Harga Diri Seorang Medallion Tua

1078 Words
Setelah pertarungan dengan para Dokoon yang datang dengan maksud untuk menculik June tempat itu pun dikembalikan ke wujud semula. Tidak butuh waktu lama bagi para Medallion untuk memulihkan kekuatannya walau tidak pulih dengan sempurna. “Tuan Hur, apakah anda serius memilih anak muda ini sebagai penjaga wilayah ini?” Ben tampak menatap Hur dengan serius. “Kau salah paham Medallion muda. Dari semua seorang Medallion tidak pernah terpilih dengan cara seperti itu.”  “Apa maksud perkataan anda tuan Hur? Bukankah sudah jelas semua Medallion yang ada di dunia dipilih oleh seorang pemimpin wilayah tertentu untuk menjadi penjaga gerbang?” “Hahaha, jadi mereka tidak memberitahukan alasan sebenarnya kalian terpilih. Tapi baiklah aku akan memberitahukan kepada kalian hari ini. Menjadi seorang Medallion tidak ada hubungannya dengan orang lain. Tapi semua itu adalah takdir absolut yang tidak terelakkan. Apakah kalian tidak menyadarinya?” Hur kembali bertanya kepada para Medallion yang ada disitu. “Aku tidak tahu dengan yang lain. Tapi saat itu memang ada dorongan yang kuat untuk menjawab panggilan tersebut.”  “Sudahlah! Hal itu tidak perlu terlalu kalian pikirkan lagi. Yang terpenting bagaimana cara kita menjalani takdir ini.” Perkataan Hur membuat para Medallion itu tersenyum. “Anak muda, entah mengapa aku merasa kalau kita akan bertemu lagi suatu saat. Tapi sampai saat itu tiba, sepertinya kau akan berurusan dengan banyak masalah yang akan terjadi disini. Aku berharap kau dapat berkembang dan bertambah kuat untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang Medallion.” Mura tersenyum kepada Jeremy. “Kau tidak perlu berlebihan. Lagi pula aku belum memutuskan untuk menjadi seorang Medallion atau apalah itu. Selain itu kalau masih ada pak tua itu dan pak tua yang satu lagi aku yakin daerah ini pasti akan tetap aman bukan?” “Baiklah. Tidak perlu terburu - buru karena kami semua pada awalnya juga seperti halnya denganmu saat ini. Tapi kalau waktunya sudah tiba kau pasti akan mampu memilih mana yang terpenting di dunia ini.” “Hey jangan berkata - kata seperti orang tua. Cukuplah pak tua ini saya yang berlagak sok hebat di hadapanku. Oya bukankah kalian seharusnya sudah pergi untuk mengerjakan tugas lainnya. Aku juga mau mengantarkan teman - temanku dengan aman sampai di rumahnya. Astaga apa yang harus aku katakan kepada orang tua mereka karena mengantar mereka dalam keadaan seperti ini.” “Itu bagianmu anak muda.” Mura berpaling dan bersiap mau pergi. “Hey para Medallion, aku mau bertanya satu hal kepada kalian. Mengapa para Dokoon itu mengincar temanku?” Pertanyaan Jeremy membuat para Medallion itu terhenti sejenak. “Kana, apakah kau sesuatu?” Ben bertanya. “Aku sudah memeriksa wanita muda ini. Aku dapat merasakan kalau dia terikat dengan kegelapan melalui media benda yang tergantung di tasnya ini.”  “Benda tergantung?” Ternyata dugaan Jeremy tentang gantungan kunci yang memancarkan kekuatan mistis itu benar adanya. “Benar anak muda, aku baru menyadarinya setelah mendengar perkataan temanku ini. Benda ini berisi kekuatan kegelapan yang terhubung dengan teknik seseorang yang jauh dari sini.” “Mura, bukankah kau yang biasa terlibat dengan para Dokoon yang menggunakan senjata - senjata susupan seperti ini?”  “Agak aneh mendengar istilah itu dari orang sepertimu Mell. Tapi jujur saja aku pun belum pernah melihat seorang Dokoon yang menggunakan benda dengan corak seperti ini.” “Apakah mungkin benda ini ada hubungannya dengan para Dokoon tadi? Selain itu mereka juga seperti menyembunyikan sesuatu. Aku mendengar kalau ada seseorang yang menginginkannya dalam keadaan hidup.” “Sebaiknya kau berhati - hati anak muda. Bukan suatu kebetulan kau ditakdirkan untuk berteman dengan wanita ini. Setidaknya kau memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tidak terlibat dengan para Dokoon jahat itu.” “Kalau hanya untuk menjaga satu orang sepertinya tidak terlalu merepotkan dibanding harus pergi kesana kemari untuk mencari masalah.” “Kami berterima kasih atas pujianmu anak muda. Sekarang sudah waktunya kita berpisah.”  Para Medallion itu pun pergi meninggalkan Jeremy bersama dengan Hur yang sedang menggendong Marvin dan June yang masih dalam keadaan tidak sadar akibat peristiwa tadi. “Pak tua, apakah tidak masalah kalau mereka mengingat peristiwa yang terjadi tadi?”  “Aku sudah melakukannya terhadapmu dan teman priamu ini. Tapi sepertinya tidak berjalan lancar karena alasan tertentu. Kalau tentangmu mungkin aku masih bisa memakluminya, tapi ada suatu yang aneh dengan pria ini. Sebaiknya kau berhati - hati dengannya.” “Lalu bagaimana dengan June, maksudku wanita ini?”  “Bukan keputusan yang bijak apabila kita menyembunyikan bahaya darinya. Untuk sementara aku akan membiarkannya dulu sampai kita dapat mengungkapkan siapa sebenarnya dibalik masalah ini.” “Apakah kau tidak terlalu berlebihan pak tua? Soalnya seolah - olah kita sedang terlibat masalah besar. Aku rasa ini hanya tentang sekelompok orang yang penganut ilmu hitam yang menginginkan wanita sepertinya menjadi tumbal suatu ritual.” “Aku pun berharap masalahnya hanya sebatas itu. Tapi aku mendengar dari teman - temanku dari berbagai belahan bumi dalam tahun ini sering terjadi penculikan wanita muda dengan benda mistis di tangannya.” “Apa?! Jadi kau sudah mengetahuinya pak tua?” Jeremy terkejut karena Hur tidak berkata sepatah katapun saat para Medallion tadi masih ada. “Ya, tapi ini hanya informasi yang belum tentu bisa dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain hanya dugaanku saja. Aku belum menemukan sesuatu yang pasti yang dapat dijadikan bukti untuk disampaikan kepada para Medallion seperti mereka. Menyampaikan informasi berdasarkan kepada dugaan adalah pelanggaran etika dalam dunia Medallion.” “Ternyata menjadi Medallion lebih sudah menjaga etika daripada bertarung ya? Lalu apa rencanamu mulai sekarang pak tua? Apakah kau akan bertindak di wilayah ini?” “Aku? Hahaha. Perjuanganku sebenarnya sudah lama berlalu. Kalau aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku maka akan mengurangi energi kehidupanku yang tersisa. Uhuk...uhuk...uhuk!” Hur mulai tertatih saat menapak langkahnya sambil membawa seseorang bersamanya. “Apakah kau baik - baik saja pak tua? Seharusnya tahu kau tidak perlu terlalu memaksakan diri bertarung dengan para Dokoon itu. Aku yakin mereka dapat mengalahkan pengguna cermin itu kalau serius.” “Kau memang orang yang menarik. Bagaimana mungkin seorang yang belum menjadi Medallion bisa mengukur kekuatan para Medallion berpengalaman seperti mereka. Sepertinya aku mulai merasa beruntung bertemu denganmu orang terpilih.” “Hey, jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu lagi pak tua. Atau aku tidak akan membantumu lagi.” “Maaf, aku terlalu gembira melihat perkembangan kemampuanmu itu. Tapi kau benar tentang kemampuan para Medallion tadi. Alasan aku datang karena wilayah ini adalah tanggung jawabku. Berbeda halnya kalau mereka bertarung di atas langit. Aku tidak akan ikut campur sama sekali.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD