7 | Target

2333 Words
"Ta, kamu diapain aja sama kakak kelas tadi?" tanya Vino dengan penasaran. Kabar Cinta menabrak kakak kelas yang tak lain tak bukan adalah Dewa langsung menyebar seantero sekolah. Vino bahkan juga sudah mendengar segala desas-desus tentang siapa Dewa. Dewa Argantara, anak Ketua Yayasan SMA Angkasa dengan segala kekayaan yang tajir melintir. Suka bersikap seenaknya dan tak pernah memiliki belas kasih pada para siswa yang berani macam-macam dengannya. Bahkan siswa yang tak pernah mencari masalah pun bisa ikut kena imbasnya untuk memuaskan dahaga pemangsa Dewa. Sifatnya yang arogan, selalu ingin menang, dan tak pernah takut dengan seseorang bertitel 'Guru' menjadikan Dewa menjadi sosok yang disegani oleh para siswa. Berandalan tapi masih saja dijadikan idola untuk para siswa perempuan yang dibutakan oleh ketampanan juga kekayaan Dewa. 'Nggak diapa-apain,' jawab Cinta santai. Dewa memang tadi langsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun padanya. "Serius kamu? Dia itu anak berandal loh, Ta. Kamu harus jauhin yang namanya Dewa dan dua sahabatnya itu." Cinta mengangguk kecil atas nasihat Vino padanya. Cinta memang mendengarkan semua yang Vino katakan, tapi jujur, pikiran Cinta sedang tak fokus pada ucapan Vino. Ia memikirkan hal yang lain. Hal yang sebenarnya membuat Cinta sendiri bingung karena memikirkannya. Setelah mengobrol hampir satu jam lamanya berdua di depan rumah Cinta, Vino pamit pada Cinta untuk pulang ke rumahnya. Cinta melambai sambil tersenyum pada Vino yang kian menjauh darinya. Cinta menatap gelapnya langit malam di atas sana. Ia kembali menyeruput minuman cokelat miliknya yang hanya tersisa sedikit. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal hati juga pikirannya. Lebih tepatnya saat kejadian pagi tadi. Saat Cinta tidak sengaja berjalan mundur dan malah menabrak kakak kelas yang mana bernama Dewa itu. Saat Dewa dan kedua sahabatnya pergi, Cinta melihat ada selembar kertas lusuh terjatuh dari kepalan tangan Dewa. Kertas yang isinya membuat dirinya mau tidak mau jadi kepikiran tentang bagaimana perasaan seseorang yang bernama Dewa itu. Kertas yang bertuliskan judul; Anak Haram Berinisial DA. ☘️☘️☘️ Hari kedua Cinta bersekolah, belum banyak yang berubah. Sama seperti kemarin bertemu Mira, hari ini Cinta juga bertemu Mira saat mau masuk ke dalam kelas. Gadis itu kembali membully dirinya dengan kata-kata. Saat perkenalan kemarin pun, semua anak di kelasnya heboh saat mengetahui Cinta benar-benar tidak bisa berbicara. Cinta hanya menuliskan nama lengkapnya dan juga nama panggilannya di papan. Semua siswa juga tidak ada yang mau satu meja dengannya karena kekurangannya itu. Cinta kembali dipaksa untuk menerima kenyataan yang mungkin pahit untuknya. Disudutkan dengan bisik-bisik juga tatapan kasihan harusnya sudah bukan lagi hal baru untuknya. "Cinta, kamu mikirin apa?" Cinta menoleh dan sontak tersenyum saat melihat wajah Ajeng di sampingnya. Dari sekian banyak murid di kelasnya, Cinta masih tak menyangka ada satu orang yang mau dekat dengannya. Namanya Ajeng, Ajeng Dwi Anggraeni, gadis cantik yang memiliki satu lesung pipi kecil di bagian pipi kirinya itu mempersilakan Cinta untuk duduk di sampingnya. Tanpa memandang kekurangan Cinta, Ajeng mengulurkan tangannya untuk pertama kali kepada Cinta. "Cinta?" Ajeng mengibaskan tangannya di depan wajah Cinta yang kembali melamun. Cinta hanya menggeleng seraya tersenyum. Bagaimanapun, Cinta masih belum bisa berkomunikasi dengan baik pada Ajeng. Ajeng tidak bisa bahasa isyarat seperti Vino yang sudah terbiasa bicara dengannya. "Kita ke kantin, yuk? Udah jam istirahat nih." Cinta langsung mengangguk tanpa ragu. Kebetulan ia juga sudah sangat merasakan perutnya yang keroncongan. "Ajeng, ke kantin bareng kita aja, yuk?" Ajeng menggeleng pelan atas tawaran temannya yang lain. "Aku nanti ke kantin bareng Cinta." Dua siswi tersebut sontak mengerutkan kening heran karena sikap Ajeng yang seolah sudah berteman lama dengan Cinta. Padahal hanya gadis bisu, untuk apa diajak berteman? Bisa bicara saja tidak, yang ada hanya merepotkan. Pikir mereka. 'Harusnya kalau diajak yang lain, kamu nggak perlu nolak karena aku.' Cinta menuliskan suaranya melalui halaman bukunya yang paling belakang. Ajeng tertawa kecil, "Aku kan maunya sama kamu," katanya. Cinta hanya bisa menatap Ajeng dan berakhir tersenyum. Sama seperti Ajeng yang sudah memutuskan untuk berteman dengannya, sepertinya Cinta juga harus mulai bisa membuka diri untuk bisa berteman dengan orang lain selain Vino. ☘️☘️☘️ Begitu lonceng pertanda jam istirahat berbunyi, Dewa langsung berdiri dan pergi bahkan sebelum Bu Siti keluar dari dalam kelas. Bu Siti hanya bisa menghela napas panjang tanpa bisa berbuat apa-apa. Sudah sering dinasehati bahkan dimarahi, Dewa tetap tak pernah berubah dan selalu bersikap semaunya. Dewa langsung koridor utama untuk menunggu kedua sahabatnya yang entah mengapa malah lama. Dewa membuka ponselnya, menelepon Tama agar segera datang. Ia juga mengabaikan semua panggilan dari para siswa perempuan yang sudah pasti ditujukan untuknya. Matanya mencoba menangkap kehadiran 2 manusia yang paling dekat dengannya selama hampir 6 tahun terakhir. "Dewa!" Rendra berteriak dengan satu tangan melambai ke atas agar Dewa bisa melihat keberadannya dan juga Tama. Rendra dan Tama sedikit berlari. "Lama banget lo berdua, pacaran dulu kalian?" "Najis," cibir Tama dengan berlagak mual. Rendra tertawa puas sambil merangkul pundak Tama mesra. "Minggir lo! Jangan lupa kalau gue masih marah sama lo ya, Ndra!" Rendra tertawa lagi, sedangkan Dewa hanya tersenyum kecil. "Ada apa sih, Ndra? Lagi PMS si Tama?" Rendra sontak terbahak lagi mendengar pertanyaan Dewa. "Lo mau tahu alasan Tama murung kayak cewek lagi PMS gini?" Dewa mengangguk tanpa ragu. Tama memutar bola matanya kesal saat mengingat satu jam sebelumnya bersama Rendra. "Gara-gara sahabat lo ini, gue jadi diusir dari kelas Fisika dan disuruh berjemur di depan tiang bendera!" Rendra terbahak, sedangkan Dewa tetap hanya tersenyum kecil. "Kok bisa?" Belum sempat menjelaskan, Rendra sudah kembali tertawa. Membuat Tama yang melihatnya ingin menenggelamkan sahabat biadabnya satu itu. "Ren, matiin videonya. Gila lo ya?" Tama sudah melototkan matanya menatap Rendra yang masih menonton video tak senonoh dengan ponsel yang disembunyikan di bawah meja. Pelajaran sudah terlanjur dimulai oleh Pak Wahyu dan Tama hanya bisa berbisik untuk memperingati sahabatnya yang sepertinya memang sudah gila. "Bentar Tam, sebentar lagi mereka mau gituan." Balas Rendra dengan "Najis lo. Lo kalau mau m***m jangan disamping gue, jijik gue!" "Yaelah lo muna banget. Kalo dikasih cewek model Ratu juga lo nggak bakalan bisa nahan diri." "Lo jangan bawa-bawa Ratu, bego." "Gue nggak b**o, Tam. Cuma kurang pinter, tapi pinter yang namanya milih cewek cantik." Tama memutar bola matanya penuh. semakin dibiarkan bicara, ucapan dari mulut Rendra sama sekali tidak ada faedahnya. Dengan kesal Tama langsung mencabut earphone Rendra yang terpasang di ponsel Rendra. Tapi naas, suara desahan biadab itu langsung terdengar begitu kencang. "Suara apa itu?" Pak Wahyu terlihat panik karena mendengar suara desahan demi desahan dari arah belakang. "Siapa yang lagi nonton video tidak senonoh begitu? Jawab!" Para murid lelaki kompak menahan tawa, sedangkan yang murid perempuan memperlihatkan ekspresi malu dan jijik. "Tama, Pak!!" Tama menutup wajahnya dengan kedua tangan mendengar aduan dari mulut kotor Rendra. Ingin rasanya ia menenggelamkan Rendra ke dalam rawa-rawa. "Bagus itu, lo buat inspirasi baru buat anak-anak yang lain." Ujar Dewa setelah Rendra bercerita. Walau sebenarnya ia sendiri juga sama jijiknya seperti Tama. "Inspirasi apanya. Ni anak udah bikin nama gue tercoreng." "Ya elah Tamtam sayang, nama kita bertiga itu udah tercoreng. Udah nggak ada yang liat baik-baiknya diri kita." "Najis, jangan bawa-bawa gue lo. Gini-gini otak gue masih lebih waras ya, sayang aja temenannya sama lo." Rendra tertawa kencang melihat ekspresi Tama yang sudah teramat kesal padanya, sedangkan Dewa hanya tersenyum kecil. Walaupun ketiganya sama-sama nakal, tapi nakal mereka bertiga cenderung berbeda-beda. Dewa dengan sifat otoriternya jika dengan siswa lain, suka berkelahi, dan selalu masuk ruang BK karena sering membuat kerusuhan dengan siswa lainnya. Aditama Syahreza, atau yang biasa dipanggil Tama, adalah sahabat pertama yang Dewa miliki saat SMP kelas 1. Cukup banyak sifat Tama yang berbeda dengan Dewa. Jika Dewa sangat menyukai perkelahian, Tama lebih suka sesuatu yang tenang dan tidak mengundang keributan, tapi bukan berarti Tama tak bisa berkelahi. Ia baru mengandalkan kekuatannya jika keadaan sudah terlalu genting dan kepepet. Sedangkan Rendra Kharisma, manusia super bawel dan manusia yang paling kelewat aktif dibandingkan Dewa dan Tama. Rendra paling suka heboh sendiri, paling suka asik sendiri, dan yang paling banyak bicara dibandingkan kedua sahabatnya. Minusnya Rendra adalah, ia yang sering bergonta-ganti pacar dan tentunya koleksi video tidak senonoh di memori ponselnya yang begitu banyak. "Udah yuk kesayangan, mending kita go to kantin aja. Cacing di perut aku udah pada teriak minta makan nih." Rendra merangkul kedua bahu sahabatnya untuk segera ke kantin karena dirinya yang sudah teramat sangat lapar. ☘️☘️☘️ Cinta dan Ajeng duduk di meja paling pojok yang ada di kantin. Tak berselera makan, Cinta hanya memesan jus jeruk. Padahal perutnya lapar, tapi ia sangat tak berselera. Ia lebih senang memperhatikan riuhnya suasana kantin siang ini. Beberapa siswa ada yang saling berlarian, ada yang menggosip, ada juga yang fokus duduk di mejanya dengan menikmati makan siang mereka. "Kamu serius nggak lapar, Ta?" tanya Ajeng penasaran. Cinta menggeleng sebagai balasannya. "Mau cobain mie ayam punyaku?" Cinta lagi-lagi menggeleng sambil tersenyum kecil. Melihat Ajeng yang lahap makan mie ayam sudah cukup membuat perut Cinta seolah merasa terisi. Matanya kembali berselancar menunggu kehadiran seseorang yang sejak tadi ia tunggu. Cinta mengecek kembali ponselnya. "Chyintia Sekar Rembulan!!" Cinta sontak mengangkat kepalanya dan terkekeh saat melihat sosok Vino yang berteriak memanggil namanya di depan sana sambil melambaikan tangan. Norak, tapi entah mengapa Cinta menyukai sikap Vino. Memalukan tapi terlihat lucu di mata Cinta. "Siapa itu?" Cinta menoleh pada Ajeng dan segera mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya. 'Sahabat aku,' ketik Cinta. Ajeng mengangguk kecil. Setelahnya pandangan Ajeng mengikuti pandangan Cinta yang memperhatikan sosok sahabat Cinta yang akan menghampiri mereka berdua. Vino menarik kursi dan duduk tepat di samping Cinta. "Kamu nih, kan aku minta buat nunggu tapi malah duluan ke sini dan udah pesen minum." Cinta hanya tersenyum lebar hingga jajaran gigi putihnya menyapa Vino. Vino membalasanya dengan mengacak rambut Cinta hingga gadis itu mendengus sebal. "Eh, itu siapa?" Vino berbisik saat ia baru menyadari kehadiran siswi lain yang duduk di depan sahabatnya. 'Namanya Ajeng. Dia temen baru aku di sini. Kita berdua duduk satu meja.' "Oohhh, lo namanya Ajeng?" Vino langsung bertanya pada Ajeng. Bahasanya juga ia ubah. Menggunakan bahasa lo-gue ketika bicara dengan Ajeng, dan selalu aku-kamu ketika bicara dengan Cinta. "Iya." "Kenalin, gue Vino Vernando." Ajeng membalas jabatan tangan Vino tanpa ragu. Bibirnya menyunggingkan senyum manis dari satu lesung pipi kirinya. "Nama gue Ajeng Dwi Anggraeni. Lo bisa panggil gue Ajeng." Vino langsung menarik tangannya dengan cepat. Kepalanya sesekali menoleh menatap wajah sahabatnya dari samping. "Oh ya, sabar-sabar ya kalau temenan sama Cinta. Anaknya suka rewel dan ngeselin. Pokoknya ngeselin banget, jadi lo harus ekstra sabar." Satu pukulan berhasil mendarat di bahu Vino dari Cinta. Ajeng hanya meresponnya dengan tawa. Tak bisa dipungkiri, sejak tadi Ajeng selalu mencuri-curi pandang dengan Vino yang tampak begitu dekat dengan Cinta. Ajeng sendiri tidak menyangka jika Cinta akan memiliki sahabat laki-laki seperti Vino. "Gimana pelajaran hari ini? Lancar?" tanya Vino sambil menyeruput jus jeruk milik Cinta dari sedotan yang sama dengan milik sahabatnya itu. Cinta hanya bisa mendengus tak percaya dengan betapa santainyanya hidup Vino. 'Mulai banyak dikasih tugas,' jawab Cinta dengan mengekspresikan wajah lelahnya. Vino tertawa sambil memeletkan lidahnya, meledek Cinta. "Kasihan banget sih kamu. Sabar ya friend," balas Vino dengan menepuk bahu Cinta beberapa kali.  Ajeng tertawa kecil. Cukup membuatnya terkejut karena rupanya Vino mengerti apa yang dimaksud Cinta tanpa perlu dijelaskan dengan ketikan di ponsel seperti yang Cinta lakukan pada Ajeng.  "Heh, lo!" suara lelaki juga suara kaki yang menendang kaki kursi milik Vino langsung membuat ketiganya menoleh dengan kompak. Orang-orang yang harus mereka hindari malah muncul dengan sendirinya di hadapan mereka. Pantas saja suasana riuh di kantin semakin menjadi, rupanya karena kehadiran ketiga lelaki yang selama ini selalu menjadi pusat perhatian satu SMA Angkasa. Rendra yang barusan menendang kursi milik Vino. Di belakangnya ada Tama juga Dewa. "Ada apa?" tanya Vino. Mata Vino membalas tatapan lurus mata Rendra yang menatapnya menantang. Cinta dan Ajeng sudah tahu bahwa akan ada hal tidak baik yang dibawa oleh Rendra dan dua sahabatnya. "Semua orang di sekolah ini juga tahu kalau meja ini punya gue dan sahabat-sahabat gue. Jadi lo lebih baik lo pergi selagi gue masih bicara baik-baik." "Sorry, tapi gue sama temen-temen gue udah duluan duduk di sini. Lagian masih banyak kursi kosong kok yang bisa ditempatin." "Belagu lo ya sama kakak kelas!" Vino tersenyum miring dengan samar. Dewa yang menyadari senyum meremehkan dari Vino itu langsung maju dan menarik kerah kemeja Vino. "Lo senyum?" Cinta menelan salivanya dengan gugup. Apalagi sebelum Dewa menarik kerah kemeja Vino, lelaki itu sempat meliriknya untuk beberapa detik. Cinta mendadak takut jika lelaki bernama Dewa itu akan membalasnya karena sudah menabrak senior yang terkenal satu sekolah itu. Sepertinya Vino memang harus bangkit berdiri karena cekalan tangan Dewa terlalu kencang dan terasa hampir mencekik lehernya. Bertepatan dengan kedua kaki Vino yang akan beranjak berdiri, tangan Cinta justru terulur memegang kencang pergelangan tangan Dewa. Dewa menoleh dan menatap Cinta tajam. "Lo lagi! Ngapain sih lo ikut campur?' tanya Rendra tak sabar. Ia berusaha menarik tangan Cinta tapi tak bisa. Cinta sudah terlanjur memegang erat pergelangan tangan Dewa. Ia bahkan manancapkan kuku-kuku jarinya yang belum ia potong minggu ini ke permukaan kulit tangan Dewa. Tangan Cinta mencengkeram lengan Dewa, hingga Dewa terpaksa melepaskan kerah kemeja Vino. Dewa menolehkan kepalanya dan memicingkan matanya menatap Cinta. Ia begitu tidak percaya dengan keberanian yang dimiliki gadis di hadapannya itu. Apakah gadis itu tidak tahu siapa Dewa? Apa gadis itu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Cinta diam beberapa saat. Ia merasa gila karena sudah mencari perkara dengan orang yang salah. Mungkinkah seharusnya ia minta maaf? Tapi bagaimana caranya? Semua siswa di kantin bahkan sudah ramai dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen langka di depan mereka. Melupakan permintaan maafnya, Cinta justru menarik tangan Vino dan Ajeng dan mengajak kedua temannya itu pergi dari kantin. "Udah gila apa tuh cewek? Berani-beraninya dia?" Rendra masih terus mengoceh, sementara Tama sejak tadi hanya diam memperhatikan Cinta yang menurutnya unik. Selama ia mengenal Dewa, tidak pernah ada gadis yang berani menatap mata Dewa dengan tatapan tajam seperti yang tadi Cinta lakukan tanpa sadar. Yang ada justru tatapan memohon untuk dicintai. Dewa menggebrak meja kantin dengan penuh perasaan kesal. "b******k!" umpatnya. Kini, bisa Dewa pastikan, gadis itu akan mendapat balasannya.  ☘️ ☘️ ☘️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD