June Wanita Yang Keras Kepala

2064 Words
“Memang apa bedanya dilangit dan dibumi?” “Langit adalah zona yang biasa dipakai untuk berperang karena harena makhluk dengan kekuatan saja yang bisa mencapainya, sedangkan bumi tempat hidupnya manusia dan makhluk hidup lainnya. Aku tidak bisa membiarkan jatuhnya korban diantara manusia. Kita dipanggil untuk melindungi mereka.” “Tapi bukankah para Medallion itu sudah melapisi tempat itu dengan dimensi keempat?” “Teknik seperti itu hanya dapat menahan kekuatan pada tingkat rendah saja, tidak untuk pertarungan seperti tadi. Oleh karena itu aku terpaksa ikut campur sebelum penghalang itu hancur dan menciptakan bencana di dunia ini.” “Berarti pertarungan di atas sekolah itulah yang menyebabkan terjadi bencana gempa bumi,” gumam Jeremy. “Sepertinya temanmu ini sudah bangun.”  “Lepaskan aku!” Marvin berteriak dan meronta untuk melepaskan diri dari tangan Hur. “Tenang Vin! Orang jahat itu sudah pergi. Kita dalam perjalanan pulang kok.” Jeremy bermaksud menenangkan temannya yang sedang dalam keadaan kalut. “Jer, lo gak kenapa - kenapa? Trus June mana? June mana?” Marvin masih panik dan mengguncang tubuh Jeremy yang ada di hadapannya. “Ini lo gak lihat di ada disini sudah aman kok. Sekarang kita bakal bawa dia pulang. Dan apa lo masih ingat sama orang in….” Hur ternyata sudah tidak ada di tempat itu lagi. “Siapa yang lo maksud Jer? Daritadi kita cuma bertiga disini. Lo jangan mulai aneh - aneh lagi dong.” Marvin terduduk di hadapan Jeremy. “Loh kepada pak tua itu?” Jeremy melihat sekelilingnya mencari keberadaan Hur tapi tidak ditemukannya. “Gue tidak percaya kalau makhluk seperti itu benar - benar ada di dunia ini Jer.”  “Iya Vin, apa yang lo lihat tadi emang kenyataan. Lo gak lagi mimpi kok. Tapi lo gak boleh beri tahu hal itu kepada orang lain.” “Jelas lah Jer, emangnya zaman sekarang masih ada yang percaya dengan hal seperti itu. Yang ada malah gue yang dibilang gila sama mereka. Tapi lo sadar gak Jer? Kita alami hal aneh ini peristiwa di bawah pohon misterius itu.” “Sudah gue duga Vin. Lo dari tadi pura - pura lupa sama yang terjadi waktu itu. Tapi yang terpenting kita masih dalam keadaan baik - baik saja. Ngomong - ngomong lo ada melihat hal aneh selain yang kemarin dan tadi gak?” “Hah, gak ada deh. Kalau bisa gue gak mau alami semua itu lagi. Amit - amit ketemu sama makhluk menyeramkan seperti itu.” “Oh gitu ya. Gue juga berharap yang sama.” Jeremy tenang karena Marvin tidak melihat pertarungan antara Medallion dan Dokoon di atas langit tersebut. Setelah menenangkan Marvin, mereka mengantarkan June kerumahnya karena hari sudah mau gelap. Marvin dan Jeremy tidak memberitahu alasan sebenarnya terjadi hal itu kepada keluarga June. Syukurnya mereka menanggapi hal itu dengan baik. Keesokan harinya mereka pun bertemu lagi di sekolah pada jam istirahat. Sangat mengejutkan June datang ke sekolah hari itu. Padahal baru kemarin dia mengalami peristiwa yang mengerikan.  Saat bertemu dengan mereka Jeremy tidak mengungkit peristiwa mengerikan itu lagi demi kebaikan June.  “Jer, makasih ya buat kemarin? Gue gak tahu apa yang terjadi kalau lo gak ada disitu.” Jeremy terkejut mendengar perkataan dari June. “Hah, lo ingat apa yang terjadi kemarin?” Soalnya saat itu June seharusnya dalam keadaan tidak sadar. “Iya ingat, sebenarnya gue gak benar - benar pingsan. Orang yang membawa gue hanya membuat tubuh gue lemes aja, tapi kesadaran gue tetap ada kok. Gila sih, kirain yang seperti itu cuma ada dalam imajinasi atau film - film bioskop aja.” “Sebaiknya lo berdua lupain apa yang terjadi kemarin. Lebih baik lo gak terlibat lebih dalam dengan dunia seperti itu.”  “Pengennya gitu Jer. Gue juga sudah buang gantungan kunci itu kok. Gak nyangka deh benda lucu kayak gitu bisa buat gue kena masalah.” “June, emangnya siapa sih yang kasih benda itu?” Jeremy berusaha untuk santai mengulik informasi dari June. “Keluarga jauh sih. Tapi gue juga merasa aneh kenapa dia tiba - tiba baik gitu. Padahal biasanya kalau ketemu gak pernah teguran sama sekali.” “Kok bisa ya.” Jeremy pura - pura tidak mengerti dengan perkataan June. Padahal dia sadar kalau orang yang memberikan benda itu pasti memiliki hubungan dengan para Dokoon yang berbuat onar kemarin. “Lo gak usah pura - pura bodoh Jer! Biar cuma anak SMA, gue ini jurnalis yang sudah berpengalaman dalam banyak kasus misteri. Lo gak bisa menyembunyikan sesuatu gitu. Karena gue sudah terlanjur tahu, jadi lo harus ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi.” June menatap Jeremy dengan raut wajah memaksa. “Vin! Lo kok diam aja. Ngomong kek.”  “Jer, gue sudah coba menghentikan dia loh. Bahkan sudah agak memaksa. Tapi dia emang susah diomongin dan gue nyerah deh. Sekarang terserah lo mau gimana.” “Kalian gak bisa main - main dengan dunia itu. Kita terpisah oleh pembatas yang hanya bisa dilewati dengan cara yang tidak biasa.” “Maksud lo apa Jer? Lo gak bisa takuti gue dengan cara seperti itu.” June tidak menyerah untuk meyakin Jeremy. “Untuk seorang manusia yang ingin masuk ke dunia itu harus melewati pembatas hidup dan mati. Begitu juga mereka tidak bisa menyeberang kesini tanpa memperdulikan hukum tersebut.” “Terus kenapa orang - orang kemarin bisa masuk ke dunia kita? Kalau mereka bisa berarti kita juga bisa dong Jer!” “Gak semudah itu June! Seperti yang gue bilang tadi. Mereka sudah melewati batas hidup dan mati. Dengan kata lain mereka bisa dibilang sudah mati. Emangnya lo mau merelakan kehidupan ini untuk melakukan itu? Jawab gue deh June!” “Pasti lo cuma mau takuti gue Jer. Gue juga dengar maren kalau lo bisa melakukan hal yang sama.”  “Hah? Mungkin lo salah dengar kali June. Mana mungkin gue bisa melakukan hal itu.” “Jangan bohong Jer! Gue gak mungkin salah dengar kalau lo punya kemampuan yang sama dengan orang - orang yang udah nyelamatin kita kemarin.” Jeremy terdiam karena apa yang dikatakan oleh June hampir mendekati kebenaran. Sampai disini dia sangat sulit memberikan alasan yang masuk akal kepada June. “Nah kan lo gak bisa jawab. Sudahlah Jer, gue gak akan kasih tahu orang lain tentang hal itu kok. Tapi dengan satu syarat!” “Ayolah June! Lo gak bisa paksa Jeremy melakukan sesuatu yang gak dia mau. Lagian gue juga gak mau terlibat sama dunia itu.”  “Jangan banyak alasan lo Vin. Kalau lo gak berani biar gue aja deh. Gimana Jer?” “Terserah lo aja June, tapi gue mau fokus sama hidup sebagai manusia biasa aja. Setiap makhluk punya jalan hidup dan takdir masing - masing kan.” Sekarang gantian June yang terdiam mendengar perkataan Jeremy dengan sepenuh hati itu. “Gini aja Jer, kalau gue menemukan kasus yang berhubungan dengan keanehan seperti kemarin disekitar kita boleh hubungin lo kan?” “Atur aja. Tapi gue gak janji bisa selalu ikutan ya. Lagian gue juga punya banyak tugas sekolah akhir - akhir ini.” “Beneran Vin? Lo kan sekelas sama Jeremy.”  “Eh iya tuh. Bab...banyak banget malah,” kata Marvin terbata - bata. “Masak sih Vin? Lo kayaknya gak yakin gitu.”  “Iya beneran, kalau gak percaya tanya aja sama guru - guru yang ngajar dikelas gue hari ini.” “Emangnya gue kurang kerjaan apa temui guru cuma buat hal gak penting gitu. Ya udah gue percaya sama lo deh.” “Tet...tet...tet!” Terdengar suara bel tanda istirahat selesai. Kemudian mereka bertiga kembali ke kelasnya masing - masing untuk belajar. Siang itu pada waktu jam pelajaran hampir berakhir June memiliki perasaan yang tidak enak. Perasaan ini pernah dia rasakan saat kemarin sebelum terjadinya penculikan oleh makhluk misterius tersebut. “Kok perasaan ini bisa muncul disini? Bahaya nih. Mana pelajaran belum selesai lagi.” June berkata dalam hatinya. Sebagai orang yang duduk pada posisi paling belakang memudahkannya melihat tanda - tanda aneh di kelasnya. Tapi tidak ada sesuatu yang berbeda sehingga membuatnya curiga.  “Hah, jangan - jangan!” June melihat kepada tasnya yang tergantung di belakang kursi yang diduduki. “Astaga kok bisa ada lagi!” June terkejut dan mengeluarkan suara yang agak keras sehingga membuat murid lain dan gurunya melihat ke arahnya. Ternyata gantungan kunci yang sudah dibuangnya itu kembali lagi pada tempatnya. Maka sadarlah June bahwa perasaan itu datang lagi diakibatkan benda tersebut. “Ada apa June?” Tanya guru yang sedang mengajar. “Gak apa - apa kok Bu.” June malu dilihat oleh seisi kelas “Baiklah June, silahkan kerjakan tugasmu. Sebentar lagi waktunya dikumpul ya.” “Yaaa…!” Semua murid teriak bersama - sama karena masih banyak yang belum selesai. June pun melanjutkan belajar walau dalam keadaan tidak nyaman akibat kekuatan gelap yang terpancar dari benda mistis itu. Akhirnya usailah kegiatan belajar hari itu.  June yang sudah mengerjakan semua tugasnya langsung berlari ke depan dan mengumpulkan ke meja guru. Kemudian dengan cepat keluar dengan terburu - buru. Di depan gerban sekolah June melihat Jeremy dan Marvin yang sedang berbicara dengan santai sambil makan makanan ringan yang dibeli dari kantin sekolah. “Jer, untung aja lo belum pulang. Ada yang mau gue beri tahu nih. Lo pasti terkejut deh.” “Wow…! Tu gue udah terkejut kan. Nah yuk kita pulang Vin.” Jeremy berusaha menghindari June yang kemungkinan akan mengajaknya berbicara tentang hal yang tidak penting. “Gue lagi gak mau bercanda Jer. Serius nih!” June menatap dengan serius. “Udah Jer, dengar aja dulu. Siapa tahu emang penting. Ngomong - ngomong bukannya gantungan kunci ini sudah lo buang June. Kok masih ada sih? Lo bohong ya tadi?” “Itulah yang mau gue bilang ke lo berdua. Tadi waktu di kelas gue baru sadar kalau benda itu kok ada lagi? Padahal gue yakin banget sudah buang ke tempat sampah waktu lagi jalan ke sekolah tadi.” “Aduh!” Jeremy hanya bisa menggaruk kepalanya karena sadar akan terlibat dalam masalah yang lebih merepotkan lagi. “Jadi gimana dong Jer? Gimana kalau orang - orang kemarin datang lagi?” June cemas akan keselamatannya. “June, bukannya lo pengen tahu urusan dunia itu? Nah sekarang doa lo terjawab kan? Bener gak?” Marvin tersenyum kecil dan membuat June malu sendiri. “Tapi kan gue gak tahu kalau bakal kayak gini lagi Vin,” jawab June. “Kayaknya masalahnya gak akan selesai hanya dengan membuang benda ini deh. Pasti ada sesuatu yang mengikatnya dengan lo June. Tapi kita belum tahu apa itu. Untuk sementara kami bakal temenin lo sampai dijemput deh ya.” “Beneran nih Jer? Makasih ya. Sorry deh kalau jadi ngerepotin lo.”  “Bukan dia aja June. Lo juga ngerepotin gue kali!” “Iya iya! Makasih dong.” Setelah menunggu sekian lama menemani June disitu, tapi anehnya orang tuanya tidak juga datang. Padahal sudah lewat satu jam dari waktu pulang sekolah. Suasana disitu perlahan mulai sepi. Para murid sudah tidak ada lagi selain dari mereka bertiga. Keamanan pun tidak ada di tempatnya lagi. Mungkin sudah pulang tanpa disadari oleh mereka. Langit tiba - tiba mendung dengan angin berhembus tidak seperti biasanya.  “Teman - teman, kalian perhatikan sekitar. Usahakan jangan berkedip kalau tidak terlalu diperlukan. Perasaan gue jadi gak enak deh.” Jeremy sadar kalau suasana di tempat itu sama seperti saat pertarungan antara para Medallion dan Dokoon kemarin.  “Semoga tidak terjadi sesuatu yang merepotkan,” kata Jeremy dalam hati. “Wush!” Angin semakin berkecamuk dan menerbangkan dedaunan kering yang ada di halaman sekolah. “Mereka sebentar lagi datang. Kita gak bisa lari dari tempat ini teman - teman.”  “Tapi orang - orang baik kemarin bakal tolong kita kan Jer?” June semakin ketakutan. “Kita gak bisa bergantung dengan itu June. Mereka itu kebetulan ada lewat daerah ini. Kali ini gue gak yakin bakal ada yang menolong kita.” “Terus gimana musti gimana dong Jer?” Tanya Marvin. “Kita cuma bisa mengandalkan diri sendiri dong. Masak itu aja harus ditanya sih! Pokoknya kita musti tenang dulu.” “Pak tua, dimana kau sekarang? Bukankah kau akan turun tangan apabila terjadi masalah di wilayahmu?”  “Lo ngomong sama siapa sih Jer? Jangan buat kami tambah takut dong.” June kini berpegangan pada tangan Marvin. “Iya nih Jeremy, bukannya buat apa kek gitu. Malah ngomong sendiri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD