Paginya Gista terbangun sambil memegangi yang terasa begitu mendorong. Apalagi ditambah rasa bingungnya saat dia tahu di mana dia berada saat ini. Keterkejutannya ditambah saat diringa tak mengenakan pakaian atasanya.
"Kenapa aku bisa ada di sini, aduh kenapa aku ngga inget apa sih semalem, sebenarnya apa yang terjadi padku." Tanyanya padaa sendiri tetap sambil memegangi, menunggu dia bisa mengingat semalem. Dapatkan segera dari tempat tidur dan simpan sendiri.
Setelah selesai dia langsung keluar dari kamar hotel itu. Saat sampai dilobi hotel dia berinisiatif bertanya pada bagian resepsionis, pasti mereka tahu siapa yang meminta hotel ini, karena seingat dia terakhir kali dia bersama dengan Farhan.
"Permisi mba mau tanya semalem siapa ya yang membawaku kesini, karena malam tadi aku lagi pakai jadi ngga inget." Tanyanya.
"Oh semalam memang mba kesini dalam tinggal sekarang, dan mba datang dengan calon suami mba." Jawaban resepsionis itu membuat Gista mengerutkan dahinya.
"Calon suami." Gista langsung menunjukkan foto Akbar. "Apa ini orangnya." Penerimaan itu langsung menggelengkan, Semakin banyak penasaran dengan orang yang diperoleh. Kemudian Gista kembali menampilkan foto Farhan. "Atau ini orangnya mba." Resepsionis itu kembali menggeleng.
"Kalau bukan mas Akbar dan Farhan siapa dia kenapa bisa membawaku ke hotel." Batin Gista yang kebingunagn.
Gista kembali meminta atas siapa hotel ini memesan, namun lagi-lagi dia tak menemukan titik terang karena kamar ini meminta atas namanya. Gista mencari tahu semua ini karena dia khawatir ada orang yang sudah menyalahgunakan keadaannya saat dia menghabiskan semalam.
Kembali ke rumah dalam keadaan-itu karena pasti orang tuanya akan memarahi atau mengintrogasinya karena pulang dan tak memberi kabar. Dan dia pun sebenarnya belum siap untuk bertemu dengan Akbar, rasa sakitnya masih sangat terasa jika mengingat kejadian kemarin yang dia lihat.
"Assallamualaikum." Salamnya Membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam." Bals mamahnya yang dari semula tak bisa tidur karena menunggu kabar dari putrinya itu. "Ya Allah Gista." Mamahnya langsung memeluk putrinya itu.
PLAKKK
Gista terkejut saat baru melepaskan pelukan dari tiba tiba-tiba dia mendapat tamparan dari papahnya.
"Pah." Mamahnya pun ikut terkejut melihat keputusan itu manampar putrinya.
"Darimana kamu semalam, bisakah bisa pulang semaleman tanpa kabar dan ngga bisa dihubungi." Papah Gista terlalu melakukan transisi karena ini pertama kalinya dilakukan dengan melakukan hal seperti ini.
“Maafin Gista pah, ponsel Gista mati. Semalam Gista .... " Dia berhenti mengucapkannya dia tak mungkin mengatakan kejadian yang menimpanya semalam.
"Udah dong pah jangan marah-marah begini, orang anak baru pulang bersyukur malah dimarahi, sayang minta kamu istirahat dulu ya pasti kamu cae banget." Gista terselamatkan leh sang mamah, kemudian dia langsung menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh dan memulihkan yang begitu lelah.
***
Sementara dirumah sakit Akbar masih tak bisa fokus, awalnya dia tak mau pergi karena mau mencari Gista lagi tapi hari ini ada jadwal operasi yang tak bisa dibatalkan. Saat operasi pun semua heran melihat Akbar yang melakukan kesalahan diumumkan saat operasi karena fikirannya yang kemana-mana.
Masalah kesalah pahaman dengan Gista belum terselesaikan, ada lagi masalah saat dia menerima kiriman gambar dari nomor yang tidak dikenal. Dan hebat tak percayanya Akbar melihat foto-fotob Gista sedang tidur dan melakukan hubungan terlarang bersama laki-laki yang tak dikenal. Akbar benar-benar mengubah melihat itu ditambah lagi pesan dari nomer tersebut.
Maaf bro sebelum lho coba calon isteri lho iniudah gue coba dulu. Benar tenyata masih asli, masih tersegel. Dia benar-benar wanita yang mempesona. Gue harap lho ngga akan menyesal dengan pilihan lho ini untuk menikahi wanita yang sudah menjadi milikku.
“Akhhhhhh… ..” Akbar langsung mengobrak-abrik mejanya. Dia mencoba menghubung nomer ini namun gagal ditransferkan, nomornya sudah tak aktif lagi.
Ciko yang masuk keruangan Akbar terkejut melihat keadaan ruangan Akbar yang sudah gagal.
"Ya Allah bar, lho kenapa sih ada apa, kenapa lho rusak gini, apa ini tentang Gista apa dia belum ketemu?" Tanya Ciko dan hanya dibalas gelengan oleh Akbar. "Sabar bar pasti Gista baik-baik aja." Ciko mencoba menarik sahabatnya itu. Akbar tak perlu dibaca apa yang perlu sangat logis, karena sama saja ia membuka aib calon isterinya sendiri Sementara Ciko itu adalah sahabatnya.
Saat emosinya belum reda tiba-tiba ada telfon dari papahnya.
"Hallo assalamualaikum pah."
“Waalaikumsalam. ………. ”
"Alhamdulillah, ok pah Akbar lagsung pulang." Akbar langsung melepaskan jubbah dokternya dan dia langsung mengambil kunci mobil untuk kembali, karena sang papah mengabari karena Gista telah kembali ke rumah.
"Mau kemana bar." Tanya Ciko.
"Gista udah balik ko, tolong lho suruh OB buat beresin ruangan gue ya." Pintanya sebelum keluar dari ruangan.
"Ok, deh moga dia baik-baik aja." Balas Ciko dan dibalas anggukan oleh Akbar.
Sekitar tiga puluh menit Akbar sudah sampai dirumah. Dia langsung berlari untukmenemui Gista.
"Mah dimana Gist amah." Tanya Akbar dengan wajah yang sulit diartikan lagi karena perasaanya yang campur aduk jadi satu.
"Dia ada dikamar bar, kamu temuin dia dulu ya karena mamah sama papah mesti keluar dulu." Akbarpun mengangguk dan langsung menuju lantai dua di mana kamar Gista berada.
“Gis…. Gista. ”Panggil Akbar sambil mengetuk pintu kamar Gista namun taka da sahutan dari dalam, karena dia tak sabar dia langsung masuk ke dalam dan untungnya pintu kamar Gista tak dipindahkan. Akbar tak menemukan Gista di dalamnya, tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka menampakan Gista yang sedang mengeringkan rambutnya. Namun Gista mengambil Akbar yang berdiri didekat ranjangnya, Akbar yang dapat diacuhkan pun langsung menerima Gista.
"Darimana aja kamu semalam kenapa ngga ngabarin aku." Tanya Akbar namun masih diacuhkan oleh Gista, dia tetap sibuk dengan menyisir rambutnya, sikap Gista membuat Akbar geram langsung menarik tangan Gista dan membuatnya saling berhubungan berhadapan. "Aku lagi bertanya kamu Gis, kemana aja kamu semalam kenapa ngga ngabarin kita" Bukannya memasang wajah, melainkan menolak Gista menampakkan wajah raut yang penuh dengan amarah. Gista langsung menarik lengannya dari cekalan Akbar.
"Aku mau kemana aja ngga ada urusannya sama kamu, aku udah besar aku bisa jaga diri aku sendiri." Jawabnya dan langsung menjauh dari Akbar.
“Apa kamu bilang ada urusannya sama aku, kamu inget aku ini siapa.” Tanya Akbar yang kesal karena jawaban Gista.
Gista langsung memulai pembicaraan Akbar sambil mendongakkan pindah dengan penuh keangkuhan. "Owh jelas aku inget aku ini siapa, aku ini calon isteri dokter Akbar yang bisa, sekarang aku balik tanya kamu kamu inget ngga kamu ini siapa." Tanyanya dengan penuh penekannan membuat Akbar paham kemana
Akbar menghela nafas sambil memejamkan mata mencoba meredakan amarahnya, karena dia tahu saat ini mereka berdua sedang-sama saja.
“Aku serius Gis, aku, papah dan mamah bener-bener khawatir semalam kamu ngga ada kabar, kalau memang ada masalah kita kan bisa bicarain baik-baik ngga seperti semalam utama pergi dan ngga ada kabar sama sekali, kalau begini pakai kamu tuh kaya anak kecil tahu ngga setiap ada masalah. ” Ungkap Akbar sedikit tenang.
“Kalau papah sama mamah khawatir Gista yakin, tapi apa iya mas Akbar khawatir sama Gista kenapa sekarang Gista meragu dengan kamu mas. Dan inget mas Akbar ngga ada hak mengatakan Gista seperti itu. ” Balasnya.
"Kamu ngga perlu basa-basi Gis, aku tahu mksud Arah pembicaraan kamu itu kemana, ini semua tentang Kinan kan, kamu marah ke aku karena Kinan kan, kemarin kamu liat aku sama Kinan iya kan." Tebak Akbar membuat Gista memalingkan pembicaraan yang sudah dikeluarkan air mata. "Aku bisa jelasin semuanya sama kamu apa yang kamu lihat kemarin itu semua salah paham Gis, itu ngga bener." Ucapnya.
“Kamu fikir aku ini anak kecil yang bisa-terusan bisa kamu bohongi mas, aku tuh tahu semuanya kamu memang laki-laki yang tidak bisa dihajar tega. Aku denger semuanya mas aku liat semuanya dan semua kamu bilang ngga bener, kamu pintar mas. Dengan mudahnya kamu bilang sayang ada wanita lain bahkan denganku calon isteri kamu tak pernah mau kamu bilang kalau kamu sayang sama aku mas, sebenarnya apa artinya aku dalam hidup kamu. ” Ucapnya sedikit lantang.
"Kamu itu salah paham, ngga semua yang kamu liat dan kamu denger itu bener Gis, kamu dengerin dulu penjelasan aku." Pinta Akbar namun tak dihiraukan oleh Gista.
"Aku lebih suka dengan apa yang aku lihat dan dengar, karena mulut kamu bisa saja melihat mas." Jawab Gista dengan tegas.
"Kalau begitu apa aku juga harus percaya dengan apa yang aku lihat, tanpa harus melihat penjelasan dari kamu." Pertanyaan Akbar membuat Gista tak mengerti, kemudian Akbar mengeluarkan ponselnya dari celananya dan mengembalikan apa yang sudah dikirim guna memperbaiki Gista. "Apa semua ini, apa bedanya kamu sama aku, kamu lebih parah sekarang aku tanya siapa yang menghianati siapa." Ucap Akbar sambil memegang emosinya.
Gista pun tak percaya dengan apa yang dia liat semua itu menampakkan foto dia bersama seseorang lelaki sedang tidur bersama dengan mesra bahkan ada video seperti dia sedang melakukan hubungan yang tak perlu dia lakukan. Itu semua membuat langsung luruh kelantai. "Darimana kamu dapetin semua ini mas." Tanya Gista dengan persetujuan yang gemetar. "Siapa mas, siapa yang mengirim ini." Teriak Gista.
"Ngga penting dari semua itu, kamu marah dengan apa yang kamu lihat dan kamu denger saat aku sedang berbicara dengan Kinan di rumah sakit terus sekarang aku mesti bagaimana melihat kamu tidur dan melakukan hubungan menjijikan dengan laki-laki lain." Teriak Akbar
PLAK !!! Gista langsung menampar Akbar
"Jaga mulut kamu mas, aku ngga serendah seperti kamu kamu masih punya harga diri, ngga mungkin aku ngelakuin hal itu pasti ada yang menjebak aku." Balas Gista.
“Owhh apa yang harus kupercayai dengan apa yang kamu katakan, aku ngga tahu mesti percaya dengan apa yang kamu lihat karena bisa saja mengerti. Kamu sudah mengecewakan kita semua untuk apa kamu pergi ke klub dan segera-mabukkan hah. Sementara kamu tahu itu semua ngga bener, kamu sudah setuju dengan papah sama mamah, kalau memang ada masalah ngga kamu harus lampiaskan ke hal seperti itu dan lihat sekarang hasilnyanya Gis. ” Ucap Akbar dengan log.
Gista hanya terus menangisi nasibnya yang, dia sekarang sudah menerima dirinya bukan seorang gadis baik-baik lagi. Tapi sebenarnya Gista semua yang ada di video itu tak benar dalam hati dia menyangkal semua itu. Dia kembali mendekati kearah Akbar.
“Apa kamu percaya aku melakukan itu semua, aku fikir kamu lebih tahu aku, tapi lebih tepatnya aku salah. Sekarang apa bedanya aku sama kamu, tubuhku mungkin saja sudah kotor dan dijamah laki-laki lain, sekarang kamu hatimu pun kotor mas, kamu menerima wanita lain disaat kamu sudah punya calon isteri kita itu sama-sama kotor. ” Gista melawan ucapan Akbar, Akbar hamir hanya mengangkat melawan untuk menampar Gista manun langsung ia urungkan karena tersadar "Kenapa mas kenapa ngga jadi kamu mau tampar aku, tampar mas tampar." Jawabnya. Akbar yang tak tahan pun keluar dari kamar Gista namun ia urungkan saat menndengar kata-kata yang Gista ucapkan.
"Jangan harap kamu bisa bahagia bersama dengan wanita itu mas, aku ngga akan membiarkan itu semua terjadi." Ucap Gista.
"Apa maksud kamu." Tanya Akbar.
“Pernikahan kita akan tetap berjalan, dan aku akan pergi kamu bersama dengan wanita itu. Aku akan membuat kamu hidup tersiksa bersamaku, sama seperti kamu sudah menyiksa perasaanku seperti ini. " Jawab Gista dengan nada penuh persetujuan dan ancaman.
"Kamu fikir aku takut sama kamu, sekarang aku yang balik tanya ke kamu apa ada laki-laki yang mau menikahi kamu setelah mereka tahu kamu sudah tidak suci lagi." Ucapan Akbar membuat log Gista membuncah, namun tetap ia tahan dengan menampakkan senyuman liciknya.
"Dan aku akan menjadi laki-laki itu kamu, kamu Muhammad Akbar Alfarizi karena apa yang sudah menjadi milik Gista tak akan pernah bisa dimiliki orang lain, termasuk kamu." Balas Gista.
“Jangan pernah sombong dulu kamu Gis, Kita buktikan siapa yang akan membebaskan aku atau kamu, dan aku akan menikah ini tak akan pernah gagal. Karena aku pun tak akan membiarkan apa yang menjadi milikku menjadi milik orang lain. ” Balas Akbar yang langsung keluar dari kamar Gista dengan membanting pintu kamar Gista.
Sepeninggalan Akbar ternyata Gista meraung-raung sendiri dia merasa dirinya benar-benar kotor. Dia sudah tak suci lagi, apa yang dia jaga selama ini benar-benar hancur, dia, ditolak dengan Akbar. Pernikahan yang awalnya ia impikan menjadi gerbang awal kebahagiannya bersama laki-laki yang ia cintai harus kandas dan hancur sebelum terjadi, dan rasa cinta itu sekarang ditutup oleh amarah karena penghianatan. Penyesalan pun Gista rasakan karena kebodohannya menjadi tempat terlarang sehingga membuat dirinya merutuki sendiri kebodohannya itu.