sudah siap akan menaiki mobilnya terkejut saat ada tangan yang menariknya. Namun keterkejutan itu berubah menjadi amarah saat tahu siapa yang telah menariknya.
"Kamu sengaja ya ngacuhin aku suka ini." Ungkap Akbar yang kesal karena dia sudah mengobrol Gista untuk pulang bersamanya dan membahas masalah mereka berdua, tapi tak mendapat balasan dari Gista. Dan sekarang dia melihat Gista akan naik mobilnya sendiri. Itu semua menambah kekesalan Akbar pada Gista.
"Lepasin mas sakit." Pinta Gista mencoba melepaskan cekalan dari tangan Akbar, yang terlalu keras. Namu tak Akbar hiraukan dia menarik Gista hingga kemobilnya. "Aku ngga mau pulang sama kamu aku bawa mobil sendiri." Ucapnya dengan lantang membuat perhatian orang-orang yang ada di parkiran rumah sakit itu.
Akbar langsung membekap mulut Gista dengan mendorong dan mendorong tubuh Gista pada mobilnya membuat tubuh mereka bertemu. "Bisa ngga kamu dewasa sedikit, jangan suka anak kecil, apa kamu mau cari perhatian sama orang-orang." Ucap Akbar dengan kesal. Gista yang masih memberontak akhirnya keluar saat dia sudah masuk mobil Akbar.
Selama perjalanan keluar mereka ada yang keluar suara, sampai mobil Akbar ia berhentikan disebuah rumah merwah yang Gista sendiri tak tahu rumah siapa ini.
"Kamu bawa aku kemana mas, rumah siapa ini." Akhirnya keluar kata pertama yang keluar dari mulut Gista semenjak dia diam selama perjalanan. Bukannya menjawab Akbar malah menarik Gista keluar dengan paksa dari mobil dan diundang masuk ke rumah.
"Kamu denger ngga aku tanya rumah siapa ini, kenapa kamu bawa aku kesini." Tanya Gista lagi sampai dia sangat kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari Akbar dan dia menghempaskan Alaska dari Akbar. Setelah masuk ke rumah itu Akbar langsung dipindahkan ke Rumah membuat Gista menjadi panik.
"Rumahku." Jawab Akbar dengan santai dan pergi Gista yang masih terkejut akan menjawab Akbar, karena selama ini Gista tak tahu jika Akbar memiliki rumah sebagus dan sebesar ini.
Akbar kembali dengan membawa dua gelas minuman, dia melihat wajah Gista yang masih senang.
"Untuk apa kamu bawa aku kemari." Tanya Gista dengan angkuh.
"Mengapa kamu bertanya seperti itu, kamu akan dipindahkan ke dokter Akbar, jadi apa salahnya aku bawa ke mari." Ucap Akbar yang mendekati kearah Gista membuat Gista mundur hingga terjatuh dan tidak tersentuh Akbar menarik dikembalikan membuatnya berada di dalam dekapan Akbar. Dan Akbar memindahkan Gista dengan mendekatkan bibirnya pada Gista, tingkah Akbar membuat Gista menjauh namun masih tak bisa.
"Lepas mas apa yang mau kamu lakuin." Tanya Gista yang setuju sudah melihat apa yang akan dilakukan Akbar.
"Menghapus semua jejak laki-laki itu." Ungkapan Akbar berhasil membuka luka baru pada Gista. Dan tangan Gista langsung terangkat untuk menampar Akbar.
"PLAK."
Akbar terkejut karena Gista tiba-tiba menamparnya, dan dia melepaskan dekapannya kemudian memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan yang Gista layangkan untuknya.
“Jaga mulut kamu ya mas, kamu ngga pantas bicara seperti itu ke aku. Tega kamu mas suka suka kamu fikir aku siapa. ” Bentak Gista yang kecewa karena meminta ucapan Akbar telah merendahkan harga mengaku sebagai wanita.
“Terus melihat aku bagaimana cara mengembalikan kamu menjadi wanitaku seutuhnya Gis, melihat ke aku.” Teriak Akbar kembali membuat Gista tak mengerti dengan jalan fikiran tunangannya ini. "Bilang ke aku kalau bukan kamu, itu bukan kamu."
Gista yang sudah terlanjur marah pun menjawab. "Itu aku, aku memang sudah kotor mas tapi bukan berarti kamu bisa merendahkan harga diriku seperti ini, aku kecewa sama kamu mas."
Akbar pun seperti tersadar jika apa yang dia ucapkan dan dipahami itu salah. "Maaf Gis, aku bingung, aku tahu bagaimana lagi."
"Ngga ada yang perlu kamu lakukan lagi mas, karena apa yang kamu lakukan tadi sudah perbaiki pandanganku padamu, kamu sudah berkali-kali terlukaku." Jawab Gista.
"Apa terlalu sakit Gis." Tanya Akbar membuat Gista menangis. "Apa yang harus kita akhiri rasa sakit ini."
"Kamu yang engawali ada cinta ini mas, kamu pun yang mengawali ada luka ini, dan akan aku kelola kamu yang akan mengakhirinya." Jawab Gista dengan tegas.
"Kenapa kamu harus salah paham tentang Gis, aku ngga ada yang bisa aku hanya ..." Belum selesai Akbar menjelaskan Gista langsung menjawabnya.
“Hentikan mas semakin kamu bilang dan hentikan wanita yang sudah rusak masa depan yang sudah aku rancang sudah aku impikan, namun sekarang sudah hancur, hatiku makin sakit mas dan apa yang terjadi itu salahmu mas aja kamu aja kamu ngga menghianatiku semua ini ngga akan terjadi dan Kamu harus bertanggung jawab akan semua yang terjadi dalam hidupku, hanya kamu yang harus bertanggung jawab. ” Teriak Gista dan dia langsung menyambar kunci rumah yang tergeletak di meja, dia membuka kunci rumah itu. Namun sebelum dia pergi, Gista kembali berucap. “Aku tak peduli siapa wanita yang kamu cintai dan siapa yang kamu harus menjadi masa depanmu itu, yang jelas kamu akan tetap menjadi suami Gista mas, jangan lupa besok acara pas baju pengantin kita, aku harap kamu ngga akan lupa lagi, Aku doakan kekasihmu itu akan pulih setelah kamu bawa dia berobat ke Singapura. ” Gista keluar dengan berlinang air mata dan membanting pintunya.
"Kenapa kamu begitu egois Gis, kamu tak pernah mau mendengarkan semua penjelasanku, jika suka ini terus kita selamanya akan tersakiti Gis." Ucap Akbar setelah kepergian Gista.
***
Setelah kejadian di rumah Akbar, mereka berdua mencoba membahas keseharian mereka seperti biasa tanpa harus mengundang kecurigaan pada orang lain dan orang tua mereka. Walau di beakang meraka tak pernah ada pembicaraan lain, mereka hanya akan mengatakan hal penting saja. Dan saat ini yang tahu masalah Akbar dan Gista hanya Ciko dan Fina yang tahu, sahabat Gista yang lain pun tahunya hubungan mereka baik-baik saja. Akbar pun diterima oleh Ciko untuk mencari tahu siapa yang sudah menjebak Gista, belum diterima sampai saat ini masiih nihil tak ada titik terang.
Dan akhirnya hari penting mereka pun tiba, yaitu hari pernikahan yang penuh dengan kesedihan bagi sang pengantin namun kebahagian untuk semua orang. Gista terus saja menangis dan bengong saat dia sedang diriasu.
"Sayang." Panggil sang mama membuat Gista segera melihat air mata.
"Mama." Sahutnya dan mengulas senyum pada sang mama.
"Apa Gista bahagia." Pertanyaan mama Gista membuat hati Gista terasa perih karena pertanyaan itu memang sedang berkecamuk di benak Gista. Namun dia tak mungkin mengatakan itu memang sakit dengan yang terjadi di dalam ini.
"Kenapa mama bertanya begitu, jelas dong Gista bahagia, mama kan tahu bagaimana Gista mengejar cinta mas Akbar." Dustanya dan mamanya memeluknya.
“Mama seneng ngliat Gista bahagia sayang, dan Gista bisa mendapatkan cinta yang Gista harapakan, mama akan terus mendoakan kebahagiaan Gista dan Akbar nak. Kenapa mama jadi terharu begini ngliat Gista mau menikah ya. ” Ungkap sang mama yang melihatku mulai berkaca-kaca, Gista pun memilihnya.
"Ma makasih udah selalu buat Gista dan jadi mama yang terbaik buat Gista." Balas Gista. Belum semua berakhir saat suara sahabat-sahabat Gista sudah menggema seluruh ruangan.
"GISTA." Teriak para sahabat Gista yang terlihat bahagia akan menikah Gista, namun tidak dengan Fina senyumnya terlihat senang karena dia tahu kebahagiaan yang bukan teman senangnya yang merasakan luka di awal pernikahannya itu.
"Ya ampu kamu cantik banget sih." Puji Atikah
“Ya iyalah cantik namanya juga calon pengantin.” Ledek yang lain dan Gista hanya bisa mengulas senyum. Mereka semua mengambil foto bersama dengan Gista untuk diabadikan.
Namun semua yang sedang sibuk merapikan mereka, Fina pergi Gista yang tersenyum bahagia melihat temannya yang masih asyik bercanda.
"Gis." Gista pun memungkinkan diizinkan pada Fina, namun membalik apa yang coba dia tahan tak bisa lagi.
"Fina." Ucap Gista yang langsung menangis dalam pelukan Fina.
"Apa kamu yakin akan melanjutkannya." Tanya Fina dan dibalas anggukan lemah oleh Gista. "Aku takut kamu akan jauh lebih sakit dari pada sekarang Gis."
“Aku Cuma butuh kamu buat dukung aku, aku yakin aku bisa melewatinya. Dan aku berjanji aku akan mengakhirinya jika aku udah ngga sanggup lagi Fin. ” Jawabnya membuat Fina pasrah akan menjawab Gista.
Sementara itu, sudah ada Akbar yang siap menerima ijab qobul, semua hanya menunggu menunggu Gista. Dan tak lama kemudian Gista pun turun dengan keanggunan dan kecantikannya menggunakan kebaya membuat Akbar dan para tamu terpesona memesona.
Ciko yang akan menjadi saksi pernikahannya itu menyenggOL Akbar. " Batang …. Bar lho yakin mau ngelanjutin ini semua. ” Tanyanya.
"Gue yakin kok ko." Jawabnya.
"Maksudnya jika lho ngga yakin gue bisa kok gantiin posisi lho sekarang." Ucapan Ciko membuat Akbar geram karena disaat ini Ciko masih bisa bercanda.
"Gila lho." Akbar langsung menjitak kepala Ciko.
Akbar pun sudah siap tangan papa Gista untuk melafalkan ijab qobul dan menjadikan Gista halal memerlukan. Namun sebelum itu, Akbar dan Gista bertemu sebagai mereka sedang saling berucap.
“Mungkin setelah pernikahan ini kamu akan jauh lebih sakit Gis, apa kamu masih akan melanjutkannya setelah kamu menjadi milikku aku tak akan pernah melepaskannya walau apapun yang akan terjadi diperlukan” Batin Akbar
"Aku yakin akan keputusanku mas, aku akan tetap melanjutkan takdirku ini, dan aku akan mengatakan padamu jika aku tidak mau sanggup lagi berada didekatmu mas," Batin Gista
Kemudian mereka sama-sama menunduk dan menghela nafas.
Bismillahirohmanirohim
"Saudara Muhammad Akbar Alfarizi Bin Arya Alfarizi Saya nikahkan dan saya kawinkan dengan Anindya Gista Saputri Binti Arjuna Saputra dengan maskawinnya terdiri dari uang dua juta dolar dua puluh lima ribu rupiah dan emas dua puluh lima gram dibayar tunai."
“Saya terima nikah dan kawinnya Anindya Gista Saputri Binti Arjuna Saputra dengan maskawinnya terdiri dari uang dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah dan emas dua puluh lima gram dibayar tunai.
Sudah terucaplah lafaz ijab qobul dari Akbar yang menjadikan Gista makmum dibutuhkan.