Melanjutkan Usaha

1442 Words
Setelah kepergian sang bunda, Rey menjadi sedikit labil. Di kampus ia tidak begitu b*******h untuk meneruskan kuliahnya. Setiap ada mata kuliah ia jarang masuk, selalu menitip absen dengan teman sekelas. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di warnet. Menghamburkan uang hanya untuk menghilangkan kebosanannya. Ia sengaja melakukan itu untuk menghibur dirinya sendiri. Segala kebiasaan yang baik dulunya perlahan mulai di tinggalkan. Lima waktu mulai ada bolongnya. Kadang malah sengaja di lalaikan kelima waktu tersebut. Di tengah kelabilannya, ia jadi peluang untuk di masuki sosok yang memang senang dengan dunia kesesatan. Dan itu tanpa Rey sadari jika dirinya perlahan telah di susupin oleh sosok iblis. Kehidupan Rey langsung berubah 180 derajat. Semua yang ia inginkan menjadi mudah ketimbang saat ia menjadi anak baik baik. Mulai dari gadis di kampus yang ia inginkan, pasti akan dengan mudah ia dapatkan. Meski itu ia tanpa modal materi sekalipun. Cukup dengan modal wajahnya yang cute, gaya yang cool dan sifat humble sudah jadi modal dasar ia mendapatkan cinta gadis gadis di kampusnya. Bahkan kekasih teman juga ia tak peduli, jika memang gadis itu suka, ia dengan tangan terbuka menerimanya. Tidak ada lagi rasa setia kawan dengan teman. Hingga tak heran ia juga jadi banyak teman yang mulai memusuhinya. Rey tak mau ambil pusing dengan semua itu. Baginya ia bisa bahagia dengan semua yang ia lakukan. Tak ada satupun yang berani melawannya. Hampir semua temannya tau tentang kemampuan seorang Rey jika berkelahi. Tidak hanya tentang sifat playboy-nya yang menggila. Rey juga berani melakukan apa yang telah di larang kedua orang tuanya, yaitu menggunakan narkoba. Semua karena mudahnya yang ia dapat dari lingkungan pertemanannya. Jadi ia gampang di pengaruhi oleh teman temannya. Tapi ia masih beruntung tidak menjadi pecandu. Rey masih bisa sadar dengan sendirinya karena barang haram itu mahal, dan ia takkan mampu jika harus membayarnya. ***** Sementara di tempat lain Dion tampak sibuk dengan dunia barunya. Ia mau tidak mau harus menggantikan posisi ibunya untuk berjualan di warung. Meski sebenarnya pekerjaan ini lebih cocok untuk gender jenis wanita ketimbang pria. Tapi Dion cuek, ia tidak malu sedikitpun dengan pekerjaan barunya. Justru dengan adanya dia jualan itu mengalami sedikit peningkatan ketimbang dulunya. Tentu saja itu tak lepas dari wajahnya yang innocent seperti artis drakor yang lagi di gandrungi wanita zaman now. Dengan kekuatan social media, kerjaan Dion menjadi viral. Orang orang pada berduyun duyun ke warung hanya untuk berpose atau sekedar melihat ia berjualan ketimbang merasakan masakan warisan ibunya. Sebelum buka warung netizen yang menjadi fans dadakan nya sudah pada menunggu di depan warungnya. Tak ayal hal itu juga turut membagi rezeki bagi tukang parker di sekitar warung. Namun tidak semua usaha itu berjalan mulus. Begitu juga dengan Dion yang sedari awal di warung ibunya ada sesuatu yang tidak beres. Tapi selama ini ia memendam rahasia itu. Kemampuannya yang bisa melihat mereka yang tak kasat mata menjadi nilai plus buat kehidupannya. Ia berharap bisa mengungkap penyebab usaha ibunya dulu yang secara mendadak jadi sepi setiap harinya. Padahal usaha tersebut sudah menjadi legend di kota kelahirannya. Dion merasa tak percaya jika itu memang karena keadaan dunia usaha yang sedang mengalami pasang surut. Beberapa kali ia pernah melihat sosok aneh yang berseliweran di warung ibunya semasa beliau hidup. Dion pikir mereka hanya lewat sekelebatan. Padahal dulu almarhum ibu sudah sering mengalami hal yang aneh, namun ibu selalu menganggap jika itu merupakan bagian dari ujian yang Allah berikan buat keluarganya. Ibu selalu berbesar hati menerima cobaan seperti itu. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun meski usahanya menurun drastic dibanding hari biasanya. Nasi yang menjadi basi tiba tiba sudah bukan hal yang baru buat ibu dan Dion kala itu. Belum lagi langganan yang selalu bertanya mengapa warung sering tutup ketika mereka berniat ingin membeli. Hampir setiap langganan melihat hal yang sama. Tapi ibu tidak pernah mengindahkan hal itu. Baginya itu adalah ujian buat kehidupannya. Dion yang melihat kegigihan ibu dalam menghadapi semua masalah dengan bersabar, merasa bangga memiliki ibu seperti itu. Ia jadi panutan buat dirinya. Sifat itupun menurun ke Dion. Sudah setahun terakhir ia menggantikan ibunya berjualan. Hasil yang ia dapat cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah dan biaya kuliah adiknya Rey. Tapi hal itu tidaklah di ketahui Rey karena begitu frustasinya ia sejak di tinggal ibunya. Karakter yang kuat dan sabar adalah ciri khas seorang Dion. Makanya ia jadi pelindung bagi adiknya yang kada sering lepas kendali. Dion lebih bijak dalam menyikapi setiap masalah. Ia selalu tenang ketika menghadapi, semuanya di pikir dulu matang matang sebelum bertindak. Namun ia juga jadi orang terdepan yang melindungi adiknya jika Rey sedang terlibat masalah. Berbanding terbalik dengan Rey yang selalu mengedepankan emosi ketimbang logikanya. Ia tak berpikir secara matang, selalu emosi duluan yang ia utamakan, sehingga terkadang salah melangkah dan berakibat merugikan dirinya sendiri. Untung ia memiliki sang abang yang selalu melindunginya. ***** Sudah setahun lamanya ia melanjutkan usaha ibunya. Semenjak ibu telah pergi, Dion menjadi tulang punggung keluarga. Hanya tersisa mereka berdua dengan adiknya, Rey yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Jatuh bangun ia menjalankan usaha itu karena hanya dia yang mengerti semua rahasia dapur dan sumber bahan di pasar yang biasa ibu beli. Awal usaha banyak tantangan yang harus ia hadapi. Mulai dari rentenir yang coba memaksa untuk melunasi hutang ibu yang telah lama menunggak. Padahal setahu dia, ibu tak pernah memiliki hutang kepada orang lain. Ketika di minta untuk menunjukkan bukti hutang ibu, sang rentenir gelagapan dan mencoba berlaku kasar pada Dion dan warungnya. Apalagi rentenir itu menagih di saat ramai pengunjung. Dion sudah berusaha mengalah dengan meminta waktu untuk menyelesaikannya namun ia tetap di paksanya. “Pokoknya sekarang kamu kudu bayar hutang itu, semua dengan bunga bunganya, 10 juta tunai, sekarang!” “Sabar ya bang, sekarang saya belum punya dana segitu, bang. Lagian abang juga ga bisa menunjukkan bukti hutang almarhumah ibu saya dengan abang.” “Ga bisa! Gue sudah cukup bersabar nih, ibu mu meminjam enak giliran di tagih susah.” “Abang bisa sabar ga, ini warung juga lagi kondisi ramai, ane ga bisa konsen ngurus jualan dan juga urusan dengan abang.” “Ah, bodoh lah, bukan urusan gue itu mah, kampreto!” Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk meladeninya lebih lama, Dion lalu mengajak rentenir itu ke belakang warungnya. Sang rentenir bersama anak buahnya yang berbadan besar dan tinggi serta berwajah sangar mengikuti Dion ke arah belakang. “Ok dah, sekarang maunya abang gimane dah, ane ladenin bang.” Terlihat Dion sudah mulai kesal dengan perlakuan rentenir itu. “Oh lu berani ngelawan ye ternyata. Nyali juga lu ye.” Sambil membanting rokoknya yang sedari tadi berada di mulutnya. “Lu jual, ane beli dah bang.” Singkat dan jelas pernyataan Dion menantang rentenir itu. “Udah bos, biar gue beri pelajaran nih bocah, ga ade akhlaknya, dasar bocah …” belum selesai ia berucap sambil maju hendak mencekik leher Dion. Namun diluar dugaan, pengawal rentenir itu di pegang oleh Dion dan di patahkan seketika. Alhasil, sang pengawal langsung berteriak histeris. Ia meraung kesakitan. Sang rentenir sangat terkejut melihat kemampuan Dion dan anak buahnya yang tergeletak di tanah hanya dengan sekali sentuhan. “Maafin ane bang, bukan maksud ane begini. Kalau abang abang pade sopan, ane juga segan kok!” Tampak sang rentenir gemetar ketakutan melihat kehebatan Dion. Ia coba membantu anak buahnya untuk bangkit, namun sang pengawal tampak meringis kesakitan karena tangan kanannya yang barusan patah. Dion yang tidak begitu tegaan dengan orang jadi merasa iba melihat musuh yang telah ia celakai. Segera ia mendekat dan mencoba membantunya. “Mau apa lu?” tanya si rentenir melihat Dion mulai mendekatinya. “Tenang bang, ane ga gigit kok.” Dion sambil tersenyum lalu meraih tangan musuh yang barusan ia patahkan. Bismillahhirrohmannirrohim… اَللّـٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَـيَّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad Krak! Sekali sentuhan tangan yang patah tadi langsung kembali normal. Si pengawal tiba tiba tidak meringis kesakitan lagi. Rentenir tadi kembali di buatnya takjub. Setelah itu kedua orang tersebut langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih atau sepatah katapun. Tampak amarah sang rentenir tadi masih terlihat saat menatap Dion. Ia merasa tak terima mendapat perlakuan demikian. Dion yang mengerti bahasa tubuh dari rentenir itu sudah tahu jika ia tidak puas dengan sikap dirinya. Dion kembali masuk ke dalam warung dan melihat warung semakin ramai pengunjung. Sang asisten mulai terlihat panic dengan suasana di warung. Dion segera mengambil alih melayani pelanggan yang sudah mengantri. Sementara asistennya melayani pembeli yang makan di tempat. Tanpa terasa dalam waktu dua jam, semua jualan Dion ludes terjual. Hari ini ia bersyukur bisa pulang lebih awal dari biasanya. Setiap hari jika sedang sepi ia bisa menutup warung hingga pukul 1 atau 2 siang. Namun hari ini diluar dugaan jualan lagi ramai makanya bisa cepat habis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD