Dendamnya Robin

2122 Words
Semua berawal saat mereka muda. Sama sama menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama. Rey bersama sang teman ini selalu bareng dalam mengejar cita cita. Namanya Robin Keduanya saling melengkapi. Jika Rey anak yang tidak terlalu pintar tapi sangat pemberani dan memiliki modal tampang yang patut di perhitungkan. Sementara sang teman sangat pintar dalam hal akademik namun ia sangat pemalu jika di hadapkan dengan yang namanya wanita. Hampir tiap hari gadis yang di bawa si Rey berganti ganti orangnya. Mulai dari Ani, Wati, Indah, Vira, Maya, dan seabrek gadis yang ada di kampusnya. Itu baru dari satu kampus, belum di tambah lagi dengan gadis dari kampus yang lain. Itu yang masih satu kota, yang dari luar kota juga bisa nyantol ke Rey. Berbagai macam profesi gadis juga ada yang sempat kecantol dengan pemuda koplak tersebut. Sementara sang teman Rey si Robin sekalipun tak pernah bersinggungan dengan yang namanya wanita. Ia lebih focus ke pendidikannya tanpa sempat memikirkan hal yang berhubungan wanita. Baginya mengejar cita cita lebih penting dari pada sekedar kesenangan dengan wanita. Cita citanya saat itu adalah menjadi seorang ekonom. Masa lalunya yang suram membuat ia tumbuh menjadi pemuda yang ambisius. Robin sangat beruntung bisa berteman dengan Rey. Karena dengan Rey ia bisa berubah menjadi tidak pendiam. Tapi keberuntungan selalu berpihak pada Rey ketimbang sang teman. Setiap ujian, Rey selalu mendapatkan nilai nyaris sempurna karena selalu di bantu oleh sang teman yang memang pintar. Begitu juga dengan teman ayah tersebut, ia juga mendapat nyaris sempurna hanya beda satu strip di atas Rey yang koplak. Hampir tiga tahun lamanya, sang teman menjadi andalan Rey untuk soal akademik di kampus. Sekalipun ia tak pernah belajar seperti mahasiswa pada umumnya. Bahkan jadwal kuliah di kampus, Rey jarang terlihat batang hidungnya. Paling ia hanya menitip tanda tangan untuk mengisi absen pada sang teman. Rey lebih banyak di sibukkan dengan dunia wanitanya. Bercinta atau sekedar happy happy, jalan jalan atau kongkow dengan gadis yang sedang tergila gila padanya. Hingga akhirnya panah asmara sang dewi cinta telah meluncur ke hati sang teman. Ia tanpa sengaja jatuh cinta pada seorang gadis yang cukup manis di kampusnya. Kebetulan ia mahasiswi pindahan dari kampus di luar kota. Tanpa sengaja netra keduanya bersinggungan di saat yang begitu tepat. Sang gadis malah tersenyum dengan teman Rey tersebut. Lelaki mana yang tidak keder melihat senyuman gadis manis tersebut. Melihat senyuman yang begitu manis, membuat sang teman langsung merasa berada di atas awan nan biru. Semuanya berubah menjadi indah di matanya. Tapi ia masih belum berani mengungkapkan perasaannya, bahkan mendekatinya saja ia harus berpikir ratusan kali. Ia hanya bisa mencuri curi pandang dari tempat ia duduk. Tapi nasib berkata lain, gadis manis tersebut malah mendekatinya lalu mudah akrab dengan sang teman Rey. Karena ia merasa bisa nyambung kala harus berbicara banyak tentang semua hal. Karakter gadis yang sangat humble dan murah senyum membuat sang teman jadi makin yakin jika ini adalah cinta sejatinya yang telah lama di tunggu. Padahal sebenarnya gadis ini juga ingin memanfaatkan kepintaran Robin tanpa ia sadari. Sementara sang playboy kabel Rey, sudah beberapa minggu tidak pernah ke kampus. Di kosan juga menghilang seperti demit yang gentayangan. Namun hari itu entah dapat petunjuk dari mana, tiba tiba ia masuk ke kelas dalam keadaan urakan, rambut tak tersisir dan baju yang terlihat acak acakan. Tapi itu tidak mengurangi kegantengan sang playboy, justru banyak wanita di kampus yang malah suka dengan gaya Rey yang begitu urakan. Mereka menganggapnya cool gaya urakan tersebut. Terkesan apa adanya. Rey masih tak menyadari jika di kelasnya ternyata ada seorang mahasiswi baru pindahan dari kampus lain. Ia tetap saja cuek meski saat itu terlambat masuk kelas dan mendapat hukuman dari dosennya. Rey baru menyadari ketika tanpa sengaja matanya tertuju pada seseorang yang ternyata sedari tadi juga memperhatikannya. Reflect radar playboynya auto bekerja. Ia pun melempar senyumnya yang teramat manis pada gadis tersebut. Dan hasilnya? Bisa ditebak sang gadis langsung klepek klepek dapatnya. Sementara seorang pria kutu buku yang sangat pintar, hanya bisa menusuk buku tulis di mejanya hingga tanpa ia sadari buku tersebut bolong. Dia teman sang playboy yang jelas saat itu menunjukkan ekspresi betapa ia sangat jealous dengan gadis itu dan juga temannya. Tapi mereka tak menyadari itu. Semenjak saat itu, Rey resmi menjalin hubungan dengan gadis pindahan tersebut. Rey tak menyadari jika itu adalah gadis pujaan hati temannya, Robin. Bahkan dengan entengnya ia membawa sang gadis ke kosannya. Padahal saat itu kebetulan sang teman sedang berada di kosan mengerjakan tugas punya Rey yang sudah lama tak ia kerjakan. Melihat gadis yang ia incar jadi korban Rey selanjutnya membuat teman sangatlah murka. Tapi Rey tidak mengerti dengan kemarahan tersebut karena sang teman tak pernah terbuka dengan dirinya. Padahal mereka selama ini tinggal sekamar dan sudah saling mengenal satu sama lainnya. Begitu juga dengan sang gadis pujaan hati Robin. Ia tidak tahu jika Robin menaruh hati padanya. Selama ini ia memang tak punya hati sedikitpun dengan Robin. Hanya karena ia mahasiswa terpandai di kelas, makanya ia ingin dekat. Semua karena kemalasan gadis itu yang tak ingin pusing mengenai tugas kampus. Sama halnya dengan Rey. Seminggu pasca kejadian itu Robin sudah berpindah kosan. Semua tanpa diskusi dengan sahabatnya, si Rey. Saat ia mengusungi barang barangnya, tidak ada seorangpun yang membantunya. Karena memang Robin terkenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Ia bisa ikut terkenal di kampus juga karena pengaruh dari Rey yang memang sangat familiar nama dan kelakuannya di kampus. Rey yang sedang berada di luar kos, sedikitpun tak menyadari karena ulahnya, Robin jadi berubah. Rey lah yang menciptakan seorang monster tanpa ia sadari. Sementara sang gadis yang sempat dekat dengan Rey, usia dekatnya juga tidak berumur panjang. Karena semua orang juga tahu jika tidak ada yang abadi bagi seorang playboy seperti Rey. Gadis itupun menjadi korban yang kesekian kalinya. Rey rupanya sedang menikmati liburan di Jogja. Tidak ada yang tahu ia perginya kapan dan baliknya juga kapan. Ia memang seperti jaelangkung, berangkat tidak ada yang tahu, pulangpun tidak ada yang tahu. Rey memang sengaja enggan mengumumkan kepergiannya. Ia khawatir jika ada yang tahu bisa repot meminta oleh oleh atau segala macam titipan yang unfaedah. Robin yang sudah terlanjur sakit hati tidak lagi mau peduli dengan sahabatnya tersebut. Ia pindah kosan yang letaknya cukup jauh dari kampusnya. Tidak ada satupun yang tau kosan Robin yang sekarang. Ia memang sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun. Saat itu ia memang ingin sendiri tanpa ada yang mengganggunya. Dengan Rey juga ia tidak ada pamitan karena jika itu ia lakukan pasti Rey akan menahannya. Rasa amarah Robin terasa sudah mencapai puncaknya. Ia menaruh dendam pada sahabatnya sendiri. Selama ini ia sudah cukup bersabar dengan banyak membantu sahabatnya itu. Pilihannya meninggalkan Rey ia rasa sudah sangat tepat. Ia tidak ingin di bodohi oleh sahabatnya tersebut.  ****** Sebulan kemudian Rey tiba di kosannya. Betapa ia terkejut saat mendapati tidak ada sahabat terbaiknya. Ia kebingungan mencarinya kemana. Semua barang pribadi Robin juga sudah tidak ada. Kondisi kamar sudah terlihat rapi dan bersih. Rey yakin ini memang kerjaan Robin yang memang rajin membersihkan kamarnya. Pantas saja Robin tak bisa di hubungi. Ketika ia mencari informasi dengan anak anak di kos, satupun tidak ada yang tahu keberadaan Robin dimana. Rey sangat mengkhawatirkan keadaan temannya tersebut. Apalagi ia tahu betul dengan sifat temannya tersebut yang begitu pemalu dan takut dengan orang. Khawatir jika ada yang mengganggunya tapi tidak ada yang membantunya. Rey teringat pertama mengenal Robin saat pertama kuliah dengan menjalani ospek bareng. Kelasnya juga sama dengan Robin. Hanya sehari mengenalnya mereka sudah sangat akrab. Padahal Robin awalnya sangatlah pendiam anaknya. Ia tidak banyak bicara seperti orang lain. Beruntung ada Rey yang humble dan supel. Hubungan pertemanan mereka makin akrab. Apalagi Rey memindahkan kosannya dengan Robin sekamar. Setiap ada Rey pasti ada Robin disitu. Awal kuliah Rey dan Robin sangat rajin turun ke kampus. Kadang saat Robin mendapat gangguan dari anak anak berandal, Rey juga orang pertama yang maju membantu Robin. Rey yang rela berkorban demi temannya tidak ingin membuat temannya dalam bahaya. Apalagi ia tahu Robin anak yang sangat penakut. Jika mengingat hal itu Rey jadi tertawa sendiri. Tapi kini ia harus sendiri. Ia pikir mungkin Robin ingin menyendiri karena selama ini dirinya telah merepotkan temannya tersebut. Rey jadi sadar diri bahwa selama ini memang sering membuat susah teman temannya, terutama Robin sahabatnya sendiri. Sepulang dari Jogja, Rey langsung berubah. Kelakuannya perlahan turut berubah. Hobbynya yang demen mainkan cewek mulai ia tinggalkan. Entah angin apa yang telah membawanya ke perubahan itu. Ia mulai menjalani kuliah seperti mahasiswa lainnya. Sementara di tempat lain, Robin malah berubah drastis. Wajahnya terlihat begitu kusam. Ia malah jarang terlihat di kampus. Kebanyakan hanya di kamar mengurung diri. Kumis yang tumbuh liar di bawah hidung tampak di biarkan begitu saja oleh Robin. Begitu juga dengan rambutnya yang terlihat acak acakan tak karuan. Robin sudah tak mengurus dirinya sendiri. Ia sudah tak pedulikan itu semua. Kuliah tak pernah lagi ia urus. Padahal ia bisa sampai di titik ini karena prestasinya hingga berhasil mendapatkan beasiswa hingga di jenjang yang tertinggi. Otaknya yang encer hari ini terlihat mengental dengan tertawa sendiri di dalam kamar. Di dalam kamar itu Robin sedang berbicara sendiri. Di hadapannya ada sebuah kaca tempat ia bercermin dan melakukan dialog dengan dirinya sendiri. Ia terus saja mengoceh dengan menyebut nama seseorang. Robin lalu membakar sebuah lilin dan menaruhnya di lantai yang sebelumnya ia tulis dengan logo iluminati. Sett… Dengan sekali sabetan pisau kecil di telapak tangannya, darah segar langsung keluar dengan cukup deras. Ia tamping ke dalam sebuah mangkuk berwarna hitam. Sebagian lagi ia tabur di lantai agar mengenai logo iluminati yang telah ia gambar sebelumnya. Mulut Robin lalu komat kamit merapal sesuatu yang tak begitu jelas. Terlihat ia sudah sangat menghapal rapalan tersebut di luar kepala. Hanya dalam hitungan detik, tiba tiba muncul sesosok makhluk aneh yang begitu menyeramkan, tapi tidak buat seorang Robin. Ia justru menyambutnya dengan penuh gembira. “Buat dia menderita seperti keadaanku sekarang.” Setelah mendengar perintah dari Robin, sosok makhluk aneh itu langsung menghilang dari hadapannya. Robin lalu tertawa kecil. Ia berharap misi kali ini bisa berhasil sesuai harapannya. ***** Kembali ke kosan Rey. “Aaarrrggghhh ....” Terdengar suara teriakan dari kamar Aan. Salah satu teman dekat Rey. Rey dan teman-teman yang sudah mengawasi sedari tadi, segera berlarian ke kamar Aan. Karena pintu kamar masih terbuka lebar, maka terlihat jelas ... Aan kerasukan! Ia terus berteriak-teriak tidak jelas. Matanya melotot, tangannya membentuk cakar dan giginya ditampakkan semua. Tak satu pun dari teman-temannya yang berani mendekat. Padahal, pada saat itu ada enam orang yang berada di depan kamar Aan ikut menjadi saksi. Mereka malah saling dorong dan tunjuk untuk maju menenangkan Aan. Akhirnya, dengan sedikit keberanian mereka semua maju memegang masing-masing tangan dan kaki Aan agar tenang. Mereka berusaha keras mengendalikan tubuh Aan. Namun, begitu keras dan sulit dikendalikan, Aan melakukan perlawanan. Rey sempat teringat pesan almarhum ayahnya tentang tindakan jika melihat orang kesurupan. Iseng-iseng ia pencet jempol kaki kanan Aan dengan jari jempol dan telunjuk tangannya. Awalnya ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia langsung menyentuh jempol kaki Aan sambil membaca shalawat dan takbir. Ya, walaupun selama ini ia sudah jauh dari agama, paling tidak ia ingin berusaha membuat kawannya sadar dari kesurupan. Perkara ampuh atau tidaknya bacaan yang ia rapalkan, biar Tuhan yang menilainya. Ternyata Aan makin menjerit kesakitan. “Aarrgghh ... ampun, ampun, ampun ....” Jelas, itu bukan suara asli Aan yang biasa Rey kenal. Wajah yang tadinya marah dan mata yang melotot seketika itu juga tertunduk. Tidak berani menatap Rey yang masih memegang jempol kaki Aan. Teman-teman yang lain tampak bingung dengan kelakuan Rey dan reaksi pada Aan, mengapa bisa begitu. Ketika jempol kaki Aan dipegang lagi, dia semakin menjerit kesakitan. Sementara Rey, di satu sisi ia agak takut, tetapi di sisi lain keisengannya yang membuahkan hasil, tampak melegakan. Rey mungkin lupa kalau di belakangnya ada sesosok yang sangat hebat. “Ayo, sambil bebacaan semua, apa saja yang kalian hafal!” pinta Rey kepada teman-teman yang ada di dekatnya. Agaknya bacaan surat yang ia baca manjur untuk mengganggu kehadiran makhluk gaib di tubuh Aan. Siapa tahu yang lainnya juga bisa membantu! Aan makin bereaksi tak menentu arah, ia merasa seperti kepanasan. Sejenak tubuh Aan lemas tak berdaya terbaring di kasurnya. Anak-anak indekos masih berusaha menyadarkannya dan syukurlah ... akhirnya Aan bisa sadar kembali. Ada sedikit kekhawatiran dalam diri Rey melihat kejadian saat itu. Ia teringat dengan pesan teman dekatnya si Aksa tentang Aan dan santet dari seseorang. Rey masih belum menyadari jika ini perbuatan seseorang yang pernah akrab dengannya. Seorang sahabat yang telah dibuat sakit hatinya. Sehingga ia melakukan dendam pada orang orang terdekat Rey. Robin telah di butakan oleh dendam, tanpa mempedulikan rasa kemanusiaan lagi. Segala cara ia mulai lakukan tanpa berpikir dengan jernih. Semua otak dan jiwanya telah di rasuki iblis. ini memang sudah keinginannya sedari awal guna membalaskan dendamnya dengan seorang Rey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD