Keesokan harinya saat berada disekolah semua berjalan seperti biasa. Saat Jere bertemu Marvin pun tidak ada omongan tentang apa yang terjadi kemarin. Tapi Marvin terlihat seperti orang bingung saat berkumpul dengan teman - temannya termasuk Jeremy. Hal itu membuat Jeremy curiga. Dia takut kalau Marvin sebenarnya berpura - pura lupa saja.
“Bro, lo kenapa? Kok kayak orang galau gt? Kalau ada masalah cerita - cerita dong. Jangan - jangan lo lagi dapet ya?” Jeremy bercanda untuk memecahkan suasana.
Semua orang yang ada disitu pun tertawa. Tapi Marvin tidak seperti biasanya. Dia hanya diam dan langsung melihat kepada Jeremy yang sedang tertawa itu, lalu dia membalas dengan senyuman tipis.
“Maaf nih, gue ke kelas dulu ya. Lagipula sebentar lagi kan kita masuk. Ada tugas yang mau gue periksa dulu sebelum dikumpulkan.” Mendengar perkataan Marvin, Jeremy terkejut.
“Emangnya adat tugas apa?” Jeremy menatap Marvin dengan mata melotot.
“Jer, kita kan ada tugas pelajaran bahasa Jepang, masak lo gak tau sih. Kalau gue sih sudah selesai.” Salah seorang dari temannya menjawab disertai dengan yang lain.
“Mana ada! Lo semua pasti bercanda kan?” Jeremy berusaha mengelak sambil mengingat - ingat tugas tersebut.
“Pokoknya ada kok. Yang lain juga buat kan. Nah lo tadi malam ngapain? Pasti sudah keburu tidur kan? Kayak lo gak kenal sama pak Bonjov aja. Kalau tugasnya gak dikerjain bisanya bakal disuruh salin kamus 10 halaman penuh,” jawab temannya.
“Astaga, Vin, kemarin kenapa lo gak ingatkan gue tugas ini sih?”
“Oh gue kira lo ingat ada tugas. Bukannya lo selalu buat tugas. Jadi gue pikir gak perlu ingatin dong. Ya udah, gue ke kelas dulu ya.” Marvin berdiri dan meninggalkan teman - temannya.
“Ya elah, bantuin gue buat tugas sekarang dong.” Jeremy pun langsung berdiri dan mengejar Marvin yang sudah menjauh.
Saat sedang berlari Jeremy tiba - tiba terhenti dan melihat keatas. Langit yang tadinya cerah mendadak mendung dengan awan hitam yang berputar. Matanya tertuju pada titik - tik hitam yang mendekat dari arah selatan. Sementara dari arah sebaliknya tampak titik - titik cahaya mendekat dengan cepatnya. Mata Jeremy tidak sempat berkedip karena melihat fenomena luar biasa tersebut.
“Vin, lo emangnya di kota ini langit bisa jadi gitu ya?”
“Gitu gimana?” Marvin berbalik kepada Jeremy.
“Ya seperti itu!” Jeremy menunjuk ke atas langit memperlihat kepada Marvin apa yang dilihatnya.
“Kirain ada apa Jer! Itu mah mendung biasa. Masak iya di daerah asal lo gak pernah lihat mendung, langit mau hujan gini. Buruan kita ke kelas sebelum hujan.” Marvin pun mempercepat langkahnya meninggalkan Jeremy di tempat itu yang terus menatap ke langit berbicara sendiri.
“Masak sih dia gak bisa lihat kalau ini bukan awan mendung biasa. Atau mungkin ini…?”
Maka ingatlah Jeremy dengan peristiwa - peristiwa aneh yang dialaminya kemarin. Mungkin itulah yang membuat kemampuannya meningkat sampai bisa melihat peristiwa hari ini.
“Apaan tuh?” Yang tadinya hanya tampak seperti titik - titik hitam biasa terlihat seperti makhluk hidup saat mendekat. Tapi ternyata dilihatnya beberapa orang berbaju hitam menaiki makhluk seperti anjing tapi memiliki sayap besar. Saat mereka memasuki batas awan yang berputar itu angin pun berhembus dengan kencangnya.
“Ini sih bukan angin biasa. Kalau lebih kuat lagi sudah badai namanya.” Jeremy mencari tempat berlindung agar tidak tertiup oleh angin yang sedang mengamuk.
“Jer, ngapain lo masih disitu? Ayo buruan masuk kelas.” Marvin berteriak dari depan kelasnya.
“Iya iya bentar!” Jeremy berjalan tapi sesekali masih melihat ke atas. Akhirnya dia bisa berlindung di bawah pohon besar di depan kelasnya. Tapi tiba - tiba angin ribut itu pun lenyap begitu saja.
Saat Jeremy melihat ke atas tampaklah kelompok berjubah hitam itu pun dihadang oleh sekumpulan cahaya warna - warni di atas langit. Setelah dilihat dengan seksama, cahaya itu berasal dari jubah yang dikenakan oleh beberapa orang dengan membawa senjata.
“Astaga, pemandangan yang sangat aneh. Apa yang sedang terjadi disini? Mengapa semua orang di bawah sini tidak melihat menyadari semua ini?” Jeremy tidak bisa memahami apa yang sedang dialaminya. Terlebih hanya dia yang menyadarinya.
“Nah loh mereka bawa apa tuh?” Orang - orang berjubah hitam itu pun mengangkat benda seperti tali.
“Bukannya itu cambuk?” Kelompok berjubah hitam itu pun langsung menyerang orang yang ada di hadapannya bersama - sama. Hal itu pun membuat angin ribut kembali terjadi.
Salah satu dari orang yang menggunakan pakaian berwarna merah pun menangkis serangan tersebut dengan senjata seperti panah api. Angin ribut pun diredakan berganti dengan satu cahaya cerah dari balik awan hitam
“Yang benar aja nih. Masak semua yang terjadi di bumi tercipta dari apa yang terjadi di langit. Kalau orang - orang berjubah itu menang, berarti bisa saja disini terjadi malapetaka.” Jeremy mengingat perkataan Hur di dalam mimpinya tadi malam.
“Apa mungkin mereka yang disebut sebagai Medallion? Pak tua itu rupanya tidak main - main dengan perkataannya. Kekuatan orang berjubah merah seperti pak tua itu.”
“Masih lanjut ternyata.” Salah seorang berjubah hitam itu pun bergerak ke suatu titik diikuti dengan yang lain. Mereka sepertinya sedang membentuk formasi dengan pola tertentu.
Orang yang berjubah mereka itu pun mundur lalu digantikan oleh dua orang berjubah ungu dan putih dengan formasi juga.
Kelompok berjubah menyatukan kekuatan, maka terbentuklah asap hitam berbentuk tombak besar.
“Waduh, masak sih ada kekuatan sebesar itu. Siapapun yang terkena serangan itu pasti tinggal nama dong.”
Tapi tidak seperti yang dipikirkan oleh Jeremy, tombak tersebut ternyata malah diarahkan kebawah, tepat ke sekolah tempat dia berada sekarang. Maka gempa bumi tiba - tiba terjadi dan membuat para siswa keluar dari ruangannya. Bahkan Marvin yang sedari tadi memaksa Jeremy masuk kelas pun kini sudah berkumpul di tengah lapangan untuk menyelamatkan diri dari gempa bumi.
“Bukannya lo mau di kelas Vin? Terus kenapa keluar?” Jeremy menyindir temannya yang sedang kalut tapi pandangannya masih terus mengarah ke pertarungan di atas langit.
Kini sebuah tombak dengan kekuatan gelap sedang mengarah ke tempatnya berada tapi sayangnya dia tidak bisa berbuat apa - apa. Semakin dengan tombak itu, maka semakin kuat gempa yang terjadi. Saat ini dia sudah berpegang kepada pohon yang ada di dekatnya bersama dengan siswa lain.
Namun sebelum tombak tersebut sampai ke bumi, suatu perisai dua lapis muncul menahan serangan tersebut. Saat tombak itu menyentuh perisai itu langsung hancur seketika. Dengan demikian gempa pun perlahan reda. Saat semuanya selesai, terlihat kedua orang berjubah cahaya itu pun kembali lagi ke posisinya.
“Kalau saja tidak ada mereka pasti kami sudah menjadi korban dari gempa bumi tadi. Aku tidak tahu kalau keberadaan mereka bukanlah omong kosong belaka.”
Beberapa cahaya pun akhirnya menembus awan hitam tersebut. Para jubah hitam itu pun terlihat terdesak akibat kekuatan dari para Medallion. Jeremy menyadari betapa tidak berdaya dirinya saat diperhadapkan dengan kekuatan kegelapan tersebut.
“Masak aku gak bisa berbuat apa - apa dan hanya pasrah menerima perlakuan para jubah hitam itu. Mungkin kali ini kami bisa selamat karena Medallion itu datang tepat waktu. Lalu bagaimana kalau disaat yang bersamaan mereka sedang menolong tempat lain?”
Berbagai pertanyaan yang menuntut kesiapan dirinya pun terlintas didalam pikiran Jeremy.
Dia melihat orang - orang disekitarnya pasti sama seperti manusia lainnya yang menjadi bagian dari dunia ini. Hanya bisa menerima apa yang terjadi tanpa bisa berbuat apa - apa. Tapi Jeremy tidak seperti mereka, dia dapat menyadari dan menghindari bahaya dengan kemampuannya. Dia pikir tidak apa - apa selama dia bisa menghindarkan dirinya dan orang yang disayanginya dari bahaya itu sudah cukup.
“Jer, lo gak kenapa - kenapa kan?” Suara seorang wanita mengejutkannya dengan sentuhan lembut pada lengannya.
“Eh June ya, tenang aja gue baik - baik aja kok.”
“Bagus deh. Gue kira lo terluka maka gue kesini karena kebetulan hari ini bawa sedikit obat dari organisasi sekolah.” Melihat kepedulian June membuat Jeremy merasa bersalah karena terlalu memikirkan diri sendiri.
Dengan perasaan yang galau dia melihat kepada para Medallion yang masih menghadang orang - orang berjubah hitam. Tiba - tiba seorang menggunakan pakaian merah mengarahkan panahnya ke depan dengan api yang sangat besar sehingga membuat lawannya langsung mundur. Hal itu membuat awan gelap yang berputar di atas langit pun menghilang tanpa bekas.
“Akhirnya mundur juga. Syukurlah.” Jeremy menghela nafas panjang menyadari dirinya telah lolos dari masalah besar.
Saat dia melihat ke atas, salah seorang dari orang berjubah cahaya itu melihat kebawah. Orang yang menggunakan jubah berwarna biru menatap langsung ke mata Jeremy. Hal itu disadari oleh Jeremy walau dari jarak yang cukup jauh. Orang itu pun tersenyum kepada Jeremy yang galau.
“Tuut...tuut....tuut!” Terdengar suara seperti terompet yang menggema ke semua penjuru. Para Medallion pun pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa siswa yang tidak sempat keluar dari ruangannya menjadi korban dengan luka - luka berat akibat tertimpa langit - langit yang sudah lapuk.
“Jer, untunglah tidak ada korban jiwa kali ini.” June melihat sekelilingnya.
“Kali ini? Maksud lo disini pernah terjadi gempa kayak barusan ya?”
June terkejut melihat respon dari Jeremy.
“Oya deh, gue baru ingat kalau lo kan orang baru disini ya. Pantesan gak tahu tentang bencana - bencana tahunan kota ini. Buat orang - orang disini bukan hal aneh kalau terjadi gempa seperti tadi. Bahkan pernah terjadi yang lebih parah lagi dan memakan banyak korban jiwa.”
“Masak sih June? Apa gempa yang lo maksud disertai dengan awan mendung seperti tadi?”
“Kok lo malah nanya awan Jer? Tapi kalau diingat - ingat emang iya sih. Semua kejadian itu hampir semuanya bertepatan dengan mau datangnya hujan. Aneh sih ya. Tapi mungkin cuma kebetulan aja kok.”
“Oh gitu ya. Terus hujannya turun gak June?” Jeremy berusaha mengorek informasi dari June yang merupakan seorang jurnalis di sekolah itu.
“Lo mau ngetes pengetahuan gue ya Jer? Tapi kayaknya gak pernah turun hujan walau sudah mendung banget. Yang ada gempanya semakin menjadi - jadi. Yang penting hari ini kita bisa selamat tanpa korban jiwa itu sudah hebat kok.”
Di dalam hatinya Jeremy merasa bersalah karena telah meragukan kata - kata dari Hur. Dia berpikir kalau peristiwa yang terjadi hanya sebatas fenomena horor yang biasanya menakuti orang - orang saja.
Oleh karena gempa yang terjadi tadi membuat kegiatan sekolah pun ditiadakan dan siswa diperbolehkan untuk pulang lebih awal. Di depan gerbang sekolah Jeremy bertemu dengan June dan Marvin yang sedang berbincang - bincang.
“Mentang - mentang pulang cepat langsung pacaran aja kalian.”
“Pacaran dari Hongkong! Kami sengaja nungguin lo buat ngajak main abis pulang sekolah,” jawab Marvin dengan nada sewot.
“Kok bisa? Emangnya rumah June dekat dengan rumah kita ya.”
“Dekat banget sih gak Jer, tapi kalau naik motor 5 menit sampai kok. Dia kan tinggal di kampung sebelah.”
“Kampung - kampung! Enak aja rumah gue dibilang kampung. Jadi lo mau gak Jer?”
“Gak masalah sih June. Tapi emangnya gak apa - apa abis bencana tadi kita jalan - jalan?”
“Santai Jer. Kan udah gue bilang tadi kalau orang daerah sini sudah biasa dengan gempa gitu.”
“Ya udah. Kalau gak masalah.”
Saat mau berpisah Jeremy melihat gantungan kunci yang dipakai oleh June. Dia merasakan adanya energi mistis yang terpancar dari benda itu. Akan sangat berbahaya bagi seseorang membawa benda itu kemana - mana sendirian.
“June, lo dapat gantungan kunci ini itu dari mana? Kok unik ya bentuknya?” Jeremy berusaha sebisa mungkin tidak membuat June curiga dengan maksudnya.
“Oh ini gue dikasih sama keluarga dari luar kota beberapa tahun lalu. Katanya buat keberuntungan aja gitu. Lagian seperti yang lo bilang bentuknya unik. Jadi gak ada salahnya gue terima kan. Gak enak juga menolak maksud baik dari orang lain.” June menjadi dengan santainya sambil menunjukkan benda itu kepada Jeremy lebih dekat.
“Gitu ya, tapi kayaknya kurang cocok sama warna tas yang lo pake deh.”
“Kan sudah gue bilang dari dulu kalau gantungan ini gak cocok sama tas lo.” Marvin menambahkan.
“Kalau cuma Marvin yang bilang mana lah gue percaya. Wong selera dia jelek gitu. Tapi kalau Jeremy juga sependapat berarti nanti gue lepas aja deh kalau sudah sampai dirumah.”
“Eh tapi gue cuma kasih saran aja loh June. Gue gak bisa lo jelek pake itu ya.”
“Santai kali Jer, gue juga sadar kok pake apa aja tetep cantik. Mana ada yang bisa mengubah fakta itu.”
“Tuh kan, emang Jeremy memuji lo? Gak kali. Dia cuma bilang gak cocok aja.” Marvin tidak terima dengan kepercayaan diri June.
“Kalian para pria emang gak bisa ngaku aja kalau gue emang cantik ya. Tapi gak apa - apa kok dengan cara seperti itu. Gue kan bisa mengerti perasaan kalian yang terlalu mengagumi gue.”
“Jer Jer pulang yuk Jer! Kalau lama disini dengar omongan bisa lemes nih dengkul gue.” Marvin menarik tas Jeremy dengan paksa dan meninggalkan June disitu.
“Emang gak apa - apa Vin kalau kita tinggalin dia sendirian disitu?”
Jeremy sebenarnya mau menunggu sampai June dijemput oleh orang tuanya karena khawatir June masih mengenakan gantungan kunci tersebut.
“Dia sudah biasa nunggu sendirian kok. Lagipula masih banyak temen - temen kita disitu yang nunggu bersama dia kan. Dia juga bukan anak kecil yang perlu di temenin Jer.”
“Oya benar juga sih.”
Maka pulanglah kedua pemuda itu bersama - sama karena rumahnya yang berdekatan.
“Aaaa…!” Terdengar suara teriakan wanita dari arah sekolah saat Jeremy dan Marvin dalam perjalanan pulang.
“Vin, lo ada dengar suara wanita gak?”
“Iya itu suara June. Eh iya kenapa dia teriak gitu dong?” Marvin berbalik badan.
“Jeremy terkejut saat melihat asap hitam di atas sekolahnya walau tidak sebesar yang terjadi tadi.”
Maka Jeremy pun teringat akan gantungan kunci milik June tadi. Dia memang merasakan suatu kekuatan yang keluar sangat kuat barusan. Tanpa berpikir panjang Jeremy pun berlari ke tempat mereka tadi meninggalkannya.
“Jer, mau kepada lo? Jangan tinggalin gue disini juga dong!” Marvin pun berlari menyusul Jeremy yang sudah sangat jauh darinya.
Ketika tiba di gerbang sekolahnya Jeremy tidak menemukan keberadaan dari June sedikit pun. Lalu dia juga bertanya kepada teman - temannya apakah ada yang menjemput June. Jawaban yang diterima Jeremy hampir sama dari semua orang disitu. Mereka berkata kalau June tiba - tiba saja menghilang tanpa sebab.