Panggilan Berperang : Bertemu Penguasa Udara

2274 Words
Saat Jeremy menyadari terjadi suatu hal yang tidak baik pada June membuatnya langsung terpikir untuk bertindak dengan cepat dengan kemampuan yang dimilikinya. “Jer, gila banget lo lari kayak angkot kejar setoran deh. Kenapa sih? June baik - baik aja kan. Lo aja yang panikan orangnya.” Marvin tiba - tiba datang dengan nafas yang terengah - engah akibat mengejar Jeremy. Tanpa membalasnya dengan candaan seperti biasa, malah Jeremy berlari kian kemari seperti mencari sesuatu. “Vin, lo tahu tempat yang paling tinggi disini gak?” Ucap Jeremy dengan nada sedikit berteriak. “Emang lo mau ngapain? Eh June dimana? Cepat banget sih tu anak pulangnya. Gak seperti biasa.” “Gak usah banyak tanya! Cepat lo kasih tau gue dimana tempat paling tinggi disini!” Jeremy masih mencari keberadaan June di sekitar tempat itu. “Oke oke, sekarang ikut gue!” Marvin menuntun Jeremy ke suatu arah. Lalu Marvin membawa Jeremy ke suatu bangunan kosong yang setengah jadi dengan tiga lantai sampai ke balkon. Di atas bangunan tersebut Jeremy memfokuskan kemampuannya pada keberadaan kekuatan dari benda mistis yang dibawa oleh June tadi. Di kejauhan Jeremy akhirnya menemukan sosok berjubah hitam sedang terbang menggunakan benda seperti kayu.  “Mungkin dia yang sudah membawa June!” Jeremy dengan cepat turun dari bangunan itu dan berlari ke arah sosok tersebut tanpa memperdulikan Marvin yang baru saja menghela nafasnya. “Woi! Mau kemana lagi sekarang? Tungguin gue kenapa Jer!” Walau tidak mengerti Marvin tetap mengikuti kemana pun Jeremy pergi. Karena sangat khawatir dengan keadaan June yang sedang berada ditangan sosok hitam itu membuat Jeremy dapat meningkatkan kecepatannya menjadi berkali - kali lipat. Bahkan saat ini Marvin hampir tidak bisa mengejar kecepatan tersebut. Dia hanya bisa melihat kemana arah Jeremy berlari. “Astaga, kenapa dia bisa lari secepat itu sih? Mungkin dia atlet lari cepat kali ya? Oya kalau gak salah dia ke arah sini kan? Bener deh, kayaknya yang kuning itu warna tasnya Jeremy.” Marvin melihat dari kejauhan sementara Jeremy sudah semakin jauh. “Sorry Vin, kali gini gue gak bisa melibatkan lo lagi dalam masalah ini. Lagipula apa hubungan makhluk itu dengan June sampai terjadi yang seperti ini?” Dengan tenang Jeremy terus mengikuti pergerakan dari sosok hitam tersebut. Tidak terasa sekarang dia sudah berada di tengah lahan kosong yang sangat luas dan melihat sosok tersebut berhenti disitu. Ternyata bukan hanya dia yang ada disitu. Sudah ada beberapa sosok hitam lain yang sudah menanti. “Woi, mau kalian mau bawa kemana temen gue?!” Jeremy berteriak sejadi - jadinya karena melihat June sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri lagi. Kemudian para makhluk itu tidak memperdulikan teriakan dari Jeremy yang berada semakin dengan mereka. Sepertinya para makhluk berjubah hitam itu tidak menyadari kalau Jeremy dapat melihat mereka. “Jangan pura - pura tidak tahu! Kembalikan June!” Kembali Jeremy berteriak sekuat tenaga tanpa takut terjadi sesuatu pada dirinya. Baru mereka melihat kepada Jeremy secara perlahan. Saat berbalik Jeremy pun melihat sosok mereka yang sebenarnya.  “Astaga, makhluk apa sebenarnya yang kuhadapi sebenarnya?” Kata Jeremy dalam hati saat melihat mata mereka yang berwarna merah menyala. Dari d**a mereka terpancar warna merah yang lebih terang dari matanya. Sepertinya ada bara api yang tertanam di dadanya. “Tuan - tuan, ternyata ada manusia yang dapat menyadari keberadaan kita disini.” Salah sekolah yang berdiri paling depan menatap Jeremy dengan binar mata yang semakin terang. “Kau benar Ox, sangat jarang sekali ada manusia biasa yang dapat melihat kita. Lalu apa yang akan kita lakukan pada orang ini? Sepertinya kemampuannya dapat dipergunakan untuk para Dokoon.” Orang yang ada di sebelahnya mendekati Jeremy yang tidak mundur sedikit pun.  Saat makhluk itu menyentuh Jeremy tiba - tiba tangannya tersentak seperti terkena sengatan listrik. “Siapa kau sebenarnya anak muda?” Makhluk itu berteriak lalu mundur dan bersiap untuk bertarung. “Aku adalah Jeremy yang merupakan teman dari wanita yang kalian culik itu. Cepat kembalikan dia padaku sekarang? Lagipula kalian ini makhluk apa. Kalau kalian adalah makhluk dari dunia lain seharusnya tidak mudah ikut campur dalam kehidupan manusia secara langsung seperti ini.” “Kau terlalu banyak tahu untuk seorang manusia biasa anak muda. Tapi sayangnya kau tidak mengetahui keberadaan Dokoon di dunia ini. Kami adalah manusia sama sepertimu dengan kekuatan dunia gelap yang makhluk melanggar batasan yang dibuat oleh sang penguasa tertinggi. Dengan melakukan pekerjaan ringan seperti ini kami dapat melakukan apa saja dengan kekuatan ini.” “Penjelasanmu terlalu panjang untuk seorang makhluk yang sudah mengkhianati rasanya untuk mendapat kekuatan yang lebih besar. Tapi bagiku kalian hanya sampah yang tidak berarti. Pasti kalian tadi yang membuat benda dari langit bukan?” “Hahaha, kami terkesan dengan pujianmu itu anak muda.” “Ox, dia bahkan bisa melihat peperangan yang berada pada dimensi keempat. Kemungkinan besar dia memiliki hubungan dengan para Medallion itu.” “Apa yang kau katakan itu masuk akal. Berarti kita hanya perlu menghabisi dia di tempat ini untuk menghapus jejak.” “Kau benar Ox, kita masih belum memiliki kekuatan yang cukup apabila harus berperang langsung dengan para Medallion tersebut.” “Tapi apakah kalian melihat pelindung yang ada padanya saat aku menyentuhnya tadi? Dia tidak akan mudah dihabisi dengan cara biasa.” “Kau berlebihan Ortan, itu hanya pelindung kecil yang tercipta dari tekadnya yang ingin menyelamatkan wanita ini. Dengan menambahkan sedikit kekuatan kegelapan pada sihir yang kita miliki pasti dapat menembus pelindung seperti itu.” “Semoga apa yang kau katakan itu benar Ox. Biar aku yang melakukannya.” Saat Ortan mengangkat tangannya, tiba - tiba muncul sebuah kristal berwarna hitam yang menyimpan kekuatan kegelapan dalam jumlah besar di dalamnya.  “Inilah yang terjadi apabila kau berani mengganggu pekerjaan kami anak muda. Hadapilah mautmu!” Dengan menggunakan kekuatan dari kristal itu Ortan mengeluarkan sihir yang dapat menciptakan pisau berwarna hitam dalam jumlah banyak dan ditembakkan kepada Jeremy. Kalau manusia biasa pasti sudah ketakutan apabila mengalami hal itu. Tapi bagi Jeremy yang percaya dengan prinsip yang diyakini membuatnya menatap serangan itu dengan berani.  Saat pisau - pisau itu hampir mengenai Jeremy tiba - tiba dari dalam tanah keluar sebuah benda yang dapat menangkal semua serangan tersebut dengan menciptakan perisai dari tanah. Benda itu adalah tongkat pemberian Hur yang disimpan oleh Jeremy dibawa tempat tidurnya. “Dasar pak tua itu, aku sudah mengira kalau tongkat ini pasti menyimpan kekuatan tertentu. Tapi aku tidak menyangka kalau kekuatannya dalam mengendalikan tanah sedemikian kuat.” Dia pun langsung menggapai tongkat yang ada di hadapannya dengan kedua tangannya. “Apa?! Kekuatan itu! Aku tidak percaya ada kekuatan yang dapat menggunakan bumi sebagai medianya.” Orang yang bernama Ox terkejut melihat serangan mereka berhasil digagalkan oleh seorang anak muda biasa. “Ox, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak tahu kalau kekuatan Medallion dapat menggunakan elemen tanah. Selain itu sebentar lagi Medallion yang terdekat dari sini pasti akan datang merespon kekuatan tersebut. Kita tidak bisa berlama - lama di tempat ini.” Ortan tampak ketakutan. “Sebelum kalian pergi sebaiknya tinggalkan wanita itu disini.” Jeremy memotong percakapan mereka. “Tidak, kalau kami kembali tanpa membawanya pasti nyawa kami yang akan menjadi tumbal kegelapan. Kalau sekarang mungkin masih sempat membawa wanita ini.” Tapi Ox malah mengeluarkan kristal miliknya dan bersiap menyerang.  “Tampaknya kau tidak mau kalah dari bocah sepertiku ya?” Jeremy menyindir Ox. “Jangan dengarkan dia Ox, kita masih punya waktu untuk melarikan diri.” Ortan terus berteriak dan menarik tangan Ox. “Aku tidak akan melupakan penghinaan yang kau berikan ini anak muda. Kali ini aku akan membiarkanmu karena nyawa wanita ini jauh lebih penting.” Lalu mereka bersiap untuk pergi meninggalkan tempat tersebut dengan membawa June.  “Woi, kalian mau kemana membawa June?!” Tidak disangka - sangka Marvin datang dan berteriak menghadang makhluk - makhluk itu. Ternyata dari tadi Marvin sudah bersembunyi di tempat itu. Tapi dia takut untuk menunjukkan dirinya di hadapan kekuatan jahat tersebut. Namun dia secara tidak sadar keluar karena sangat khawatir apabila June dibawa oleh mereka. “Lo juga Vin?” Jeremy terkejut melihat Marvin yang tiba - tiba muncul dan menyadari kehadiran makhluk - makhluk tersebut. “Iya Jer, gue sebenarnya sudah ada disitu dari tadi. Tapi gue gak mau berurusan dengan kekuatan seperti ini lagi. Tapi kalau urusan June gue gak mungkin tinggal diam.”  “Ternyata ada bocah lain yang berani - berani melawan kita. Tapi kali ini sepertinya hanya manusia biasa yang kebetulan ingin mati saja.” “Gue gak perduli apa yang mau kalian lakukan. Yang penting lepaskan June sekarang dan pergilah kemana saja terserah.” “Kami kira kalian sudah pergi meninggalkan daerah ini. Ternyata kalian masih bernyali menampakkan diri setelah kami biarkan hidup tadi. Apakah kalian sudah menyia - nyiakan kesempatan yang kami berikan.” Para Medallion yang tadi bertarung pun hadir di tempat itu turun dari langit dengan cahaya warna - warninya. “Apa?! Sejak kapan kalian…?” Ortan sangat ketakutan sampai tidak berani menatap para Medallion tersebut. “Kami baru saja tiba dan melihat pertunjukkan yang menarik disini. Ternyata wanita itulah yang menjadi tujuan kalian datang kesini.” “Anak muda, kami tahu kalau kau dapat melihat peperangan di udara tadi. Tapi aku tidak menyangka kalau kau memiliki tongkat tersebut. Katakan dari mana kau mendapatkan tongkat itu.” Medallion yang berjubah ungu melihat kepada Jeremy. “Aku kira ini hanya benda kenang - kenangan yang diberikan oleh seorang pak tua dalam mimpi.” “Pak tua? Apakah ada ciri tertentu dari orang yang kau maksud?”  “Ya, memang dia sempat menggunakan kekuatan seperti es sampai membekukan setengah dari kamarku.” “Hahaha, ternyata orang itu sampai melakukan hal menarik begitu terhadap seorang bocah seperti ini.” Medallion berjubah merah tidak bisa menahan tawanya. “Kalau begitu berarti kau adalah orang yang dipilih oleh Hur salah satu dari tujuh pemimpin Medallion di dunia ini.” “Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataanmu? Aku sudah menolak permintaan darinya,” jawab Jeremy.” “Benarkah? Setelah kau melihat apa yang terjadi hari ini apakah kau masih bisa menolaknya. Kau kira dapat menghadapi para Dokoon ini dengan kekuatan yang kau miliki? Aku yakin wanita ini hanyalah satu dari sekian banyak orang yang akan dijadikan tumbal oleh mereka.” “Diam kau Medallion!” Ox berteriak karena rencananya diketahui. “Kami akan berurusan dengan kalian sebentar lagi.” Medallion berjubah merah menatap tajam kepada Ox dan teman - temannya. Tatapan itu entah mengapa dapat mengintimidasi para Dokoon yang tadinya berani menyerang.  “Hey anak muda, katakan padaku siapa namamu?” Tanya Medallion berjubah ungu. “Namaku adalah Jeremy. Aku datang kesini hanya untuk menyelamatkan temanku. Selebihnya bukan urusanku. Kalau kalian mau berurusan dengan makhluk - makhluk itu aku tidak keberatan sama sekali.” “Tapi sayangnya sekarang kami mau berurusan denganmu dahulu karena kau telah menerima tongkat tersebut. Siapa sangka kau malah membangkitkan kekuatan pengendalian bumi yang sangat langka.”  “Lalu apa yang kalian mau dariku?” Jeremy menatap mereka penasaran. “Dengan keberadaanmu di daerah ini membuat kami dapat pergi ke belahan bumi lainnya.” “Lalu bagaimana dengan tempat ini?” Tanya Jeremy. “Seperti yang aku katakan tadi kepadamu Jeremy. Sebagai Medallion kami memiliki etika yang tidak boleh dilanggar. Apabila Medallion di daerah ini sudah bangkit berarti tempat ini bukan lagi bagian dari tanggung jawab kami.” “Siapa Medallion yang sudah bangkit itu? Jangan - jangan orang kau maksud adalah aku. Pasti kalian sedang bercanda.” “Kami tidak bercanda Jeremy. Mulai saat ini kaulah yang bertanggung jawab menjaga tempat ini. Setelah dirimu maka akan bangkit Medallion lainnya yang akan menjadi temanku. Contohnya orang yang ada disana. Aku dapat merasakan kekuatan yang Medallion darinya walau dalam dirinya tersimpan kekuatan aneh yang tidak pernah kami lihat sebelumnya.” Medallion tersebut menunjuk kepada Marvin. “Tapi aku belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab seperti itu,” sanggah Jeremy dengan wajah kebingungan. “Kau tidak perlu takut Jeremy. Jalan hidup akan menuntunmu kepada takdir mutlak. Yang kau lakukan hanya mengikutinya saja.” Jeremy tidak bisa berkata apa - apa lagi mendengar penjelasan dari Medallion tersebut. “Jadi sudah saatnya kita berurusan dengan makhluk - makhluk rendahan ini.”  Medallion berjubah merah menatap para Dokoon. “Kau benar Ben. Apakah kau sudah siap membersihkan dunia ini dari sampah seperti mereka?” “Kau tidak perlu menanyakan sesuatu yang sudah pasti Mose. Dengan senang hati aku akan membasmi hama dunia ini.” “Diamlah kalian disana para Dokoon dan terima takdir mutlak ini.” “Dasar Medallion! Apakah kalian terlalu bodoh? Kalau kalian menyerang kami maka wanita ini juga akan menjadi korbannya.” “Apa?!” Jeremy dan Marvin berteriak bersama - sama. “Jangan salah sangka. Apakah wanita ini yang kau maksud?” Medallion berjubah biru sudah merebut June dari tangan Dokoon. “Bagaimana kau bisa melakukan itu dengan begitu cepat?” Jeremy terkejut dengan kehebatan dari Medallion tersebut. “Aku adalah Mura, Medallion menggunakan kekuatan angin. Kalau dalam hal kecepatan akulah yang rajanya.” “Berarti sekarang kita sudah bisa bertarung bukan para Dokoon? Kalian tidak perlu takut, kami akan menghadapi kalian satu persatu. Tapi kalian boleh maju sekali lima kalau perlu.” Ben maju paling depan untuk berhadapan dengan musuhnya. “Dasar sombong! Kau kira dapat menghadapi kami sendirian? Walau kau adalah salah satu Medallion yang ditakuti oleh banyak Dokoon, tapi kalau bertarung seorang diri pasti tidak begitu susah dikalahkan.” Ox maju bersama dengan Ortan. “Jadi cuma kalian berdua yang mau menghadapiku sekarang. Aku sangat menghargai keberanian kalian. Sepertinya kalian baru bergabung dengan Dokoong sehingga tidak lari saat bertemu denganku.” “Untuk apa kami lari dari lawan yang bertarung seorang diri sepertimu.” Ortan mengeluarkan kristalnya dan bersiap untuk bertarung dengan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD