Anindya, Kekasih Tak Sampai

1849 Words
“Rey bangun, bangun, Rey! Kamu baik baik saja kan?” suara wanita nan lembut itu berusaha menyadarkan Rey yang tengah tak sadarkan diri. Perlahan lahan Rey membuka matanya. Lamat lamat ia perhatikan sosok gadis yang begitu perhatian padanya. Pelan dan pelan hingga akhirnya ia mampu membuka keseluruhan matanya yang masih terasa sakit. “A-a-aku dimana?” tangan lembut itu membelai pipi Rey. “Ini di rumah sakit, Rey. Sudah 2 hari kamu tak sadarkan diri.” Rey lalu coba bangkit dari tidurnya, tapi sia sia kembali ia terbaring karena semua badannya masih terasa sakit. “Kamu istirahat dulu Rey, jangan memaksa.” Kepala Rey langsung pusing saat memaksa tadi. Beberapa saat kemudian ia muntah dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Wajah pucatnya masih jelas terlihat jika ia memang sedang tak baik baik saja. Gadis di sisinya tetap sabar menemaninya sambil sesekali membantu menyeka wajah Rey. Memberi ia minum hingga menyuapi buah yang ada di kamar tersebut. “Kok kamu bisa ada disini?” “Kamu yang telah menyelamatkan aku, Rey. Aku juga yang membawamu ke rumah sakit ini bersama Aksa.” “Aksanya mana?” “Ia lagi mengurus di kepolisian untuk membuat laporan tentang penganiayaan dirimu.” “Ngapain juga harus ke kepolisian, biarkan saja, tidak bakal selesai itu.” “Sekarang kamu istirahat dulu, Rey. Kamu pulihkan dulu kesehatanmu.” Rey lalu tersenyum melihat gadis tersebut sangat antusias terhadap dirinya, meski sudah berulang kali ia menghiraukan semua perhatian padanya. Ia jadi mengingat kejadian 2 tahun lalu saat ia pertama kali mengenal gadis ini. ***** “Rey bangun, bangun, Rey!” teriak Aksa di dekat telinga Rey. Seketika mata Rey langsung terbelalak mendengar jeritan makhluk satu itu.  “Wal, bantuin aku nah,” pinta Aksa yang sontak menodong tanpa melihat kondisi Rey yang baru terperanjat, karena jeritan temannya ini yang membuat telinga Rey terasa mau meledak. “Hoahhmm ... aduh, Aksaaaa, anj*ng nih, ga tau orang lagi turu piye?!” umpat Rey. Sementara yang dimaki tetap saja melanjutkan cerocosannya tanpa melihat reaksi temannya yang sedang kesal. Rey paling kesal jika ada yang mengganggu kenikmatan rezeki tidurnya. Siapa pun yang berani merenggutnya, pasti akan terima azab dari Rey berupa cacian. Semua teman-teman pasti tahu akan hal itu, kecuali sahabat yang satu itu, si koplak Aksa. “Bantuin aku, nah, Wal.” Tak menyerah, Aksa terus memohon. Rey tahu kebiasaan anak itu, jika ada maunya pasti menunjukkan wajah melasnya. Tak peduli teman dalam kondisi apa pun, mau teman lagi susah atau sedih, tetap saja ia memaksa, pokoknya masa bodoh, dah. Kecuali teman susah dalam kondisi kebelet boker, lalu momen itu sudah di ujung tanduk, nah, mungkin ia baru paham! “Bantu apaan, lu ga lihat gue lagi apa, hah?” Dengan sedikit nada kesal Rey menyemburkan hawa naga yang baru bangun tidur. “Ah, kada mau tahu aku, kam harus bantu aku sekarang. Kali ini aja, Wal, penting ini, please, Wal.” Tetap Aksa tak menyerah dengan rayuannya. Rey yang melihat, sampai rasanya jijai-jijai anjai. Aksa terus menarik badan Rey untuk bangkit dari dunia tidur yang telah ia selami sedari malam. Padahal, sebenarnya waktu sudah menunjukkan saat yang telah lewat untuk melakukan aktivitas sebagai manusia pada umumnya. Pada akhirnya, dengan sangat terpaksa Rey pun harus menyerah dengan bujuk rayu Aksa. “Oke, sebentar, Wal. Aku cuci muka dulu sedelut, koe ojo melu, hadeh,” tegas Rey sedikit kesal. “Busyet, dah, emang kita mau pedang-pedangan,” umpat si Aksa kegirangan karena bujukannya berhasil. Setelah selesai mencuci muka dan buang air, kembalilah Rey ke kamar. “Udah mandi, Wal? Cepet amat, lu” celetuk Aksa sedikit keheranan karena diri Rey hanya sekejap berada di kamar mandi. “Heh, mandi? Buat apaan mandi? Ga berubah juga, kan, kamu punya muka,” ujar Rey dengan santai. Aksa terlihat bertambah keki. Mungkin ia tidak menyangka jika sahabatnya Rey ternyata dekil bin jorok amat orangnya. Rey memang terkenal cowok yang simpel. Terkadang celana dalam saja ia betah bolak-balik pakainya, kata orang side A–side B. Rey bisa mencuci seminggu sekali, itupun merupakan sebuah keajaiban jika bisa dilakukan. Apalagi jika merendam pakaian, malah seminggu bisa awet cucian di rendaman itu. Harum kagak, malah bau busuk dapatnya. Sudah begitu berulat lagi. Ah, dasar memang kemproh tenan Rey! Petualangannya selama hidup di kampung orang penuh dengan warna. Tentu saja Rey tidak sendiri, karena Eyang dari Demak yang selalu hadir di kala ia dalam keadaan terdesak. Apalagi Rey juga memiliki leluhur dari tanah kelahirannya yang memiliki kekuatan di atas Eyang Demak. Kembali ke Aksa yang telah membangunkan macan tidur. Masa itu, Rey sedang dalam masa labil pasca di tinggalkan ibunya. Ia sudah menjadi seorang Penjahat Kelamin di kalangan anak-anak se-geng-nya. Sementara Aksa belum mengerti jika Rey adalah seorang PK alias playboy cap kadal. Mungkin menurut ia, Rey tak pantas menjadi seorang PK, karena ia melihat sahabatnya ini tak memiliki modal sebagai orang PK. Hanya tampang doang yang lumayan tapi secara materi ga banget dah, gumamnya. Rey yang sudah merasa terganggu kenikmatan tidurnya, mau tak mau meladeni keinginan sahabatnya. Apalagi jika hal tersebut menyangkut seorang cewek, jiwa PK-nya langsung meronta. “Cewek apes mana yang lu incar, nih, Aksa?” “Cakep, nih, Wal, udahlah percaya kau dengan aku, nih.” “Feeling gue kok ga enak, nih, paling juga hancur, nih. Selera lu kan parah, Vid” “Bener, Wal, kali ini aku kada salah pilih, ada dua gadis ini. Bodinya cui ... semlohai bagi dua kite,” katanya sambil meneguk liur dan menggerakkan tangan, membentuk bodi gitar. “Ah, beneran lu, ga bokis, ‘kan? Terus apa lagi? Udah ada cowoknya belum?” “Nih, calonnya, Wal. Makanya kuajak ikam ke situ bantu aku PDKT. Temennya buat lu dah.” Sambil ia menepuk dadanya. Dalam kepala Rey sudah melayang ke mana-mana, membayangkan seorang gadis yang digambarkan Aksa. Namun, tiba-tiba khayalan itu berubah menyeramkan ketika suara Aksa mengagetkannya lagi. “Sebentar, ya, bro, gue ke belakang sebentar.” Rey sedang bersandiwara. Dalam hitungan detik, Rey sudah berteriak dari arah luar, “Woi, Aksa, ayo kita kemon!” “Cukimay, setan kau, Rey, laju kali sudah di atas motor dia!” Dalam sekejap Rey dan temannya tancap gas kuda besinya menuju rumah gadis yang dimaksud Aksa. Setibanya di sana, Aksa masih malu-malu untuk masuk ke indekos sang gadis. Sementara Rey sudah pasang aksi coolnya. Ia berusaha untuk cuek, mengantisipasi jika gadis yang ditemuinya kali ini tidak sesuai harapannya. Begitu ada dua gadis yang muncul, Rey langsung terperangah. Ada salah satu di antara dua gadis itu yang memiliki bodi sesuai dengan gambaran Aksa tadi. Dalam d**a Rey mulai bergemuruh, alarm PK-nya bergerak otomatis, terus meronta-ronta. Oh, my ghost, mimpi apa gue semalam. Dalam hati Rey berujar. Kimaknya si Aksa nih! Bisa dapat di mana dia bidadari begini, bodinya cui ... semlohai, belum lagi toketnya, aduh, Mak, jiwa PK-ku seakan ingin melahapnya seketika. Bener kata temannya jika kedua gadis ini cakepnya ga ada akhlak. Tapi ada sesuatu yang aneh dari pertama melihat gadis itu. Ada yang tak asing menurutnya. Terutama gadis satunya yang bukan incaran Aksa. Seperti tidak asing atau ia merasa pernah melihat dan mengenalnya tapi entah dimana. Rey langsung melempar jurus mautnya yaitu senyuman sang PK. Gadis itu pun membalas dengan memperkenalkan namanya. “Halo, namaku Anindya.” Rey langsung sedikit terkejut. Nama yang disebutkan itu benar benar tidak asing di telinganya. Nama seorang gadis yang pernah terdengar di telinganya. Tapi ia masih sulit mengingatnya dimana. “A-aku Rey.” Tampak ia sedikit nervous menyambut uluran tangan gadis tersebut. Sementara teman satunya yang bernama Dyah yang jadi incaran Aksa juga ikut berkenalan dengan mereka berdua. Obrolan di indekos tersebut jadi ramai dengan jokes yang dilempar oleh Rey. Kedua gadis itu terlihat sangat senang dengan cepatnya adaptasi hubungan pertemanan saat itu. Namun, berbeda dengan Aksa yang sepertinya terlihat kalah aktif dibandingkan dengan Rey. Ia seperti menjaga imagenya atau sok cool agar terkesan keren di mata kedua gadis itu. ***** Keesokan harinya, mereka membuat janji date, sesuai dengan pasangan masing masing sesuai dengan target Aksa dan Rey. Rey ... sudah bisa ditebak! Ia mendapatkan yang istimewa dari Anindya. Gadis itu sepertinya telah terkena panah cinta PK, si Rey. Ia belum menyadari jika sudah masuk jebakan buaya yang ganas tetapi ganteng. Agar double date tidak memakan banyak biaya, Rey mengakali dengan mengajak date di rumah kontrakannya. Kebetulan Rey tuan rumahnya, jadi ia bisa “semau gue” di rumah tersebut. Saat makan siang, ia juga tak perlu repot menyuguhkan makan siang tamunya. Cukup membawa Anindya dan Dyah ke warung belakang rumah. Dengan modal uang cemban (10 ribu) per orang sudah dapat makan enak plus es teh. Itu pun duitnya pakai punya Aksa, sang sahabat yang ketiban apes. *** Hari-hari berikutnya Rey dan Anindya semakin akrab karena rupanya gadis tersebut terkena pesona seorang Rey. Ia pun rela menyerahkan semua kehormatan dirinya kepada sang pujaan hati. Meski ia enggan melakukan hal terlarang tersebut pada gadis ini. Sang PK benar-benar beruntung mendapatkan gadis itu. Ia tak perlu susah payah mencari di luaran sana yang kebanyakan belagu jika didekati dengan modal tampang seperti yang Rey miliki. Hubungan itu sebenarnya tidak jelas, tidak ada kata cinta dalam hubungan tersebut. Rey memang enggan mengungkapkan perasaannya. Ada rasa yang aneh saat bersama gadis ini. Biasanya setiap gadis yang ingin ditidurinya tak pernah diberi kata cinta. Baginya, itu adalah senjata terakhir. Jika seorang gadis sulit ditaklukkan, barulah ia gunakan senjata pamungkasnya. Apes bagi seorang Anindya, ia tak menyadari bahwa telah terjebak dalam hubungan tanpa status. Hari demi hari dilalui, seperti biasa, Rey mulai bosan. Hubungan yang tidak didasari dengan rasa yang tulus pasti tak bertahan lama. Begitu juga dengan Rey dan Anindya. Hubungan mereka jadi terasa hambar buat Rey. Ia tak memiliki feeling sedikit pun, baginya Anindya hanya adik sekaligus teman baik. Sementara sang gadis sudah pasti berharap banyak pada Rey mengenai hubungan tersebut. Beruntung, Dewi Fortuna masih terus menaungi Rey untuk menjauh dari Anindya. Seorang sahabat Rey yang sama gilanya dengan dirinya, ternyata diam-diam ada rasa dengan Anindya. Namanya Mody, kakak tingkat 2 tahun di atas Rey. Kelakuannya kurang lebih dengan Rey, doyan wanita dan jago balapan mobil. Nyalinya ada dua puluh kalau sudah nyetir Cressida-nya. Penumpang yang ikut dengannya, sudah pasti sport jantung. “Pek, tu doski lu anggurin kenape?” “Bosen gue sama doi, lu kalo mau pake aja sono.” “Ah, serius lu? Barang bagus, noh.” “Iye serius doi, gue dah tau juga rasanya, Man, buat lu aja, dah, kalo mau, bawa aja sono.” Mody dengan cepat mendekati Anindya yang sedari tadi duduk sendiri di depan TV. Entah apa yang diobrolkan anak itu hingga tak berapa lama Anindya sudah beranjak dari duduknya. Ia mengikuti Mody ke luar rumah. Rey yang melihat mereka berjalan berdua, jadi ikut senang. Sedikit banyak bebannya mulai berkurang karena cintanya tak akan lagi diharapkan oleh perempuan itu. Dalam hitungan jam, akhirnya Anindya dan Mody malah jadian. Ya, mereka berdua jadi sepasang kekasih. Sementara Aksa yang berjasa telah mengenalkan Anindya, tidak jelas nasibnya—apakah ia telah mendapatkan cintanya, atau ia masih tetep jones, jomlo ngenes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD