46 | His Weakness

2407 Words

Dewa mengerjapkan matanya beberapa kali. Bastian masih menangis di hadapannya tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata lelaki itu. Papa mereka berdua, Adrian duduk di barisan bangku lainnya dan hanya diam menunduk. Dewa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia mengusap rambutnya. Rasa sesak dan frustasi menyatu dalam perasaannya kini. Ia tidak pernah berpikir akan mengalami suasana dan kondisi itu. Kedua kaki Dewa melangkah gontai keluar dari rumah sakit jiwa Ananda. Sejak di dalam ia terus berusaha mengatur napasnya. Berita yang baru ia dengar kebenarannya satu-persatu tentang Bastian, keadaan ibunya, dan apa yang sudah papanya lakukan membuat dadanya merasa sesak. Seolah ada benda besar yang menghimpit dadanya. Dulu ia pernah berpikir akan mer

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD