Kedua orang itu terdiam bercampur kagum dengan apa yang terjadi di hadapannya. Sesuatu yang bertentangan dengan logika seperti itu terlalu aneh bagi mereka.
“Vin, tempat kok semakin aneh aja. Biarpun dibilang tempat horor, tapi ya gak sampai ada usah pake asap - asapan juga kali.”
“Trus kita mau ngapain nih Jer?”
“Tunggu sebentar lagi. Lagian kita sudah gak mundur lagi kok Liat ada dibelakang kita sudah da jalan pulang lagi.”
“Gak ada jalan pulang? Loh bukannya tadi masih kelihatan?” Marvin menoleh kebelakang dan tambah kaget karena tempat itu sudah sepenuhnya tertutup dengan asap putih.
“Makanya gue santai aja Vin? Lagian lo berisik amat sih. Kita sebagai laki - laki mesti ada jiwa petualangan dong. Masak cuma karena muncul pintu dari pohon aja lo udah mau mundur.”
“Enak aja, kan udah gue bilang kalau gak takut sama apapun. Tapi lain masalahnya kalau kita sampai terlambat pulang. Lo gak tahu gimana orang tua gue sih.”
“Anak mami lo ya!” Jeremy terlihat kesal dengan keluhan - keluhan Marvin.
Jeremy menatap pintu tersebut dan merasakan suatu daya tarik yang mempertebal rasa penasarannya. Jauh di dalam hati dia sangat ingin mengetahui apa yang ada di dalam pintu misterius itu. Tapi Marvin pasti akan menghentikan niatnya itu.
Tanpa sadar kakinya sudah melangkah mendekati pintu tersebut.
“Jer, lo mau ngapain? Jangan bilang lo mau masuk ke dalam sana?”
Jeremy pun tersadar ketika mendapat teguran dari Marvin yang menyentuhnya dengan tangan yang mulai bergetar.
“Hah? Eh iya kita ngomong apa tadi?” Jeremy menatap Marvin untuk mencari alasan atas apa yang terjadi apa dirinya.
“Udah lupain aja Jer! Kita pulang aja yuk. Sapa tau jalannya cuma tertutup asap ini saja. Kalau di terobos gue yakin kita bisa menemukan jalan pulang.”
“Mana ada? Emangnya lo gak bisa merasakan kalau kita sudah gak ada di tempat sama dengan saat kita datang tadi.”
“Jangan aneh - aneh sih Jer. Gimana kalau kita coba aja dulu?”
“Udah tanggung Vin! Tangan lo kenapa getar sih. Santai aja mas bro! Kan disini gue.”
“Malah itu yang buat gue semakin khawatir. Lagian lo aneh deh penasaran sama pintu misterius gt.”
“Ya kalau gak misterius mana bisa buat penasaran. Kalau lo gak mau masuk berarti gue sendiri aja yang kesana. Udah lo tunggu aja disini. Tapi kalau terjadi apa - apa sama lo disini gue gak tanggung jawab ya.”
“Nah kan lo sih gitu Jer. Ya udah deh kalau gitu gue juga ikut masuk. Tapi masuk dikit aja ya. Ngintip aja deh.”
“Iya iya bawel. Ngomong - ngomong jangan pegang tangan gue dong. Gini - gini gue masih suka cewek dong.”
“Eh iya maaf. Tapi santai dong lo Jer!” Marvin melepaskan genggamannya pada lengan Jeremy.
“Iyee...gue mah sudah santai dari tadi!” Jeremy kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam.
“Kami sudah menunggumu manusia terpilih.” Tiba - tiba terdengar suara aneh dari dalam pintu itu saat mereka ada tepat di depannya.
“Vin, lo denger suara barusan gak?”
“Suara apaan sih? Jangan buat gue takut Jer!”
“Serius lo Vin? Gue lagi gak mau bercanda nih.” Langkah Jeremy terhenti dan melihat kembali kepada Marvin.
“Iya beneran lah! Gue gak dengar suara apa - apa. Jangankan suara, gue juga neh suara jangkrik hutan aja tiba - tiba lenyap waktu asap putih ini muncul.”
Jeremy terkejut karena hanya dia yang bisa mendengarkan suara tersebut walau tidak mengerti dengan kata - kata tersebut.
“Jangan takut anak muda. Kau tidak perlu takut karena kami adalah penjaga pohon ini saat pak tua itu kembali ke rumahnya.”
“Pak tua?” Jeremy berkata dalam hatinya.
“Iya pak tua bernama Jack itu adalah penjaga gerbang ini. Yang ada di hadapanmu adalah salah satu gerbang yang ada di dunia ini. Tidak ada yang bisa membukanya tanpa mendapatkan izin dariku atau pak tua itu. Tapi aku terkejut tiba - tiba Gerbang ini terbuka di hadapan manusia biasa.”
Sebenarnya Jeremy tidak begitu mengerti atas semua yang dikatakan oleh suara misterius itu. Tapi dia tidak punya pilihan selain hanya mengiyakannya. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa penasarannya untuk melihat apa yang ada didalamnya. Bahkan saat dia bertambah ingin mengetahuinya.
“Apakah kau ingin memasuki gerbang ini? Tapi aku mengingatkan kepadamu setiap orang yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang mistis tidak pernah kembali dalam keadaan yang sama.”
Perkataan itu pun akhirnya sedikit menggoyahkan tekad Jeremy untuk masuk ke dalam Gerbang itu. Saat ini dia masih berdiri di depan gerbang tersebut tanpa kata - kata menatap ke ujung kakinya.
“Apa maksudmu keluar dalam keadaan tidak sama lagi?” Jeremy berusaha menguak informasi dari suara tersebut.
“Hahaha, siapa tahu? Tapi sebagai manusia kau dapat memilih apa yang akan kau lakukan saat ini. Kalau kau tidak ingin melakukannya, aku akan mengembalikan kalian ke asal dan menghapus semua ingatan akan tempat ini dari pikiran kalian sepenuhnya. Dengan begitu semua sensai yang kalian rasakan disini akan sirna sehingga dapat hidup normal seperti biasanya.”
Jeremy pun membalikkan badannya dan melihat Marvin yang sudah sangat ketakutan. Walau dia sangat ingin masuk ke dalam gerbang itu dan menanggung apapun resiko yang akan terjadi, dia tidak mau melibatkan Marvin lebih jauh lagi.
“Jadi apa keputusanmu anak muda?”
Jeremy menarik nafasnya.
“Baiklah, kembalikan kami ke tempat asal. Aku tidak bisa melibatkan temanku dalam keegoisanku.”
“Sekarang aku mengerti. Kau ternyata orang yang menarik. Biasanya mereka pasti akan memaksa untuk masuk dan mengikuti rasa penasarannya. Tapi kau malah mengorbankan keingintahuanmu demi kebaikan orang lain. Tapi apapun yang terjadi, kau sudah membuat keputusan.”
“Jer, sudah kayaknya sudah terlalu sore deh. Pulang yuk!” Panggilan Marvin mengejutkan Jeremy yang sedang berpikir.
“Hah, kok kita bisa ada disini. Bukannya seharusnya kami ada di depan gerbang misterius itu?” Jeremy bertanya dalam hati.
“Loh kok diam aja Jer? Nanti lo bisa dicari - cari sama orang tuamu loh.”
“Eh iya Vin, ayo kita segera pulang sebelum membuat orang rumah cemas!”
Di perjalanan Jeremy pun menyadari kalau sebenarnya hanya dia yang mengingat apa yang telah terjadi tadi. Dilihat dari wajahnya, Marvin sangat gembira seperti pulang bermain.
Jeremy bertanya - tanya di dalam hatinya mengapa hanya dia yang dapat mengingat peristiwa tersebut. Dia teringat akan perkataan tentang manusia terpilih. Saat sampai dirumah, Jeremy berpikir suatu hari mungkin akan kembali ke tempat itu karena ada takdir yang menantinya.