Kampung Rey dan Dion ini sejatinya berletak jauh dari Kota. Jadi wajar saja bilamana hanya segelintir orang yang menguasai desa tersebut melalui otoritas kampung. Banyak dari budaya kita seringkali pemerintahnya hanya mengurusi kepentingan para borjouis yang punya modal berjuta-juta, atau lebih daripada kepentingan masyarakat umum. Termasuk Koh Ming Ay, seorang yang dahulunya biasa saja tetapi karena keuletannya, ia dapat mencapai kesuksesan yang besar. Kesuksesannya mungkin akan biasa saja jika diukur untuk skala perkotaan, tetapi untuk ukuran tempat di desa kekayaannya sungguh besar. Sehingga ia layak menjadi saudagar yang juga banyak memperkerjakan orang-orang di kampungnya.
Koh Ming Ay, merupakan seseorang yang sebenarnya berasal dari bawah. Ia dahulu bekerja keras sendirian karena keluarganya bukanlah seperti keluarga Tionghoa pada umumnya yang bergelimang rupiah. Keluarganya keluarga biasa saja dengan tingkat ekonomi menengah. Tetapi karena hal tersebut justru membuat dirinya semakin tambah bekerja keras untuk memperbaiki nasibnya. Dan benar saja, pucuk dicinta ulam pun tiba, bagaimana ia bisa mendapatkan keberhasilan yang ia impikan sejak umur 30 tahun untuk pertama kalinya.
Apapun ia lalui sejak dahulu, mulai dari sebagai seorang karyawan, berniaga sendiri, ataupun menjadi sales. Hingga nasibnya mulai terlihat membaik dan sudah diperkirakan akan jadi besar adalah saat ia jadi karyawan sales sebuah pergudangan logistik yang mana memperjualbelikan logistik rumah tangga dan perabotan rumah. Saat itu, bosnya merasa bahwa Koh Ming Ay akan menjadi “orang” karena sikap yang beliau tunjukkan selama bekerja dan kedisiplinannya dalam bidang apapun. Tidak peduli siapa dia, yang penting menurutnya kesuksesan bisa berhasil bila kita bisa menghargai waktu sebaik mungkin dengan cara memperbaiki semua keterlambatan waktunya dalam menjalani kegitan sehari-hari.
Apa yang ia lalui tersebut kemudian ia ceritakan pada Dion, saat Dion diajak ke rumahnya Koh Ming Ay pada malam hari setelah ia selesai mengerjakan pekerjaannya. Entah apa yang dirasakan oleh Dion sepertinya ia akan mendapat hal besar.
Seusai Koh Ming Ay menceritakan pengalaman panjangnya itu, ia akhirnya kembali mengobrol dengan Dion.
“Ikam kada papa mun ku panggil kesini, kada sibuk kalo?” (kamu gak apa-apa kan kalau kupanggil kesini, gak sibuk kan?) dalam Banjar Koh memberikan satu obrolan basa-basi.
“Aman ja Koh, selow nah” dalam Banjar pun abang Rey itu menjawab.
Dion juga menambahi, “Ceritanya emang ngeri ya Koh. Keras banget. Orang luar, tahunya Kokoh kaya dari hasil keturunan keluarga.”
“Justru kalau saya udah Kaya, ya gak usah saya jungkir balik jadi sales segala macam. Mending saya ongkang-ongkang kaki dari harta orang tua. Kan enak?”
“Tapi saya juga akuin, terkadang ada andil besar yang baik dari orang tua saya. Orang tua saya semuanya suportif, dan gak aneh-aneh kalau saya pengin sesuatu pasti hampir selalu diperbolehkan kalau itu baik dan tidak merugikan orang lain. Selain itu pun, keluarga saya waktu itu ada modal sedikit dan kebetulan saya dikasih sebagian, ya sudah saya manfaatkan betul-betul itu...” Koh Ming Ay terus memberi Dion semacam pelajaran.
“Untung-untungan ya Koh jadinya, bruahahaha...” Dion hanya membalas seadanya dan sesekali membumbui obrolan dengan canda tawa yang sepertinya palsu. Biasa selera humor orang tua itu berbeda dengan orang muda seperti Dion, tetapi bukan Dion namanya kalau gak bisa menyeimbangkan diri dengan lawan bicaranya.
Itulah mengapa Dion begitu diperhatikan oleh Koh Ming Ay, karena dirinya begitu apa adanya dan pandai menempatkan diri serta yang paling substansial, seorang Dion sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran agar ia bisa terus berkomitmen pada diri sendiri. Karena menurutnya itu urusan hati dan prinsip. Jadi siapapun tidak berhak mengintervensinya kecuali diri Dion seorang.
Barulah setelahnya Dion dikabarkan bahwa dirinya harus siap dengan sesuatu yang besar, ucap Koh Ming Ay. Tetapi apa yang dimaksud oleh Koh tersebut tidak benar-benar dimengerti oleh Dion sendiri. Namun ketika ditanya Koh Ming Ay tidak mau menjelaskannya lebih jauh. Firasat yang ada dalam diri Dion seperti mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak ingin mengartikannya secara sepihak. Sehingga ia menunggu waktu yang tepat, untuk menyiasati hal tersebut.
Seperti sang Kakak, Rey juga seseorang yang penuh idealisme sejatinya. Apalagi sedari kecil yang sering dicekoki dogma dan doktrin dari pemikiran ayah dan ibunya, sehingga hal-hal tersebut mempengaruhi dirinya serta abangnya. Memang dari keduanya ini lebih condong kepada ayahnya. Tetapi Rey juga terkadang bisa sangat bersikap seperti ibunya, sensitif dan serba peka. Rey bisa gampang menangis dan marah, sedangkan Dion berbeda, ia lebih bisa mengatur apa yang ada didalam dirinya. Karena baginya seharusnya setiap manusia bisa mengatur apa yang ada didalam dirinya, dan jika seseorang melakukan kesalahan janganlah sampai menyalahkan lain pihak padahal diri sendiri tidak awas untuk memperhatikan diri sendiri.
Tetapi bukannya Dion tidak memiliki temperamen. Sepertinya sudah digariskan yang Kuasa lewat Eyang Demak yang menitisi mereka bahwasannya temperamental keduanya akan hidup jika ada satu kezaliman yang terjadi. Sebuah kezaliman yang membawa banyak mudharat untuk kehidupan. Kehidupan sosial manusia, ataupun bahkan kehidupan makhluk lain.
Temperamen itu memang digunakan untuk mempertahankan kebaikan dan melawan keburukan. Selainnya, hal tersebut pun digunakan untuk mempertahankan kebenaran dan melawan kesalahan. Seperti yang dahulu pernah diamanatkan ayah mereka bahwa janganlah sampai anak-anaknya menyerah pada kezaliman yang membawa keburukan dengan membenarkan banyak kesalahan.
Hal-hal tersebut biasanya akan muncul ketika zaman dan dunia sudah memasuki usia tuanya. Dan benar saja, apa yang pernah dikatakan ayah mereka sebenarnya sudah terjadi. Seperti halnya dalam lingkungan kerjanya Dion di tempat Koh Ming Ay ternyata banyak yang tidak menyukai Dion. Apalagi saat Dion mendapatkan promosi jabatan. Sebenarnya dalam hierarki lingkungan kerja Koh Ming Ay tidak ada yang namanya posisi atau jabatan secara resmi. Karena masih memakai budaya pedesaan, sehingga jabatan hanya ada bos dan bukan bos. Dan sekelas Dion pun bagi orang-orang yang bekerja di desa, dia bukan Bos. Bosnya hanya seorang Koh Ming Ay.
Apa yang Dion rasakan tersebut sejatinya sudah sejak awal ia mulai bekerja disini. Apalagi melihat ternyata ada satu orang yang diketahui adalah keluarga daripada warung sebelah Dion yang berada didepan warungnya dulu saat masih berjualan di Pasar. Ternyata anak pemilik warung tersebut ikut bekerja juga, dan level dirinya dari Dion adalah karyawan senior. Lebih tua satu tahun dari Dion. Orang tersebut bernama Sayan. Dirinya gemar sekali membuat intrik antara pekerja dan membuat adu domba antar satu karyawan dengan karyawan lain, selainnya, dirinyapun kerap kali mencari perhatian kepada Koh Ming Ay, namun sayang disayang banyak waktu yang dihabiskan Koh Ming Ay untuk hal yang lebih penting daripada mengurusinya. Mungkin perhatian Koh Ming Ay yang berhasil dicuri Sayan bisa dihitung dengan jari. Sangat jarang dan minim.
“Kalian tahu, itu si Dion. Kerjaannya hanya menarik uang saja. Tetapi bayarannya lebih besar daripada bayaran kita...”
“Kurang ajar itu anak baru adiknya si Dion, selalu saja dapat perhatin si Kokoh!”
“Cuma modal sarjana tetapi sebenarnya kerjaan si Robin itu gak becus, cuih!”
Nyaris semua apa-apa yang berkaitan dengan Dion selalu Sayan kritik dan dinilai jelek. Sebab menurutnya, apa yang Dion lakukan hanyalah sebatas menjilat agar mendulang perhatian Koh Ming Ay saja. Walaupun aslinya, dari sudut pandang Koh Ming Ay yang sebenarnya begitu adalah Sayan sendiri karena sudah sejak lama Sayan masuk karyawan yang sebetulnya hendak dipecat oleh Kokoh tetapi karena dibela oleh Dion, hal itu urung dilakukan Koh Ming Ay.
Dion memang sang pembela, meski siapa yang ia bela terkadang justru menusuknya dari belakang. Tetapi menurutnya, biarkan waktu saja yang menjawab dan membalas. Karena jika waktu sudah berada pada garis edarnya maka siapapun akan habis dimakannya dan ditelannya tanpa ampun. Sesederhana peribahasa yang menyatakan bahwa kita akan menuai apa yang sudah kita tanam.