Pertemuan Ketiga Dengan Hur

1437 Words
Saat Mura berhasil meyakinkan Jeremy dan membawa mereka ke tempat yang aman, kedua Medallion lainnya membuat suatu perisai dari kekuatan mereka untuk berjaga - jaga. Kedua Dokoon tersebut pun sebentar lagi akan menjadi pada batas kekuatan yang dapat mereka gunakan dengan senjata tersebut. Ben menarik nafas panjang untuk meningkatkan kemampuannya yang tercipta dari memanaskan udara di dalam tubuhnya dan mengalirkan kepada busur serta anak panah yang akan digunakan. Di dalam hatinya Ben agak menyesal karena tidak langsung menghabisi para Dokoon itu saat memiliki kesempatan tadi. Tapi sekarang sudah terlambat dan dia harus mengerahkan setengah dari kekuatannya untuk bertarung. Baru seorang Medallion akan sangat memalukan apabila harus bertarung melawan musuh yang lebih lemah dengan setengah dari kekuatan mereka. “Entah apa yang akan dipikirkan oleh semua Medallion di dunia ini kalau mengetahui apa yang sudah terjadi sekarang. Hal ini akan menjadi pelajaran bagiku di lain hari,” kata Ben dengan sangat kesal. “Ox, sepertinya kita terlalu berlebihan. Bagaimana kalau serangan ini nanti akan mengenai wanita itu juga. Bukankah semuanya juga akan menjadi sia - sia?”  “Apa? Kau benar. Dasar Medallion licik! Mereka menaruh wanita itu di belakangnya agar dapat hancur sekalian.” Ox pun menjadi agak ragu - ragu melakukan serangan besar itu. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Ox bingung karena sudah terlanjur menggunakan kekuatan besar itu. Sangat sulit menghilangkan kekuatan sebesar itu terlebih sudah membentuk suatu senjata. Apabila salah langkah maka akan membunuh mereka terlebih dahulu. “Sudah lah Ox! Kita tidak punya pilihan lagi daripada kita yang menjadi korban dari kekuatan besar ini, lebih baik mereka saja.” Perkataan Ortan pun sedikit mengurangi keraguan Ox saat itu. Namun saat itu Ben sudah menyadari kalau kekuatan tersebut mulai sedikit goyah karena keraguan mereka. Walau Ben tidak mengetahui apa yang membuat mereka ragu setelah dengan yakin melakukan teknik tingkat tinggi tersebut, dia tetap mempersiapkan diri menghadapinya. “Medallion! Matilah kalian semuanya bersama dengan para bocah itu!” Para Dokoon itu pun melemparkan senjata tersebut kepada Ben yang ada di depannya. Saat dilepaskan senjata itu bergerak seperti cahaya menerobos asap putih yang melayang di tempat itu.  Sang Medallion yang sudah bersiap melihat serangan itu langsung menunggu saat yang tepat dan jarak yang pas untuk menyerang balik agar mengurangi jangkauan dari kerusakan yang dapat ditimbulkan. “Aku terima tantangan kalian bersama dengan sahabatku ini!” Ben melepaskan panah api yang sudah ditahannya sejak tadi. Kekuatan panah itu terlihat tidak sebanding dengan senjata yang digunakan oleh para Dokoon tersebut. Namun setelah terlepas pada jarak beberapa langkah panah dengan api yang terlihat kecil itu pun langsung berkobar sehingga membuat kecepatan lajunya menjadi ribuan kali lipat. Bahkan kecepatannya melebihi tombak yang melesat kepadanya. Begitu keduanya bertabrakan dapat sekejap terjadi sesuatu diluar dugaan para Dokoon. Serangan Ben langsung menghancurkan dan menembus tombak tersebut sehingga membuatnya hancur berkeping - keping. Dalam bentuk yang masih utuh panah tersebut masih melaju kepada para Dokoon yang tidak sempat bereaksi karena semua berlangsung sangat cepat. “Aaa…!” Para Dokoon hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa - apa menerima serangan diluar dugaan itu.  Sepertinya Ben sengaja menyamarkan kekuatan panah itu dari awal agar para Dokoon tidak lari melihat kekuatan serangan yang sebenarnya. “Mohon maaf tuan - tuan. Sepertinya aku harus mengganggu pertarungan kalian saat ini.” Lubang hitam muncul di hadapan para Dokoon tersebut bersamaan dengan hadir seseorang yang tidak dikenal.  Lubang hitam tersebut menelan serangan Ben dan memindahkannya ke dimensi lain agar tidak mengenai para Dokoon. Sadar akan datangnya sosok asing yang mengganggu pertarungan tersebut, kedua Medallion yang bertahan dengan perisai tersebut langsung mengambil posisi berdiri dihadapan Ben yang sudah kehilangan setengah dari kekuatannya. “Mundurlah Ben! Kita sepertinya kedatangan seseorang yang penting.”  “Baiklah Mell, aku serahkan sisanya pada kalian.” Ben mundur ke tempat Mura untuk memulihkan tenaga nya. “Maaf atas ketidaksopanan bawahanku para Medallion sekalian. Tapi sepertinya aku tidak bisa membiarkan alat yang masih berguna bagiku dihancurkan begitu saja oleh kalian.” “Kau pasti Serkan. Pemimpin Dokoon yang paling ditakuti dari wilayah selatan. Ada apa orang sepertimu jauh - jauh datang ke tempat hanya demi pemula seperti mereka?” “Medallion yang terhormat dan yang paling aku benci, tadinya aku juga berpikir begitu. Tapi aku berubah pikiran karena mereka ternyata memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.” Serkan menatap mereka yang sudah ketakutan akan kehadirannya. “Aku mengerti. Pasti yang kau maksud adalah kekuatan tadi bukan? Kami juga terkesan pemula seperti mereka dapat menggunakan teknik tingkat tinggi seperti itu.” Mell menatap Serkan dengan senyum kecil. “Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya kepada kalian. Jadi apakah kalian membiarkan mereka pergi dari sini?” Serkan tersenyum sinis. “Kami tidak ingin berurusan dengan orang sepertimu walau mungkin suatu pencapaian besar apabila bisa mengalahkan sekarang.” Mell mengangkat tongkatnya mengintimidasi Serkan. “Oh, jadi kau ingin mencoba peruntungan dengan bertarung melawan disini. Kalau begitu bagaimana kalau kalian semua maju sekaligus agar aku tidak membuang - buang waktu.” Serkan pun mengangkat senjata yang merupakan sebuah cermin segi enam dengan gagang pegangan di sisi kanan dan kirinya. Para Medallion yang ada disitu menjadi tegang karena berhadapan dengan seorang pemimpin Dokoon yang kekuatannya puluhan kali mereka. Bahkan kalau mereka bisa meloloskan diri dari tempat ini ada suatu keajaiban. Tapi bagi Medallion seperti mereka suatu kesempatan langka apabila bisa berhadapan dengan pemimpin para Dokoon yang paling dicari - cari untuk dihabisi itu. Tapi aba - aba semua Medallion langsung menyerang Serkan dengan teknik terkuat yang mereka miliki karena hanya itulah cara untuk mengalahkan musuh seperti itu. “Kalian terlalu sombong karena baru saja bisa mengalahkan bawahanku yang lemah ini. Tapi kalian harusnya tahu dengan siapa berhadapan saat ini. Aku kembalikan serangan kalian 10 kali lipat sebagai hadiah dariku.” Dengan menggunakan cerminnya Serkan pun memantulkan serangan para Medallion dan melipatgandakannya. “Mura! Lindungi anak - anak itu!” Mell berteriak sambil membuat perisai dengan semua kekuatannya yang tersisa dibantu oleh Kana, Medallion berjubah putih. “Terima kasih Kana!” Mell terus menahan kekuatan yang diluar kemampuan mereka tersebut. “Aku kira ada keributan apa di daerahku. Bagaimana mungkin kalian mengatakan pertarungan sebesar ini tapi tidak mengundangku sama sekali.” Hur mendadak hadir disitu dan meniadakan serangan dari Serkan menggunakan tongkat yang dimiliki oleh Jeremy. Tongkat itu langsung merespon kehadiran Hur dan mengaktifkan kekuatan terbesarnya. “Siapa kau? Mengapa kau ikut campur?” Serkan kesal karena serangannya digagalkan dengan mudahnya. “Bagiku sangat menyenangkan apabila bisa mencampuri urusan orang lain begini. Lagipula kalian sedang ada di daerahku. Sangat masuk akal rasanya kalau aku ada disini.” Jeremy sangat terkejut saat menyadari kehadiran dari Hur disitu.  “Pak tua! Apa yang kau lakukan disini?”  “Oh ternyata kau ada disini anak muda. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi dengan cara seperti ini. Suatu takdir yang tak terelakkan bukan kita bisa bertemu di momen yang menyenangkan.” Hur tertawa layaknya orang tanpa dosa. “Hey, kau juga membawa orang - orang menarik disini. Selain itu ada juga beberapa sampah dunia. Tapi tidak apalah untuk sedikit hiburan.” Hur berjalan dengan santainya menghampiri Jeremy. Para Medallion yang ada disitu pun terkejut menyadari kehadiran Hur karena mereka belum pernah bertemu dengannya selama ini. “Siapa kau pak tua? Apa yang kau mau dari kami? Tunggu mengapa kau bisa mengendalikan tongkat milih anak muda ini?” Mura berkata sambil terbata - bata karena mulai bisa menebak siapa yang ada di hadapannya. “Pertanyaanmu itu terlalu banyak. Jadi yang mana yang harus aku jawab terlebih dahulu.” “Tidak perlu. Sekarang aku tahu siapa anda. Suatu kehormatan dalam bertemu dengan pahlawan yang sangat dihormati oleh para Medallion.” Mura dan para Medallion lain berlutut dan memberikan hormat kepada Hur. “Kalian terlalu berlebihan. Sekarang aku hanya orang tua yang terlalu malas untuk mengerjakan misi.” Hur memegang kepalanya. “Siapa kau pak tua? Apa kau juga ingin mati seperti mereka ditanganku?” Serkan yang bersiap untuk menyerang lagi. Kali ini dengan kekuatannya sendiri. “Bukankah itu Cermin Ajaib? Kau ada pewaris dari orang gila itu ternyata.” “Siapa yang kau sebut orang gila pak tua?” Serkan semakin marah mendengar Hur mengejeknya. “Tentu saja Sadak. Pengguna Cermin Ajaib yang sesungguhnya.” “Ternyata kau mengenal ayahku. Alasanmu bisa hidup pasti karena kau berhasil lari darinya bukan?” Serkan memandang rendah Hur. “Jadi dia tidak memberitahumu ya. Sampaikan kepadanya kalau kami bertemu lagi maka itulah hari terakhir baginya. Sekarang kalian pergilah dari daerahku sebelum kalian aku kubur disini.” Hur mengeluarkan kekuatan hawa dingin yang luar biasa sehingga langsung mencengkeram pernafasan para Dokoon tersebut.  Sebelum mereka semakin tertekan Serkan langsung membuat lubang hitam untuk digunakan melarikan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD