18 | Pagi Untuk Dewa

2345 Words
"Kondisinya saat ini sudah jauh lebih baik. Doakan semoga dia besok pagi sudah bisa pulih dengan maksimal, Sayang." Cinta yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar untuk memperhatikan bundanya yang sedang mengompres kening Dewa akhirnya tersenyum kecil. "Terima kasih atas bantuannya, Bunda." "Apa dia temanmu?" tanya sang bunda yang penasaran. Tentu saja ia penasaran, karena ini pertama kalinya ia melihat putrinya membawa seorang lelaki yang belum pernah ia kenal. Yang Rina tahu dan kenal hanyalah Vino. Selama ini teman yang selalu ada di sisi anaknya hanyalah Vino seorang. Cinta menggeleng kecil. "Kakak itu bukan temanku, tapi dia satu sekolah denganku, Bun." "Apa dia orang yang baik? Apa dia tidak pernah berbuat yang macam-macam dengan anak Bunda?" Cinta meringis pelan. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan sang bunda. "Dia pernah menolongku, Bun." "Begitukah? Ooh, ya sudah, kalau gitu malam ini akan Bunda izinkan dia istirahat di sini." Cinta tersenyum simpul mendengar kalimat godaan sang bunda. "Makasih banyak, Bunda." "Bunda tinggal ke belakang dulu, ya. Jangan lupa kalau kamu malam ini tidur di kamar Bunda, karena kamarmu dipakai oleh temanmu itu." Cinta mengangguk menurut. Begitu Rina pergi ke belakang, Cinta kembali memandang sosok yang kini sedang terpejam di atas ranjang miliknya. Cinta melangkah maju perlahan. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi meja belajarnya sambil memandang ke arah Dewa. Sejak tadi ia terus berpikir, mengapa lelaki itu bisa berada di depan g**g rumahnya. Seingatnya, yang hanya tahu rumahnya hanyalah Vino. Kalaupun yang lain, itu hanya ... Rendra. Benar juga, Cinta tadi tak terpikir jika Dewa mungkin saja tahu rumah Cinta dari Rendra. Karena kedua lelaki itu juga hanya tahu sampai depan g**g saja. "Arrgh!" Cinta tersentak dari lamunannya. Ia langsung berdiri dan duduk di tepi ranjang. Sepertinya Dewa bermimpi buruk, maka dari itu wajah lelaki itu sama sekali tak terlihat tenang. Tangannya saling terkepal erat. Keningnya mengerut dalam bersamaan dengan keringat yang mulai bermunculan di sekitarnya. Padahal kata bundanya tadi, kondisinya sudah jauh lebih baik. "Ma ...." "Please ... don't leave me alone." Cinta mengangkat sebelah alisnya mendengar racauan Dewa yang terdengar pelan namun jelas. Tangan Cinta terulur ke atas kening Dewa. Ia mengurai perlahan kerutan itu dengan handuk basah yang masih menempel di kening Dewa. Gerakannya yang perlahan akhirnya mampu membuat kerutan di kening Dewa menghilang sempurna. Cinta terus mengulang apa yang ia lakukan sampai ia melihat Dewa benar-benar dalam kondisi tenang. Ini semua ia lakukan karena mengingat bundanya itu selalu mengusap kening dan kepalanya jika ia sedang sakit. Ia hanya melakukan apa yang selalu bundanya lakukan pada dirinya. Sudah hampir 5 menit lebih Cinta tetap pada kegiatannya. Ia sama sekali tidak merasa keberatan untuk membuat Dewa merasa nyaman dalam tidurnya. Ia ingin lelaki itu segera pulih agar besok bisa bersekolah lagi. Cinta hendak berdiri sebelum sebuah tangan menahan dirinya tangannya agar tak pergi. "Jangan pergi ...." ☘️☘️☘️ Kelopak mata Dewa bergerak saat merasakan sinar mentari menembus celah dari ventilasi kamar. Ia melenguh pelan lalu membuka matanya perlahan. Matanya bergerak memindai atap kamarnya. Ada yang aneh, rasanya ia memiliki kasur dengan ukuran besar, namun kini, ia merasa kasur yang saat ini ia tiduri benar-benar pas dengan ukuran tubuhnya. Atap kamnya juga terasa aneh. Rasanya atap kamarnya besar dan berwarna putih bersih. Tapi yang ini, putihnya sudah memudar dan mengelupas. "Kasih tau gue di mana rumah itu cewek." "Wa, lo mabok?" ceplos Rendra karena mendengar racauan Dewa yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Tangan Dewa langsung mencengkeram kerah Rendra erat. Tatapan matanya tajam dan fokus, membuat Rendra akhirnya menyadari jika Dewa sedang dalam kondisi sadar. "Gue ulangi kata-kata gue. Kasih tau gue di mana rumah itu cewek." Rendra mengerutkan keningnya samar setelah menepis tangan Dewa. "Lo mau ke sana? Ini udah malam, Wa, dan lo keliatan nggak sehat." "Kasih tau gue di mana rumah itu cewek." "Ck, kalau emang lo mau ke sana, gue anter. Gue nggak bisa biarin lo pergi sendiri dalam keadaan lo yang kayak gitu." "Kasih tau gue di mana rumah itu cewek!" ulang Dewa untuk yang ke sekian kalinya. Dewa sontak membulatkan matanya dan bangkit duduk. Ia mengedarkan pandangannya dan seketika wajahnya memerah karena malu. Sedang ada di mana ia? Kenapa sekelilingnya memiliki benda berwarna merah muda? Apakah ia sedang berada di kamar perempuan? Tapi di mana? Yang Dewa ingat semalam adalah ... Dewa mencoba memejamkan matanya untuk mengingat sisa-sisa memorinya semalam untuk menemukan alasan ia berada di kamar yang asing untuknya. "Ih, kamu jahat banget sih, kepala aku digetok pake centong. Sakit tau!" Dewa sontak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara berisik seorang lelaki di luar kamar yang saat ini ia tempati. "Kata Bunda juga semua makanan yang ada di meja ini harus dibagi-bagi. Kamu nggak bisa egois gitu dong." Mata Dewa kembali membulat saat ia baru saja mengingat jika semalam ia memang berniat pergi ke suatu tempat, yaitu rumah Cinta. Dewa sontak bangkit berdiri. Ia semakin terkejut saat melihat pakaiannya sudah berganti yang entah milik siapa dan menggantikannya. Tanpa berpikir panjang, Dewa langsung membuka pintu kamar dan mematung di posisinya detik itu juga. Cinta dan Vino yang sama-sama sedang berada di meja makan kompak menoleh ke arahnya. "Bunda!! Ada cowok asing masuk ke rumah ini!!" pekik Vino dengan kencang, yang lagi-lagi malah mendapat getokan centong di kepalanya dari Cinta. "Cinta ih, sakit!" "Kamu berisik!" omel Cinta tegas. Untuk saat ini Vino lebih memilih mencari tahu kenapa lelaki asing itu ada di rumahnya, lebih tepatnya keluar dari kamar milik Cinta. Bahkan ia saja tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam kamar itu oleh Cinta. "Lo! Ngapain lo ada di sini?" Vino tak peduli jika yang ia hadapi adalah kakak kelasnya. Karena jika berada di luar sekolah, tak ada yang namanya senioritas. "Ada apa ini teriak-teriak, Vino?" Rina yang sedang berjalan dari dapur langsung bersuara walau tubuhnya belum terlihat. Dewa yang saat ini menangkap mata Cinta fokus menatapnya langsung memilih masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu. "g****k banget," umpat Dewa pada dirinya sendiri. ia menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa juga gue bisa ada di rumah ini? Apa kata tetangga kalau gue ketauan ada di rumah ini? Eh, tapi itu cowok ... dia yang sering ngintilin itu cewek, kan? Kok bisa ada di sini?" Dewa mengedarkan pandangannya. Menemukan waktu yang masih menunjukkan pukul 6 pagi membuatnya aneh memikirkan Vino yang bisa ada di rumah Cinta sepagi ini. "Bun, parah! Di kamar Cinta ternyata ada cowok!" Vino langsung mengompori heboh begitu Rina sudah ada di hadapannya. Cinta kembali melayangkan centongnya, hingga membuat Vino terus mengaduh sakit. "Ya Allah, Ta, sakit tau, sumpah dah!" "Sshtt Vino, nggak boleh berisik. Udah, udah sana, kamu pulang ke rumah. Sarapan di rumah sendiri hari ini, dan jangan kasih tau tetangga kalau ada temannya Cinta yang menginap di sini." "Apa? Menginap?! Jadi itu cowok beneran nginap di rumah in-aww!!" pekik Vino saat merasakan kini lengannya yang malah dapat pukulan dari ibundanya Cinta. "Kamu itu ya, bawel banget jadi cowok. Berisik tau? Udah, pulang. Kalau kamu nggak mau pulang sekarang, Bunda nggak akan izinin kamu makan di sini lagi." "Ih, Bunda nih, sekarang udah mulai sama jahatnya kayak Cinta." Dengan bibir menggerutu tak terima akhirnya Vino undur diri dari rumah Cinta. Sebelum pergi ia kembali menatap Cinta, seolah memperingatkan gadis itu untuk bercerita padanya nanti. Benar juga, kenapa Vino sampai tak sadar jika di rumah Cinta ada motor ninja yang bertengger di depan. Cinta masih menatap pintu kamarnya yang tertutup. ia benar-benar masih tidak menyangka jika ia membiarkan seorang lelaki tidur di dalam kamarnya. Ya walaupun tidak melakukan apa-apa, tetap saja harusnya Cinta berhati-hati. Bagaimana jika nanti Dewa mengotak-atik lemarinya dan mengambil sesuatu yang privasi bagi seorang perempuan? Oh tidak, Cinta menggeleng membayangkannya. Rina mengetuk pintu kamar milik Cinta. Ia beranggapan jika Dewa sudah bangun karena mendengar suara Vino yang menggelegar seperti toa masjid. "Nak, bangun! Sini keluar, kita sarapan bersama!" "Nak Dewa!" Perlahan pintu terbuka. Menampilkan sosok Dewa yang memakai kaos bergaris yang tampak kumal dan lecek. "Bu, maafkan saya. Saya minta maaf karena sudah membuat kegaduhan di rumah ini. Maafkan saya juga karena saya lancang masuk ke dalam rumah ini. Semalam saya benar-benar tidak ingat kenapa saya bisa ketiduran di sini." Rina menanggapi ucapan Dewa dengan tersenyum simpul. "Keluarlah dan sarapan. Kamu pasti lapar." Dewa sontak mengangkat kepalanya saat merasakan sentuhan pelan menempel di atas bahunya. Ia menemukan wanita paruh bay aitu tersenyum simpul menatapnya. Ia pikir, ia akan dimarahi habis-habisan, mengingat bagaimana suara tegas wanita itu yang tadi terdengar mengusir Vino. "Kemarilah, Nak." Rina kembali beralih ke meja makan, meninggalkan Dewa yang masih diam di tempat sambil mencerna apa yang sedang terjadi. Nak? Panggilan itu terdengar tidak asing di telinganya. Tapi ia sama sekali tak keberatan mendengar panggilan itu untuknya. Cinta kembali fokus pada sarapannya dan berpura-pura tak menyadari jika Dewa saat ini sudah duduk di kursi yang ada di sampingnya. Kursi yang biasanya ditempati oleh Vino, si makhluk aneh menyebalkan itu. "Semalam kamu hujan-hujanan di depan g**g. Anak Ibu yang minta kamu untuk dibawa ke rumah." Dewa sontak menoleh menatap Cinta yang saat ini sudah rapi dengan seragam putih abunya. "Demammu itu apa sudah turun?" tanya Rina. Begitu tangannya bergerak maju mendekati wajahnya, Dewa sontak memundurkan kepalanya. "Ibu cuma mau cek suhu tubuh kamu aja," desis Rina karena Dewa seolah menolak disentuhnya. "Sayang, coba cek suhu tubuh teman kamu itu. Kalau masih demam nanti biar Ibu siapkan obat lagi." Cinta sontak mengangkat kepalanya dan menatap bundanya dengan tatapan terkejut. "Coba dicek, Nak," ulang Rina pada putrinya yang hanya menatapnya dengan bingung. Dengan menghela napas pelan akhirnya Cinta memutar kepalanya. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Dewa. Bersamaan dengan tangannya yang sudah menempel di kening Dewa, lelaki itu menolehkan kepalanya hingga membuat Cinta menarik tangannya cepat. "Masih panas sedikit, Bunda." Rina mengangguk paham, sedangkan Dewa mengerutkan keningnya bingung saat melihat bagaimana gadis itu menggerakkan kedua tangannya sebagai peralihan kata-kata. "Sekarang isi perut kamu dulu, setelah itu baru minum obat lagi biar demam kamu bisa pulih sepenuhnya." Rina memberikan piring kosong kepada Dewa. "Segini cukup?" tanya Rina yang menyentongkan nasi untuk Dewa. "Cukup Tante, terima kasih." "Ini pakai juga lauknya. Maaf ya, cuma tersisa satu telur aja. Kamu bangunnya siang, jadi sudah keduluan dihabisin sama Vino." Rina jadi tertawa sendiri saat mengingat bagaimana tadi ketika ia menyuruh Vino pulang ke rumahnya. Anak itu memang tidak akan pernah mau pulang ke rumah kalau belum ia mengeluarkan kata-kata serius. Bahkan pukulan dengan centong sayur dari Cinta tak akan cukup membuat anak itu merasa bersalah. "Nggak papa, Tante. Maaf merepotkan." "Nggak papa, kamu tidak merepotkan. Tante justru senang kalau tahu anak Tante punya banyak teman." Cinta yang memang sudah selesai makan, memilih berdiri lebih dulu dan pergi ke dapur, meninggalkan Dewa sendiri bersama dengan bundanya. "Kata Cinta, kamu pernah menolongnya. Apa itu benar?" Dewa menatap Rina untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk ragu. "Alhamdulillah, Ibu bersyukur. Sejak dulu, banyak orang yang selalu membully Cinta karena tau dia punya kekurangan. Bunda sempat takut dan khawatir karena Cinta yang memaksa bersekolah di sekolah formal. Tapi melihat bagaimana dia selalu ingin punya teman banyak, akhirnya Ibu menyetujui. Padahal, walau dia tidak pernah bercerita sekali pun, Ibu tau jika di sekolah itu pun dia menderita. Ibu bahkan pernah mendapati seragam sekolahnya yang kotor dan bau air comberan. Roknya yang terkadang ada permen karet dan hal-hal aneh lainnya." Dewa sontak terbatuk mendengarnya. Walau Namanya tidak disebutkan, tapi tetap saja ia ingat apa-apa saja yang pernah ia lakukan pada gadis itu. "Diminum, Nak." Dewa meringis pelan. Melihat betapa baiknya wanita paruh baya di hadapannya, Dewa merasa buruk telah bersikap tidak baik pada Cinta sebelumnya. ☘️☘️☘️ "Kamu sungguh tidak mau istirahat lebih lama lagi di sini?" "Makasih banyak Tante, tapi saya mau pulang juga aja. Lagi pula saya juga harus sekolah hari ini." "Loh, kamu kan masih sakit?" Dewa menggeleng seraya tersenyum kecil. Senyum yang jarang sekali ia berikan pada orang lain. "Terima kasih banyak atas bantuan Tante." "Panggil saja Bunda. Kamu kan temannya Cinta, jadi boleh panggil Bunda juga." Dewa mengangguk. Merasa senang dengan tawaran panggilan itu untuknya. "Terima kasih banyak, Bunda." Setelah pamit, Dewa segera keluar dari rumah Cinta dengan sudah berganti dengan pakaiannya semalam yang sudah dicuci dan digosok oleh Rina. Motor ninja merah itu melesat pergi dengan meninggalkan asap tipis di belakang. Menangkap sosok yang ia cari sedang berjalan bersama dengan seorang lelaki yang menggunakan sepeda, Dewa menarik gasnya lebih cepat dan berhenti tepat di depan Cinta dan Vino. "Lo apa-apaan dah?" protes Vino karena jalannya yang dihalangi. "Lo bareng gue," ujar Dewa dengan mata menatap Cinta. "Eh, apa-apaan? Jangan sok kenal sama sahabat gue." Dewa melirik sinis ke arah Vino. "Lo pakai sepeda sedangkan sahabat lo dibiarkan jalan kaki?" "Itu karena Cinta yang nggak mau dibonceng sama gue." "Kalau gitu biar sahabat lo yang bonceng gue. Motor gue akan bawa dia lebih cepat, jadi bisa gue jamin kalau dia nggak akan terlambat." "Enak aja! Siapa yang tau kalau nanti lo bakalan bawa pergi sahabat gue?" "Lo bisa aduin itu ke kepala Yayasan. Puas, lo?" "Ta, jangan ma-" "Ayo, gue anter lo ke sekolah," potong Dewa sebelum Vino menyelesaikan kalimatnya. Tangan Dewa menarik tangan Cinta agar segera mengikuti perintahnya dan tidak membantah. "Ayo! Bunda lo minta gue untuk antar lo ke sekolah," alibi Dewa. Cinta melirik Vino, meminta persetujuan sahabatnya itu. "Nggak usah minta persetujuan, ayo cepetan." Karena Dewa yang terus memaksa, akhirnya Cinta menurut karena tak mau Vino yang nantinya malah ikut terpancing emosi. "Tunggu!" peringat Vino yang membuat Cinta berhenti naik ke motornya Dewa. "Kamu pakai ini, nanti rok kamu bisa terbang kena angin." Vino memberikan jaketnya dan mengikatnya di pinggang Cinta, untuk berjaga-jaga agar rok Cinta tidak tersingkap terkena angin. Cinta akhirnya naik ke atas motor. Tangannya meraba sisi samping dan belakang motor milik Dewa, untuk mencari pegangan. Tapi tak ia temukan. Bahkan ketika motor sudah melaju, Cinta masih panik mencari sebuah pegangan karena takut terjatuh dari motor yang tinggi untuknya. "Pegangan gue," ujar Dewa dengan menarik satu tangan Cinta agar melingkar ke pinggangnya. Cinta kembali menarik tangannya cepat dan hanya memegang ujung jaket kulit milik Dewa dengan erat. Walau begitu, sudah cukup mampu menghadirkan senyum yang terukir di wajah Dewa. Terlihat dari kaca spion, bagaimana lelaki itu terlihat bahagia pagi ini. padahal kemarin dan hari-hari sebelumnya ia sudah seperti mayat hidup. *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD