Perjalanan panjang pun dilalui oleh mereka berbekal seadanya melewati lorong bawah tanah yang berliku - liku. Tanpa disadari oleh June dan Marvin kalau sebenarnya mereka sedang dituntun oleh sebuah tongkat kayu yang dipegang oleh Jeremy.
Saat sedang berjalan tiba - tiba mereka mulai merasakan tanah tempat mereka berjalan menjadi lebih lunak dan berair. Bahkan pada dinding lorong tersebut mengeluarkan air terus menerus.
“Pak tua, apakah tidak apa - apa dengan jalan ini?” Tanya Jeremy yang sudah mulai khawatir karena kakinya sudah beberapa kali masuk ke dalam tanah melewati mata kaki.
“Kau tidak perlu khawatir. Tempat yang kita tuju sudah semakin dekat. Memang beginilah tanda - tandanya.” Hur meraba dinding lorong yang basah tersebut.
“Baiklah kalau begitu. Tapi aku ingatkan apabila bertemu dengan penjaga gerbang tempat itu biarkan aku saja yang berbicara. Kalian jangan sekalipun membuat gerakan yang mencurigakan karena mereka bukanlah orang yang ramah terhadap orang asing.”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku pak tua. Mungkin sebaiknya kau lebih tegas terhadap wanita yang ada di belakangku ini.”
“Maksud lo apa Jer? Kalau gak senang mending ngomong langsung aja sih!”
“Tuh kan langsung melakukan tindakan yang berbahaya.”
“Benar kata Jeremy, lo ntar harus lebih jaga mulut deh June.” Marvin menambahkan sambil membuang muka karena tidak mau menatap mata wanita itu.
Jalan yang mereka lalui pun semakin berair oleh karena terdapat mata air kecil di kiri - kanan. Sepatu mereka yang pada awalnya bersih kini sudah dipenuhi oleh lumpur yang menjijikkan.
“Pak tua, apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik lagi?”
“Lo telat protesnya June. Perasaan dari tadi jalan emang sudah basah kali.” Marvin menyela kesal.
Berbeda dengan kedua orang temannya, Jeremy malah merasakan banyaknya aura kehidupan di sekitar situ. Hur yang menyadari ketajaman indera dari Jeremy tersenyum dan hanya menyimpan di dalam hatinya.
Saat sudah berjalan beberapa lama mereka melihat secercah cahaya yang terpantul melalui sebuah benda berkilau di ujung jalan tersebut.
“Nah akhirnya kita sampai juga.” Hur mengambil tindakan untuk berjalan lebih depan diantara yang lainnya.
“Loh, disini kok jalannya jadi kering gak seperti tadi.” Marvin terkejut.
“Vin, pantesan aja jalan nya kering. Lo lihat deh di atas sana.” June menunjukkan kepada Marvin kalau air yang ada di tempat itu melayang pada langit - langit lorong tersebut.
“Iya ya, kok bisa gitu sih. Ajaib banget!”
Demikianlah mereka berjalan di tempat yang kering menuju sumber cahaya tadi.
“Anak muda, berikan tongkat itu kepadaku.” Hur meminta Otora yang sedang pedang oleh Jeremy.
“Baiklah, tapi apa yang mau kau lakukan dengannya.”
“Nanti kau juga akan tahu. Tapi persiapkan diri kalian untuk melihat hal yang menakjubkan. Sudah lama sekali aku tidak datang kesini lewat jalan sini.”
Saat mereka semakin dekat dengan cahaya tersebut langsung terkejut karena benda itu ternyata bukanlah lampu atau benda penerang.
“Lihat teman - teman, bukanlah ini cermin atau semacamnya? Ternyata benda inilah yang memantulkan cahaya yang menerangi jalan kita dari tadi.” June semakin mendekatkan diri dengan benda tersebut.
“Kau salah June, benda itu bukanlah cermin walau memang berfungsi sebagai cermin.”
“Kau benar Jer, kalau dilihat dari dekat sebenarnya ini adalah air yang berkumpul dan berputar pada satu titik poros.”
“Iya sih.” Jawab June.
“Kalian sangat cermat anak muda.”
Tanpa bertanya lebih dahulu, maka Marvin bermaksud menerobos masuk ke dalam dinding air tersebut. Tapi akibat kecerobohannya dia langsung terpental oleh pusaran air yang semakin cepat.
“Hahaha, lo sih Vin, siapa suruh lo masuk kesana.” June sangat gembira melihat Marvin yang kesakitan terperosok di tanah.
“Sial lo ya June. Bukannya bantu gue malah ketawa lagi.”
“Abisnya loh gak sopan amat masuk tanpa izin. Benar kan pak tua?”
“Kau benar wanita muda. Tapi salah juga yang tidak terlebih dahulu memperingatkan kalian akan kekuatan ada dinding air ini. Kita telah berada di pintu masuk benteng bawah air yang terkenal dengan kerahasiaannya. Tidak ada seorangpun yang dapat masuk tanpa tanpa materai dari penguasanya.”
“Hah?! Kalau gue gak bisa terus kenapa Jeremy bisa masuk tuh?” Marvin menunjuk ke balik dinding tersebut.
“Apa? Itu tidak mungkin?” Hur berpaling dan betapa dia terkejut kalau semua perkataannya dipatahkan oleh seorang anak muda yang bahkan seorang Medallion sekalipun.
“Oh gak boleh ya, kalau gitu aku balik lagi kesitu deh.” Dengan mudahnya Jeremy kembali ke balik dinding air tersebut bersama dengan teman - temannya dan Hur.
“Ah, lo kok bisa sih Jer.” June kecewa karena dia pun tidak berhasil masuk ke dalamnya.
Hur tidak berkata sepatah kata pun karena belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya anak muda yang telah dipilih oleh Otora tersebut.
Dia berjalan mendekat dinding air tersebut dan menyentuhkan Otora pada air yang berpusat itu. Kemudian tersibak lah air tersebut begitu rupa bagaikan genangan air yang dihempaskan oleh batu dengan kecepatan tinggi padahal Hur hanya melakukannya dengan lembut saja.
“Ayo anak muda sekarang waktunya kita masuk ke dalam sebelum air itu tertutup kembali.”
Dengan cepat mereka bergegas berlari mengikuti Hur dari belakang. Saat mereka melihat kebelakang tepat seperti yang dikatakan oleh Hur, maka tertutuplah kembali jalan tersebut dengan dinding air.
Tanpa mereka sadari ternyata sudah ada yang menghalang langkah mereka untuk masuk ke dalam benteng persembunyian tersebut.
“Berhenti di tempat tuan dan nona. Apakah kepentingan yang paling penting sehingga kalian ingin memasuki tempat paling rahasia di semua dimensi.” Seorang wanita dengan tongkat yang terbuat es dan berjubah berwarna biru menatap mereka dengan lembut.
“Maaf kelancangan kami karena telah mengganggu ketenangan kalian di dalam benteng Galesia ini.” Hur maju dan menundukkan kepalanya di hadapan para penjaga itu.
Kemudian seorang pria yang ada disamping wanita itu dengan jubah berwarna biru tua dan bola air yang berputar di tangannya tampil menyambut Hur dengan hormat.
“Kamilah yang harus minta maaf karena karena tidak menyambut anda dengan lebih pantas tuan.”
“Apa yang kau lakukan Horsa? Mereka belum menjawab pertanyaan dariku tadi. Apakah kau tidak melihat penampilan mereka yang tampak mencurigakan?” Wanita itu menegur pria itu dengan lembut tapi tegas.
“Jaga bicaramu di depan pahlawan legendaris para Medallion Horma. Dia adalah tuan Hur.”
“Maafkan atas kelancangan saudaraku yang tidak menghormati anda tuan. Kami sudah mendengar kesulitan yang anda alami disana. Tapi kami tidak menyangka anda sendiri yang akan datang ke tempat kami yang tidak seberapa ini.”
“Kau terlalu merendah wahai Horsa sang kesatria danau suci.” Hur masih menundukkan kepalanya memberikan hormat dengan tulus.