Saat kedua pemuda itu hendak memeriksa pohon misterius tersebut, terlihat dari jauh penjaga kebun itu masih berada disana.
“Waduh! Si bapak kenapa belum pulang jam segini Vin?”
“Mana aku tahu, kau kira aku anaknya?”
“Dimana rumahnya Vin?”
“Setahuku rumahnya tidak jauh dari perbatasan desa. Kau mau bertamu dan permisi baik - baik kepadanya?”
“Gak lah, kau kira dia akan membiarkannya setelah perlakuan yang kuterima tempo hari?”
“Lah, emangnya dia melakukan apa Jer? Kok kayak orang kena mental sih?”
“Kena mental? Gak sampai segitunya, dia kayaknya emang gak suka ada orang yang mendekati pohon kesayangan.”
“Sayang sama pohon? Kasian amat hidupnya.”
“Namanya hidup orang kan beda - beda dong. Emangnya kamu yang sayangnya sama June doang?”
“Enak aja, kenapa malah bawa cewek bawel itu sih Jer? Bilang aja lu yang suka sama dia kan? Hahaha…, eh satu lagi jangan ngomong pake kata aku dan kamu sama aku, ntar dikira kita ada hubungan yang aneh - aneh. Jijik tau gak sih!”
“Nah kok malah ngeles sih Vin, iya juga gak apa - apa, aku paham lah, aku kan pernah seumuran kamu juga.”
“Berasa tua dong. Ngomong - ngomong lu gak pantas ngelawak Jer, garing. Sstt, dia sepertinya sebentar lagi mau pergi noh.”
“Eh iya iya Vin, mana sudah mau magrib lagi, kenapa gak pergi dari tadi sih pak?”
“Awas Jer! Jangan sampai kedengaran suara lu!”
Setelah menunggu lama akhirnya pak tua itu pergi meninggalkan kebun tempat pohon itu berada. Perlahan mereka melangkahkan kaki sambil melihat keadaan sekitar ke arah kebun itu.
“Vin, beneran nih? Si bapak gak akan balik lagi kan? Kalau tahu apa yang kita lakukan sekarang, bisa berabe dong.”
“Panik ya? Sudah tenang aja Jer. Lagian kenapa ragunya baru sekarang sih? Sudah terlanjur sampai sini kali!”
“Bukan gt, tapi gak lucu kalau diteriakin maling cuma karena pengen lihat pohon doang.”
“Hallah, banyak cincong lah, buruan sebelum ada yang orang lewat.”
Kebun tersebut dibatasi oleh pagar setinggi pinggang orang dewasa, tapi bukan hal yang sulit melewatinya.
“Pagarnya tinggi juga Vin, gimana cara masuknya?”
“Cemen amat sih lu, udah, lompatin aja, gini nih caranya!” Marvin dengan mudah melompati pagar tersebut tanpa susah payah.
“Kamu ternyata hebat juga bisa lompat setinggi itu Vin. Tapi yang membuatku salut ternyata pagar ini cukup kuat menopang tubuhmu yang kayaknya gak ringan itu.”
“Gak ringan? Elu kalau ngomong sopan tapi nusuk sampai ke hati tau! Udah buruan lompat, kalau kelamaan ntar dicariin sama orang tua kita lagi.”
“Idih, kamu kita aku anak kecil? Kalau cuma jam segini aku gak akan dicariin sampai segitunya kali Vin.”
“Woi Jer, sudah dibilang kalau ngomong jangan pake ‘Aku’ dan ‘Kamu’, soalnya jijik banget kali!”
“Maaf deh, tapi sudah terbiasa ngomong gini sama orang lain, gak apa - apa la ya.”
Saat berada di dalam kebun tersebut, mereka tersadar kalau tempat itu bukanlah kebun biasa.
“Vin, kamu ngerasa aneh gak sih waktu masuk kesini?”
“Mmm, jangan ngomong sembarangan Jer! Gue juga merasa ada yang mengawasi kita sekarang.”
“Iya sih, tapi sepertinya mereka gak bermaksud jahat kok. Soalnya sejak tadi mereka gak melakukan sesuatu yang buruk, mungkin cuma terkejut aja sama kehadiran kita di tanah ini.”
“Masuk akal Jer, tapi gua baru tahu kalau kebun ini ternyata menyimpan kekuatan mistis sekuat ini.”
“Iya ya, aku baru ngerti kenapa pohon itu kelihatan seram banget, gak aneh sih kalau sekelilingnya ada kekuatan mistis sepekat ini.”
“Jadi gimana Jer? Dilanjutin gak nih?”
“Kok kamu malah takut Vin? Seperti yang kamu bilang tadi dong, sudah terlanjur nih.”
“Beneran nih? Pulang deh Jer.”
“Heleh, mana keberanian kamu tadi, kalau cuma yang kayak gini sih aku malah penasaran.”
“Dasar dukun! Gak bisa liat yang mistis - mistis lu!”
“Biarin deh dibilang dukun.”
Semakin dekat dengan pohon misterius tersebut, tampak tanah yang ditumbuhi oleh semak belukar.
“Aw sakit Jer!” Kaki Marvin menginjak tanaman putri malu yang merambat di tanah.
“Makanya hati - hati jalannya Vin! Aku aja gak kena kok dari tadi.”
“Ya iyalah Jer, sandal elu kan tebalnya sudah kayak batu, duri gini mah auto patah kali.”
“Salah siapa kamu pake sendal karet yang berlubang seperti itu.”
“Yee gue kan gak tahu kalau disini ada putri malu segede ini Jer.”
“Ya udah sih, cuma putri malu doang, daripada putri desa kan.”
“Hahaha, kalau putri desa mah teriaknya beda.”
“Hush, jangan ngomong sembarang di tempat seram gini.”
Saat mereka sedang berjalan, tiba - tiba tercium aroma bunga melati yang sangat menusuk.
“Tu kan Vin, kamu sih ngomong sembarangan, kalau di tempat asalku dulu, kalau tercium bau seperti ini berarti ada sesuatu yang melintas.”
“Sesuatu? Ngomong yang jelas Jer.”
“Ya kamu ngerti lah maksud aku.”
“Tau gini gue gak akan ikut kesini Jer.”
“Apaan? Bukannya kamu yang ajak aku datang kesini?”
Dengan bermodalkan keberanian yang semakin menciut, Marvin terpaksa mengikuti rasa penasaran Jeremy yang terus melangkah maju tanpa memperdulikan apapun yang ada di tempat itu. Saat melihat pohon misterius itu dari dekat Jere tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuhnya. Pohon itu dilapisi oleh kulit yang keras, tebal dan sedikit mengelupas. Seakan - akan sudah tumbuh selama ratusan tahun.
“Ngapain lu Jer?”
“Emang yang kamu lihat aku ngapain Vin? Tenang aja, cuma gini doang kok.”
“Gue gak tanggung jawab loh kalau terjadi apa - apa,contohnya kalau pohon tumbang gimana coba?”
“Ya ampun, kamu kira aku punya kekuatan super sampai bisa menumbangkan pohon segede ini.”
“Namanya juga pohon misterius, emangnya elu gak pernah dengar cerita - cerita horor tentang pohon - pohon misterius dari seluruh dunia?”
“Tapi elu baca gak kalau yang tumbangin pohon - pohon itu aku?”
“Ya gak lah, emang kenapa sih?”
“Berarti aku gak bisa menumbang pohon ini dong ya?”
“Dasar dukun, elu ternyata pinter ngomong juga ya?”
“Dukun - dukun! Bukan aku yang pinter, tapi kamu aja yang aneh.”
“Nah sekarang elu sudah pegang kan? Kita sudah bisa pulang kan?”
“Kenapa sih Vin, emang kamu gak ada rasa penasaran sedikit pun ya sama pohon ini?”
“Enggak ada dong? Lagian elu ada - ada aja.”
“Masak sih Vin? Sekuil pun?”
“Kok elu maksa Jer? Gue gak akan terpancing sama permainan kata - kata gitu. Lu kira Gue anak kecil?”
“Hehehe, namanya juga mencoba bosskuh.”
“Seriusan deh Jer, kalau pohonnya segede ini, berarti rantingnya gak kecil kan, gimana kalau kita tertimpa satu aja, bisa pindah kaluan tulang gue.”
“Pindah haluan? Itu tulang apa kapal laut.”
“Truk gandeng. Puas lu!”
“Hahaha, bisa aja kamu, oya Vin, bukannya kamu pernah kesini ya? Dimana simbol yang kamu bilang kemarin?”
“Iya tapi waktu itu keadaannya gak gini, malah kayaknya biasa aja deh. Eh hampir lupa Jer. Simbol yang gue maksud itu ada disini nih.”
Saat Marvin hendak menunjukkan kepada Jeremy letak simbol yang berada di sisi yang berlawanan, langkah mereka terhenti karena aroma melati yang tadi sangat kuat tiba - tiba lenyap. Mereka saling melihat satu sama lain. Jeremy menyadari kalau tempat mereka berpijak saat ini sangat berbahaya. Namun berbeda dengan Marvin yang tidak terlalu peduli dengan hal itu.
“Lihatlah Jer, aku gak bohong kan? Walau bentuknya agak berbeda, tapi coraknya sangat mirip.”
“Lalu lubang apa yang terdapat di tengah simbol ini.”
“Lubang? Sebelumnya gue gak lihat ada lubang disini.”
“Masak kamu gak melihat ada lubang ini Vin?”
“Iya Jer, beneran. Mungkin ada orang yang baru membuatnya setelah gue kesini kemarin.”
“Lubang ini sangat aneh karena aku tidak pernah melihat ada benda yang dapat membuat lubang berbentuk segi enam seperti ini dengan sangat halus.”
“Jadi bilang lubang ini tercipta dengan sendirinya gitu Jer?”
“Ya aku gak bermaksud gitu juga, tapi yang pasti lubang ini terlalu sulit untuk dibuat dengan menggunakan alat apa pun.”
“Sulit apaan sih? Kan cuma menancapkan sebuah alat seperti paku kemudian menariknya kembali.”
“Gak sesederhana itu Vin, lagian mana ada paku yang ujungnya segi enam, coba kau dekatkan tanganmu kepada lubang ini.” Jeremy menarik tangan Marvin mendekat kepada lubang tersebut.
“Eh iya loh, kok ada angin keluar dari dalamnya? Trus dingin banget lagi.”
“Makanya aku bilang lubang ini aneh Marvin.”
“Oke aku akui kalau lubang ini aneh, terus mau diapain coba?”
“Deeeg…!” Sebuah benda terjadi dari atas dan menancap di hadapan mereka berdua.
“Lu liat gak Jer? Apa tuh barusan?”
“Ya tinggal lihat aja kali Vin, kan barangnya masih ada di depan kita juga.”
Marvin merunduk dan mengambil benda jatuh itu.
“Oh kirain apa, ini sih cuma besi.”
“Coba lihat Vin, untung aja gak menimpa kepala kita tadi. Tapi aneh ada besi yang terjadi di tempat seperti ini.”
“Iya Jer, di dekat sini kan gak ada tiang listrik atau bangunan tinggi apa pun.”
“Terus dari mana datangnya coba? Eh coba perhatiin bentuknya Vin! Kok bisa segi enak kayak lubang di pohon ini ya?”
“Cocokologi lu mah Jer, mana ada yang seperti itu.”
“Perhatiin deh, aku gak mengada - ada kok.”
Marvin mencoba memasukkan benda aneh itu ke dalam lubang tersebut. Perlahan sedikit demi sedikit benda itu masuk ke dalamnya dengan sedikit dorongan.”
“Tu kan bisa masuk Vin, tapi masih sisa sedikit, tekan lebih kuat lagi deh!”
“Iya gue juga lagi berusaha, tapi sepertinya memang bisa masuk lagi.”
Benar seperti yang dikatakan Jeremy, akhirnya benda itu masuk seluruhnya ke dalam lubang yang ada di pohon tersebut.
“Kreeek!” Terdengar suara seperti pintu yang terbuka. Maka keluarnya asap berwarna putih dari dalam pohon dan menyelimuti tempat itu. Sampai - sampai tanah yang mereka pijak tidak lagi terlihat akibat saking tebalnya asap tersebut.