Pertemuan Membahas Strategi

1107 Words
Apabila mereka ingin menggunakan senjata itu cukup dengan menyentuhnya dengan kedua tangannya saja maka akan aktif dengan sendirinya. Mereka bertiga dituntun kepada golongannya masing - masing untuk belajar menggunakan kekuatannya masing - masing. Tapi untuk Jeremy diminta untuk mengikuti pertemuan dengan para petinggi di benteng tersebut untuk membicarakan sesuatu. “Pak tua, mengapa aku harus mengikuti pertemuan para orang tua ini?”  “Sudahlah nanti juga kedepannya kau akan terbiasa dengan pertemuan seperti ini.” Mereka berdua berjalan dituntun oleh Horsa dan Horma yang ada di depannya melalui sebuah lorong kecil pada sudut benteng tersebut. Terlihat sebuah pintu yang terbuat dari kayu dengan ukiran dua buah ikan yang saling bersinggungan. “Nah sekarang kita sudah sampai di ruangan tuan Henri.” Horsa membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan mereka masuk terlebih dahulu. Bagian dalam ruangan tersebut tidak seperti ruangan seorang yang penting. Tapi malah tampak seperti ruangan minum kopi biasa dengan sebuah meja kayu bundar di tengahnya. Tapi untungnya kursi yang ada disitu memiliki sandaran yang membuatnya terlihat lebih elegan. “Aku sudah menunggu kalian untuk pertemuan penting ini tuan - tuan.” Seorang dengan penampilan sebaya dengan Hur duduk di ujung ruangan tersebut memegang sebuah cangkir terbuat dari besi. Di dalam hatinya Jeremy berkata,” Siapa nih kok pake celana pendek dan baju pantai di dalam ruangan?” “Pasti kau adalah Jeremy yang sedang ramai dibicarakan oleh para Medallion hari ini.”  Jeremy hanya tersenyum karena tidak tahu harus menjawabnya dengan cara seperti apa. “Perkenalkan aku adalah Henri yang merupakan pemimpin benteng Galesia. Semoga kau betah berada di tempat ini. Kalau kau mau kau boleh saja menetap di tempat ini. Benarkan Hur?” “Jangan bercanda Henri. Kau mau merebut prajurit penting di daerahku ya?” “Tentu saja. Dengan begitu aku akan setingkat lebih kuat darimu.” “Coba lagi dalam seratus tahun lagi Henri. Mimpi terlalu besar pada saat ini.”  Kedua orang itu saling bertatapan dengan serius yang membuat ruangan itu kaku. “Hahahaha, kau memang paling bisa bercanda Henri.” “Sangat menyenangkan bisa mengganggu orang lain.” Jawab Henri. “Tidak pernah berubah dari terakhir kita bertemu.” Hur duduk di dekat Henri kemudian mengangkat gelas yang sudah berisi kopi tersebut.  Disusul dengan Jeremy yang duduk di sebelah kiri Hur sambil meletakkan tangan di atas meja yang ada di depannya tanpa mengambil gelas minuman. “Ada apa Jeremy? Apakah kau tidak suka minum ini? Padahal kopi adalah minuman yang sangat tepat untuk menenangkan ketegangan yang sedang kita hadapi saat ini.” Henri menyeruput gelasnya dengan nikmat. “Oh terima kasih tuan, tapi di tempatku kopi hitam bukanlah minuman yang digemari oleh orang seumuranku.” “Jeremy benar Henri, lagipula bukankah hanya orang tua seperti kita yang menyukai minuman seperti ini?” “Bagaimana kalau dengan dengan teh manis saja Jer?” Horsa tidak segan - segan mengambil wadah lainnya dan menuangkan pada gelas yang berbeda. “Baiklah.” Jeremy tidak bisa menolak dengan wajah Horsa yang terlihat memaksa tersebut. “Lalu bagaimana kalau sekarang kita langsung kepada topik pembicaraan saja. Jeremy, apakah kau dapat menonaktifkan mode tempur saat sedang berada di dalam ruangan terlebih dahulu.” “Maaf tuan Henri, kami belum memberitahukan kepadanya cara melakukan hal itu.” Horma menundukkan kepalanya. “Jeremy, untuk melakukan hal itu kau cukup menarik nafas panjang dan usahakan pikiranmu pada titik yang paling tenang. Dengan begitu mode tempur akan berganti pada mode biasa agar kau tidak terlalu memboroskan kekuatan jiwamu.” “Baiklah tuan Horma.” Dengan sekali mencobanya Jeremy langsung dapat menguasai teknik tersebut tanpa harus mengulangnya beberapa kali. Suasana tempat itu berubah menjadi lebih serius saat kedua pemimpin itu meletakkan gelasnya. “Jeremy, apakah kau mengetahui sesuatu yang telah terjadi pada kota tempatmu tinggal itu?” “Apa maksud pertanyaan anda tuan Henri?”  “Tuan Henri adalah orang dengan kemampuan deduksi terbaik diantara banyak Medallion dari golongan Judge di dunia ini.” “Golongan Judge? Aku tidak begitu mengerti semua golongan yang ada di dunia ini.” “Jeremy, Medallion memiliki tujuh golongan yang menjaga keseimbangan dunia dan saling melengkapi. King, Bride, Priest, Warrior, Pillar, Hunter, dan yang terakhir ada Judge, golongan yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang terjadi. Untuk mengaktifkannya para Judge menggunakan energi hidupnya untuk melihat kemasa depan.” Jeremy yang mendengar penjelasan tentang kemampuan Henri tersebut tidak dapat mengelak lagi. Tentu saja dengan kemampuan itu Henri belum tentu bisa melihat penyebab sesungguhnya dari masalah ini. “Tunggu dulu, mengapa tuan Henri sangat yakin kalau saya mengetahui penyebabnya? Apakah ada alasan tertentu. Bukankah kemampuan tersebut hanya dapat melihat masa depan, tapi yang terjadi pada kota itu berada pada masa yang telah berlalu.” “Kau memang cerdas untuk seorang King yang baru saja dibangkitkan. Tapi aku kemarin melihat kalau hari ini kau akan menjelaskan semuanya kepada kami yang ada disini. Masa depan adalah takdir mutlak yang tidak bisa diubah bukan?” “Tentu saja. Seorang Medallion memiliki keyakinan yang tinggi terhadap takdir itu sendiri.” “Bukan hanya Medallion, tapi semua yang menggunakan kekuatan dari dimensi lain memiliki keyakinan yang sama, bahkan seorang Dokoon sekalipun.” “Baiklah tuan Henri, aku sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Tapi Otora pernah berkata kepadaku tentang benda yang disebut sebagai elemen kegelapan yang ada di dunia ini.” “Apa? Elemen Kegelapan? Aku tidak pernah mendengar hal itu.” Wajah Horsa merengut atas apa yang baru didengarnya dari Jeremy. “Bagaimana Hur? Apakah aku harus memberitahu mereka?” “Mengapa kau malah bertanya kepadaku Henri? Bukankah kau adalah seorang Judge. Seharusnya kaulah orang yang paling mengetahui apa yang terbaik saat ini.” “Memangnya apa yang dimaksud sebagai elemen kegelapan itu tuan Henri?” Horsa menunjukkan wajah yang sangat penasaran dan mengharapkan jawaban dari pemimpinnya. “Apakah kau mengetahui air suci yang kita gunakan sebagai media untuk melakukan ritual kebangkitan bagi seorang Medallion baru?” “Ya aku mengetahui kalau itu adalah air suci yang hanya terdapat di benten Galesia saja.” “Kau benar. Penyebab benda tersebut hanya terdapat di benteng ini adalah karena air suci merupakan satu dari tujuh elemen suci yang harus dijaga oleh kita dari generasi ke generasi. Begitu pula dengan elemen suci lainnya yang terdapat di benteng.” “Baiklah aku mengerti tentang elemen suci. Tapi apa hubungannya dengan elemen kegelapan yang dikatakan oleh anak muda ini?” “Elemen suci bukanlah semata - mata tercipta tanpa tujuan apa - apa. Tapi diantara semua benda suci, tujuh benda tersebut adalah elemen utama yang pernah digunakan oleh nenek moyang kita untuk menyucikan bumi dari kekuatan jahat murni pada masa lalu. Nah kekuatan jahat murni tersebut pun berhasil dihentikan dengan cara memecahkannya menjadi tujuh bagian.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD