Sembari merebahkan diri di peraduan siang hari ini, aku sedikit memijit-mijit pelipis mencoba membuang semua beban pikiran.
Aku tahu jika aku terus-menerus seperti ini hanya berada di rumah saja, maka, hidupku tidak akan pernah maju.
"Aku harus bekerja dan menghasilkan uang sendiri, agar mertua dan Mas Haris tidak memandang aku sebelah mata."
Aku teringat bahwa memiliki sebuah kontak nama teman yang bernama Riska dan dia punya sebuah toko dan usaha laundry, kurasa aku bisa minta tolong untuk menjadi salah satu pekerja di tokonya.
Jadi, kuambil ponsel dan langsung mencari nama kontak tersebut dan menghubunginya.
"Halo selamat pagi, assalamualaikum," sapaku ramah.
"Halo, hai, Laila sudah lama kamu tidak menelponku."
"Sebenarnya aku meneleponmu untuk meminta sedikit bantuan Riska," ujarku pelan.
"Apa itu, Laila?"
"Aku ingin bekerja di toko atau tempat laundrymu," pintaku.
"Loh memangnya suamimu akan mengizinkan? Aku tahu kalau kamu sibuk mengurus mertua dan rumahmu, apakah mertuamu tidak keberatan?"
"Mereka tidak akan melarangku karena mereka juga sudah punya menantu baru,". Jawabku.
"Apa maksudmu kalau mereka sudah punya menantu baru?"
"Mas Harris sudah menikah lagi," jawab ku sedikit tercekat.
"Apa?! Astaghfirullahaladzim, lalu apa yang terjadi padamu, Lai?"
"Aku tidak tahu, mungkin seperti itulah rasanya sedikit terabaikan."
"Ya Allah, aku turut prihatin dengan keadaanmu, kapan kamu akan datang ke toko aku dan kita bisa berbincang-bincang di sini?"
"Kapan saja jika kamu punya waktu," aku dengan sedikit harapan positif.
"Baiklah aku akan menunggumu besok sore ya."
"Oke, terima kasih, Riska."
aku menutup telepon sambil tersenyum gembira dan memeluk kedua anakku, mereka yang kupeluk spontan dan aku cium, terlihat heran namun ikut tertawa.
"Bunda? Bunda kenapa tertawa?"
"Bunda sebentar lagi akan punya kerjaan, jadi bisa membelikan kalian mainin dan mengajak kalian makan ke tempat-tempat yang kalian inginkan."
"Oh ya siapa bilang itu semua boleh dilakukan?"
Tiba-tiba mertuaku menimpali dan ternyata sejak tadi dia menguping pembicaraanku ditelepon dari balik pintu kamar.
"Ah, dasar rese!"
"Memangnya kenapa Bu?" tanyaku pelan.
"Lah kalo kamu yang kerja anak-anak dan rumah siapa yang akan mengurusnya?"
"Aku dan Adel bisa bergantian."
Wanita itu cemberut tidak senang. Ia menatapku sambil memajukan bibirnya.
"Kamu gak boleh ninggalin rumah."
"Adelia bisa lanjut kuliah, Mas Haris bisa beristri dua, dan ibu bisa melakukan apa saja? Kenapa aku ga boleh kerja?"
Dia tersentak kaget, ada sesuatu dalam pikirannya yang harus kubuat dia untuk menjelaskannya.
"Rumah dan anak akan terbengkalai."
"Anak-anakku mereka akan diam.di rumah bersama Ibu, lagipula aku akan bekerja paruh waktu," jawabku.
"Kamu gak cukup dengan uang pemberian Haris?"
"Bukan gak cukup Bu, saya ingin bekerja dan menghasilkan penghasilan sendiri."
"Kamu hanya dendam sama ibu dan Haris saja," gumamnya.
"Tidak Bu, aku hanya perlu menyalahkan diri dari semua pikiran ini."
"Emangnya apa pikiranmu? Kau bersikap seperti seorang pengusaha yang memiliki perusahaan dan masalah yang begitu pelik."
"Apakah Ibu pernah diduakan oleh ayah mertua?"
Wanita itu memandangku dengan tatapan bulat sempurna.
"Ibu tidak tahu bagaimana hancurnya perasaanku, ketika Mas Haris memutuskan menikah lagi, ditambah aku harus tersisihkan dari kamarku sendiri, dan melihat kemesraan mereka setiap hari."
"Kau saja yang terlalu mendramatisir masalah, seharusnya kau menghindari semua itu agar tidak menjadi depresi," ujarnya sambil memijit kepala.
Wah, naif dan egois sekali dia. Sepertinya aku akan membuat ayah mertua mencintai wanita lain, sehingga dia akan mengerti bagaimana rasanya perasaan yang hancur berkeping-keping. Aku akan
membalaskan dendam kepada wanita satu ini.
"Apa yang kau pikirkan? kenapa diam?"
"Tidak ada. Aku hanya akan menyiapkan pakaian anak dan suamiku untuk besok," jawabku sambil bangkit menuju lemari.
*
Petang harinya,
Tak ada masakan yang terhidang di meja makan, dapur bersih dan sunyi dari aktivitas. Memang tanpa sentuhan tanganku takkan ada orang yang mau turun tangan untuk mengolah makanan.
"Kemana sih perempuan di dalam rumah ini?"
Aku bersikap seolah-olah tidak mendengar apapun, sibuk menyusun pakaian dan membantu anak-anakku mengerjakan tugas sekolah mereka.
"Adelia ... Laila ...."
"Ya Bu ...," sahutnya dari lantai dua.
tak lama kemudian aku lihat dari balik pintu kamarku yang sedikit terbuka gadis itu terlihat buru-buru turun dan menemui ibu mertua.
"Ada apa Bu?"
"Ini sudah magrib dan tidak ada makan sedikitpun di meja makan, ayo ajak Laila untuk menyiapkan makan malam," suruhnya.
Gadis itu terlihat gentar dan sedikit takut ketika ibu mertua memerintahkannya untuk memanggilku.
"Tapi Bu ... Aku lagi ngerjain tugas ...."
"Tugas bisa dikerjakan nanti saja, suamimu sudah lapar, lagipula kalau kau yang masak Haris pasti ...."
Aku melihat gelagat mereka yang saling berbisik kemudian tertawa cekikikan. Tentu saja ibu mertua membisikkan jika Adelia yang memasak maka Mas Haris akan semakin menyukainya dan mencintainya.
Ah, kalaupun suamiku memang benar-benar semakin jatuh cinta dalam kepada gadis itu, memangnya kenapa? tidak ada pengaruhnya bagiku. Dulu aku punya perasaan yang tulus dan murni kepadanya, aku punya rasa bakti yang sangat besar bahkan lebih besar dari pada kedua orang tuaku, namun sekarang aku tidak mau terlalu membebankan diri untuk melayaninya.
Tok ... Tok ....
"Ya ...." Aku berpura-pura sibuk padahal tahu bahwa yang mengetuk itu adalah Adelia.
"Mbak, ibu mertua meminta kita untuk menyiapkan makan malam," katanya.
"Aku sedang sibuk menyetrika, kau saja," suruhku acuh.
"Tapi ...." Gadis itu terlihat ragu dan memilin ujung pakaiannya.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ, mertua dan suamimu sudah lapar," ujarku.
"Aku be-belum bisa masak, Mbak," jawabnya pelan.
"Begitu gorengkan telur dan masakkan mie instan," balasku santai.
"Tapi ayah mertua dan Mas Haris tak akan suka," sanggahnya.
Kali ini kepalaku rasanya mendidih mendengar berbagai alasan dan sanggahannya, Entah mengapa gadis yang terlihat sangat cantik dengan tubuh semampai ini, sedikitpun Tidak mau berusaha untuk turun tangan ke dapur.
"Hei, kalau kamu tidak bisa masak, maka kamu bisa masak makanan instan, kalau kamu merasa tidak enak, kamu bisa buka Google dan melihat tutorial memasak di YouTube, mudah kan?"
"Tapi ...."
"Kau akan semakin membuang waktu jika terus bicara padaku," ujarku.
Kudengar ia menghela nafasnya pelan lalu menyeret langkah menjauh dariku.
Lima menit berikutnya, Mas Haris masuk dan merebahkan diri di ranjang, anak anak memperhatikan ayahnya tanpa banyak bicara.
"Kok kalian diam aja? Mana cium dan peluk untuk ayah?"
Kedua anakku terlihat bergeming di tempatnya, mereka menatap matahari sekilas lalu melanjutkan kembali tugas yang mereka tulis di buku mereka.
"Kalian semua kenapa?" Mas Haris bangkit duduk dan memperhatikan kami bergantian.
"Aku sedang menyetrika Mas," balasku singkat.
"Kudengar kamu tidak mau masak," ujarnya.
"Cukup Mas ... Kenapa akhir-akhir ini kamu begitu rese' seolah mencari gara-gara kepadaku Mas, kenapa semua urusan wanita harus kau campuri?! Ketika aku tidak mau memasak, dan aku bermasalah dengan Adelia, atau ketika aku berdebat dengan ibu mertua. Kenapa sekarang kau berbeda dan mulutmu berubah menjadi mulut perempuan?" Kataku marah.
"Aku hanya bertanya?"
"Untuk konteks apa kamu bertanya untuk mendamaikan atau memperkeruh suasana, ibu lah aku lihat hatimu saat ini sudah condong kepada gadis itu, jadi lakukan saja apa yang kamu mau Mas?"
"Kamu pun akhir-akhir ini sulit diajak bicara," keluhnya.
"Mungkin hatiku masih terluka, aku butuh waktu."
"Dan anak-anak kenapa mereka bersikap dingin kepadaku, apakah kau telah mempengaruhi mereka?"
Seketika telingaku merasakan hawa panas yang begitu menyengat, hatiku tertusuk kalimatnya, dan nafasku menjadi berat menahan amarah.
"Tanyakan sendiri kepada anakmu apakah aku mengajarkan mereka untuk bersikap kurang ajar kepadamu?"
Dia menatapku dan anak-anak bergantian begitupun anak-anak kami yang terlihat bingung dengan perdebatan orang tuanya.
"Aku gak ngerti, Laila."
Dia bangkit lalu membuka pintu dan menjauh, sebelum sempat dia begitu jauh aku segera berkata.
"Mulai besok aku akan bekerja."
Dia membalikkan badan dan tertegun lalu bertanya kepadaku,
"Kenapa? atas izin siapa kamu boleh bekerja?"
", Aku tidak perlu meminta izin,aku berhak untuk bekerja dan menikmati hidupku seperti halnya kamu berhak untuk melakukan apa saja yang kamu mau!"
"Aku adalah suamimu!" bentaknya.
"Dan aku adalah istrimu dan perlakukan juga aku seperti kau memuliakan Adelia."
Kami saling bertatapan dengan sorot mata yang penuh kilat kemarahan, kedua mertuaku buru-buru mendatangi kami dan mereka juga tertegun dengan apa yang.
Gadis yang suka mencari muka itu, tampak juga buru-buru keluar dari pintu dapur sambil memegang sutil dan teflon di tangannya.
Ah, setan semua!