Pengalaman Tak Terduga : Tamu Dalam Mimpi

1280 Words
Malam itu di kamarnya Jeremy merenungi apa yang dialaminya hari ini. Peristiwa itu masih terngiang di dalam pikirannya. Terutama pada setiap kata - kata yang didengarnya secara misterius tersebut. “Tapi katanya kan gue gak bisa kembali kesana. Cukup jadi pengalaman hidup aja deh.” Setelah beberapa saat dia memejamkan mata akhirnya Jeremy pun tertidur sangat lelap. Saat memasuki alam bawah sadarnya, suatu mimpi yang tidak biasanya terjadi malam itu. Mimpi yang akan mengubah hidupnya, keluarganya, dan seluruh dunia. Dalam mimpi itu dia berada di depan gerbang mistis tersebut dengan asap putih yang menyelimuti. “Ternyata benar apa yang dikatakan ramalan itu. Bahkan pilihan dan penolakan tidak bisa menghindari takdir yang sudah digariskan sebelum bumi dan semua bintang tercipta.” Suara yang sama dengan yang didengarnya terasa lebih jelas. Jeremy membuka matanya dan mencari dari mana arah datang suara tersebut. Bahkan dia bergerak dari tempatnya menerobos tebalnya asap putih tersebut. “Apa yang kau lakukan manusia terpilih? Kau tidak akan bisa melihatku dengan mata fana seperti itu. Gunakan kemampuan khususmu itu.” “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Cepat tunjukkan dirimu karena disini tidak ada siapapun selain kita berdua. Aku tahu kalau sedang berada di dalam mimpi. Apakah kau yang melakukan semua ini?” “Kau bukan saja menarik, tapi juga lucu. Bukankah perkataanmu itu sudah sekaligus menjawab pertanyaanmu?” Jeremy terdiam karena menyadari telah salah bertanya padahal niatnya ingin mencari informasi. “Sudahlah! Kau tidak perlu menyembunyikan kemampuanmu. Lagipula aku tidak akan memberitahukannya kepada siapapun. Walaupun begitu, semua orang akan tetap mengetahui hal itu dengan sendirinya.” “Tidak mungkin, hanya Marvin saja yang mengetahui rahasia ini dan aku sangat percaya padanya.” “Kau benar. Tapi memang bukan dia yang memberitahukannya.” Saat sedang suara itu sedang berbicara, Jeremy pun mengikuti saat dari suara tersebut. Dia menggunakan kemampuan khususnya untuk mendeteksi makhluk selain manusia di dalam mimpi itu. Dalam sekejap dia langsung menyadari dimana tempat sosok tersebut. “Ternyata kau benar - benar bukan manusia.” Jeremy menatap seorang pria dengan menggunakan pakaian serba hitam di hadapannya. “Salam kenal, perkenalkan aku adalah salah satu penjaga Gerbang Mistis dan juga salah satu dari dua penjaga bumi bagian utara yang biasa disebut sebagai Medallion. Tapi kau dapat memanggilku dengan nama Hur.” “Jangan bercanda! Kau kira aku dengan mudahnya percaya pada seorang yang tidak permisi masuk ke dalam mimpiku. Kau pasti makhluk dunia lain yang ingin merusak jiwaku melalui mimpi bukan? Kau salah mengira kalau aku sama dengan manusia lainnya. Aku memiliki kendali penuh alam sadar dan bawah sadarku sendiri. Di tempat ini akulah penguasanya. Kau hanya tamu yang tidak diundang.” “Kau benar sekali. Maaf saja kalau aku mendatangimu dengan cara seperti ini karena kita sudah tidak memiliki waktu. Sebentar lagi kota ini akan diserang oleh pasukan jahat yang sudah mengganggu dunia manusia.” “Teruskan saja omong kosongmu pak tua. Aku tidak akan percaya pada bualan seperti itu.” Jeremy pun mengubah keadaan disitu menjadi lebih sempit dari sebelumnya. Dia bermaksud untuk mengurung Hur disitu agar bisa memberikan informasi tentang pohon misterius di desanya. Tapi Jeremy tidak menyadari siapa sebenarnya orang yang ada dihadapannya. “Jadi kau menggunakan trik seperti ini untuk melawanku. Baiklah kita lihat siapakah yang berkuasa di tempat ini sekarang.” Hur pun meniupkan hawa dingin secara perlahan dari mulutnya. Asap putih yang tadi terasa seperti udara kini berubah menjadi embun basah yang sangat dingin. “Pak tua, apa kau lupa kalau kita sedang ada di dalam mimpi? Kau kira trik seperti pengaruh kepadaku.” Tapi perlahan hawa dingin itu pun menyentuh kulitnya sehingga membuat Jeremy melipat tangannya untuk menghangatkan tubuhnya. “Apa yang terjadi anak muda? Bukankah kau bilang kita sedang ada di dalam mimpi sehingga kau tidak bisa merasakan apa - apa?” Sementara asap tersebut semakin tebal bersama dengan hawa dingin yang terkandung di dalamnya. Jeremy menyadari kalau saat ini hawa dingin ini pasti sudah mempengaruhi tubuh aslinya yang sedang tertidur di dunia nyata. Yang membuatnya khawatir bukanlah dirinya sendiri, tapi saat ini di dalam rumah ada orang tua dan adiknya yang sedang tidur. “Apa yang kau lakukan pak tua? Bagaimana mungkin kau dapat menggunakan kemampuan ini. Bukankah makhluk selain manusia tidak boleh mengganggu kehidupan manusia dan dibatasi kemampuannya.” “Wah wah wah, sebagai anak muda dengan kemampuan dasar sepertimu memiliki pengetahuan sedalam itu. Darimana kau mengetahuinya?” “Tentu saja pengamatan. Aku bukan orang bodoh yang membiarkan misteri terjadi di depan mataku dan diam saja.” “Ternyata hanya dengan rasa ingin tahu saja sudah membuatmu berkembang sedemikian pesat. Dengan bantuan kami kau pasti bisa jadi Medallion yang hebat di masa depan untuk melindungi dunia.” “Tidak usah banyak bicara! Kau belum menjawab pertanyaanku bagaimana kau dapat menggunakan kemampuan ini?” “Bukankah sudah jelas. Karena aku pun manusia sama sepertimu sehingga aku tidak memiliki batasan untuk mengembangkan kekuatan sampai tingkatan di atas akal sehat manusia normal. Kalau kau mau kami dapat membantumu memilikinya juga. Jadi apakah kau mau bekerjasama dengan kami?” “Maaf tapi aku tidak bisa menerima tawaranmu sekalipun seperti cukup menggiurkan mengetahui cara kerja kekuatan itu. Tapi walau begitu aku tidak ingin memilikinya karena kekuatan besar pasti menuntut tanggung jawab yang lebih merepotkan lagi.” “Apa? Kau tidak mau memiliki kekuatan besar seperti ini? Bahkan kau dapat mengembangkannya menjadi lebih tinggi lagi.” Hur terus berteriak sehingga membuat suhu tempat itu menurun drastis seperti kutub utara. “Oh maaf anak muda, sepertinya aku menjadi terlalu bersemangat. Aku hanya ingin bermain - main dengan kemampuan yang kau miliki itu.” Tiba - tiba suasana tempat itu pun kembali normal. Asap putih yang sangat tebal itu pun menghilang dari antara mereka. “Huh, kemampuanmu benar - benar diluar batas pemahaman manusia bahkan aku sekalipun yang sering melihat berbagai peristiwa aneh. Tapi seperti yang aku katakan tadi, apapun yang terjadi aku tidak menginginkan kekuatan atau terlibat dalam pekerjaanmu yang namanya Medalian ya tadi?” “Medallion. Aku tidak bisa memaksamu menerima penawaranmu saat ini. Tapi walau begitu kalau kau berubah pikiran, aku menunggumu Gerbang Mistis tersebut.” “Terima kasih atas penawaran darimu. Tapi baik sekarang, nanti, dan sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya.” “Anak muda kau tidak tahu apa sedang kau katakan. Tapi aku dapat merasakannya kalau jauh didalam hatimu kau terpanggil untuk tugas ini. Ingatlah perkataanku, kau tidak akan bicara melarikan diri dari takdirmu.” “Sayang sekali kita memiliki prinsip yang berbeda. Bagiku takdir adalah perubahan yang terjadi akibat semua keputusan yang dibuat setiap hari. Tapi aku ku ingat perkataanmu untuk menghormati kebaikanmu.” Hur berjalan mendekati Jeremy sambil mengeluarkan sebuah tongkat dari balik jubah hitam yang dikenakannya. “Ambil ini sebagai hadiah dariku. Anggap saja sebagai kenang - kenangan dari seorang pak tua. Benda itu selalu mendampingiku dalam setiap petualangan dari masa mudaku.” “Baiklah pak tua. Aku harap kau tidak mengalami kesulitan berjalan tanpa tongkatmu ini.” Jeremy tersenyum sambil menerima tongkat tersebut dengan kedua tangannya. “Sampai jumpa lagi anak muda.” Hur menepuk pundak Jeremy dengan lembut dan mantap. Tiba - tiba Jeremy pun terbangun dari mimpinya itu disertai dengan suara ayam yang berkokok di depan rumahnya.  Saat dia melihat kamarnya sudah selimuti oleh hawa dingin yang menghasilkan salju tipis. Jeremy yang tidak ingin hal itu diketahui oleh keluarganya langsung berdiri untuk membersihkan kamarnya. Namun dia berdiri dengan bertumpu pada sebuah benda di tangannya. Jeremy sadar bahwa yang didapatkan dari mimpi itu bukan hanya hawa dingin dan salju tersebut. Tapi sebuah tongkat pemberian itu pun terwujud di dunia nyata. Jeremy menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. “Dasar mimpi aneh.” Tongkat tersebut akhirnya diletakkan di bawah tempat tidurnya. Agar tidak ditemukan oleh orang lain, dia menutupnya dengan banyak barang lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD