Melawan Rentenir

1102 Words
Setelah semua perlengkapan jualan di bereskan, Dion dan asistennya sudah bersiap siap untuk pulang. Namun ketika asistennya hendak mengunci warung dari dalam, tiba tiba datang segerombolan preman yang memaksa masuk. Padahal sang asisten sudah mengatakan jika jualan telah habis dan warung sudah tutup. Tetap mereka memaksa untuk masuk dan asisten juga terlihat ketakutan dengan jumlah mereka yang tidak sedikit serta menunjukkan wajah wajah yang tak bersahabat. “Mba Mi, kesini aja, biarkan saja mereka masuk.” Sepertinya Dion sudah tahu siapa mereka yang datang. Siapa lagi kalau bukan gerombolan si rentenir yang pagi tadi ia lawan. Dan ternyata benar, setelah semua preman tadi berhasil masuk ke warung, dari belakang mereka hadir sang rentenir dengan gayanya yang sok kuat. Dengan rokok yang masih mengepulkan asap dari mulutnya ia semakin sombong. Rupanya ia membawa pasukan ke warung untuk membuat perhitungan dengan Dion yang telah mempermalukan dirinya tadi. “Masuk bang, jangan malu malu.” Sambut Dion setelah melihat sang tamu rentenir tadi. Mendapat ejekan begitu, sang rentenir tambah naik darah. Masih teringat jelas di kepalanya saat dirinya dan anak buahnya yang berbadan besar di permalukan tadi pagi. Kali ini ia tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama. Sang rentenir membawa sejumlah preman bayaran. Semua tampak beringas dan membawa sajam sebagian. Badan besar, bertato dan rambut panjang. Tapi itu semua tidak membuat Dion ketakutan. Ia dengan tenang meminta asistennya untuk pulang duluan. Ia khawatir jika terjadi apa apa pada asisten tersebut yang sudah lama menemani ibunya berjualan. Selain itu Dion juga tak ingin sang asisten melihat perkelahian itu. Mendapat perintah demikian sang asisten langsung pergi melalui pintu belakang. Setelah asistennya pergi, Dion lalu bersiap menghadapi mereka. Meski menghadapi musuh yang menggunakan senjata tajam, tidak membuat ia takut. Dion hanya santai melihatnya. Para preman sudah tak sabar untuk segera maju menghabisi dirinya. “Lu mau bayar ga? Gua kasih kesempatan terakhir nih.” Pinta si rentenir yang duduk santai bersama si pengawalnya yang tadi di patahkan tangannya. “Kan ane dah bilang tadi bang, ane minta bukti dulu, kalau bener almarhumah ibu ane berhutang pasti ada jejak hutangnya kan? Lha abang ga bisa nunjukkin gimane ane mau percaye bang.” Kata Dion dengan santainya. Tiba tiba empat orang maju serentak menyerang Dion, semua menggunakan senjata tajam sejenis parang dan kapak. Dion dengan sigapnya mampu menghindar dari ke empat serangan orang tadi. Malah ia bisa mendaratkan pukulan balik ke tubuh mereka. Satu terkena di rahangnya langsung copot giginya, dua terkena pas di hidungnya langsung muncrat darah segar dari kedua lubang hidungnya, tiga mengenai perutnya langsung tersungkur di lantai dan ke empat patah tangan kanannya. Sontak para preman dan rentenir itu terkejut melihat teman temannya jatuh bergelimpangan hanya dengan sekali pukulan Dion. Tapi mereka masih tetap keukeh ingin menyerang Dion. Selanjutnya bertambah lagi yang menyerang Dion. Delapan orang maju bareng. Mereka bermaksud biar cepat tuntas bila bisa banyak yang mengeroyok Dion. Melihat musuh yang mau menyerang jumlahnya bertambah dari yang pertama, membuat Dion berinisiatif maju duluan sebelum mereka menyerang. Dengan kemampuannya yang sangat cepat, ia bergerak kesana kemari sambil mendaratkan beberapa pukulan ke tubuh musuhnya tanpa sempat mereka membalasnya. Dion bertambah semangat setelah melihat mereka berjatuhan satu persatu. Apalagi saat melihat sosok rentenir yang mulai terlihat panic menyaksikan kehebatan Dion. Masih tersisa sepuluh orang lagi preman bayaran yang bertahan. Semua tampak ketakutan dan ragu untuk maju menyerang. Namun ketika rentenir meminta untuk menyerang mau tidak mau mereka segera maju. Apalagi mereka sedang berada di bawah pengaruh alcohol dan drugs jadi mudah sekali terprovokasi. Begitu juga dengan Dion dengan mudahnya mengalahkan mereka lagi. Hanya dengan beberapa pukulan semuanya bisa ia jatuhkan dengan mudah. Kini yang tersisa hanya rentenir dan sang pengawal. Mereka langsung berdiri dan bersiap siap untuk kabur. Namun sayang di belakang mereka ternyata sudah ada beberapa orang yang mencegah mereka untuk kabur. Ya mereka semua adalah orang sekitar pasar, bekas anak buah sang ayah Dion. Dengan berpakaian kaos singlet dan berbau keringat khas kuli pasar mereka hadir di warung Dion. Sebagian membawa parang daging dan sebagian tangan kosong. Mereka semua sudah bersiap membantu Dion tapi semua musuh sudah terkapar  berjatuhan di lantai. Yang tersisa hanya rentenir dan pengawalnya. “Mau kemane ente bro?” cegat si bang Jali, anak buah ayah penjual sayur yang terkenal paling sadis sambil memegang kerah baju sang rentenir. “Ampun bang, ane ga macem macem kok. Sumpeh bang.” “Ah ngeles lu kayak anj*ng!” umpat bang Jali kesal. Sudah lama ia tak berbuat rusuh karena sejak ayah pergi tidak ada lagi keributan di kampung. Nyaris semua anak buah ayah sudah pensiun dari dunia hitam dan mereka beralih profesi menjadi pedagang di pasar.  Reflek bang Jali mendaratkan bogemnya ke arah mulut si rentenir. Alhasil enam giginya langsung berguguran dan mengeluarkan darah yang segar dari mulutnya. Tak puas hanya itu ia ingin mematahkan kedua tangan rentenir itu juga. Tapi keberuntungan masih memihak pada rentenir tersebut, ia di hentikan oleh Dion yang meminta untuk tidak melakukan itu pada bang Jali. “Udeh bang, jangan bang! Biarkan saja mereka pergi, bang!” “Biar aja Yon, gue beri lagi biar kapok.” “Ga bang, udeh cukup lah, ga usah di perpanjang lagi.” Pinta Dion. “Denger lu, untung adik angkat gua ngampunin elu pade, berani lagi lu muncul di pasar ini, dapet gue, langsung gue habisi lu pade.” Sambil menangis menahan sakit dan menutup mulutnya yang terus berdarah, rentenir menggelengkan kepala dan memohon ampun pada bang Jali dan Dion. Setelah mendapat ampunan ia langsung bergegas pergi dan meninggalkan anak buah yang baru saja ia bayar. Sekali lagi rentenir itu bisa di kalahkan oleh Dion sendirian. “Lu bae bae yon? Ada yang luka kaga?” “Alhamdulillah aman, bang. Kok bisa kemari bang?” “Noh pembokat lu yang nangis nangis beritahu gue. Langsung gue bawa anggota kemari, eh ternyata dah selesei. Ga asik lu Yon.” Cengir bang Jali karena ga bisa ikutan party menghajar orang. Dari belakang bang Jali nongol sang asisten Dion yang di minta pulang duluan tadi. Ternyata mbok Darmi yang memanggil Jali. Ia yang ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Karena teringat dengan anak buah almarhum ayah yang ia kenal dekat, segeralah ia menuju kesana dan menceritakan semua kejadian di warung tadi. Sejak hari itu rentenir tersebut tidak berani lagi muncul di pasar. Semua pedagang saling bahu membahu menjaga keamanan bersama sama. Tidak ada yang merasa kuat sendiri. Suasana aman dan nyaman bisa tercipta berkat kerjasama antar pedagang. Dion bisa melanjutkan usahanya. Ia masih bisa berdagang dengan leluasa. Meski jualannya tidak seperti ibunya yang selalu ramai karena rasa yang beda dengan versi ibunya. Tapi ia tak kenal putus asa. Ia terus mencoba untuk bertahan dan mengembangkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD