17 | Kedatangan yang Mengejutkan (2)

1151 Words
Cinta mengayunkan kakinya keluar dari ruangan kelas. Ia melarang Vino yang memaksa untuk ikut dengannya. Jaket abunya ia rekatkan kembali untuk menutupi tubuhnya yang sedang kurang sehat. Bertepatan dengan dirinya ingin menaiki tangga, dua orang lelaki yang berada di atas tangga sontak menghentikan langkah Cinta. "Lo? Mau ke mana?" tanya Rendra. "Lo mau cari Dewa lagi?" tebak Tama yang membuat Cinta menganggukkan kepalanya. "Dia nggak akan ada di atas. Dia udah 3 hari ini nggak masuk, sakit." Cinta baru mengetahui hal itu. Pantas saja setiap ia naik ke atap sekolah, ia tidak pernah menemukan lelaki itu. Padahal Rendra pernah berkata; jika ingin menemukan Dewa maka cukup pergi ke atap sekolah saat jam istriahat siang. "Lo nggak usah khawatir. Dia sakit bukan karena nolongin lo waktu itu," ujar Tama yang seolah paham dengan apa yang saat ini sedang dipikirkan Cinta. Rendra tersenyum kecil menatap Cinta. "Iya, muka lo nggak usah takut gitu. Yang harus disalahin atas kejadian hari itu adalah gue, bukan lo. Dan karena gue juga sahabat gue jadi-" "Lo juga nggak salah!" potong Tama cepat, sebelum Rendra menyelesaikan kalimatnya. "Tapi karena gue, Dewa jadi-" "Stop it!" bentak Tama. "Jangan pernah ungkit masalah Dewa di depan orang lain kalau lo emang masih anggap dia sebagai sahabat." ☘️☘️☘️ Satu minggu ini, Cinta benar-benar tidak bisa menemukan di mana lelaki bernama Dewa Anggara itu. Jika biasanya lelaki itu berada di atap sekolah atau kantin, kini tak ada lagi. Dewa seolah menghilang dari peredaran. Bahkan ia tidak tahu apa yang sebenarnya dialami oleh Dewa. Cinta hanya ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih. Hanya itu yang ingin ia katakan. Atau mungkin sekaligus menyampaikan pesan pada lelaki itu agar ia tetap baik-baik saja. Cinta keluar dari rumahnya saat sang bunda menyuruhnya membeli kecap di warung depan. Dengan merapatkan sweater abunya, Cinta melangkah maju menjauhi rumah untuk membelikan permintaan sang bunda. Cinta harus membelinya malam ini, karena besok bundanya itu akan menambah menu jualan baru, yakni bihun goreng. Bundanya terbiasa menjajakan jualannya dengan menyewa sebuah warung kecil yang dimanfaatkan untuk berjualan apa pun yang menghasilkan uang halal. Dari hasil jualan itulah bundanya bisa menyekolahkannya. Sepulang dari warung juga biasanya bundanya akan lanjut kerja sebagai kuli cuci dan gosok untuk tetangganya yang membutuhkan bantuan. Cinta sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu bersemangat untuk berusaha. Tak pernah malu walau harus kerja serabutan untuk memenuhi kehidupan mereka berdua. Hal itu pula yang sering membuat Cinta merasa sedih karena tidak bisa membantu banyak. Ia hanya bisa membantu sang bunda sepulang sekolah. Dalam setiap langkahnya Cinta nikmati bersamaan dengan embusan angin malam yang dingin. Ia menarik rambunya panjangnya ke belakang telinga lalu menggosokkan tangannya iseng, untuk mengusir dingin yang menyapa. Sepertinya malam ini akan turun hujan deras karena tak ada bintang yang terlihat di atas langit. "Mau beli apa, Neng?" tanya penjual warung. Cinta memberikan secarik kertas pada penjual warung sehingga ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Cinta sengaja memberikan uang lima puluh ribu agar tidak perlu bertanya berapa harga kecap yang ia inginkan. Setelah mendapatkan pesanan sang bunda, Cinta segera pulang ke rumah kembali. "Makasih ya, Sayang," ujar sang bunda. Cinta tersenyum lantas mengangguk. "Kembaliannya masih sisa berapa?" tanya sang bunda yang membuat Cinta segera merogoh saku celana panjangnya. Mata Cinta membulat sendiri karena menyadari jika kembaliannya itu tidak ada di sakunya. Padahal jelas-jelas kembalian tadi sudah ia masukkan ke dalam saku celana." "Hilang, kah?" tebak sang bunda. Cinta meringis pelan seraya mengangguk karena merasa bersalah. "Ya sudah, nggak papa. Mungkin sudah bukan rezeki kita lagi." Cinta menggeleng semangat. "Biar Cinta cari di jalan ya, Bun? Siapa tahu uangnya Cinta jatuhkan di jalan, atau mungkin juga ketinggalan di warung." "Nggak perlu, Sayang. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Lagi pula di luar sudah hujan, nanti kamu sakit." "Aku bawa payung, Bun." Sebelum sang bunda memprotes, Cinta sudah keluar rumah dengan menyambar payung yang ada di sudut ruangan. Ia membelah derasnya hujan dengan payung hitamnya yang seharusnya sudah berada di tempat sampah. Sesekali payungnya itu malah naik ke atas dan membuat Cinta kebasahan. Gadis itu meringis sebal diam-diam. Memaki payungnya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Pada akhirnya Cinta menutup payungnya sempurna dan memilih berlari di bawah hujan sambil memperhatikan jalan di bawahnya. Cinta belum bisa menemukan uang kembalian belanjaan kecapnya. Bahkan ketika ia sudah sampai ke warung pun penjual hanya bisa menatapnya bingung karena melihat wajah Cinta yang panik tapi tak ada suara yang keluar dari gadis itu. Kali ini Cinta melangkah pulang dengan gerakan yang lambat. Lehernya itu sampai sakit karena kepalanya yang terus saja menunduk memperhatikan jalan. Apalagi saat ini hujan sudah semakin deras sehingga matanya tak lagi bisa menatap jelas ke jalan yang tergenang air. Hujan terasa semakin deras. Jaketnya yang basah kuyup bahkan tidak bisa lagi melindungi dirinya dari dingin. Yang ada ia semakin kedinginan karena pakaiannya yang basah kuyup. Begitu melihat lembaran uang berwarna hijau dan ungu, mata gadis itu sontak mengeluarkan binar bahagianya. Dengan senyum cerah dan jiwa semangat, Cinta lantas berjalan lebih cepat untuk segera meraih uang tersebut. Tapi bersamaan dengan itu, gerakannya langsung berhenti saat melihat sepasang kaki dengan sepatu hitam berdiri di hadapannya. Dengan segera Cinta mengangkat kepalanya dan membulatkan mata. Dewa, lelaki itu kini berdiri di hadapannya dengan pakaian yang basah kuyup seperti dirinya. Tapi berbeda dengan ekspresi Cinta yang tadi sedang merasa senang, ekspresi yang Cinta tangkap dari lelaki di hadapannya itu sangat berbeda. Lelaki itu terlihat pucat dan kuyu. Rambutnya yang basah, dan bibir yang mulai membiru. Entah sejak kapan dan berapa lama lelaki itu berdiri kehujanan seorang diri, di depan g**g. Mata Cinta menatap awas saat Dewa melangkah maju mendekatinya. Begitu banyak yang Cinta ingin tanyakan, tapi ia bisa mengatakan apa-apa. Ia bahkan tidak membawa ponsel atau buku catatannya. Sehingga Cinta tidak mengerti dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Dewa menahan dirinya yang mulai merasakan kepalanya kembali berdenyut sakit. Ia memejamkan matanya, untuk menenangkan tubuhnya, sebelum akhirnya ia merasakan ada sesuatu yang menarik ujung jaketnya. "Kakak baik-baik aja?" tanya Cinta dalam bahasa isyarat. Ayolah, itu karena Cinta tak tahu lagi harus melakukan apa-apa. Karena harus berteriak sekali pun, tidak akan pernah ada suara yang terdengar dari mulutnya. Dewa membuka matanya perlahan. Matanya turun dan melihat jemari Cinta yang memang menarik ujung jaketnya dan menatapnya khawatir. Dewa kembali melangkah maju, membuat Cinta ikut mundur selangkah ke belakang. Begitu Dewa hendak melangkah maju lagi, ia langsung menahan lengan gadis itu agar tetap berada di posisinya. Dewa menatap gadis di hadapannya yang hanya setinggi dagunya. Ia mencoba memfokuskan matanya yang saat ini sudah berbayang. Tangan Dewa terulur maju dan menarik pinggang Cinta mendekat. Dewa memeluk Cinta dengan sebelah tangan dan dagu yang ia sandarkan pada bahu gadis itu. Tangan Cinta sudah bersiap mendorong tubuh Dewa menjauh sebelum akhirnya ia mendengar suara lirih di telinganya yang berkata, "Maaf." Dan detik selanjutnya, yang Cinta rasakan di atas bahunya adalah bobot yang jauh lebih berat hingga akhirnya tubuh Dewa yang luruh tak sadarkan diri di dalam pelukannya. ☘️☘️☘️    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD