6 IKD

2023 Words
Malam disetujui, saat makan malam orang tua Gista heran dengan sikap Gista yang terlihat berbeda setelah kepulangannya tadi pagi. Mereka juga bingung Akbar tak pulang malam ini padahal setahu papah Gista hari ini Akbar sift pagi dan tak ada jadwal operasi lagi. “Sayang, kenapa sih mama perhatiin semenjak kamu pulang tadi pagi kamu lebih banyak diem, ada masalah apa, dan tadi kata bibi dia denger kamu berantem sama Akbar. Coba kasih tahu kita siapa tahu mama atau papa bisa membantu. " Tanya sang mama yang melihat Gista masih dengan wajah sendunya. "Ngga ada masalah apa-apa kok ma, biasanya mas Akbar ngomelin Gista karena ngga ngabarin semalem dia khawatir tau Gista ngga pulang." Ucap Gista yang memperbaiki masalah dari orang tuanya, dia tak ingin membuat masalah semakin buruk lagi. “Owh syukurlah jika gitu mama ngga mau ngliat kalian berdua kenapa-napa, memang sejak kita melihat kamu belum pulang Akbar terlihat sangat khawatir dan nyari kamu kemanapun. Memangnya kamu pergi kemana sih Gis. ” Pertanyaan mama membuat Gista menjatuhkan sendoknya karena terkejut saat bingung mau menjawab apa. Belum Gista menjawab pertanyaan mamanya, dia terselamatkan akan kepulangan Akbar. "Assallamualaikum." Salam Akbar. "Waalaikumsalam." Jawab mama dan papanya. "Kok baru pulang sih bar." Tanya sang mama "Iya ma tadi ada pertemuan buat pembangunan kantor Akbar, kalau gitu Akbar masuk ke kamar dulu ya ma." Jawab Akbar dan berlenggang pergi tanpa memandang dan menyapa Gista. Gista sendiri pun sama dengan Akbar dia terlihat acuh dengan datang Akbar. Sampai mama dan papanya kembali saling melihat melihat tingkah kedua anak mereka itu. "Namanya orang mau menikah pasti ada percobaan Gis, papa sama mama ngga tahu masalah apa yang sedang coba kalian sembunyikan dari kita tapi kita berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik-baik tanpa harus berdiam-diaman seperti ini ,." Ucap papa mencoba membuka pada Gista, namun Gista malah membalas malah berpamitan naik ke kamar. "Gista lelah ma, Gista naik ke kamar dulu ya ma." Pamitnya "Sebenarnya ada apa sih sama saja mereka berdua." Tanya sang mama yang penasaran "Nanti papa coba tanyakan sama Akbar siapa tahu dia mau buka, kita berdoa aja ma ngga ada apa-apa." Akbar pov Sebenarnya aku malas untuk pulang hari ini, tapi aku ingin pulang rasa curiga pada ayah dan mama karena aku pulang. Akhirnya kuputuskan untuk kembali. Sampai dirumah kulihat semua sedang makan malam, dan kudengar mama bertanya pada Gista, dalam benakku bertanya-tanya apa iya Gista akan mengatakan yang sebenarnya pada papa dan mama, namun semua itu mengambil tindakan dan mencari tahu bagaimana caranya membuat permintaan mama teralihkan. Mungkin papa mama sudh mulai curiga jika melihat sikap kita berdua, apalag Gista yang tak suka biasanya. Karena biasanya dia akan sangat menyambut saya pulang dan langsung bergelayut, tetapi tidak dengan hari ini, kita berdua saling bertukar. Aku punmasih tak menerima apa yang kulihat dan disetujui yang Gista diberikan pagi, semua itu membuat aku benar-benar terluka. Saat aku sudah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi aku dikejutkan dengan keberadaan papa yang sudah duduk dipinggir ranjangku. "Pa." Ucapku yang masih hanya menggunakan handuk untuk sebagian besar tubuhku. Aku pun langsung menuju lemari untuk mengambil pakaianku. "Tumben papa kemari." Tanyaku "Memangnya ngga boleh kalau papa mampir ke kamar anak laki-laki papa sebelum dia nanti jadi pengantin." Jawabnya membuatku mengulas sedikit senyum karena gurauannya itu. "Ya boleh dong pa, Akbar heran aja karena papa kan jarang banget masuk ke kamar Akbar, biasanya kita ngobrolnya juga di bawah." Balasku yang duduk di sofa samping tempat tidur. "Papa seneng ngliat kamu terlihat sangat gigih dalam merintis karirmu bar, kamu bukan hanya seorang dokter tetapi juga seorang pengusaha." Ucap papa. “Usahanya juga masih berhubungan dengan dunia kedokteran kok pa.” Balasnku. "Ya itu namanya kamu sudah tahu tentang masa depanmu di usia yang masih muda sekarang." "Tapi masih jauh dong sama papa yang sepak terjangnya sudah sangat jauh dariku yang baru memulai semuanya pa, Akbar meminta doanya aja pa." Balasku. "Pasti papa akan melakukan yang terbaik buat kamu bar, oh ya gimana sama-sama ngobrol kamu semua udah sama selesaikan." Pertanyaan papa membuatku berfikir pasti ada maksud lain dari perkataannya. Karena papa bisa bertanya itu semua pada mama yang jauh lebih tahu dengan persiapan itu semua. Akan kuikuti alur dari pertanyaan papa ini "Alhamdulillah pa keliatannya sih udah hampir beres, Akbar sendiri pun kurang tahu sama sekali mama sama Gista yang ngurus, Akbar juga malas buat ngurusin seperti itu ribet pa, kan cewek lebih paham dan lebih detail ngurusnya." Jawabku. "Tapi kamu punga ngga boleh lepas tangan juga bar, pasti Gista juga bakalan seneng kalau kamu luangin waktumu sedikit untuk ikut danil akan semua itu." Balas sang papa, aku hanya mengangguk. "Apa ada kamu sama Gista sedang ada masalah bar." Benar dugaanku setelah mendengar pertanyaan papa ini, kucoba menarik nafasdan melepaskannya perlahan. "Apa Gista, cerita sama papa dan mama." Karena aku takut salau ucap, dan papa hanya menggeleng. "Dia Cuma bilang kamu marah ke dia karena ngga ngabarin tadi malam dan ngga pulang." Jawab papa "Akbar memang marah dia, tapi Akbar marah sekali karena Akbar khwatir takut terjadi sesuatu sama dia, dan Gista juga marah ke Akbar karena Akbar ngga nepatin janji saat mau pas baju kemarin." Kataku walau semuanya bukan sesuatu tentang masalah yang aku dan dia alami. "Kamu kan tahu Gista bar, dia belum terlalu dewasa dan bertindak semaunya, tapi sebenarnya dia anak yang baik walau ngga semua orang bisa melihat keunggulannya karena sifatnya yang memang manja dan selalu mau menang sendiri, kamu harus jauh-lebih suka menunggu di dalam Gista." Aku hanya mengangguk. "Insyaallah pa, Dan papa sama mama jangan berlebihan apa yang terjad pada kita berdua, Akbar akan berhasil menyelesaikannya kok." Jawabku. "Ya sudah pasti kamu lelah papa ngga mau ganggu waktu istirahat kamu, kalau gitu papa keluar dulu ya." Pamitnya Aku memang harus menyelesaikan semua masalah yang terjadi ini karena masa depanku tergantung dengan keputusan yang akan aku dan Gista ambil keputusan. *** Keesokan harinya Akbar melihat mobil Gista yang sudah melaju terlebih dahulu. Bisa jadi mereka berdua sama-sama masuk pagi Gista pasti akan lebih dulu menunggu Akbar agar mereka bisa pergi bersama. Namun mobil Akbar tetap melaju dibelakang mobil Gista, sampai dirumah sakitpun mereka berjalan depan membuat pandangan orang-orang dirumah sakit terkejut karena mereka terlihat seperti orang-orang yang suka kekasih. Akbar yang tak ingin ada yang gosip yang tak ada di antara mereka pun mencoba berjalan mensejajarkan miliknya dengan Gista, dan itu membuat Gista terkejut saat jari jemari Akbar ia taukan pada jari Gista. "Apa apaan sih kamu mas." Tanya Gista yang mencoba melepaskan, dengan hati-hati tanpa mengundang kecurigaan pada orang yang diundang. "Aku ngga mau ada gosip yang ngga-ngga tentang aku, karena aku malas dengernya." Jawabnya yang masih tetap menggandeng Gista sambil melewati koridor rumah sakit. "Pintar kamu ya berakting mas." Sindir Gista "Kamu yang mengajariku untuk melakukan semua ini." Balasnya sambil mendekatkan pertemuan pada telinga Gista. Setelah itu mereka pun berpisah karena, Arah kamar mereka sudah berbeda. Gista masih berdiri ditempatnya sambil memandang kembali Akbar yang semakin jauh darinya, dan tanpa terasa air mata Gista pu jatuh. "GISTA." Panggil Fina yang berlari kearah Gista, sedangkan Gista yang ingin tahu Fina langsung menghemat air pandangan, ia tak ingin mengundang kecuriagaan pada Fina. "Ya ampun Gis kamu kemana aja sih, aku khawatir banget tahu ngga sama kamu." "Aku aik-baik aja sirip, lebay banget kamu." Jawab Gista dengan gaya menyebalkan. "Aku serius Gis, kamu tahu ngga kemarin dokter Akbar khawatir banget sama kamu dia sampai nyari kamu kemana aja dan nyuruh aku bantuin dia nyari kamu." Ucapan Fina membuat Gista langsung penasaran dengan apa yang Akbar lakukan kemarin. "Namanya juga sama tunangan ya jelas khawatir dong Fin." Balas Gista dengan santai. "Iya sih, tapi sekarang aku suka dia kamu datang kemari dia langsung ketempat cctv buat nyari kamu kamu, emang kamu semalem kemana sih, kita juga ngga ada yang bisa ngubungin kamu." Pertanyaan Fina seperti membuka luka yang sedang coba ia tutupi akan terjadi menjijikan yang dialaminya semalam. Gista, tak sekuat yang ia bayangkan. Dia langsung memeluk Fina dan menumpahkan air mata di sana. Fina yang melihat kerapuhan yang terjadi pada Gista pun tak perlu bertanya sebelumnya, dia langsung meminta Gista ketempat mana hanya akan ada mereka yang lain yaitu diatap rumah sakit, itu memang menjadi tempat favorit mereka berddua untuk membuang rasa lelah. "Kamu bisa tumpahin semuanya di sini Gis, Cuma aku dan Allah yang akan mendengarnya." Ucap Fina Bukannya tangisannya karena semakin kencang, Fina yang tidak tahu apa yang sedang Gista alami pun hanya memerlukan kasihan karena memerlukan ini terlebih dahulu dia melihat Gista serapuh ini. Hanya sebesar masalah yang sedang Gista alami dia akan menangis seperti ini. "Semuanya hancur Fin ..... semuanya udah berakhir." Ucap Gista masih dengan kondisi menangis. "Sebenarnya apa yang udah terjadi Gis, kenapa kamu serapuh ini." Tanya Fina. "Hidupku, hubunganku, masa depanku semuanya Fin." Tubuh Gista pun luruh. Fina langsung merengkuhnya ke dalam dekapannya. Akhirnya setelah dirasa cukup tenang Gista menceritakan apa yang terjadi dan dialami pada kemarin. Awal yang ia lihat dan dengar apa yang Akbar dan Kinan meminta agar membuatnya merasa terhianati karena Akbar mengatakan kata sayang pada wanita lain. Sampai kejadian buruk yang ia alami itu yang Gista tahu itu sudah bukan perawan lagi. Karena menerima Fina adalah sahabat yang sangat ia percaya dan apa pun yang terjadi pada dirinya ia yakin Fina tidak akan membahas atau membahas tentang disponsori tanpa persetujuan dari Gista bahkan pada sahabat Gista yang lain. Fina senang kasihan mendengar apa yang terjadi pada Gista ia tak percaya dalam waktu satu hari bisa mengubah kebahagiaan menjadi sebuah bencana atau masalah besar. "Ya Allah Gis, aku ngga tahu teryata sebesar ini masalah yang kamu hadapi, harusnya kemarin aku ngga biarin kamu lagi aku emang ngga becus jadi sahabat kamu." Fina membantah dirinya sendiri karena menolak Gista mengatasi kesedihan ini sendiri, harusnya ia mempertahankan kekista Gista walau Gista menolaknya, dan semua itu akan berakhir semenyakitkan ini. "Kamu ngga salah kok, ini semua memang kecerobohanku aku nyesel udah minum dan hilang akal kemarin sampai masuk ketempat haram itu." Sesalnya. "Apa kamu tahu orangnya Gis, pasti ini jebakan Gis kalau ngga mana mungkin doktter Akbar isa tahu pasti ada orang yang mau ngancurin pernikahan kamu sama dia." Tebak Fina membuat Gista kembali berfikir, karena ucapan Fina mungkin ada benarnya. “Aku udah cari orangnya Sirip tapi aku punga tahu siapa dia, aku udah tanya pegawai hotel itu sampai aku liat cctvnya aku tapi ngga ada tanda-tanda apapun. Mungkin benar aku udah dijebak tapi semua itu sudah berakhir Fin karena hati mas Akbar memang bukan milikku tapi milik wanita itu. ” Ucap Gista “Apa kamu sudah tanya langsung ke dokter Akbar Gis.” Tanya Fina "Buat apa aku tanya lagi ke dia, aku udah tahu dan denger sendiri. Fin, aku jauh lebih percaya dengan apa yang aku lihat dan aku denger dari saat mendengarkan penjelasan dia yang bisa dipahami." Jawab Gista dengan memegang amarah. “Aku denger kabar kalau perempuan itu, maksudku Kinan dia pindah ke Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dan orang yang melepaskannya .... " Ucapan Fina pun dipindahkan. "Tanpa kamu, kamu tahu, aku tahu orang yang kamu maksudkan, Fin." Jawab Gista dengan kesal. “Maaf, aku harus membuat kamu tambah marah karena aku, aku pingin hubungan kamu dan dokter Akbar membaik. Karena bagiku inilah akhirnya kamu bisa mengambil kembali Gis. ” Saran Fina "Aku ngga akan pernah mengemis cita-cita lagi, cukup satu kali aku merasakan sakit karena dihianati seperti ini." Balas Gista sambil mengepalkan jari jemarinya dengan raut wajah penuh dengan kebencian. "Terus pernikahan kalian kan segera lagi Gis, apa kamu bakalan membatalkan apa hubungan kalian akan berakhir seperti ini." Tanya Fina "Hubunganku dengannnya memang sudah berakhir Fin, tapi aku ngga akan pernah memulai pernikahanku pun berakhir." Jawab Gista dengan tegas. "Maksud kamu." Tanya Fina yang tak paham dengan perkataan Gista. “Aku ngga akan senang mereka bahagia, aku Aki, mas Akbar pun harus merasakan itu juga dengan hidup bersama orang yang tak pernah ia cintai. Dan aku ngga akan mempermalukan diriku sendiri dengan membatalkan pernikahan yang sudah diketahui orang lain. Tambahan aku ngga mau lupakan papa dan mamaku Fin. ” Jawabnya. “Tapi Gis kamu akan tersakiti jika kamu menyetujui hidup seperti itu Gis. Tolong fikirkan lagi. Gis kamu akan mengambil jika kamu punya niatan Aku sahabat kamu Gis aku ingin ngliat kamu bahagia. ” Fina langsung memeluk Gista. “Aku tahu, kalau nanti aku harus semua yang pasti akan tersakiti tapi aku akan jauh lebih sakit melihat mas Akbar senang bersama wanita itu. Dia milik aku dan sampai kapanpun dia akan menjadi milikku. ” Mendengar penuturan Gista barusan Fina tahu sahabatnya ini sudah sangat putus asa. Karena Fina tahu ini pertama kalinya Gista mendapatkan tantangan dalam kehidupannya, karena selama ini kehidupan Gista terlalu sempurna untuk dibayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD