Saat di pertengahan film itu berputar, tiba tiba perasaan Rey merasa tidak enak. Ada sesuatu yang membuat ia jadi gelisah. Dia sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya. Ia berpikir keras ada kejadian apa diluar sana yang membuat ia jadi kepikiran. Mendadak dalam pikirannya terlintas bayangan teman temannya di kos yang terlihat memelas memohon pertolongan.
Segera pulang Rey…
Ada sebuah bisikan yang ikut mengganggu pikiran Rey. Suara itu meminta dirinya untuk segera pulang. Biasanya ini pertanda buruk dalam hidupnya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, ia segera meminta untuk keluar. Setelah berada di luar ia baru mengatakan pada gadis tersebut untuk segera pulang.
“Maaf Ra, kita udahin nontonnya ya.”
“Lho kenapa? Kan baru jam segini Rey.”
“Perasaanku ga enak, dari tadi selama nonton aku kepikiran teman teman di kos.”
“Lha itu urusan mereka lah, ngapain juga lu ngurusin mereka segala, kayak lu bokapnya aja peduli dengan mereka.”
Mendengar jawaban gadis tersebut semakin membuat hati Rey panas. Ia tak perlu lagi berdebat atau menemani gadis itu, ia langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Meski berkali kali di panggil, ia tetap saja cuek. Langkahnya di percepat karena perasaan tidak nyaman itu semakin tidak enak menyandera isi kepalanya. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan teman temannya.
“Rey tunggu Rey. Rey tunggu aku! Aku ga bermaksud begitu.” Pemuda itu sudah tak mempedulikan ocehan gadis itu. Rey terus saja menuruni tangga escalator menuju ke bawah mall. Hingga menuju pintu keluar. Segera ia mencegat angkot untuk pulang menuju kosnya. Dadanya terus saja berdegup kencang saat bayangan teman temannya dalam bahaya. Ia baru menyadari jika siang tadi ada masalah di kos dengan preman dan teman pecandu narkoba. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju kos ia terus berdoa dan berharap agar semua temannya baik baik saja. Ia khawatir karena ulahnya semua temannya harus menanggung masalah. Apalagi ini ada hubungan dengan barang terlarang yang pernah ia cicipi. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya kenapa harus berhubungan dengan barang haram tersebut meski sekarang ia sudah menjauhinya.
Kurang lebih sejam baru ia tiba di kos. Tampak keadaan kos dari luar begitu lengang, namun ketika ia mulai masuk lingkungan kos barulah terlihat kondisi sebenarnya. Semuanya berantakan. Kaca kamar pecah berhamburan di lantai. Barang barang dalam kos juga semuanya rusak. Apalagi kamarnya sendiri sudah tak berbentuk kamar tidur, melainkan kapal pecah yang terhantam ombak besar. Untung saja tidak ada barang berharga di dalam kamarnya.
Tampak bapak dan ibu kos yang sedang membersihkan kamar kos teman temannya. Dengan terisak isak sang ibu kos bercerita mengenai kejadian beberapa jam yang lalu saat ia tak ada di kos.
“Semua terjadi begitu cepat Rey. Ibu juga tidak tahu apa yang mereka cari. Tapi setelah beberapa temanmu di aniaya oleh mereka, barulah ibu menyadari jika mereka mencarimu. Ibu tak bisa berbuat banyak untuk melindungi kalian. Ibu dan bapak juga di larang untuk melaporkan kejadian ini pada orang tua kalian dan pihak kepolisian.”
Ibu kos terhenti sejenak sambil mengusap air matanya. Setelah itu ia melanjutkan ceritanya.
“Kamu di minta mendatangi tempat mereka Rey, jika ingin teman temanmu kembali dengan selamat. Ibu hanya bisa membantu kamu dengan doa Rey.”
“Iya bu, terima kasih. Biar Rey yang mendatangi mereka bu. Doakan saya ya bu.” Rey lalu mencium tangan ibu kos yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Wanita itu hanya mengelus kepalanya dan meminta ia agar berhati hati. Hubungan Rey dengan tuan rumah sangat dekat, makanya ia enggan berpindah kos. Sudah berkali kali ia pindah kos dan terakhir adalah kos sekarang yang ia tempati ini. Meski bukan anak sendiri, si ibu kos sangatlah perhatian pada anak anak kos yang tinggal di kosnya. Setiap bulannya selalu saja ia mengadakan makan bareng untuk sekedar mendekatkan diri dengan anak anak kos. Begitu juga dengan bapak kos. Ia sangat akrab dengan anak anak kos.
Setelah berpamitan dengan bapak dan ibu kos, Rey segera pergi menuju alamat yang di berikan ibu kos. Waktu semakin beranjak malam tapi Rey tak mau ambil pusing dengan waktu. Ia mengkhawatirkan keadaan teman temannya yang di sandera oleh para preman itu. Sedikitpun Rey tak ada rasa takutnya.
Tanpa terasa waktu satu jam yang sudah ia tempuh menuju ke lokasi. Meski markas preman itu di pinggir kota, tetap saja medan yang di lalui cukup berat. Setelah gunakan angkot ia harus turun berjalan kaki lagi menuju lokasi. Sudahnya penerangan jalan yang minim dan di tambah juga pohon besar yang tumbuh sepanjang jalan yang ia lalui. Suara burung hantu yang mengiringi langkahnya tak juga membuat ia surut. Sosok sosok wanita berpakaian daster putih juga turut menertawakannya sambil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Perjuangan Rey untuk ke lokasi akhirnya membuahkan hasil setelah bertanya tanya dengan warga yang ia temui di jalan.
Sampai di lokasi semuanya tampak sepi dari luar. Pencahayaan di lokasi juga sangat minim terkesan ala kadarnya lampu yang di pasang. Banyak sampah ban mobil dan alat alat berat yang berserakan di depannya. Bangunan besar yang seperti gudang itu sangat tidak terawat lagi. Warna cat yang telah usang di tambah bau busuk yang menyengat di sekitar gudang itu turut menambahkan kesan angker.
Begitu ia membuka pintu gudang yang tak terkunci, terlihatlah para preman narkoba yang sedang menyiksa teman temannya. Semua mata tertuju pada Rey saat ia membuka pintu tadi. Tapi Rey tak menciut nyalinya meski ia sendirian. Ia terus melangkah mendekati teman temannya yang sedang terikat di kursi dan di tutup matanya dengan lakban. Hati Rey semakin panas melihat temannya di siksa begitu. Ia tak menduga jika karena barang haram itu temannya yang tak bersalah jadi korban.
“Oh jadi kamu yang bernama Rey.”
Mendengar nama Rey di sebut, sang teman yang lagi di siksa langsung memanggilnya.
“R-Rey, t-tolong kami Rey.”
Rey yang mendengar suara temannya yang begitu berat rasanya sudah ingin menghabisi mereka semua. Tangannya yang sudah mengepal sedari tadi menandakan ia ingin mendahului menyerang mereka.
“Kenapa abang abang pada cari saya?”
“Lu yang curi barang kami kan?”
“Barang apaan bang? Saya beneran ga tahu. Bisa ga lepaskan teman teman saya.”
“Nyali lu gede juga ya,berani datang kemari terus main perintah kita lagi. Emang siape lu, hah!”
“Kalau gitu saya minta maaf ya sebelumnya bang …” Rey langsung melesat ke depan dan menyerang mereka satu persatu tanpa sedetikpun mereka mampu menghindar atau membalasnya. Tampak mereka mulai kocar kacir dibuatnya. Dalam sekejap sudah lebih dari sepuluh orang yang ia berhasil jatuhkan. Rey masih bisa tertawa menghadapi mereka.
“Hehehe … ayo maju kalian semua.” Ia menantang semuanya untuk maju menyerang dirinya. Rey masih saja tertawa.
“Ayo bunuh saja anak itu.” Perintah salah satu dari mereka.
Serentak yang maju cukup banyak menyerang Rey. Semuanya menggunakan senjata tajam. Baru saja mereka maju beberapa langkah, sudah tak bergerak lagi satupun. Mereka langsung mematung lalu ambruk seketika dengan darah segar yang keluar dari mulut dan hidung.
Teman preman lain yang melihat temannya terluka begitu parah, mulai menciut nyalinya. Mereka mulai ragu untuk menyerang pemuda itu. Namun dari dalam sebuah ruangan keluar seseorang yang di kawal oleh 2 orang berbadan kekar. Dari penampilannya jelas itu adalah sang Bandar yang memimpin para preman tersebut.
“Kalian ngurus satu bocah saja tak sanggup, bikin malu aja. Panggil anggota yang lain.”
Sang Bandar lalu duduk di kursi sambil menyaksikan Rey yang di keroyok anak buahnya. Sementara anak buahnya yang lain lagi memanggil anggota yang lain. Ia masih saja asik menggunakan narkoba yang sudah ia siapkan. Ia hirup menggunakan hidungnya dibantu oleh anak buahnya.
Setelah lima belas menit berlalu, tampak Rey mulai kelelahan. Di kubu lawan malah bertambah lagi anak buah si Bandar setelah tadi ia meminta anak buahnya untuk datang semuanya. Tapi Rey masih bisa tersenyum meski dengan nafas yang tersengal sengal.