Pengujian Kekuatan Tempur

1136 Words
“Tok...tok...tok! Buka buruan woi!” Terdengar suara June dari pintu. “Tuh kan sudah gue duga pasti dia langsung datang kesini.” “Sudah Vin, bukain aja siapa tahu dia butuh sesuatu.” “Pastilah dia butuh sesuatu Jer, tapi apa yang dia butuhkan pasti gak ada disini dong.” “Tau aja lo.” Maka Marvin dengan rasa enggan pun menghampiri pintu dan membukanya. “Napa June?” “Pakai tanya lagi? Lo berdua makan apa? Bagi dong.” June langsung menerobos masuk ke dalam kamar para lelaki itu untuk melihat makanan mereka. “Tuh ambil aja kalau mau.” Marvin duduk di karpet dengan lemas. “Iyaa kok sama aja sih makanannya.” June pun mengikuti Marvin yang duduk di lantai tersebut. “Gue tau keadaannya emang lagi berat gaes. Tapi kita harus bertahan sampai semuanya berlalu dong. Ayolah bisa yok.” Maka mereka pun memaksakan diri untuk memakan apa yang diberikan oleh Milia. Keesokan harinya mereka dijemput oleh Jetro untuk melakukan latihan bersama dengan para peserta dari benteng Medallion lainnya. “Tuan - tuan dan nona, sebelum kalian mengikuti latihan ini. Kami akan melakukan pengujian apakah jenis kekuatan yang kalian miliki. Maka kalian akan diarahkan kepada pelatihan yang sesuai dengan jenisnya masing - masing.” Mereka bertiga disuruh meletakkan tangannya diatas berbagai elemen kekuatan yang ada di hadapannya.  Yang pertama kali melakukannya ada June dengan ragu - ragu, diantara semua benda yang digunakan untuk melakukan pengujian itu, ternyata sebuah harpa tua melayang dan terbang ke arahnya. Saat June menyentuhnya benda tersebut langsung mengeluarkan bunyi yang indah dengan cahaya berwarna biru menyebar ke penjuru ruangan itu. Orang - orang tersebut dan bersenandung mengikuti nada yang dimainkan oleh alat musik tersebut. Kebangkitan seorang Bride lebih dimuliakan dibanding banyak petarung manapun. Golongan yang termulia dan harus dilindungi karena perannya yang menjadi penentu hidup dan matinya suatu generasi. “Selamat Medallion June, sekarang kau sudah menjadi bagian dari golongan Bride. Mulai hari ini semua akan menghormatimu melebihi golongan manapun. Aku mohon jagalah martabat dan harga dirimu yang menopang kehidupan kami itu.” Milia memberikan hormat bahkan menundukkan badannya dengan perlahan. “Nah sekarang giliran anda tuan Marvin. Silahkan ulurkan tangan ke hadapan semua senjata suci tersebut.” Begitu Marvin mengangkat tangannya, maka dua buah belati terangkat dan mengeluarkan api yang menyambar apapun. Tapi api tersebut mengagetkan semua orang karena keganasannya yang sulit dikendalikan walau sudah berada di tangan Marvin.  Kedua belati itu menandakan kalau dia termasuk ke dalam golongan Warrior yang selalu berada pada barisan depan di setiap pertempuran. Perannya yang selalu dibutuhkan dalam keadaan apapun untuk mengalahkan semua musuh dari jarak jauh dan dekat karena memiliki ketahanan fisik yang dapat diandalkan saat bertarung. “Medallion Marvin, kau harus berhati - hati dengan kekuatan yang keluar dari senjata itu. Saat ini kau adalah seorang Warrior dengan kekuatan api. Namun sepertinya kekuatan itu belum bisa mengikuti kehendak jiwamu yang selalu berubah - ubah tersebut.” “Baiklah Milia, aku akan melakukan yang terbaik agar bisa mengembalikan kotaku menjadi damai lagi.” “Aku suka dengan semangat yang kau miliki Medallion Marvin.” Milia hanya memberi hormat dengan menundukkan kepalanya. Saat itu baru saja Hur dan kedua saudara yang menyambut mereka digerbang benteng datang untuk melihat hasil pengujian ketiga anak muda itu. “Horma, sepertinya kecurigaanmu tidak terbukti. Mereka malah anak muda dengan potensi besar yang kita butuhkan untuk mengalahkan para Dokoon itu.” “Baiklah kalau itu pemikiranmu Horsa, tapi tidak ada salahnya kita berhati - hati bukan?” “Kau ini masih saja keras kepala.” Kini saatnya Jeremy yang melakukan pengujian kekuatan untuk melihat potensi yang dimilikinya. “Silahkan tuan Jeremy.” “Baiklah Milia.” Jeremy mengangkat tangannya.  Setelah beberapa saat tidak ada satupun diantara semua senjata suci itu yang bereaksi dengan kehadirannya. “Apakah kalian semua sudah menaruh semuanya di dalam ruangan ini.” “Saya sudah memeriksa semuanya tuan Horsa. Tidak ada senjata yang tertinggal sama sekali.” “Kalau begitu coba kita lakukan sekali lagi. Jeremy, aku harap kau serius kali ini. Kau mengerti apa yang aku maksud bukan?” Hur berteriak kepada Jeremy. “Aku tidak mengerti apa maksudmu pak tua. Tapi aku akan melakukannya dengan cara yang berbeda.” Kali ini Jeremy mengulurkan kedua tangannya ke depan. Dan sama seperti tadi tidak ada satu senjata pun yang bereaksi. Orang - orang yang ada disitu mulai kecewa karena berarti Jeremy tidak memiliki potensi apapun untuk menjadi seorang Medallion. “Maaf aku terlambat.” Tiba - tiba terdengar suara Otora yang datang dari arah pintu masuk melesat dengan cepat. Secara serta merta semua senjata yang ada disitu pun terangkat dan memberi hormat kepada Otora. “Tuan Hur, apa maksudnya ini? Bukankah itu senjata milikmu?” Horsa terkejut. “Oh kau salah paham. Tadi aku hanya meminjamnya saja dari anak muda itu. Tongkat Otora memang adalah senjata yang ditakdirkan untuk menjadi milikku Jeremy sejak semula.” “Pantas saja tidak ada satupun senjata suci yang kami miliki bereaksi, tapi memang karena kami tidak memiliki senjata tongkat seorang raja seperti itu.” Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian Jeremy langsung menurunkan tongkat itu dan semua senjata yang disitu pun kembali ke posisi semula. “Kau kemana saja Otora?” “Salahkan Hur yang meninggalkan di ruangan terkunci. Aku beruntung ada seseorang yang membukanya tadi.” “Jer, gue gak nyangka kalau senjata itu ternyata bisa ngomong.” “Oh, mungkin kalian aja yang belum pernah dengar.” Jawab Jeremy. “Milia, jadi Jeremy termasuk ke dalam golongan apa?” Tanya June yang memandangi Otora. “Maaf tapi aku tidak pantas mengatakannya kalau tidak mendapat izin darinya. Bagaimana Medallion Jeremy?” “Kau tidak perlu sungkan Milia. Lakukan apa yang seharusnya.” Jeremy terlihat canggung karena diperlakukan spesial. “Dengan hormat aku mengumumkan kebangkitan seorang Medallion dari golongan King dengan kekuatan yang dapat melakukan apapun. Golongan King adalah golongan yang kedua paling langka setelah Pillar di dunia ini.” Akhirnya mereka semua mengetahui potensi yang dimiliki dan resmi menjadi seorang Medallion. Tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Medallion sejati, yaitu ritual kebangkitan kembali dengan menggunakan media elemen air suci dari palung laut terdalam. “Para Medallion yang baru saja bangkit kalian akan melewati air suci sebagai tanda suci selamanya.” Milia memandu mereka kepada sebuah kolam dengan air yang berwarna seperti permata karena begitu murni. Jeremy yang keluar dari kolam langsung jubahnya berubah menjadi ungu tua dengan pundaknya terukir gambar sayap berwarna keemasan. Sementara pada bagian depan tergambar tongkat kayu yang tadi dipegangnya. Kini senjata itu sudah menyatu dengan dirinya. June yang keluar dari kolam menggunakan jubah berwarna biru muda dengan ukiran berwarna emas berbentuk bunga pada bagian pundaknya. Pada bagian depannya tergambar harga yang dimilikinya. Marvin keluar dengan jubah berwarna merah menyala dengan kedua senjata belati tergambar pada kedua lengannya. Sementara pada bagian depannya bergambar kepala singa berambut api.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD