Kunti

1789 Words
Meski sinar mentari tengah hot hotnya berada di atas kepala, tak mengurungkan niat Rey untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Beruntung ia sekarang tinggal di kota apel yang terkenal cuacanya sejuk walau itu kondisi cuaca lagi musim kemarau. Sehabis kuliah ia mampir dulu ke surau di kampus kebetulan sangat dekat dengan kelasnya. Kehidupan Rey semasa kuliah sangat dramatis di banding dengan teman temannya yang mampu menyelesaikan hingga tamat. Ia yang sehari hari selalu saja sibuk dengan dunia game serta mempermainkan hati wanita yang menyukainya. Semua itu tak membuat ia puas dan kuliah bukan lagi menjadi tujuan utamanya. Meski kadang sebenarnya ia sadar semua yang ia lakukan adalah salah. Gayanya yang super cool dan sangat humble membuat ia dengan mudah memiliki teman bahkan para gadis juga sangat menyukai dengan gayanya tersebut. Pertemuan ia dengan Vina si kuntilanak kampus yang membuat kehidupannya jadi bertambah rumit. Ia jadi selalu di terror untuk membantunya menyempurnakan kematiannya. Meski ia enggan memenuhi permintaan itu, tetap saja hati Rey tak bisa membohongi jika sebenarnya ia akan menolong makhluk itu. Nama surau itu adalah Surau Sunan Kalijaga, mirip dengan nama Eyang Demak leluhur si Rey. Tidak banyak terlihat orang yang berada di surau itu. Semua pada sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ada yang sedang dzikir dan ada pula yang sedang melakukan shalat. Ia teringat saat dulu pertama kali ospek di kampus ini. ********************** Hari itu Rey dan teman sekelasnya dijadwalkan OSPEK selama kurang lebih tiga hari berturut-turut dan ditambah masa penataran P4 & P7 kurang lebih tiga hari pula. Pakaian yang mereka gunakan ialah atasan putih dan bawahan hitam. Sementara atributnya pasti yang aneh-aneh. Mulai dari papan nama dari kardus, topi dari kertas karton, tas dari karung, dan lain-lain. Semua sudah menjadi kewajiban mereka sebagai mahasiswa baru (maba). Masa OSPEK dimulai pukul 06.00 WIB. Zaman dulu Kota Malang masih asri suasananya dan adem banget hawanya. Jadi, sejam sebelumnya mereka harus bangun dan siap-siap berangkat dari indekos. Belum lagi kalau pukul lima, air di indekos seperti air es, mau tidak mau, ya, kudu mandi. Sewaktu mulai memasuki kawasan kampus, suasana spooky dan dingin juga sangat terasa. Apalagi ditambah wajah seram para senior, semuanya menegangkan. Sulit membedakan jika kita merinding pada saat itu, apakah karena suasana kampusnya begitu horor atau karena suhu Kota Apel yang memang adem banget. Atau bisa juga karena melihat wajah para seniornya yang lagi menyambut para juniornya? Entahlah, hanya alam yang tahu. Kegiatan OSPEK hari itu seperti OSPEK pada umumnya, mulai berbaris, dibully senior, sampai diadakannya perlombaan antar kelompok. Pada saat tiba jam istirahat, Rey dan teman-temannya tidak diperbolehkan keluar kampus. Semua akses keluar sudah dikunci pihak kampus. Masa istirahatnya pun bergantian dan dibatasi. Karena keterbatasan, tidak semua maba bisa memiliki bekal makan. Apalagi Rey—yang pada masa itu, sudah bisa kuliah saja adalah sebuah anugerah. Yang ia bawa saat itu adalah sebiji buah apel yang ia beli di Pasar Blimbing, itu pun khilaf lupa membayar. Sekilas Rey meminta maaf dalam hati kepada penjual apel itu. Nah, di sela-sela kesibukan OSPEK, ada salah satu maba yang sepertinya sedang kesurupan. Namun anehnya, ia tidak teriak-teriak seperti orang kesurupan pada umumnya. Maba tersebut hanya tertunduk, diam seribu bahasa. Sesekali ia hanya terisak-isak. Hampir semua maba tidak ada yang berani mendekat. Hanya beberapa maba cowok dan senior yang coba menyadarkan maba tersebut. Seseorang mengangkat kepala anak kesurupan itu, tetapi tetap tidak terangkat. Selang beberapa detik, maba itu langsung tidak sadarkan diri. Setelah kejadian itu, keesokan harinya terjadi lagi sesuatu dan itu terjadi di gedung yang sama seperti kejadian kemarin. Seorang maba berteriak di tengah-tengah kerumunan. Setelah sadar dan ditanya, ternyata maba tersebut melihat seorang mahasiswi yang melompat ke bawah dari lantai paling atas. Ia melihat sosok itu meluncur ke bawah dengan cepatnya. Dan kejadian itu tepat berada di tempat ia berpijak. Menurutnya, kondisi mahasiswi yang terjatuh itu sangat mengenaskan. Beberapa bagian tubuhnya patah, kepalanya pecah berantakan serta darah yang mengucur ke mana-mana. Sementara itu, maba lain yang mendengar cerita maba tersebut hanya menganggap angin lalu, namun ada juga yang sedikit ketakutan. Lalu Rey ikut melihat ke atas gedung tersebut. Tidak terlihat apa-apa, menurut Rey. Namun, ada sekelebat bayangan yang terlintas di lantai atas tersebut. Tiba-tiba terdengar bisikan seorang perempuan. Rey pikir itu hanya halusinasi. Tolong aku .... Tolong ..., jerit halus suara itu. Rey memfokuskan telinga pada suara tersebut. Tolong aku .... Tolong .... Kembali terdengar suara itu. “Ah, cabut aja, dah, masa bodoh,” ucap Rey sambil berlalu dengan cueknya. Hari ketiga masa OSPEK–Inagurasi. Mereka semua sudah diwanti-wanti oleh para senior, agar nanti malam pada saat acara Inagurasi, jangan ada yang melamun atau berpikiran kosong. Rupanya, pagi itu kembali terjadi hal yang kurang menyenangkan. Suasana gaduh terjadi lagi dari WC cewek. Semua maba cewek terlihat kalut. Ternyata ada seorang maba cewek terkunci dalam WC tersebut. Ia menjerit meminta dibukakan pintu. Para senior dan maba yang cowok sudah berusaha mendobrak pintu tersebut namun tak ada yang bisa membuka. Selang beberapa detik, barulah pintu tersebut terbuka, dan anehnya tanpa harus didobrak. Yang membuka pun malah maba cewek yang ada di dalam. Ia malah terlihat keheranan dengan berkumpulnya orang-orang dan para senior. Mereka semua saling berpandangan, penuh tanda tanya, lalu siapa yang berteriak tadi? Rey segera mengambil wudlu karena waktunya sudah lewat beberapa yang menit lalu. Semua berjalan normal saat ia memulai kumur hingga membasuh kedua lubang hidungnya. Namun ketika mulai membasahi wajahnya, terdengar sayup sayup sebuah suara yang membuat ia menghentikan sejenak wudlunya. Suara itu begitu khas dengan suara yang pernah ia dengar saat sedang melantunkan murottal kala ia sedang berada di rumahnya. Ia coba diam dan focus menunggu suara tadi kembali. Ternyata tidak muncul. Ia pun kembali melanjutkan wudlunya hingga selesai. Masuk ke dalam surau dan langsung mengambil posisi yang agak leluasa agar nanti bila ada yang ingin berjamaah bisa mengambil posisi di belakangnya. Setelah merasa yakin tidak ada lagi yang sedang ingin sholat, Rey pun mengangkat kedua tangannya untuk memulai takbir. Whossss sett… Seketika suasana dalam surau tersebut berubah drastis. Ia seakan berada di dimensi lain. Bukan lagi di dunianya. Namun ia berusaha untuk tenang menghadapi. Rey pikir ini ujian dia untuk menghadapi Pencipta-Nya. Ia coba lebih focus lagi dalam menjalankan kewajibannya. Baru beberapa saat kembali di pundaknya ada sebuah gerakan yang seperti menyentuh pundaknya. Ia pikir ada jamaah yang ingin melakukan shalat bareng dengannya. Hingga akhirnya selesai shalat dan mengucapkan salam semuanya sudah mulai normal. Tapi ketika ia membalikkan badan, tidak tampak seorangpun di sana. Di sekelilingnya sudah sepi dengan kegiatan jamaah surau tersebut. Hati Rey seketika berubah, ada sesuatu yang membuat ia jadi kurang nyaman namun di sisi lain ia merasa ada yang menantinya di surau ini. Belum selesai keanehan tadi, Rey kembali di kejutkan dengan sebuah benda yang sudah ada di depan ia duduk tahiyat. Sebuah tasbih yang terbuat dari bahan batu, entah itu batu apa tapi sangat nyaman ketika di sentuh oleh jari jemarinya. Menggunakannya juga ia merasa ringan. Malah saat ia mulai bertasbih gerakan itu jadi cepat dari biasanya. Rey jadi merasa jika itu bukan murni gerakan jarinya. Ada sesuatu yang menggerakkan jarinya dengan lebih cepat dari biasanya. Tidak hanya jari kanan yang menghitung, tapi jari kiri juga turut menghitung meski tanpa tasbih. Aneh … dalam batinnya. Hingga selesai dzikir dan di tutup dengan doa, Rey coba berpikir apa yang terjadi barusan dengan dirinya. Biasanya ia tak pernah mengalami hal spiritual seperti itu. Tiba tiba … Assalammualaikum nak … Waalaikumsalam… Subhanallah, Eyang. Apa yang kamu gundahkan nak? Bukankah semua sudah menjadi ketentuannya? Rey lalu tertunduk sejenak dan ia terdiam untuk beberapa saat. Kemudian air matanya mulai berjatuhan pelan, menetes dan terus menetes membasahi pipinya. Apa yang telah di tunjukkan tadi itu semua adalah kehendak-Nya, Eyang hanyalah perantara. Nggih Eyang, saya mengerti. Saya merasa tidak pantas menerima semua ini Eyang. Kelak kau akan mengerti apa maksud dari semua ini. Wassalammualaikum … Waalaikumsalam Eyang … Rey segera menghapus matanya yang tampak sembab akan air mata yang jatuh tadi. Ia tak ingin ada yang melihat kejadian tadi. Selesai itu ia keluar dari surau. Saat ia menggunakan kaos kaki dan sepatu, tiba tiba di sampingnya sudah ada sosok Vina. Assalammualaikum Vina … Aku belum islam Rey. Rey membalas dengan senyuman. Tampaknya hatinya dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Hantu Vina jadi sedikit heran. Untung suasana depan surau saat itu sudah sepi hanya menyisakan mereka berdua disana. Jadi Rey dan Vina bisa bebas untuk ngobrol sejenak. Kamu darimana Vin? Pasti godain manusia ya? Tanpa ku goda, mereka sudah sesat kok, Rey. Sekali lagi Rey melempar senyum pada hantu tersebut. Lu bisa masuk ke surau itu Vin? Lha bisa dong, malah asik lho di surau itu. Lho orang pada ibadah, kamu ga kepanasan Vin? Hahaha … panas apaan, justru lewat ibadah paling gampang kami menggoda manusia Rey. Kok gitu? Iya dong … Manusia itu gudang kesombongan, ibadah hanya ingin pamer, hanya sekedar menggugurkan kewajibannya. Seketika Rey tercekat lehernya akan penjelasan hantu Vina. Bener apa yang dikatakan demit tersebut. Ia sebagai dari clan manusia merasa sedikit tersungging. Sekarang sudah masuk zaman akhir, banyak manusia yang sudah somplak kelakuannya. Jadi jangan heran bila suatu saat neraka penuh dengan kaum ini. Aku tahu siapa yang bersamamu tadi Rey. Oya? Kenapa ga ikutan gabung? Edan! Lu mau tubuhku hancur lebur. Lha emang kenapa Vin? Melihatnya saja gue nyerah Rey, apalagi bisa dekat dengannya, bisa luluh lantak tubuhku. Dekat denganmu saja, aku sudah kepanasan. Tapi aku berusaha tahan karena kamu baik dan … Dan apaan Vin? Cakep! Asem lu, kira apaan? Kali ini hantu Vina berhasil membuat Rey sedikit grogi. Perkataannya tadi seakan menohok hati pemuda tersebut. Pasti lu ada maunye nih, makanya muji gue kan? Iye, bantu gue Rey, biar gue ga gentayangan mulu. Vina sepertinya tak menyerah untuk meminta bantuan Rey. Ia ingin meninggal seutuhnya seperti orang orang pada umumnya. Ia juga tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Beruntung nasib mempertemukan ia dengan Rey yang sedikit banyak membuka tabir kematiannya. Rey pun sepertinya telah menemukan jawaban untuk membantu Vina. Tentunya melalui petunjuk ia dengan sang Eyang tadi. Ok ntar malem gue panggil lu ye, gue coba bantu lu, tapi jangan jauh jauh dari gue … Emang kenapa klo gue jauh Rey? Ntar lu kangen gue, kan kejauhan Vin? Vina lalu mengembangkan senyumnya. Oh My Lord, berapa kilo gula tu bisa buat senyum semanis begitu dah … batin Rey dan ia juga lupa jika Vina bisa membaca hatinya. Alhasil setelah membatin tersebut wajah Rey jadi memerah karena tengsin. ******************************** Rey lalu tersadar dari lamunannya jika ia tadi sedang mengkhayal. Mengingat masa masa indah saat ia bersama dengan hantu tersebut. Itulah kenangan terakhir ia bertemu dengan Vina. Ia sudah berniat untuk membantunya. Tapi nasib berkata lain, mereka harus berpisah dengan situasi yang tidak jelas. Vina menghilang begitu saja tanpa sedikitpun memberi kabar dengan Rey. Sepertinya keadaan yang memaksa perpisahan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD