Teman Kos di Sandera

1363 Words
Ia penasaran ga biasanya kos tersebut ramai. Terlihat dari beberapa orang itu tidak ada yang Rey kenali. Kecuali ada beberapa teman satu kosnya yang terlihat sudah babak belur sambil memohon ampun pada mereka. Teman tersebut sampai bertekut lutut memohon untuk tidak di aniaya lagi. Rey yang melihatnya tanpa merasa berdosa coba melewati mereka. “Permisi numpang lewat om.” Ia berusaha cuek untuk tidak ikut mencampuri urusan mereka. “Nah ini dia orangnya om, dia yang kita tunggu.” “Ups, ada apa ya bro?” Rey bertingkah polos setelah tahu ada teman yang menegurnya yang telah menuduhnya kemarin menghilangkan barang narkobanya. “Oh jadi lu orangnye?” sambil mendekati Rey, orang itu berusaha melayangkan tangan kanannya menuju mukanya Rey. Dengan sigap ia mampu menghindar tamparan itu. Orang berbadan besar tersebut sedikit terkejut dan semakin naik pitam. “Wei, sebentar om, apa maksudnya nih, main gampar aja, ga tau salahnya apa.” “Eh lu dah ngilangin barang kita, masih aja belagu lu ye.” Orang itu masih tetep mendekati Rey dan kembali berusaha menamparnya lagi. Namun naas buat orang berbadan besar tersebut. Rey hanya diam tidak mengelak dan malah menangkis serangan itu dengan satu tangannya. Krak! Terdengar suara tulang yang patah. Dan itu berasal dari tangan si orang yang sedari tadi bernafsu ingin menampar Rey. Ahhh… aduhhh… ia terus menjerit kesakitan sambil menahan tangannya yang baru saja patah. Teman teman Rey yang menyaksikan kejadian itu berdecak kagum melihatnya. Baru kali ini mereka melihat kemampuan Rey yang sebenarnya. Selama ini mereka pikir Rey hanya seorang playboy yang tak berguna. Ternyata mereka telah salah. Salah satu teman yang menuduh Rey juga ikut shock, ga percaya dengan kemampuan temannya. Teman preman itu coba membantu temannya dan ingin meninggalkan kosan Rey, tapi Rey berusaha menahannya. “Eh lu bantu dulu temen gue tu, mau enak aja main kabur habis gebukin anak orang. Itu manusia bukan binatang woi.” Terlihat begitu tegasnya Rey. Tumben tak biasanya ia bisa setegas itu. “Termasuk lu juga bro, yang udah nuduh macem macem. Tanggung jawab lu temen lu pada babak belur begitu. Tega amat lu dengan temen.” “I-i-iya Rey, gua bantu.” “Lu obati ye, belikan makan dan obat obatnye.” Wajah Rey sudah berubah. Ia menahan amarah. “Dan lu yang gede badan doang, tapi otak cetek, kasitau bos lu. Berani lagi datang kemari, gue obrak abrik itu markas lu.” Kedua preman itu memohon ampun dan meninggalkan sejumlah uang untuk teman kos Rey yang tadi di aniaya mereka. Setelah itu keduanya pergi dengan mengendarai motor mereka dengan kencang. Raut wajah masih belum berubah tampak masih memerah melihat kedua preman itu berlalu. Sementara sang teman yang telah menuduhnya tak berani menatap wajah Rey. Tampak ia begitu takut dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Rey. Rey lalu pergi meninggalkan mereka yang masih terbengong bengong dengan sikapnya. Ia terus aja melongos pergi dengan santainya. Setelah tiba di kamarnya barulah ia tersadar ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia coba berpikir keras apa yang barusan terjadi pada dirinya. “Ah sudah lah, mending aku mandi dulu, ntar lagi ada janji date dengan si Hera.” ***** Malamnya di kos semakin ramai. Bapak dan ibu kos kewalahan melayani tamu yang tak di undang malam itu.  Ia hanya pasrah saat tamu tersebut mengobrak abrik kamar Rey. Begitu juga dengan kamar yang lain. Mereka adalah teman para preman yang siang tadi di kerjain Rey. Kali ini jumlah mereka sangat banyak. Ada dua mobil yang mengangkut massa tersebut. Satu jenis truk dan satu lagi mobil kecil. Di antara preman tersebut ada seseorang yang memiliki penampilan paling beda sendiri di banding preman yang lain. Tampak ia mengawasi anak buahnya yang sedang menghambur kos kosan sambil mengisap sebatang rokok yang di linting. Di wajahnya ada tattoo yang menghiasi separuh wajah bengisnya. Semua penghuni kos tampak ketakutan. Termasuk tuan rumah yang tidak tahu menahu permasalahan yang sedang mereka hadapi. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak karena kos sudah penuh dengan para preman yang sudah gelap mata. Khawatir dengan keselamatan nyawa mereka, hanya bisa pasrah menghadapinya. Satu persatu anak kos di kumpulkan di tengah kos. Dan di interogasi satu demi satu. Tidak ada nama yang mereka cari. Mendapati orang yang mereka cari tidak ada, membuat ketua mereka jadi naik pitam. Ia langsung memberi perintah pada anak buahnya untuk memberi pelajaran pada penghuni kos. Masing masing mendapat beberapa kali pukulan dan tendangan. Anak anak kos hanya bisa pasrah di perlakukan seperti itu. Sambil sesekali memohon ampun tetap mereka tak mengindahkannya. Di antara mereka tidak ada yang tahu dimana keberadaan orang yang mereka cari, membuat pemimpinnya tidak puas. Ia lalu meminta anak buahnya untuk mengangkut semua anak kos ke dalam truk dan kemudian membawanya ke markas mereka. Hanya bisa pasrah ketika harus menaiki truk, bagi yang melawan jelas mendapat siksaan tambahan dari preman tersebut. Ketua preman hanya menyisakan tuan rumah yang juga babak belur dapatnya. Ia meminta kepada bapak dan ibu kos untuk menyuruh orang yang di cari segera ke markas mereka untuk membebaskan  teman temannya. Di tambah lagi peringatan agar tidak memberitahu siapapun tentang keberadaan mereka, apalagi sampai pihak keamanan tahu. Tuan rumah hanya bisa pasrah menuruti kehendak ketua preman tersebut. ***** Sementara di tempat lain, Rey dan gebetannya sedang menikmati sebuah film di bioskop yang lagi tayang perdana yaitu My Name is Unti. Sebuah film horror komedi yang sangat di sukai gadis gebetannya. Rey sangat terpaksa mengikuti keinginan gadis tajir tersebut. Perkenalannya dengan gadis itu juga secara tak sengaja saat ada telepon nyasar di kos nya yang kebetulan dirinya sendiri yang menerima telepon tersebut. Rey yang jago speak up dalam melayani gadis, dengan mudahnya membuat gadis tersebut jadi penasaran dan ingin menemui dirinya. Sudah bukan hal yang aneh jika Rey  jadi bahan kepo seorang gadis. Sudah banyak yang menjadi korban kebucinan seorang Rey. Sepanjang jalan di mall gadis itu selalu menggandeng tangan Rey. Sementara yang di gandeng sebenarnya merasa risih. Walau gadis itu sebenarnya lumayan cantik. Ia hanya berusaha menikmati kesenangan hidup malam itu. Apalagi semuanya gratis tanpa ia harus bersusah payah mengeluarkan duit sepeserpun. Di dalam bioskop juga ia tak bisa tenang karena sepanjang film itu berputar selalu di goda oleh gadis itu yang sepertinya sedang sange berat. Untung Rey masih berpikiran jernih karena rasanya tak mungkin melakukan hal tak senonoh di tempat umum begini meski situasinya sangat mendukung.  Sebelumnya ia dan gadis itu jalan dari waktu sore. Mulai dari satu ke mall yang lain. Entah mimpi apa semalam, sehingga bisa dapat durian runtuh hari ini. Rey diperlakukan bak seorang raja oleh gadis itu. Hera rupanya gadis yang lumayan tajir. Setiap berada di mall ia selalu membelikan Rey berbagai macam pakaian yang branded. Padahal Rey tidak meminta untuk di belikan. Begitu juga saat makan di sebuah café ternama. Tidak tanggung tanggung menu yang di pesan hingga menghabiskan uang yang tidak sedikit. Rey hanya bisa geleng kepala melihat tingkah gadis itu yang menghambur hamburkan uang untuk dirinya. Tujuan awal ia mau mengajak gadis itu jalan adalah sekedar refreshing pikiran dan hatinya yang hari ini begitu sumpek. Rey baru saja melepas seorang gadis hantu yang membuat ia harus kehilangan lagi. Meski sebenarnya ada sedikit rasa sedih saat harus berpisah dengan hantu itu. Tingkah gadis itu juga membuat dirinya tidak begitu nyaman saat jalan bareng. Saat tak sengaja bertemu temannya selalu saja ia mengaku jika Rey adalah kekasihnya. Merasa tersandera dengan semua pemberian dan kebaikan sang gadis, Rey terpaksa mengiyakan perkataan gadis tersebut. Jelas ia menjaga image sang gadis tajir tersebut. Waktu sudah berganti malam dan gadis itu masih tak ingin untuk pulang. Meski Rey sudah membujuknya untuk menyudahi acara hari ini. Tetap si gadis bersikeras masih ingin bersama Rey. Ia pikir ga ada salahnya untuk mengiyakan setelah melihat wajah memelas gadis itu. Setelah makan malam di sebuah mall ternama, gadis itu mengajak untuk nonton film favoritnya yang kebetulan hari itu sedang tayang perdana. Sekali lagi terpaksa Rey mengiyakan untuk terakhir kalinya. Ia tak ingin membuat gadis tersebut kecewa. Ia pikir mungkin ini terakhir kali berjalan dengan gadis ini. Besok besok mungkin ia enggan menemaninya lagi meski gadis tersebut anak yang tajir. Bagi Rey bukan karena tajirnya yang membuat ia nyaman tapi perasaan yang nyaman saat berada di sisi lawan jenis tersebut adalah inti dari sebuah hubungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD