Keadaan kelasnya sudah sepi, sedangkan Cinta masih berada di dalam kelasnya. Cinta masih terkejut pada dirinya sendiri yang tadi sempat melawan 3 kakak seniornya di kantin. Matanya menatap telapak tangannya yang masih memerah. Tangan yang ia gunakan untuk mencengkeram erat tangan Dewa.
Cinta mendesis dan menjitak kepalanya pelan. Kenapa kamu sok berani begitu? Nanti gimana kalau kakak itu balas dendam? Kenapa nggak langsung pergi aja tanpa harus cari ribut?
Cinta terus saja bicara pada dirinya sendiri dengan bahasa isyarat. Penyesalan memang selalu terjadi belakangan. Embusan napas panjangnya menjadi saksi terakhir kalau Cinta memang menyesali perbuatannya siang tadi di kantin. Bukannya sekolah dengan tenang, kini Cinta malah menambah gosip-gosip baru yang menyebar ke seluruh penjuru sekolah bahwa; Ada anak baru yang berani mengganggu Dewa Argantara.
Bertepatan saat Cinta ingin kembali menjitak kepalanya sendiri, sebuah tangan yang menghalangi keningnya membuat Cinta menoleh cepat. Matanya membulat.
"Kalau mau biar cepet benjol, aku bisa bantu jitak." Ujar Vino dengan memberikan cengiran bibirnya untuk Cinta.
Cinta kembali mendesis panjang dan memilih mendorong tubuh Vino agar sedikit menjauh darinya. Punya sahabat menyebalkan seperti Vino memang memaksa Cinta untuk harus banyak bersabar.
"Aku teleponin kamu dari tadi nggak diangkat sih? Aku kan nungguin di gerbang, nggak tahunya kamu masih di sini."
Cinta hanya diam tak menjawab. Ia memilih untuk merapihkan semua barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam ransel. Setelap siap ia langsung berdiri dan meninggalkan Vino yang sejak tadi kesal karena ia abaikan.
"Begitu ya sekarang kalau punya temen baru. Sahabat lama diabaikan dan dibuang."
Mendengar Vino mengucapkan kalimat lebay barusan, Cinta langsung menyenggol pinggang Vino dengan sikutnya. Keduanya sama-sama tertawa sambil berjalan beriringan menyusuri koridor dan keluar dari gerbang sekolah.
"Ta, betewe yang kejadian di kantin siang tadi kamu kenapa berani banget gitu sih?"
'Itu semua gara-gara kamu. Harusnya kamu nggak ngajak senior itu ribut dengan tatapan mata kamu. Kan aku jadinya mau ikutan.'
Vino tertawa mendengar penjelasan sahabatnya. "Dasar kamu sok pemberani. Pokoknya tadi siang adalah terakhir kalinya kita berdua cari perkara sama mereka. Seterusnya nggak deh, nggak enak juga kalau sampai satu sekolah tahu ada anak baru kayak aku yang gantengnya ngalahin senior sok kuasa itu."
Cinta tertawa mendengar Vino membicarakan Dewa dan kedua sahabatnya. 'Dasar manusia narsis!'
Sepanjang perjalanan mereka dari gerbang sekolah menuju halte bis, Vino terus saja membuat Cinta tertawa dengan cerita recehnya yang terkadang absurd untuk didengar. Saking fokusnya dengan cerita Vino, Cinta sampai tidak sadar jika ia terus saja berjalan ke arah kanan dan malah menuju ke tengah jalan.
Dari arah belakang Cinta dan Vino, sebuah mobil sedan berwarna putih melintas cepat dan membunyikan klakson dengan begitu kencang sehingga Vino yang terkejut langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Hampir saja Cinta tertabrak oleh pemilik mobil tersebut.
"Woy, kalau jalan liat-liat!!" seru Vino tak terima. Menyadari tubuh Cinta yang bergetar, Vino langsung memegang kedua bahu sahabatnya.
"Ta, kamu nggak papa? Ada yang sakit?"
Cinta mengembuskan napasnya karena entah sejak kapan ia lupa caranya bernapas. Cinta mundur selangakah ke belakang sembari menepis perlahan tangan Vino yang memegang bahunya.
"Ta, kamu nggak papa, kan?"
Cinta hanya bisa menggeleng. Ia tidak terluka hanya saja masih merasa sedikit kaget dengan kejadian barusan. Matanya menatap kepergian mobil yang baru saja melintas melwatinya dengan kecepatan yang cukup kencang. Entah siapa pemilik mobil dengan plat huruf DAA itu, yang jelas itu sangat membuat Vino dan Cinta terkejut setengah mati.
Dan di dalam mobil tersebut, Dewa hanya tersenyum puas setelah melancarkan sedikit ide jailnya. Menurutnya, Cinta pantas mendapatkan hal itu setelah apa yang gadis itu lakukan padanya di kantin.
☘️☘️☘️
Dewa menghisap kuat batang rokok yang ia jepit di sela jemarinya. Kepalanya mendongak menunggu Rendra yang sejak tadi tak kunjung selesai memanjat dinding sekolah. Beberapa kali juga Dewa menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan. Jangan sampai ketika ia dan kedua sahabatnya sedang berusaha
"Eh k*****t, lo lama banget dari tadi manjat nggak kelar-kelar!" omel Tama. Ia juga bosan dan was-was karena sejak tadi Rendra tak kunjung berhasil. Padahal hanya memanjat dinding setinggi 2,5 meter. Begitu saja tidak bisa.
"t***l, ini celana gue nyangkut kampret." pantas saja sejak tadi Rendra malah krasak krusuk di atas sana. Rupanya celananya nyangkut.
Dewa tersenyum geli. Ia membuang puntung rokoknya asal setelah mengembuskan kepulan asap ke depan wajahnya. Lama menunggu Rendra, Dewa langsung meloncat tinggi dan menguatkan pegangan tangannya pada ujung permukaan dinding.
"Tam, kita duluan aja. Tinggalin aja sahabat lo yang nggak guna itu," ujar Dewa dengan menahan tawanya. Rendra hanya bisa melotot tak percaya dengan ucapan Dewa.
Setelah mendaratkan kakinya dengan mulus, Dewa kembali mendongak. Ia mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, meledek Rendra.
Tama tak membuang waktunya. Ia mengikuti jejak Dewa dengan berusaha meloncat tinggi untuk mendapat pegangan permukaan dinding sekolah. "Sorry ya, Ren. masa depan gue lebih berharga sama Pak Fahmi dibanding sama lo." Ujar Tama dengan tertawa puas.
"k*****t lo pada! Masa depan gue juga dipertaruhkan saat ini!" kesal Rendra yang merasa kesal mendengar Tama menertawainya puas.
"Bodo amat ah, bye!" gertak Tama dengan tersenyum puas.
"Bangke lo emang jadi temen," sindir Dewa dengan tersenyum kecil.
Tawa Tama malah semakin puas. Ia anggap pagi ini adalah pembalasan dendam karena Rendra yang sudah mempermalukan dirinya dengan video tidak senonoh. "Gue masih punya rencana pembalasan dendam gue buat dia," ujar Tama bangga.
Dewa mendengus geli hingga sedikit giginya terlihat. Begitu kepalanya menatap ke depan, langkah kakinya sontak berhenti.
"Kenapa, Wa?" tanya Tama dengan menatap wajah sahabatnya dari samping. Seakan tahu ada yang tak beres, Tama ikut menghadap ke depan. Detik berikutnya Tama hanya diam sambil ikut menikmati pemandangan yang sama.
Rendra yang baru saja tiba langsung memiting leher Dewa dan Tama secara bersamaan di kedua lengannya. "Lo berdua emang parah ya, punya sahabat kayak gue bukannya disayang malah diabaikan begitu. Habis manis sepah dibuang ya kalian."
"Ndra, diem," ujar Tama dengan tatapan tetap menghadap ke depan, sedangkan Dewa sama sekali tidak terusik dengan sikap Rendra padanya.
"Apaan sih?" Rendra menatap kedua sahabatnya bergantian dengan bingung. "Kalian ngeliatin apaan?" tanya Rendra ikut menghadap ke depan. Satu alisnya terangkat naik.
"Loh, itu kan ... cewek yang sok berani waktu itu kan?" tanya Rendra yang hanya dibalas diam oleh Dewa maupun Tama. Rendra hanya bisa balas memperhatikan Cinta yang ditatap lekat oleh Dewa dan Tama. Rendra masih belum bisa mengerti maksudnya.
"Kalau ada orang ngomong tuh jawab!"
Kepala Cinta jatuh menunduk dalam. Tubuhnya bergetar takut.
"Minta maaf atau apa kek!"
"Heh, lo tuh salah!"
Tubuh Cinta lagi-lagi didorong yang membuat tubuhnya semakin tersudutkan di dinding belakang sekolah.
Bertepatan dengan Tama yang ingin melangkah ke depan, Dewa menahan lengan sahabatnya itu. "Mau ngapain lo?" tanya Dewa.
Tama mengerutkan keningnya bingung.
"Ini bukan urusan kita, jadi mending kita cabut."
"Tapi, Wa—"
"Cewek kayak dia nggak akan selemah itu. Dia aja berani sama kita, masa sama temen ceweknya aja takut?" tanya Dewa yang hanya mendapat anggukan dari Rendra.
"Bener tuh kata Dewa. Biarin aja sih, bukan level kita juga ikut campur urusan cewek."
"Kita udah telat, Tam. Gue lagi males masuk ruang BK untuk yang keempat kalinya dalam minggu ini." Dewa menepuk bahu Tama sekali kemudian pergi dari sana meninggalkan Tama dan Rendra yang menatap Cinta, antara merasa bersalah juga tak acuh.
Padahal sebelum Dewa pergi tadi, Cinta sempat melirik kehadiran lelaki itu yang hanya diam melihatnya dirundung.
☘️☘️☘️