Dewa Argantara, atau yang akrab dipanggil Dewa. Lelaki berumur 17 tahun itu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih yang melindungi tubuh bagian bawahnya. Jam sudah menunjukkan ke arah 7 kurang 15, tapi seolah itu tak masalah untuk Dewa. Lelaki itu tetap tenang dan memakai seragam putih abunya.
Pantulan tubuhnya dari dalam cermin, cukup menggambarkan wajah tampan, tinggi, dan tegap tubuhnya. Kulitnya yang sedikit kecokelatan menambah kesan maskulin dalam diri Dewa.
Selesai memakai kemeja putih juga celana abunya, lelaki dengan tinggi 180 cm itu menyisir rambut hitamnya yang sudah hampir menutupi alisnya. dewa tak takut dengan ancaman guru yang mengatakan akan menggunduli rambutnya jika masih terus memanjangkan rambut dengan sengaja.
Dengan membawa ransel hitam yang sebenarnya hanya berisi satu buku juga dompet, Dewa keluar dari kamarnya dengan tubuh yang sudah dibalut jaket boomber berwarna army. Sepi, suasana yang Dewa dapatkan saat ia sampai di meja makan. Sama sekali tak ada yang menarik dari rumah besarnya itu.
Dewa mencoba untuk duduk tenang di salah satu kursi. Ia masih menatap tak berselera menu sarapan yang sudah disediakan oleh pembantu rumah tangganya. Dewa memilih bangkit berdiri dan langsung pergi ke sekolah dari pada harus sarapan seorang diri di meja makan yang besarnya bahkan bisa memuat 10 orang.
"Sarapan dulu, Den?"
Dewa menoleh sekilas pembantu wanita paruh baya di hadapannya. "Nggak laper," katanya.
"Kemarin Den Dewa juga nggak sarapan. Kalau Aden nggak sarapan, nanti Aden bisa sakit."
Dewa menatap mata Bi Ratna dengan lurus, tanpa ada senyum yang menghiasi wajahnya. "Saya mati pun, nggak ada yang peduli sama saya." Ujar Dewa dengan langsung berlalu meninggalkan Bi Ratna keluar rumah. Ia langsung menaiki motor ninja merahnya dan meninggalkan pekarangan rumah dengan kecepatan motornya yang melaju kencang.
☘️☘️☘️
Tok tok!
"Cinta!!"
Cinta membuka kedua matanya saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Cinta, bangun Nak! Kamu harus berangkat sekolah. Keburu Vino nanti nyamper loh," teriak sangbunda dari luar kamar Cinta.
Dengan lemas akhirnya Cinta bangkit duduk. Ia menarik tali yang menempel di kepala ranjangnya yang terhubung dengan lonceng kecil yang berada di depan kamar Cinta. Itu sebagai pertanda agar sang bunda tahu jika Cinta sudah terbangun.
Cinta duduk menunduk dengan menatap selimut yang masih menutup kedua kakinya. Tangannya terangkat mengusap wajah yang tampak kusam dan tak bersemangat.
Kamu harus sekolah Cinta. Jangan buat Ayah dan Bunda kecewa. Ujar Cinta dalam hati.
Cinta bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Air dingin nan sejuk langsung membasahi seluruh tubuhnya. Berharap air itu akan melarutkan segala gundah dan sedihnya. Berharap air itu dapat membantu dirinya untuk kembali memberikan semangat dalam hidupnya yang tak sempurna seperti kebanyakan orang.
Cinta keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya. Matanya menangkap seragam putih abu yang telah dibelikan oleh bundanya.
Cinta menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan perlahan. Semalaman Cinta kembali berpikir, haruskah ia menyerah saat ini? Haruskah ia menyerah untuk bisa bersekolah di sekolah formal dan memiliki banyak teman? Atau haruskah Cinta melepaskan semua mimpinya?
Anak Bunda itu anak yang hebat.
Anak Bunda itu anak yang pemberani.
Anak Bunda itu anak yang selalu semangat dan pantang menyerah.
Kedua sudut bibir Cinta tertarik ke atas membentuk sebuah senyum simpul. Ia menepis setetes air mata yang berhasil mencuri-curi waktu untuk keluar.
Tangan Cinta terulur mengambil semua perlengkapan sekolahnya. Ia memakai kemeja putih serta rok abunya. Memakai ikat pinggang, dasi, dan juga topi yang sudah ia masukkan ke dalam tas.
Cinta beralih ke meja rias kecilnya. Ia menatap wajahnya di cermin. Tampak begitu pucat dan sayu. Perlahan, Cinta menata rambutnya, lalu menaburkan bedak tipis ke wajahnya, dan memakai lipbalm berwarna merah muda ke kedua bibirnya.
Gadis beriris madu itu kembali tersenyum pada cermin. Mungkin seharusnya ia memang tidak perlu mengkhawatirkan hari pertama kegiatan belajar mengajar di sekolahnya. Ia hanya perlu yakin, kalau semesta tidak akan jahat lagi padanya dan mau membantu harinya berjalan dengan baik.
"Sini duduk," ajak Rina saat melihat anak gadisnya keluar dari dalam kamar dan mendekati meja makan. Cinta menurut dan duduk di samping sang bunda.
"Sudah dimasukkan semua peralatan sekolahnya?" tanya Rina dengan menyendokkan nasi juga lauk ke dalam piring Cinta.
Cinta mengangguk sambil tersenyum karena sang bunda yang tak pernah bosan memberikan perhatian kecil padanya. Sejak ayah kandungnya meninggal 10 tahun silam, sang bunda membesarkannya seorang diri. Tak pernah ada perlakuan yang berbeda dari sang bunda, yang Cinta dapatkan justru kasih sayang bunda yang seolah tak pernah ada habis untuknya.
Sudah 10 tahun mereka berdua hidup bersama. Bundanya juga tak pernah berniat untuk menikah kembali. Setiap Cinta bertanya, bundanya akan selalu menjawab bahwa; hidupnya saat ini bukanlah lagi untuk mencari ayah baru, melainkan dirinya yang ingin berusaha menjadi keduanya untuk Cinta. Dan sang bunda berhasil melakukan dua hal itu untuk Cinta. Cinta bisa merasakan bagaimana besarnya semua pengorbanan sang bunda untuk dirinya.
'Terima kasih, Bunda,' kata Cinta dengan bahasa isyaratnya.
"Sama-sama sayang..."
"Semoga hari pertama belajar kamu berjalan lancar ya."
Cinta menatap wajah sang bunda yang memancarkan senyum tulus. Kala menatap wajah itu, pernah terbesit dalam diri Cinta bahwa ia adalah anak yang tidak berguna yang hanya bisa menyusahkan orangtuanya. Sejak kecil, Cinta selalu dijauhi semua anak sepantarannya karena kekurangan yang ia miliki. Semua tetangganya bergunjing, hingga akhirnya sejak SD ia disekolahkan secara home schooling oleh sang bunda dengan guru khusus program pendidikan luar biasa.Cinta tahu, sang bunda terlalu banyak bekerja keras untuk menyekolahkannya. Setiap hari bundanya selalu bekerja dari pagi hingga malam. Bahkan terkadang Cinta sampai harus terlelap duluan sebelum sang bunda kembali ke rumah.
'Semoga, Bunda. Bunda doain aku terus ya?'
"Pasti sayang, Bunda akan selalu mendoakan kamu. Bunda selalu berdoa agar kamu bisa menjalankan kehidupan SMA kamu dengan penuh bahagia, biar kamu bisa dapet temen-temen yang tulus dan sayang sama kamu."
Cinta hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati menyembunyikan kekhawatiran yang sebenarnya kembali menguap dalam d**a.
'Aku sayang sama Bunda,' Cinta bangkit dari duduknya dan langsung berhambur ke dalam pelukan sang bunda.
☘️☘️☘️
"Cinta!"
Sang empunya nama langsung menoleh.
"Kamu nggak papa?" tanya Vino dengan menatap khawatir pada Cinta yang berdiri mematung di sebelahnya. Mereka berdua kini masih berdiri diam di depan gerbang sekolah SMA Angkasa. Keduanya kini baru akan memulai masa putih abu-abu yang sebenarnya. Hari inilah awal mula semuanya akan dimulai.
Cinta tersenyum tipis lalu mengangguk. Memberikan jawaban bahwa ia memang baik-baik saja.
"Mau pegang tangan aku?" tawar Vino.
Cinta menggeleng kecil. 'Aku nggak papa,' jawabnya.
"Kamu serius?" Vino bisa menangkap raut khawatir di wajah sahabatnya.
Cinta mengangguk mantap.
"Kalau gitu ayo masuk?"
Cinta mengangguk. Vino memimpin dirinya dan juga Cinta untuk memasuki gerbang SMA Angkasa. Tak dapat dihindari, Cinta merasa jantungnya berdegup kencang. Tangannya kembali keringat dingin. Waktu upacara kenaikan bendera untuk semua siswa SMA Angkasa termasuk bagi para siswa baru, membuat Cinta merasa sedikit takut. Ia takut jika kejadian hari pertama MOS akan kembali terulang hari ini.
"Dia yang katanya siswa bisu itu, kan?"
"Eh iya bener, dia yang nggak bisa ngomong itu."
Cinta yang mendengar bisik-bisik orang di sekitarnya sontak menundukkan kepalanya. Berbisik apanya? Jelas-jelas mereka bicara dengan suara yang tak pelan. Entahlah, mungkin tujuan mereka adalah memang agar Cinta bisa mendengar semuanya.
Tangan Cinta mencengkeram erat ujung jaketnya. Ternyata apa yang ia takutkan benar terjadi hari ini. Tak ada yang namanya hari dimulai dengan ketenangan dan kedamaian.
"Kasian banget ya hidupnya."
"Harusnya sih masuk SLB aja."
"Sekolah sebagus ini ternyata nerima orang cacat."
Vino yang sejak tadi diam sambil mengepalkan kedua tangannya akhirnya sudah tak lagi bisa bersabar.
"Heh, lo semua! Ngomong apa lo pada barusan? Kalau punya mulut dijaga ya!" Vino berteriak, matanya melototi setiap orang yang ia dapati menggunjing Cinta dan menatap sahabatnya dengan tatapan kasihan.
Siswa yang bergunjing yang kebanyakan perempuan itu langsung diam bungkam. Semuanya pura-pura tak mendengar Vino dan mengalihkan tatapannya.
"Ngapain sih lo belain dia, Vin?"
Vino menolehkan kepalanya dan menatap sinis sosok Mira dan kedua temannya yang kini sudah berdiri di belakang tubuhnya Cinta. Saat Cinta menolehkan kepalanya, Mira balas mendengus sinis dan melangkah maju.
"Nggak baik kebanyakan bergaul sama orang bisu, takutnya dia nyebarin virus bisunya juga ke lo."
"Lo!" tangan Vino yang hendak terangkat ke atas langsung ditahan oleh tangan Cinta. Cinta menatapnya dan memberikan senyum simpul yang sebenarnya tak ingin Vino lihat. Senyum itu seharusnya tidak keluar di saat Cinta sedang dirundung seperti ini.
Cinta menggelengkan kepalanya, isyarat bahwa Vino tak perlu membela dirinya sejauh itu.
Mira tersenyum sinis dengan puas. Ia langsung memberikan isyarat kepada kedua temannya untuk segera pergi dari sana. Mira benar-benar puas melihat ekspresi wajah Cinta. Ia tahu jika Cinta sedang berakting baik-baik saja. Lihat saja nanti, sebeberapa jauh Cinta akan bertahan di sekolah ini, Mira tak akan pernah membiarkannya.
Vino menghela napas panjang. Masih dalam keadaan marah, ia menarik tangan Cinta agar menjauh dari orang-orang.
"Kamu tahu, mereka udah keterlaluan sama kamu!" Vino langsung meluapkan amarahnya di depan Cinta saat mereka berdua sudah berada di koridor belakang sekolah yang sepi.
'Aku tahu.'
Melihat bagaimana Cinta menjawab, itu justru membuat Vino semakin marah. "Aku nggak bisa diem aja saat kamu diejek seperti tadi, Cinta. Aku nggak bisa cuma diem aja tanpa bela kamu."
Cinta tersenyum tipis. 'Aku tahu, kamu emang sahabat yang paling baik.'
"Aku serius, Cinta!"
Cinta ikut menghela napas panjangnya. 'Aku juga serius, Vino. Kamu tahu, sahabat kamu ini kan perempuan yang paling tegar sedunia. Masalah seperti ini nggak akan pernah bikin aku sedih.'
Vino menggeleng lemah. Ia tahu Cinta hanya mengatakan kata-kata omong kosong. Sudah 13 tahun ia bersahabat dengan Cinta, hanya dari melihat mata Cinta saja Vino tahu apa yang Cinta rasakan.
'Vin, apa kamu tahu? Seberapa besar aku coba percayai diri aku untuk bisa kuat lewatin semua ini? Waktu 3 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Itu waktu yang lama. Kalau di hari pertama kita udah buat keributan di sekolah ini, mungkin aku nggak akan bisa bertahan lama di sini. Ini adalah masa SMA yang udah aku tunggu lama, Vin. Kamu hanya perlu dukung aku biar aku bisa lewatin ini semua dengan kuat. Seberjalannya waktu, orang-orang di sini mungkin akan bisa nerima aku yang kekurangan ini.'
"Dan nggak ada yang bisa menjamin mereka akan berubah untuk bisa nerima kamu."
Cinta merengut kesal. Berdebat dengan Vino selalu tak ada habisnya. Padahal ia hanya ingin Vino menurut tanpa membantah.
"Untuk semua siswa diharap berkumpul di lapangan sekarang untuk upacara kenaikan bendara Merah Putih."
Cinta tersenyum lebar kala mendengar pengumuman dari pengeras suara sekolahnya.
'Tuh kan, udah waktunya upacara. Udah ah, ayo kita ke lapangan. Anggap aja semua yang kita denger tadi cuma mimpi,' pinta Cinta. Vino hanya bisa menghela napas panjang saat ini. Baiklah, mungkin hari ini ia akan bersabar, tapi lain kali ia akan membuat perhitungan yang jelas untuk orang-orang yang berani mengusik sahabatnya.
☘️ ☘️ ☘️
Dewa tidak segan-segan untuk mematahkan kaki yang baru saja ia tendang. Lelaki berkacamata dengan rambut keriting itu hanya bisa meringis sakit sambil menahan sakit tulang betisnya yang ditendang oleh kaki Dewa.
"Wa, udah deh. Lo bisa bikin anak orang mati," kata Rendra sok menasehati. Padahal yang lebih dulu membawa Singgih ke hadapan Dewa adalah dirinya.
Dewa membuang puntung rokok dari ujung bibirnya ke sembarang arah. Ia menarik dasi abunya yang sejak awal tak terpasang dengan benar menjadi semakin terlihat berantakan. Ia menarik rambutnya ke belakang lalu kembali menatap tajam ke arah Singgih.
Dewa berjongkok di samping tubuh Singgih yang sudah meringkuk kesakitan. Ia menepuk pipi Singgih dengan punggung tangannya. "Lo sama temen-temen lo kan yang udah bikin ini?" Dewa memegang sebuah kertas di tangannya yang hampir tak berbentuk. Ia lantas menghempaskannya kasar ke wajah Singgih.
"Ma ... maaf. Gue nggak maksud—"
Dewa tersenyum di satu sudut bibirnya. "Maaf lo bilang?" satu tinjuan kembali menghantam pipi Singgih. Satu lagi dan satu lagi hantaman diberikan oleh tangan Dewa yang terkepal erat ke wajah Singgih. Laki-laki itu sampai menitikkan air matanya karena Dewa yang terus saja memukulinya tanpa belas kasih.
Tama yang sejak tadi diam melihat Dewa menyiksa Singgih akhirnya maju mendekat dan langsung menarik tubuh Dewa mundur. Tama tahu, sahabatnya itu tidak akan pernah berhenti jika lawannya sudah hampir mati. "Wa, cukup. Lo bisa bikin dia mati."
Dewa tentu saja tak terima dengan sikap Tama. Ia langsung menepis tangan Tama dari lengannya. "Lo tahu apa yang udah dia perbuat ke gue?"
Tama menghela napas panjang. "Gue tahu. Tapi lo harus inget, kita masih di sekolah."
"Iya, Wa, Tama bener. Ni bocah udah hampir mati, dia bahkan udah mau pingsan."
Dewa menghela napasnya frustasi. Ia menarik kerah kemeja Singgih yang sudah terkena beberapa percikan darah di sekitar kerah juga bagian dadanya. Napas Singgih hampir habis. Jari-jari kuat milik Dewa kini mencengkeram lehernya.
"Ini belumlah selesai," Dewa berbisik pelan. Tapi suaranya begitu terdengar mengerikan untuk Singgih. "Lebih baik lo bawa semua temen-temen cupu lo itu ke hadapan gue, atau lo yang akan mati sendirian."
Tubuh lemas Singgih langsung terjatuh setelah Dewa menghempas lehernya begitu saja. Dewa berdiri, tak lupa satu kakinya mencoba meraih kacamata milik Singgih dan langsung ia injak hingga hancur dan berlubang. Ia langsung memutar tubuh dan meninggalkan Singgih dan juga kedua sahabatnya, dengan membawa sebuah kertas di dalam kepalan tangannya.
"Ckckckck," Rendra ikut berjongkok dan membantu Singgih untuk duduk. Ia memunguti remukan lensa kacamata milik Singgih yang ke dalam telapak Singgih. "Siap-siap lo, Bro. Kalau lo nggak bawa temen-temen lo, lo bakal habis sama Dewa selama seminggu ke depan," ujar Rendra yang sama sekali tak berniat membela Singgih.
"Makanya, jangan pernah ganggu singa yang lagi tidur, atau lo akan jadi mangsanya. Ngerti?" Rendra menaikkan satu alisnya, menunggu jawaban Singgih yang sudah tak berdaya.
Begitu melihat kepala Singgih mengangguk lambat, Rendra langsung menepuk puncak kepala Singgih beberapa kali. "Good boy," katanya.
"Ndra, cabut." Tama yang sudah tak tahan melihat wajah Singgih yang seolah hampir mati itu langsung pergi untuk menyusul kepergian Dewa.
Dewa mencoba membelah koridor seorang diri pagi ini dari sesaknya kerumunan para siswi yang rela berbaris hanya untuk melihat Dewa. Kedua sahabatnya mungkin masih berada di atap sekolah yang sudah dijadikan gudang tersebut.
"Ya ampun, itu yang namanya Kak Dewa, kan?" Dewa masih bisa mendengar suara bisik-bisik para siswi perempuan.
"Ganteng banget, Ya Tuhan..."
"Andai aja gue jadi pacarnya."
"Jangankan pacar, jadi selingkuhannya aja gue mau."
Dewa hanya memutar bola matanya tanpa berniat memberikan senyum atau hal apapun lagi untuk semua siswi yang sedang mencari perhatian padanya. Dewa tidak ingin itu dan Dewa tidak butuh itu.
Sesampainya di depan mading, Dewa sedikit menghela napas lega karena kertas yang ada di tangannya itu belum tertempel di sana. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya bermunculan. Ia tidak akan bisa memaafkan kesalahan Singgih jika sampai lelaki itu berani membuka siapa dirinua.
Saat Dewa ingin berbalik pergi, seorang gadis tiba-tiba menabrak tubuhnya hingga tubuh gadis itu sendiri yang terjungkal ke belakang. Tabrakan itu bahkan hingga membuat beberapa siswi histeris. Mereka merasa iri karena bukan mereka yang berkesempatan untuk menabrak tubuh Dewa.
"Wa, lo nggak papa?" Tama yang baru sampai menyusul Dewa, langsung menyentuh bahu lelaki itu saat tadi di belakang ia melihat ada gadis yang berjalan mundur hingga akhirnya menabrak tubuh Dewa.
Gadis itu meringis sakit dan mengusap kepala belakangnya yang sakit. Rasanya seperti habis menabrak tiang listrik. Gadis itu memutar tubuhnya dan melihat sebuah sepatu dengan merek Puma berwarna hitam, menjadi pemandangan gadis itu saat mengangkat pandangannya ke depan.
Semakin mendongak ke atas, mentari rupanya sudah berada di puncak, dan sinarnya mengenai wajah seseorang dengan sepatu Puma tersebut. Gadis itu tak dapat melihat siapa yang ia tabrak sedangkan yang ia tahu hanyalah nama dari orang yang ia tabrak tersebut, yaitu Dewa.
Bertepatan dengan awan yang begerak membuka wajah Dewa, Dewa dan gadis itu saling menatap untuk beberapa detik. Dewa sempat melirik nametag yang menempel di kemeja gadis itu.
Chyintia Sekar Rembulan.
*****